Tampilkan postingan dengan label mantra kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mantra kejawen. Tampilkan semua postingan

Serat Ilmu Kanuragan

Salah satunya Serat Kanuragan tingkat tinggi yang mengandung daya keselamatan mutlak lahir-batin dan memiliki berbagai khasiat untuk berbagai kebutuhan yaitu:Ilmu Aji Lebur Wojo atau Susuk Mustika Baja.
Ilmu Aji Lebur Wojo sesuai namanya lebur baja merupakan salah satu ilmu kejadugan yang mempunyai khasiat sebagai perisai diri ghoib dari segala ancaman yang bersifat merusak (destructif) seperti ancaman senjata tajam, senjata tumpul, dan senjata api yang membahayakan keselamatan pemilik Aji Lebur Wojo. Dulu saya mendapatkan ilmu ini saat masih remaja, ketika masih suka dengan hal-hal yang bersifat kanuragan. Saya merasakan khasiat ilmu ini dengan jalan ritual pribadi, jadi bukan melalui pengisian energi (khodam) dari Guru. Karena tujuan saya sejak awal belajar ilmu-ilmu supranatural bukan sekedar ingin sakti tapi juga untuk pengembangan dan penelitian ilmu.
Sampai sekarang ilmu ini belum pernah saya digunakan dalam kehidupan nyata. Mungkin karena saya orang biasa, bukan preman, security ataupun polisi, jadinya tidak pernah mendapat situasi yang mengancam jiwa seperti peperangan, penodongan dan sejenisnya. Alhamdulillah.
Seorang paranormal pernah berkata, khasiat suatu ilmu kebal tidak mesti harus dirapal, dalam tingkatan tertentu khasiat ilmu kebal juga bisa menepis niat orang yang akan berbuat jahat. Jadi intinya, kita bisa tetap selamat walau tanpa perlu berkelahi. “Mungkin itulah yang terjadi kepada diri anda yang selalu selamat, dijauhkan dari para penjahat dengan segala senjata-senjata mereka yang seolah bungkam” katanya.
Meski begitu, saya tetap melakukan pengetesan untuk membuktikan khasiat ilmu ini. Khususnya untuk kekebalan badan. Saya masih ingat kali pertama melakukan pengetesan, memang bisa kebal bacok tapi tidak kebal tusuk apalagi kebal iris. Lengan kiri saya bocor (berdarah) dan harus diperban, karena saya jadikan bahan uji coba. Hehehe.. Dan kemudian saya ritual lagi, sampai berulang-ulang hingga terbukti sesuai yang saya inginkan. Tentu saja semua berkat ridho dari Allah SWT. Hal ini tidak perlu dicontoh bila anda tidak mempunyai keberanian. Cukup menjadi bahan penambah pengetahuan dan wawasan saja.
TATA CARA MENGAMALKAN AJI LEBUR WOJO
  1. Dengan melakukan Puasa Mutih selama 3 hari.
  2. Sebelum melakukan Ritual Puasa Mutih, harus mandi jinabat terlebih dulu. Dengan niat seperti berikut ini : “Hamba berniat mandi jinabat suci untuk membersihkan diri dari semua kotoran johir dan bathin atas karena Allah Ta’ala”.
  3. Selama Puasa Mutih setiap Pagi dan Sore hari mantra Aji Lebur Wojo dibaca sebanyak 21 kali. Dan pada tengah malam dibaca sebanyak 113 kali.
  4. Apabila ilmu ini akan digunakan atau ketika menghadapi mara bahaya, mantra-aji dibaca 3 kali.
  5. Mantra Aji Lebur Wojo :
“Bismillahirrohmanirrohim.”
“Kun kuno nabi wuri,sir rasaning wesi,rasa nyataning waja,cipta wujude karsa,sukma jati wasesa ,wesi waja podho leburno,mas inten wesi waja lebur ajur ler lemes,lebur larut,larut lebur ono ing raga.”
Demikianlah sekilas tentang Ilmu Aji Lebur Wojo. Salah satu ilmu supranatural yang berfungsi untuk kajadugan dan kekebalan badan. Tentu saja khasiat yang terkandung dalam Ilmu Aji Lebur Wojo ini semata-mata bila ada ijin dari Allah swt (Biidznillah) dan khasiatnya akan langgeng dan berdayaguna selama digunakan di jalan kebaikan (untuk jaga diri).Wallaahu a'lamu bis showaab.
Bagi Anda yang tidak mau repot dan menginginkan pengisian Ilmu Aji Lebur Wojo secara instan yang memiliki khasiat multi fungsi untuk berbagai kebutuhan,silahkan pesan Susuk Loloh Mustika Baja. Keterangan lengkap klik aja: PUSAKA AJIMAT MANTRA

Kunci Membuka Wadag Ilmu Ghaib

Di dunia ini, ada orang-orang diberi kelebihan oleh Tuhan hingga punya kemampaun supranatural meskipun dia tidak pernah belajar. Ada pula orang yang diberi kemudahan untuk mempelajari berbagai ilmu sehingga ia bisa punya banyak kemampuan dalam waktu singkat. Ada juga orang yang kesulitan dalam mempelajari ilmu, padahal dia sudah tekun berusaha. Jika Anda termasuk golongan yang terakhir, maka jangan pesimis dulu. Masih banyak jalan untuk membuka pintu keilmuan Anda.

Banyak orang belajar ilmu gaib selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada hasil yang memuaskan. Kegagalan itu bisa saja terjadi karena ilmu yang dipelajari sudah tidak asli tata-caranya atau mempelajari ilmu palsu. Banyaknya Ilmu palsu dan ilmu yang tidak asli tradisinya biasanya adalah ulah oknum paranormal yang tidak bertanggung jawab
Jangan mudah percaya kepada orang yang katanya bisa membuka aura, cakra atau hijab gaib sehingga orang bisa dengan cepat menguasai ilmu gaib dan bisa masuk alam gaib. Sesungguhnya hati Anda hanya bisa terbuka oleh usaha Anda sendiri. Orang lain hanya bisa membantu mengarahkan dan memberi tahu caranya.

Sebab kegagalan lainnya adalah ketidaktahuan akan hakekat ilmu yang dipelajarinya. Orang yang belajar ilmu gaib seharusnya tahu "dari mana sumber kekuatan ilmu gaib dan bagaimana proses atau cara kerja ilmu gaib", atau mungkin dia berguru pada pada paranormal palsu yang ilmunya pastinya palsu.

Oleh karena itu saya menyusun "Pembuka Ilmu Gaib" yang mengupas dua hal pokok yang seharusnya menjadi pengetahuan awal bagi Anda yang ingin belajar ilmu gaib. Pengetahuan ini akan sangat membantu dalam membuka pintu kekuatan gaib di tubuh.

Sumber Kemampuan Supranatural

Aliran hikmah dan kejawen sepakat bahwa sumber kekuatan ilmu gaib adalah khodam. Namun kedua aliran tersebut berbeda pendapat mengenai pengertian khodam. Aliran kejawen beranggapan bahwa khodam atau prewangan adalah jenis makhluk tertentu yang memang diciptakan Tuhan untuk membantu manusia. Menurut faham kejawen, khodam bukanlah jin dan bukanlah malaikat, melainkan makhluk gaib khusus yang berfungsi menimbulkan kekuatan supranatural pada manusia sakti atau benda bertuah.

Sedangkan aliran hikmah yakin bahwa "khodam" sebetulnya hanyalah julukan bagi Jin atau Malaikat yang membantu manusia. Pendapat ini setidaknya bedasarkan dua alasan sebagai berikut: Pertama, Khodam dalam bahasa Arab berarti pembantu, penjaga atau pengawal yang selalu mengikuti. Dalam bahasa arab pembantu rumah tangga, sopir, tukang kebun dan body guard juga bisa disebut sebagai khodam.

Kedua, Bukankah dalam Al-Quran sudah diterangkan bahwa Allah hanya menciptakan hambanya dalam tiga bentuk saja, yaitu: Malaikat, Manusia dan Jin. Kalaupun ada yang istilah "khodam", maka tidak lain hanyalah nama alias untuk ketiga jenis makhluk tersebut. Seperti halnya "setan", sebetulnya bukanlah jenis mahluk, melainkan hanya julukan bagi jin dan manusia yang suka berbuat kejahatan. Saya pribadi lebih meyakini pendapat aliran hikmah karena mempunyai alasan yang kuat.

Keajaiban yang ditimbulkan oleh ilmu gaib berbeda dengan mukzijat. Perbedaannya terletak pada prosesnya dan siapa yang menerimanya. Mukzijat hanya diterima oleh nabi/rasul dan prosesnya tanpa perantara, tidak ada perantara malaikat/jin yang menyebabkan nabi Musa bisa membelah lautan dan tongkatnya menjadi ular. Kejadian mukjizat langsung dari perintah Allah "kun fa yakun!". Mukjizat tidak bisa dipelajari atau diusahakan oleh manusia, termasuk nabi, nabi hanya menerima dan tidak berkuasa menolak kekuasaan Allah.

Sedangkan keajaiban yang ditimbulkan ilmu gaib sebenarnya adalah fungsi khodam yang sudah menyatu dengan pemilik ilmu gaib. Misalnya orang yang kulitnya kebal senjata tajam, sebetulnya kulitnya diselimuti enegi gaib oleh khodam sehingga senjata yang hendak menyentuh kulit terhalang dan tidak bisa menembus. Proses ini serupa dengan atmosfer bumi yang ketika ada meteor jauh maka akan mengalami gesekan hingga meteor terbakar dan habis, dengan begitu mahluk bumi menjadi aman dari meteor yang berjatuhan.

Ilmu Gaib bisa dipelajari atau diusahakan. Usaha untuk memperoleh ilmu gaib bisa dengan puasa, wirid mantra, meditasi, pengisian (bila ada guru) dan lain-lain. Khodam yang akan menjadi ruh ilmu gaib pun berbeda-beda tergantung jenis ilmu dan siapa yang mengamalkan ilmu tersebut. Untuk amalan yang murni bersumber dari Al-Quran, IsyaAllah, khodamnya adalah malaikat. Ilmu Kejawen, kebanyakan berkhodam Jin muslim atau jin non-muslim tergantung siapa yang mengamalkannya dan niat memiliki ilmu tersebut.

Sifat Khodam Ilmu Gaib

Saya yakin, sebagian dari Anda menjadi takut mempelajari ilmu gaib setelah tahu bahwa kekuatannya sebetulnya berasal dari makhluk gaib (khodam). Ketahuilah bahwa jin yang menjadi khodam suatu ilmu berbeda sifatnya dengan jin pengganggu. Khodam adalah jin yang bersifat pasif. Dia tidak bisa mempengaruhi pikiran Anda dan tidak bisa menampakan diri.

Meskipun khodam selalu mengikuti Anda, dia tidak akan berkomentar apapun tentang tindakan Anda. Khodam juga tidak bisa berkomunikasi dengan Anda, kecuali Anda menguasai ilmu untuk berkomunikasi dengan khodam. Jadi intinya, meskipun ratusan khodam mengikuti Anda, Anda tetaplah diri Anda yang merdeka, boleh melakukan apa saja sesuka hati. Anda tidak perlu takut dengan khodam karena khodam sepenuhnya hanya akan membantu Anda tanpa minta imblan dan tidak mengganggu.

Mengapa harus puasa dan baca mantra?

Hakekat puasa dalam ilmu gaib adalah untuk mempermudah penyatuan khodam dengan pemilik ilmu. Bukan berarti tanpa puasa ilmu tidak bisa dikuasai. Jika ada guru sakti yang bersedia mengisi Anda, maka Anda langsung bisa memiliki ilmu tanpa melelui proses puasa/ritual. Kekuatan hasil pengisian tergantung seberapa besar kesaktian guru yang mengisi Anda. Sedangkan jika Anda puasa/ritual sendiri, maka kekuatan yang dihasilkan tergantung penghayatan dan kesungguhan Anda dalam menjalani puasa/ritual.

Mantra adalah sarana untuk memanggil khodam. Saat Anda membaca mantra, beberapa khodam yang sifatnya sama dengan mantra yang Anda baca langsung datang mengitari Anda. Khodam-khodam itu tidak bisa lagsung bersatu dengan tubuh Anda karena berlainan materi penyusun tubuh. Jin terbuat dari api (panas) dan Anda terbuat dari tanah (netral), maka agar mempermudah penyatuan khodam dengan diri Anda anda harus mengosongkan perut hingga tubuh Anda lemah dan terasa panas.

Lemahnya tubuh Anda saat berpuasa juga mempermudah penyatuan khodam. Logikanya, tubuh lemah adalah karena kekurangan energi, maka ada kesempatan bagi khodam untuk mengisi kekurangan energi di tubuh Anda.

Ilmu yang sudah ada pada diri Anda bisa bertambah kuat dan juga bisa melemah tergantung kerajinan Anda dalam merawat ilmu tersebut. Merawat ilmu sama artinya dengan menjaga hubungan antara khodam dan Anda. Semakin kuat ikatan antara Anda dan khodam, kekuatan ilmu Anda semakin kuat. Cara merawat suatu ilmu adalah dengan membaca mantranya rutin pada waktu yang ditentukan. Semakin khusyuk dan banyak wirid mantra maka semakin besar pula kekuatan ilmu Anda.

Cara Membuka Pintu Ilmu Gaib

Jika Anda termasuk orang yang sering gagal dalam mempelajari ilmu gaib atau tidak menemukan guru sakti yang bersedia mengisikan ilmu ke tubuh Anda. Maka lakukanlah cara berikut ini. Semoga dengan cara yang saya berikan, Anda akan mudah menguasai ilmu gaib meskipun Anda hanya belajar dari buku. Jika anda tidak mengerti bahasa arab, maka gunakan cara yang kedua. Amalan membuka ilmu gaib, disebut juga amalan untuk untuk ketajaman mata hati.

Cara I, cocok bagi yang senang dengan aliran Hikmah

Selama 4o hari, setiap selesai salat, terutama magrib dan subuh atau ketika Anda selesai salat malam (tahajud), lakukanlah wirid berikut ini.

Membaca Surat Al-Fatihah x 7 ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Membaca Surat Al-Fatihah x 7 ditujukan kepada Wali Ghauts hadzaz-zamani.

Membaca Ya Sayyidi Ya Rasulullah selama 30 menit dengan khusyuk.

Jika Anda punya waktu, maka Membaca kalimah toyyibah “la ilaha illallah” 3000 kali atau semampunya.

Dengan amalan ini, hati akan terang, pintu ilmu gaib akan terbuka, sehingga Anda akan mudah dalam menguasai bermacam-macam ilmu gaib.

Cara II, cocok bagi yang senang dengan aliran Kejawen

Agar hati selalu memancarkan nur atau cahaya yang mengantarkan manusia pada posisi yang baik dan selalu beruntung, dapat diupayakan dengan segala aktivitas yang bertujuan untuk membersihkan hati. Diantara cara itu adalah laku prihatin, semisal puasa dan melakukan ajaran para leluhur untuk menggugah (membangunkan) hati melalui mantra sebagai berikut

Bismillahir rahmaanir rahiim
Ati–ati siro tangi
Amoco layang puspo kati
Sanyang surya sanyang sasi
Byar padhang badan jasmani
Padang saking kersaning Allah
La ilaha illallah Muhammadur rasulullah.

Mantra ini dibaca pagi hari di depan rumah sembari menanti terbitnya matahari dan sore hari sambil menanti datangnya waktu mahrib. Dan orang-orang tua zaman dulu yang mengamalkan Doa Padhang Ati ini mengawalinya dengan puasa mutih selama 7 hari. Mutih adalah tidak makan makanan yang berasal dari mahluk bernyawa/binatang

Ajian Panglimuan


Aji Panglimunan adalah salah satu ilmu ghaib yang sangat terkenal ampuh,karena pemilik ilmu ini bisa menghilang bahkan menutup benda agar tidak tampak.Sayang anggapan orang secara umum,ilmu ini dianggap ilmu hitam lantaran banyak disalah gunakan untuk hal yang tidak perpuji seperti mencuri,dll Namun sebenarnya hanya sejenis ilmu panglimunan seperti welut putih,popok wewe,siluman yang bisa untuk berbuat hal demikian. 
Aji panglimunan pada dasarnya hanya bisa digunakan pada saat terdesak atau benar-benar diperlukan, mengenai bagaimana cara menguasai ajian ini,maka jalakan ritual sbb: Puasa mutih selama 21 hari dan pati geni sehari semalam. Tiap usai sholat wajib lima waktu mantra dan doanya dibaca 7x. Malam harinya jalankan sholat hajat khusus 2 rakaat,mantra dan doanya dibaca 7x, ditambah wirid asma'ul husna 7 putaran tasbih, jika sudah ditebus ritualnya jika mau gunakan cukup baca sekali.

Mantranya :
"Shalallohu ‘alaihi wasallam
Allohuma qulhu Allah
Dzat gumilang tanpa sangkan
Gumilang tanpa enggon
Liyep ilang salin raga
Inna fatohia lakofat kanmubilla
Sir Abubakar, sir Umar, sir Ali, sir Usman
Sir jabarail, sir malaikatul mukhorobin
Sir Alloh la illa haillaloh muhammadurrosulluloh
Sir wali, sir kuat berkat, sir teguh, sir luput, sir ora katon
Lungguhku imbar, mimang-mimong si wisakarma
Tengahing angin, apipit maya-maya ora katon apa-apa
Kang hima kakalangan peteng ndedet alimengan si ambar ngemuli aku
Wong sabuwana bloloken orang weruh aku ". 3x,
Doanya:
"La tudrikuhul abshor
Wa huwa, yudrikul abshor
Wa huwal lathiful khobir". 7x Wiridnya: "ya latif ya khobir" 700x. Demikian penjelasan ilmu ini,semoga bermafaat.

Kidung Pedayangan Tanah Jawa


Para Ratuning Dhedhemit Ing Nusa Jawi
Pupuh Sinom:
Apuranen sun angetang, lelembut ing nusa Jawi kang rumeksa
ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi yen
eling sadayanipun, pedah kinaya tulah, ginawe tunggu wong
sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
Kang rumiyin ing bang wetan. Durganeluh Maospahit lawan Raja
Bohureksa iku ratuning dhedhemit Blambangan kang winarni
awasta Sang balabatu, aran Butalocaya, kang rumeksa ing
Kadhiri, Prabuyeksa kang rumeksa Giripura.
Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klenthingmungil Endrayaksa
ing Magetan, Jenggala si Tujungputih, Prangmuka Surabanggi.
Pananggulang Abur-abur Sapujagad ing Jipang, Madiyun si
Kalasekti, pan si Koreb lelembut ing Pranaraga.
Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan guguh
Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping Balitar
si Kalakatung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si
Sekargambir, Carub-awor kang rumekso ing Lamongan.
Gurnita ing Puspalaya, si Lempur ing Pilangputih, si Lancuk
aneng Balora, Pagambiran Kalasekti, Kedhunggene Ni Jenggi,
Ki Bajangklewer puniku ngLangsem Kalabrahala Sdayu si
Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candi Kahyanganira.
Semarang Baratkatiga, Pakalongan Gunturgeni, Pecalang si
Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati ing Padhas Nyai Ragil,
Jayalelana ing Suruh Butatrenggiling Tegal, ing Tegal si
Guntinggeni, Kaliwungu Gutukapi kang rumeksa.
Magelang Ki Samaita, Dhadhungawuk Geseng nenggih,
Butasalewah ing Pajang, Manda-manda ing Matawis, Paleret
Rajekwesi, Kuthagede Nyai Panggung, Pragota Kartasura,
Cirebon Setankoberi, Jurutaman ingkang aneng Tegallayang.
Genawati ing Seluman, Ki Kemandhang Wringinputih, si Karetek
Pajajaran, Sapuregel ing Betawi, Ki Drusul ing Banawi,
ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlekah ngawang-awang Ki Tapa
ardi Marapi, Ni Taruki ingkang ana Tunjung Banag.
Setan kareteg ing Kendal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada
ing Rangkudan, Ni Pandansari ing Srisig, kang aneng
Wanapeti, Palangkaarsa wastanipun, Ki Candung ing Sawahan,
Plabuhan Ki Dudukwarih, Batutukang kang aneng Palayangan.
Ni rara Aris ing Bawang, ing Tidar Ki Kalasekti, Ki
Padureksa Sundara Ki Jalela ardi Sumbing, Ngungrungan
Kesbumurti, Ki Krama ardi Rebabu, Nirbangsan ardi Kombang,
Prabu Jaka ardi Kelir, Ajidipa gunung Kendheng kang den
reksa.
Ing Pasisir Butakala, ing Tlacap si Kalasekti, Kalanadhah
ing Banyumas, Sigaluh aran Prenthil Banjaran Ki Wewasi Kyai
Korog ing Lowanu, gunung Duk Geniyara, Nyai Bureng
Parangtritis, Drembamoha ingkang aneng Prabalingga.
Ki Kerta Sangkalbolongan, Kedhungandhong Winongsari ing Jenu
Ki Karungkala, ing Pengging Banjaransari, ing Kedhu kang
nenggani, anamaa Ki Candralatu, Gunung Kendhalisada
Kethekputih kang nenggani, Butaglemboh ing Ayah
kahyanganira.
Ni Rara Dhenok ing Dewak, ing Tubin Nyai Bathithing ing Kuwu
Ki Juwalpayal, si Jungkit ing Guyanag nenggih, Trenggalek Ni
Daruni, Tunjungseta Cmarasewu, Kalawadung Kenthongan, Jepara
Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganiraa.
Magiri Ki Manglarmonga, ing Gading Ki Puspasari Ketanggung
Ki Klanthungwelah, Brengkalan si banaspati, Ni Kopek ing
Manolih, ing tengah si Sabukalu, Nglandhak Ki Mayangkara, si
Gori Kedhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.
Sunan Lawu ing Argapura, ing Bayat si Puspakati,
Cucukdandang ing Kartikan, kulawarga Tasih Wedhi, kali Opak
winarni, Sanggabuwana ranipun, si Kecek Pajarakan,
Cingcinggoling Kaliwening, ing Dhahrama Ulawelang kang
rumeksa.
Kang aneng Kayulandheyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang
aneng RobanSungujaya Udanriris, Sidarangga Dalepih, si
Gadhung Kedhunggarunggung, kang neng Bajanegara, Citranaya
kang nenggani, Genapura kanaan aneng Majapura.
Ki Logenjang ing Juwana, ing Rembang si Bajulbali, Ki Lender
ing Wirasaba, Madura Ki Butagrigis, kang ngreksa ing Matesih
Jaranpanolih ranipun, Ki Londir Pacangakan, si Landhep ing
Jataisari, Ondar-andir ingkanag aneng Jatimalang.
Arya Tiron ing Lodhaya, Sarpabangsa aneng Pening,
Perangtandanag ing Kasanga, ing Crewek Ki Mandamandi setan
telagapasir, ingkang aran Ki Jalingkung, Kalanadhah ing
Tuntang, Bancuri Kalabancuri, kang rumekso sukune ardi
Baita,Retno Anjani rumekso Ardi Kuncen.
Ragadungik Randhulawang, ing Sendhang Retna Pengasih
Butakapaa ing Prambanan, Bok Sampurna ardi Wilis, Raden
Galinggangjati kang rumeksa Gajahmungkur, si Gendruk ing
Talpegat, Ngembet Raden Panjisari, Pagerwaja kang aran
Udakusuma.
Ki Penthul ing Pakacangan, Cangakan si Dhodhotkawit
kalangkung ing sektinira, titihane kudha putih, cakra
payungireki lar waja kekemulipun, pan sami rinajegan,
respati rajege wesi, camethine pat-upate ula lanang.
Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali
mengetan mangidul, panyaberneki, lara prapta ambalik,
tinulak bali mangidul ngulon banyabetira ana lara teka bali,
pan tinulak mangulon bali kang lara.
Mangalor panyabetira, ana lara teka bali, mangalor
balitinulak anulya nyabet manginggil, lara prapta ambalik
tinulak bali mandhuwur nulya nyaber mangandhap, ana lara
teka bali, pan tinulak larane bali mangandhap.
Dhemit kang aneng Jepara, lan dhemit kang aneng Pati
kalangkung kasektenira, Juweyawastanireki, Gus rema
Tambaksuli, Kudhapeksa ing Delanggung, Ki Klunthung
Ringinpethak, Ni Gambir ing Glagahwangi, si Kacubung
Kadilangu kang den reksa.
Ni Duleg ing Pamancingan, Guwa langse Nini Suntring, kang
rumeksa Parangwedang raden Arya Jayengwesti, kabeh urut
pasisir, kulawarga Nyai Rara Kidul, sampun pepak sadaya,
paraa ratuning dhedhemit, nusa Jawa pangeran kang rumeksa

Ritual Banca'kan Weton


TATA CARA BANCAK'AN WETON

Bancak'an weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Dalam tradisi Jawa, seseorang harus dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, biasanya dilakukan bancakan weton selama 7 kali berturut-turut, artinya sekali bancakan setiap 35 hari, selama 7 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCA'KAN

Manfaat dan tujuan banca'kan weton adalah untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif, sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative, dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini, pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain, ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Apapun reaksinya, kiranya saya tetap perlu sekali menjelaskan siapa jati diri sang pamomong ini agar supaya para pembaca yang budiman yang memiliki antusiasme akan luasnya bentang sayap keilmuan, dan secara dinamis berusaha menggapai kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Pamomong, atau sing momong, adalah esensi energy yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing dan mengasuh diri kita kepada sesuatu yang tepat, pas dan pener dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Esensi energy dapat dirasakan bagaikan medan listrik, yang mudah dirasakan tetapi sulit dilihat dengan mata wadag. Jika eksistensi listrik dipercaya ada, karena bisa dirasakan dan dibuktikan secara ilmiah. Sementara itu eksistensi pamomong sejauh ini memang bisa dirasakan, dan bagi masyarakat yang masih awam pembuktiannya masih terbatas pada prinsip-prinsip silogisme setelah menyaksikan dan mersakan realitas empiris. Pamomong diakui eksistensinya setelah melalui proses konklusi dari pengalaman unik (unique experience) yang berulang terjadi pada diri sendiri dan yang dialami banyakan orang. Lain halnya bagi sebagian masyarakat yang pencapaian spiritualitasnya sudah memadai dapat pembuktiannya tidak hanya sekedar merasakan saja, namun dapat menyaksikan atau melihat dengan jelas siapa sejatinya sang pamomong masing-masing diri kita. Dalam pembahasan khusus suatu waktu akan saya uraikan secara detail mengenai jati diri sang Pamomong.

TATACARA WETONAN

Perhatikan "Sate" di pucuk tumpengSetiap anak baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali biasanya pada saat usia bayi menginjak hari ke 35 (selapan hari). Bancakan weton dapat dilaksanakan tepat pada acara upacara selapanan atau selamatan ulang weton yang pertama kali. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih berkualitas atau bermutu, lebih hati-hati, tidak liar dan ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Bahkan seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh hingga berdarah-darah, nakal bukan kepalang, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Dalam beberapa kasus saya menyaksikan sendiri seorang anak sakit panas, sudah di bawa periksa dokter tetap belum ada tanda-tanda sembuh, lalu setelah dibikinkan bancakan weton hanya selang 2 jam sakit demannya langsung sembuh. Inilah sekelumit contoh yang sering saya lihat dengan mata kepala sendiri persoalan di seputar bancakan weton. Masih banyak lagi yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin para pembaca yang budiman memiliki banyak pengalaman spiritual di seputar soal weton, saya berharap anda berkenan untuk berbagi kisah di sini agar bermanfaat bagi kita semua. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan paparkan secara singkat uborampe untuk membuat bancakan weton.

BAHAN-BAHAN

1. Tujuh macam sayuran : kacang panjang dan kangkung (harus ada), kubis, kecambah/tauge yang panjang, wortel, daun kenikir, bayam, dll bebas memilih yang penting jumlahnya ada 7 macam. Seluruh sayuran direbus sampai masak, tetapi jangan sampai mlonyoh, atau terlalu matang. Agar tidak mlonyoh, setelah diangkat langsung disiram dengan air es atau cukup disiram air dingin biasa, sehingga sayuran masih tampak hijau segar tetapi sudah matang.

Banca'kan weton

Maknanya ; 7 macam sayur, tuju atau (Jawa; pitu), yakni mengandung sinergisme harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Kacang panjang dan kangkung tidak boleh dipotong-potong, biarkan saja memanjang apa adanya. Maknanya adalah doa panjang rejeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.

2. Telur ayam (bebas telur ayam apa saja). Jumlah telur bisa 7, 11, atau 17 butir anda bebas menentukannya. Telur ayam direbus lalu dikupas kulitnya.

Maknanya ; jumlah telur 7 (pitu), 11 (sewelas), 17 (pitulas) bermaksud sebagai doa agar mendapatkan pitulungan (7), atau kawelasan (11), atau pitulungan dan kawelasan (17).

3. Bumbu urap atau gudangan. Jika yang diberi bancakan weton masih usia kanak-kanak sampai usia sewindu (8 tahun) bumbunya tidak pedas. Usia lebih dari 8 tahun bumbu urap/gudangannya pedas. Bumbu gudangan terdiri : kelapa agak muda diparut. Diberi bumbu masak sbb : bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, laos, daun jeruk purut, sereh, gula merah dan garam secukupnya. Kalau bumbu pedas tinggal menambah cabe secukupnya. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

Maknanya : bumbu pedas menandakan bahwa seseorang sudah berada pada rentang kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang penuh manis, pahit, dan getir. Hal ini melambangkan falsafah Jawa yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan kedewasaan anak harus dimulai sejak dini. Pada saat anak usia lewat sewindu sudah harus belajar tentang kehidupan yangs sesungguhnya. Karena usia segitu adalah usia yang paling efektif untuk sosialisasi, agar kelak menjadi orang yang pinunjul, mumpuni, perilaku utama, bermartabat dan bermanfaat bagi sesama manusia, seluruh makhluk, lingkungan alamnya.

4. Empat macam polo-poloan. Terdiri dari; 1) polo gumantung (umbi yang tergantung di pohon misalnya; pepaya), 2) polo kependem (tertaman dalam tanah) misalnya telo (singkong), 3) polo rambat atau yang merambat misalnya ubi jalar. 4) kacang-kacangan bisa diwakili dengan kacang tanah. Semuanya direbus kecuali papaya. Papaya boleh utuh atau separoh/sepotong saja.

Bubur 7 Rupa, buah-buahan & jajanan pasar

5. Nasi Tumpeng Putih. Beras dimasak (nasi) untuk membuat tumpeng. Perkirakan mencukupi untuk minimal 7 porsi. Sukur lebih banyak misalnya untuk 11 atau 17 porsi. Setelah nasi tumpeng selesai dibuat dan di doakan, lalu dimakan bersama sekeluarga dan para tetangga. Jumlah minimal orang yang makan usahakan 7 orang, semakin banyak semakin baik, misalnya 11 orang, 17 orang. Porsi nasi tumpeng boleh dibagi-bagikan ke para tetangga anda.

Maknanya, dimakan 7 orang dengan harapan mendapat pitulungan yang berlipat tujuh. Jika 11 orang, berharap mendapat kawelasan yang berlipat sebelas. 17 berharap mendapat pitulungan lan kawelasan berlipat 17. Namun hal ini hanya sebagai harapan saja, perkara terkabul atau tidak hal itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan.

6. Alat-alat kelengkapan : 1) daun pisang secukupnya, digunakan sebagai alas tumpeng (lihat gambar). 2) kalo (saringan santan) harus yang baru atau belum pernah digunakan. 3) cobek tanah liat yang baru atau belum pernah digunakan. Cara menggunakannya lihat dalam gambar.

7. Makanan jajan pasar. Terdiri dari makanan tradisional yang ada di pasar. Misalnya makanan terbuat dari ketan; wajik, jadah, awug, puthu, lemper dll. Makanan yang terbuat dari beras ; apem, cucur, mandra. Serta dilengkapi buah-buahan yang ditemui di pasar seperti salak, rambutan, manggis, mangga, kedondong, pisang. Semuanya dibeli secukupnya saja, jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Maknanya ; kesehatan, rejeki, keselamatan, supaya selalu lengket, menyertai kemanapun pergi, dan dimanapun berada.

8. Kembang setaman (terdiri dari ; mawar merah, mawar putih, kantil, melati, kenanga).

Kembang Setaman

Maknanya : kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri. Misalnya bunga mawar ; awar-awar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati, melat-melat ing ati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan sangkan paraning dumadi. Kanthil supaya tansah kumanthil, hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.

9. Uang Logam (koin) Rp.100 atau 500, atau 1000. (Cara menyajikan lihat gambar).

10. Bubur 7 rupa : bahan dasar bubur putih atau gurih (santan dan garam) dan bubur merah atau bubur manis (ditambah gula jawa dan garam secukupnya). Selanjutnya dibuat menjadi 7 macam kombinasi; bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, putih silang merah, bubur putih tumpang merah, merah tumpang putih, baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya).

Maknanya : bubur merah adalah lambang ibu. Bubur putih lambang ayah. Lalu terjadi hubungan silang menyilang, timbal-balik, dan keluarlah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Hal ini menyiratkan ilmu sangkan, asal mula kita. Menjadi pepeling agar jangan sampai kita menghianati ortu, menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

bubur 7 rupa

bubur 7 rupa

Perhatikan Kalo & Daun Pisang

11. Membuat teh tubruk dan kopi tubruk. Di tambah rujak degan (klamud) menggunakan air kelapa ditambah gula merah dan garam secukupnya. Sajikan dalam gelas atau cangkir tetapi jangan ditutup.

FILE0217

CARA MENYAJIKAN

1. Buatlah “sate” terdiri dari (urutkan dari bawah); cabe merah (posisi horizontal), bawang merah, telur rebus utuh dikupas kulitnya (posisi vertical), dan cabe merah posisi vertical (lihat dalam gambar). “Sate” ditancapkan di pucuk tumpeng.

Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

2. Nasi tumpeng dicetak kerucut besar di bawah runcing di bagian atas. Tumpeng letakkan tepat di tengah-tengah kalo.

Maknanya ; nasi tumpeng sebagai wujud doa, sekaligus keadaan di dunia ini. Segala macam dan ragam yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Yang Satu. Dilambangkan sebagai tumpeng berbentuk kerucut di atas. Makna lainnya bahwa segala macam doa merupakan upaya sinergisme kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, di bagian bawah tumpeng bentuknya lebar dan besar, semakin ke atas semakin kerucut hingga bertemu dalam satu titik. Satu titik itu menjadi pucuk atau penyebab dari segala yang ada (causa prima) melambangkan eksistensi Tuhan sebagai episentrum dari segala episentrum.

3. Tujuh macam sayur ditata mengelilingi tumpeng serta bumbu gudangan/urap diletakkan di antaranya. Makna 7 macam sayur sudah saya ungkapkan di atas. Sayur di tata mengelilingi tumpeng. Tumpeng sebagai pusatnya energy ada di tengah. Energy diisi dengan segala hal yang positif seperti harmonisasi symbol angka 7 (nyuwun pitulungan).

4. Telur rebus boleh utuh atau dibelah menjadi dua, ditata mengelilingi nasi tumpeng (lihat gambar).

Maknanya : telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup. dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro ke IV, telur melambangkan proses meretasnya kesadaran ragawi (sembah raga) menjadi kesadaran ruhani (sembah jiwa). Dua kesadaran itu akan menghantarkan menjadi menusia yang sejati (sebagai kiasan dari proses menetas menjadi anak ayam). Dalam cerita pewayangan telur juga melambangkan proses terjadinya dunia ini. Kuning telur sebagai perlambang dari cahya sejati (manik maya), putih telur sebagai rasa sejati (teja maya). Keduanya ambabar jati menjadi Kyai Semar. Dengan perlambang telur, kita diharapkan selalu eling sangkan (ingat asal muasal), menghargai dan memahami eksistensi sang Guru Sejati kita yang tidak lain adalah sukma sejati yang dilimput oleh rasa sejati dan disinari sang cahya sejati. Inilah unsur Tuhan yang ada dalam diri kita. Dan yang paling dekat; adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan (jauh tanpa jarak, dekat tanpa bersentuhan). Lebih dekat dari urat leher. Inilah salah satu sang Pamomong yang kita hargai eksistensinya melalui bancakan weton.

5. Kalo diletakkan di atas cobek (kalo dialasi dengan cobek).

Maknanya : Cobek merupakan makna dari bumi (tanah) tempak kita berpijak. Nasi tumpeng dan segala isinya yang diletakkan dalam kalo jika tidak dialasi cobek bisa terguling. Hal ini mensyiratkan makna hendaknya menjalani hidup di dunia ini ada keseimbangan atau harmonisasi antara jasmani dan rohani. Antara unsur bumi dan unsur Tuhan. Antara kebutuhan raga dengan kebutuhan jiwa, sehingga menjadi manusia sejati yang meraih kemerdekaan lahir dan kemerdekaan batin.

6. Daun pisang dihias sedemikian rupa sesuai selera sebagai alas meletakkan tumpeng dan sayuran. Daun yang hijau adalah lambang kesuburan dan pertumbuhan. Maknanya adalah pengharapan doa negeri kita maupun pribadi kita selalu diberkati Tuhan sebagai negeri yang subur makmur, ijo royo-royo, kita menjadi pribadi yang subur makmur, dapat menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan kepada sesama makhluk hidup.

7. Sisa guntingan atau potongan daun pisang, hendaknya diletakkan di antara cobek dengan kalo. Jangan lupa letakkan uang logam bersama sampah sisa potongan daun pisang. Hal ini bermakna segala macam “sampah kehidupan”, sebel sial, sifat-sifat buruk ditimbun atau dikendalikan oleh segala macam perilaku kebaikan sebagaimana tersirat di dalam seluruh isi kalo. Uang logam merupakan perlambang dari harta duniawi. Hal ini mengandung pepeling (peringatan) bahwasanya harta karun dan segala macam perhiasan duniawi ibarat sampah tidak akan berharga apa-apa jika tidak digunakan sebagai sarana laku prihatin. Hal itu menjadikan harta kita tak ubahnya seperti sampah yang mengotori kehidupan kita. Maka, jadilah orang kaya harta yang selalu prihatin. Manfaatkan harta kita untuk memberi dan menolong orang lain yang sangat butuh pertolongan dan bantuan, agar tangan kita lebih mampu “telungkup”, agar jangan sampai kita menjadi orang-orang fakir yang telapak tangannya selalu tengadah dan menjadi beban orang lain.

8. Kembang setaman ditaruh dalam mangkok/baskom isi air mentah. Jika ingin menambah dengan dupa ratus / semacam “dupa manten” bisa dibakar sekalian pada saat merapal doa dan japa mantra.

Setelah seluruh uborampe bancakan weton selesai dibuat. Seluruh ubo rampe bancakan diletakkan di dalam kamar yang sedang dibancaki weton. Selanjutnya dirapal mantra dan doa, usahakan yang merapal mantra atau doa seorang pepunden anda yang masih hidup. Misalnya orang tua anda, bude, bulik, atau orang yang anda tuakan/hormati. Adapun doa dan rapalnya secara singkat dan sederhana sbb :

“Kyai among nyai among, ngaturaken pisungsung kagem para leluhur ingkang sami nurunaken jabang bayine…. (diisi nama anak/orang yang diwetoni) mugi tansah kersa njangkung lan njampangi lampahipun, dados lare/tiyang ingkang tansah hambeg utama, wilujeng rahayu, mulya, sentosa lan raharja. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh saka kersaning Gusti”.

(Kyai among nyai among, perkenankan menghaturkan persembahan untuk para leluhur yang menurunkan jabang bayi ….(sebut namanya), semoga selalu membimbing, mengarahkan setiap langkahnya, agar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur, selamat dan mulia dunia akhirat. Selamat selalu didapat, sukses dan keberuntungan selalu datang. Semua atas izin Tuhan)

Setelah banca'kan dihaturkan, tinggalkan sebentar sekitar 10-20 menit lalu dihidangkan di ruang makan atau diedarkan ke para tetangga untuk dimakan bersama-sama. Demikian petuah saya tentang banca'kan weton, semoga artikel ini bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Bagi yang ingin konsultasi silahkan layangkan ke email:indoghaib@gmail.com

Ajian Waringin Sungsang


Mereplay kehidupan Tanah Jawa masa silam, kita akan tahu bahwa di dalam sejarahnya, di Jawa yang tidak pernah sepi dari konflik baik berupa intrik terbuka maupun peperangan, memaksa setiap wong Jowo untuk mempersiapkan diri dari bahaya baik dari dalam maupun dari luar.Bisa dikatakan Sejarah Jawa adalah sejarah perjuangan manusia untuk bisa hidup damai, tentram dan bahagia namun juga harus bersiap menghadapi segala tantangan. Sikap nrimo dan pasrah itu perlu, namun yang juga perlu adalah bahwa manusia Jawa adalah manusia yang siap untuk struggle for survive (bertahan hidup) di tengah berkecamuknya kepentingan yang berbeda-beda. Itu sebabnya, di Jawa memiliki ilmu-ilmu kesaktian hampir bisa dipastikan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup seseorang. Ajian Waringin Sungsang ini merupakan salah satu “puncak ilmu” kejadukan/ kanoman/ kanuragan yang dimiliki oleh para pendekar digdaya tempo dulu.

Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat mematikan.Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh tidak berdaya. Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat. Maka, para pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun musuh.

Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Dia juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji lembu sekilan dan lainnya. Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?

Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang menggunakan kekuatan buruk. Mereka berkuasa dan ditakuti oleh masyarakat awam.

Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama” Tuhan.

Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning dumadi atau pohon sangkan paran.

Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau ‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya yang melumpuhkan.

Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab ‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya merupakan sifat sejatinya Tuhan. Di dalam Al Quran dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.

Ajian Waringin Sungsang dirapalkan sebagai berikut:

Sun amatek ajiku Waringin Sungsang
wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.
Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.
Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.
Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.
Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.
Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.
Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.
Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.
Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.
Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.
Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.
Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”
Demikian sedikit sejarah mengenai ajian dahsyat unggulan para pendekar Jawa masa silam ini. Tidak salah kita belajar berbagai ilmu kesaktian dengan harapan agar kita semakin bijaksana bahwa samudra ilmu Tuhan begitu luasnya. Sementara ilmu manusia hanya memiliki sedikit ilmu seperti setitik debu saja. Namun, setitik debu ilmu itu pun bila dimanfatkan secara optimal dengan tujuan luhur akan mendatangkan berkah. Berbagai ilmu ajian warisan para leluhur ini pun bisa mendatangkan manfaat yang sangat besar. Misalnya, untuk menghadapi kejahatan yang kini semakin banyak terjadi,atau menghadapi bahaya musuh yang mengancam wilayah negara kita.Bila ingin memiliki keilmuan serperti diatas secara instant yang sudah dikemas dalam bentuk piranti spiritual khusus mengandung daya tuah SERAT KANURAGAN, silahkan klik aja:AJIMAT MANTRA

Kidung Kanjeng Sunan Kalijaga




Pengobatan menggunakan kekuatan batin sudah demikian banyak dikenal di nusantara ini sejak lama. Berbagai teknik dan metode sudah dikenal di era kerajaan-kerajaan Sriwijaya,Majapahit,Demak.

Pada zaman modern sekarang ini, kita mengenal juga banyak pengobatan alternatif modern, ditambah menggunakan ramuan herbal dan lain-lain. Ini jelas merupakan kekayaan budaya spiritual yang harus dilestarikan dan dikembangkan.Teknik dan metodenya yang beragam membantu masyarakat untuk memilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan keinginannya.

Salah satu metode pengobatan kuno dengan pengerahan daya batin adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga perlu kita kembangkan dan lestarikan.Menurut Mas Han inti dari semua itu adalah metode menyampaikan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keyakinan penuh bahwa doanya akan diijabahi oleh-Nya dengan diiringi sikap pasrah total dan ikhlas.

Doa yang diajarkan Sunan Kalijaga itu berbahasa Jawa dikenal sebagai Kidung rumeksa ing wengi. Doa yang disampaikan dengan bahasa Jawa,akan lebih meresap ke dalam hati sanubari masyarakat sehingga diharapkan sang pendoanya memahami makna dan tujuan doa tersebut.

Sebelum doa disampaikan, maka didahului oleh amalan PUASA MUTIH selama tiga atau tujuh hari. Puasa mutih yaitu puasa seperti biasa kita melaksanakan puasa Ramadhan.Namun pada saat berbuka, kita hanya memakan nasi dan air putih saja.

Tujuan puasa mutih ini adalah agar tubuh,pikiran,rasa pangrasa kita semakin manunggal untuk menggerakkan daya batin sehingga mampu untuk menggerakkan cinta kasih-Nya dan memberi ijabah pada doa yang akan disampaikan.

Setelah puasa mutih tiga atau tujuh hari dilaksanakan maka pemohon membaca doa sebagaimana berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluh tan ana wani

Wiwah panggawe ala

Gunanung wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pangupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang seraga asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku

Baginda Esis Pangucapku

ya Musa Napasku

Nabi Isa linuwih

Nabi Yakub pamiyarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusup rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging

Ngumar singgih

Balung baginda Ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti Aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal

Inilah pengobatan alternatif untuk segala penyakit bahkan untuk tolak balak segala macam gangguan ghaib. Pengobatan ala Sunan Kalijaga ini tidak bertentangan dengan akidah Tauhid bahkan bila diresapi dengan penghayatan yang mendalam,akan menambah iman kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita yakin penyembuh semua penyakit adalah Dia sehingga kita sampaikan doa setulus-tulusnya padaNya agar mengijabahi permohonan kita.Bagi yang ingin menguasai teknik keilmuan ini lebih lanjut dan penerapan metodenya dalam pengobatan alternatif,silahkan hubungi email:indoghaib@gmail.com

Wejangan Sunan Kalijaga


Tembang "Ilir-Ilir"

Kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan menuju alam akhirat yang kekal dan abadi.
Hampir sebagian besar masyarakat Jawa, mengenal tembang Ilir-Ilir yang dibuat oleh Raden Ja’far Shadiq atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, salah seorang wali yang tergabung dalam Walisongo (Sembilan Wali) dan menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Dalam salah satu riwayat, yang menciptakan tembang ‘Ilir-Ilir’ adalah Sunan Ampel.
Kesembilan wali tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Gunung Jati (Cirebon), Sunan Kudus (Kudus), Sunan Giri (Gresik), Sunan Muria (Gunung Muria) dan Sunan Kalijaga (Demak).
Tembang Ilir-Ilir, adalah salah satu dari sekian banyak tembang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat Jawa.
Seperti diketahui, sebelum memeluk Islam sebagian besar masyarakat Jawa pada zaman dahulu memeluk agama Hindu. Karena itu, tak heran bila pengaruh Hindu begitu dalam merasuk pada sanubari masyarakat Jawa. Apalagi, berbagai kesenian dan kebudayaan Hindu hampir telah menjadi keseharian masyarakat Jawa.Agar agama Islam bisa diterima dengan baik di kalangan masyarakat Jawa, maka para Walisongo menyebarkan Islam secara bijaksana, yakni mewarnai pengaruh Hindu itu dengan ajaran-ajaran Islam sesuai petunjuk Alquran dan hadis Nabi SAW. Dengan demikian, maka masyarakat Jawa pun secara perlahan-lahan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana tuntunan Alquran dan hadis.
Selain itu, konsep yang ditanamkan para Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat adalah dengan berdekatan secara langsung dengan kebiasaan masyarakatnya, namun tetap berpegang pada ajaran Islam.
Itulah yang tampaknya dari tembang syair yang terdapat dalam Ilir-Ilir yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Berikut tembang syair Ilir-Ilir tersebut.
Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wis sumilir,
Tak Ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar.
Cah angon, cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodot iro.
Dodot iro, dodot iro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Mumpung jembar kalangane,
Mumpung padang rembulane,
Yo surako, surak hayo.
Menurut G Surya Alam, dalam bukunya Wejangan Sunan Kalijaga, tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung nasehat atau wejangan untuk menjadi seorang Muslim yang baik.
”Bila direnungkan secara mendalam, apa yang tersirat dalam suratan tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut, secara global mengandung empat hal. Pada bait pertama, bertutur tentang bangkitnya iman Islam. Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima rukun Islam semaksimal mungkin. Bait ketiga, menganjurkan untuk tobat dan memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan. Perbaikan itu diharapkan menjadi bekal untuk menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Sedangkan bait keempat, mengajak umat untuk segera memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan sebelum datang kesempitan, selagi sehat sebelum datang sakit, selagi mudah sebelum datang kesulitan, selagi muda sebelum datang tua, dan selagi hidup sebelum datang kematian,” tulisnya.
Makna Religi
Secara singkat, dapat diterangkan kandungan makna dari tembang Ilir-Ilir yang sarat dengan pesan-pesan moral.
Kata ‘Lir-Ilir’ maksudnya adalah seseorang yang telah terjaga (bangkit) dari tidurnya. Hendaknya segera bangkit dan segera sadar.
Maksud dari kata tersebut, orang yang belum masuk (memeluk) Islam dianggap masih tertidur. Dengan pengulangan kata ‘Lir-Ilir, Lir Ilir’, maksudnya adalah segeralah bangun dan menuju pemikiran yang lebih segar, yakni agama Islam.
Sedangkan kata ‘Tandure wus sumilir‘ maksudnya adalah bahwa benih yang telah ditanam sudah tumbuh. Yaitu, nilai-nilai iman dalam dada mereka sudah tumbuh. Karena itu, mereka harus menjaganya agar senantiasa bersemi. Dan jika iman atau benih itu terawat dengan baik, maka ia akan melahirkan dan menumbuhkan buah yang baik pula. Misalnya, bila benih iman tadi dirawat dengan baik dan senantiasa disirami dengan air yang jernih (membaca Alquran, zikir, shalawat, dan lainnya), niscaya tumbuhan itu pun akan berkembang dengan subur.
Adapun kata ‘Tak ijo royo-royo’ mengandung arti bahwa tumbuhan yang tumbuh subur itu, maka daunnya akan senantiasa berwarna hijau dan segar. Tampaknya maksud dari kata ini adalah bawah seorang pribadi muslim itu senantiasa memiliki perilaku yang baik, suka menolong dan menyenangkan hati bagi orang lain.
Maka kata ‘Tak sengguh penganten anyar’ lalu bermakna, bahwa pribadi yang baik dan sikap yang sopan, akan disenangi banyak orang. Karena itu, dirinya bagaikan sepasang pengantin baru yang disambut gembira oleh khalayak.
Oleh karena itu, orang yang senantiasa memupuk imannya dengan sikap dan perilaku yang baik, serta menjalankan ajaran Islam dengan sempurna, niscaya dirinya akan hidup berbahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Agar iman tetap baik, tidak berbuat maksiat, mencuri, berzina, dan mabok, serta tumbuhan tetap tumbuh subur sehingga senantiasa berkembang (tak ijo royo-royo), dijauhi dari hama dan penyakit, maka si pemiliknya harus senantiasa memelihara dan merawatnya. Tumbuhan harus disirami dengan air, tanahnya diberi pupuk agar tumbuh subur, dan diberi penghilang hama dan penyakit. Begitu pula dengan iman, ia harus senantiasa dijaga, dipelihara dan dirawat dengan baik dengan perbuatan-perbuatan mulia, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, berzikir, sedekah, zakat, dan membantu orang yang membutuhkan.
Makna yang dapat dipetik dari tembang Ilir-Ilir pada bait pertama ini adalah, hendaknya setiap pribadi muslim itu bangkit dari ‘tidurnya’. Lalu mengerjakan amal-amal saleh, agar iman dan Islamnya tumbuh subur, sehingga dirinya disenangi orang banyak.
Selanjutnya, pada bait kedua dari tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi setiap muslim, dalam membentuk jiwa yang kuat, pemberani, tanpa kenal lelah dan putus asa. Sehingga akan membentuk pribadi-pribadi yang sabar, pantang menyerah demi sebuah cita-cita yang mulia.
Kata ‘Cah angon’ maknanya adalah wahai anak gembala. Disebutkan sebanyak dua kali, yaitu ‘cah angon, cah angon‘ menunjukkan adanya perintah yang harus dilaksanakan.
Apakah perintah yang dimaksud itu? ‘Penekno blimbing kuwi’, artinya panjatlah pohon belimbing itu. Karena kata tersebut menegaskan sebuah perintah, maka yang diperintah adalah seorang bawahan, yang kedudukannya lebih rendah dari yang memerintah. Makanya disebut kata ‘cah’ (nak, anak-anak). Kesannya adalah orang tua memerintahkan anaknya untuk memanjat pohon belimbing.
Kok pohon belimbing dan anak gembala? Maksudnya adalah, cah angon itu seorang anak gembala yang berarti manusia. Yang digembalakan adalah nafsunya dari hal-hal keduniawian. Sebab, nafsu itu bila tidak digembalakan (diarahkan) maka si gembala dapat terjerumus kedalam lubang yang berbahaya. Dirinya bisa melakukan perbuatan maksiat dengan bebas, karena tidak ada yang di-angon (gembalakan).
Lalu apa yang digembalakan? Itulah nafsunya tadi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Kendati licin, tetap harus dipanjat, demi membersihkan ‘pakaian batin’ yang kotor. Maksudnya, walaupun perintah itu sulit dilalui, namun ia harus tetap melewati dengan melaksanakannya, demi sebuah cita-cita yang luhur dan mulia.
Mengapa pula Sunan Kalijaga memakai kata ‘Blimbing’ dalam tembangnya ini? Tentu maksudnya adalah rukun Islam harus ditegakkan. Buah belimbing memiliki lima sisi, yang masing-masing sisi itu dimaknai dengan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (bila mampu).
Kelima rukun Islam ini harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim agar dapat membentuk dirinya menjadi insan kamil, yaitu manusia yang sempurna. Menjalankan shalat bagi sebagian orang terasa agak sulit, namun demi sebuah cita-cita, maka hal itu harus terus dikerjakan.
Karena itu, seorang muslim sejati, harus mampu melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama. Tujuannya agar dirinya menjadi manusia-manusia yang berbudi, berakhlak mulia, disayang orang banyak, dengan sifat-sifatnya yang suka menolong orang lain tanpa kenal pamrih.
Berbagai ujian dan cobaan selalu dihadapinya dengan kesabaran, kepasrahan, dan tawakkal kepada Allah. Dan dia akan senantiasa melalui ujian itu dengan lapang dada, kendati terasa berat, sebab banyak godaannya. Namun, Allah menjelaskan, Dia tidak akan menguji atau membebankan suatu perintah kepada hambanya diluar batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba tersebut.
”Laa yukallifullahu nafsan Illa wus’aha,” Allah tidak membenani seseorang itu, kecuali sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (QS Al-Baqarah : 286). (syahruddin el-fikri)
Persiapkan Bekal Akhirat
”Dodot iro, dodot iro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana Jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.

Maksud dari syair ini adalah setiap muslim hendaknya melakukan taubat yang sesungguhnya, mau memperbaiki kesalahannya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.
Dalam bahasa Jawa, Dodot adalah ”ageman’ (pakaian) dalam menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. Sedangkan kata Kimitir bedah ing pinggir’ artinya banyaknya robekan-robekan pada bagian tepi pakaian itu, hendaknya segera dijahit. Sebab, pakaian yang cacat dan rusak itu tentunya tidak pantas lagi untuk dipakai. Agar pantas digunakan lagi, maka perbaikilah.
Itulah makna dari Dondomana Jlumatana artinya, jahirlah bagian yang robek itu. Begitulah halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak, hendaknya kita bertobat dan mau memperbaiki kesalahan tersebut serta tidak mengulanginya lagi. Itulah yang dinamakan dengan taubat nasuha (taubat yang sesungguhnya).
Dengan demikian, segala perbuatan yang sudah kita perbaiki tujuannya adalah sebagai bekal kita di kehidupan akhirat kelak. Disinilah makna dari Kanggo seba mengko sore. Perjalanan manusia selama di dunia ini hanyalah sebagai persinggahan sementara. Awalnya dia berangkat, kemudian kembali. Pagi dia kerja, sore sudah kembali.
Jadi, perbuatan yang baik seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan lain sebagainya itu, tujuannya adalah sebagai bekal umat Islam untuk di kehidupan akhirat.
Mumpung Padang Rembulane,
Mumpung Jembar kalangane.

Selagi masih ada waktu, bersegeralah memperbaiki diri. Mumpung terang sinar rembulannya, dan mumpung luas waktunya. Sebab, bila sudah malam hari tanpa sinar rembulan, maka orang tak akan dapat melihat apa-apa. Ini dimaksudkan, di saat gelap orang akan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Acapkali yang baik dijelekkan, dan yang jelek dibagus-baguskan.
Artinya, selagi masih muda, selagi sinar rembulan masih memancar, segeralah berbuat kebaikan, dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan. Waktu yang ada, jangan disia-siakan tanpa guna dan berlalu begitu saja tanpa hasil.
Bila semua itu bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka bergembiralah. Yo surak o, sorak hayo. Sebab, segala kewajiban yang dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka kehidupan di akhirat nanti akan mendapatkan balasan yang baik pula. Karena itu, berbahagialah mereka yang mampu melaksanakan segala kewajiban dengan baik, tanpa cacat sedikit.
Demikianlah kiranya, makna terdalam dari tembang syair ‘Ilir-Ilir’ yang dikarang oleh Sunan Kalijaga sebagai pedoman bagi setiap muslim untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih baik. Wa Allahu A’lamu. (sya)
*Wejangan Kanjeng Sunan Kalijogo
Sunan Kalijaga memberi wejangan pada Kyai Ageng Pandanaran/Sunan Bayat (Sekar Macapat – kanthi Tembang Dandang Gulo).

Urip iku neng ndonya tan lami. Umpamane jebeng menyang pasar. Tan langgeng neng pasar bae. Tan wurung nuli mantuk. Mring wismane sangkane uni. Ing mengko aja samar. Sangkan paranipun. Ing mengko podo weruha. Yen asale sangkan paran duk ing nguni. Aja nganti kesasar.

Yen kongsiho sasar jeroning pati. Dadya tiwas uripe kesasar. Tanpa pencokan sukmane. Separan-paran nglangut. Kadya mega katut ing angin. Wekasan dadi udan. Mulih marang banyu. Dadi bali muting wadag. Ing wajibe sukma tan kena ing pati Langgeng donya akherat.
MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI

Berikut sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandali untuk menambah pengetahuan kita.

Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.

Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:
Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

Terjemahannya:
Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.

Puji Kratoning Wali Pitu


*Puji Anasiring Manusa:
1. Asal Bumi, rupane ireng, kadadiyane wujud- kita hakikate Dzatira, iku dadining kulit daging, pujine…” Waashadu anna Muhammadarasulullaah “
2. Asal Geni, rupane kuning, kadadiyane nur-kitasifatira iku, dadine otot, balung, pujine…” Ashadualla ilaha illallaah “
3. Asal Angin, rupane ijo, kadadiyane ilmu-kita af’al iku, dadining panguwasa, pujine…” Lasariikalaahu lailaha illallaah ”
4. Asal Banyu, rupane putih, kadadiyane suhud-kita, hakekate asmanira, iku dadining geting lan sumsum, pujine…” Sahitna ‘ala anpusina wa sbit ‘indana innahu lailahaillahuwa ”

*Puji Badan Sekojur:


Pujine Utek : ” Rasulun Rabbil’alamiin “
kuwasane luput tujuh teluh dadi tawar
Pujine Kuping tengen : ” Alliyatan ilahu rabbi ‘umum “
kuwasane ngilangake bilahi kabeh
Pujine Kuping kiwa : ” Samikna wa ‘atakna guprana karabbasa wa’llekal massiir “
kuwasane ngilangake pakewuh kabeh
Pujine Sirah : ” Padaraktum “
kuwasane nglerebaken kang sarwa galak kabeh
Pujine netra : ” Kudusun rabbana wa rabbul malaikatu wa ruh “
kuwasane kinaweden dening wong lanang wadon
Pujine napas : ” Haplil palubuti ngalla yasin “
kuwasane kinasihan wong sajagad kabeh
Pujine Gigir : ” Nawaitu minal kibari pibigalikad hapika karja “
kuwasane teguh timbul
Pujine Otot : ” Parekun parekanun wa’ljannatun nangimum cipta katon cipta ora katon “
kuwasane amurba ora katon
Pujine Awak kabeh : ” Inna fatokna iakafakan mubinin ” lamun arep malebu ing omah
kuwasane slamet rahayu
Pujine Ati : ” Nasrun minallahi wa patekun karibun wa kasiril mukminin “
kuwasane awake katon gede
Pujine Amperu : ” Layastakli panahum “
kuwasane kinawedan dening wong tur bagus rupane kang muji
Pujine Sikil : ” Sari mal maruna “
kuwasane ora katon
Pujine Pepusuh : ” Fasayakfikahumullahu, wahuwassami’ul ‘aliim “
kuwasane luput senjata tawa
Pujine Dalamake : ” Sangan sangun yuhyi wayumitu wahuwa allah lakuli syain qodir “
kuwasane betah lumaku lan lumayu.
*Puji Nafas Patang Prakara:

1. Napas, iku tetalining urip, iya tetalining ruh, rupane ireng, plawangane Af’alullah, dununge ing lesan, pujine ; ” Laa ilaha ilallaah “, iku sampurnaning kulit daging.
2. Tanapas, iku pamiyarsaning ruh, rupane kuning, plawangane Asma’ullah, dununge ing kuping, pujine ; ” Allahu… Allahu “, iku sampurnaning balung lan otot.
3. Anpas, iku panggonaning ruh, rupane ijo, plawangane Sifatullah, dununge ing gigir, pujine ; ” Allah…Allah “, iya iku sampurnaning geting lan sumsum.
4. Nupus, iku paningaling ruh, rupane putih, plawangane Dzatullah, dununge ing netra, pujine ; ” Ya Hu…Ya Hu “, iku sampurnaning pangawasa lan napsu.

*Puji Napsu Patang Prakara:
1. Lawwammah, iku af’aling urip, rupane ireng, plawangane cangkem, dununge ing waduk, pujine ; ” Ya Hu…Ya Hu “, iku sapurnaning cipta lan ripta.
2. Amarah, iku asmaning urip rupane kuning, plawangane ing kuping, dununge ing jantung, pujine ; ” Ilah…Ilah “, iku sampurnaning sir lan angen-angen.
3. Supiyah, iku sifating urip rupane ijo, plawangane ing irung, dununge ing amperu, pujine ; ” Imanahu …Imanahu “, iku sampurnaning osik lan meneng.
4. Muthmainah, iku Dzating urip, rupane putih, plawangane ing mata, dununge ing pepusuh, pujine ; ” Hu…Hu…Hu “, iku sampurnaning budi lan rasa.
*Puji Ati Patang Prakara:
1. Ati Sanubari, iku wisesaning rasa, rupane ireng, plawangane kaharullah, dununge alam sulpil, pujine ; ” Allahu…Allahu “, iku sampurnaning pangucap.
2. Ati Maknawi, iku purbaning rasa, rupane kuning, plawangane kamahullah, dununge alam sulbi, pujine ; ” Allah…Allah “, iku sampurnaning pamiyarsa.
3. Ati Siri, iku sampurnaning rasa, rupane ijo, plawangane jalahullah, dununge alam topek, pujine ; ” Hu…Hu…Hu “, iku sampurnaning pangambu.
4. Ati Pu-at, iku sirnaning rasa, rupane putih, plawangane jamalullah, dununge alam sabit, pujine ; ” Annalkaka … annalkaka “, iku sampurnaning paningal.
*Puji Wijining Manusa:
1. Wadi iku rupane abang, kadadiyane getih-kita, pujine ” Layakrifu ilallaah “
2. Madi iku rupane kuning, kadadiyane banyu-kita, pujine ” Lamakbuda ilallaah “
3. Mani iku rupane ijo, kadadiyane penguwasa-kita, pujine ” Lamujuda ilallaah “
4. Manikem iku rupane putih, kadadiyane cahya-kita, pujine ” Layatkuru ilallaah “
*Puji Dina Pitu:
1. Dina Ahad ; ya kayu ya kayumu, nabi Adam kang ndarbemni, lakunya tidak boleh nginang sehari semalam, ahad lakune ing surya, kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat limang leksa.
kuwasane : lungguhe ing wulu, teguh ora kena winekang, lan ora katon
2. Dina Senen ; ya rahmanu ya rahima, nabi’ullah kang ndarbeni, lakune nyegah iwak sadina sadalu, senen uripe ning wulan kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat kawan leksa.
kuwasane : lungguhe ing kulit, teguh kang kena binenggang
3. Dina Selasa ; ya maliku ya kudusu, nabi Isa kang ndarbeni, lakune apasa sadina sadalu selasa uriping lintang kang rumeksa sadino lawan sawengi, malekat tigang leksa.
kuwasane : lungguhe ing bebayu, angumpulake cahya kabeh
4. Dina Rebo ; ya kabiru ya muntaha, pepitu uripipun nabi Ibrahim kang ndarbeni, lakune nyegah toya sadina sadalu, rebo bumi uripira kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat pitung leksa.
kuwasane : lungguhe ing daging, teguh tan kena winangenan
5. Dina Kemis ; ya ngalim ya ngalimu, wewolu uripipun, nabi Idris kang ndarbeni, lakune nyegah uyah sadina sedalu, kemis dahana uripnya, kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat wolung leksa.
kuwasane : lungguhe ing otot, teguh sajege urip
6. Dina Jumungah ; ya kafi ya muqni, ya enem uripipun, nabi Rasul kang ndarbeni, lakune nyegah pangan sadina sadalu, jumungah lakune barat, kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat leksa.
kuwasane : lungguhe ing bebalung, sekti mandraguna
7. Dina Saptu ; ya fatah ya rajah, sesanga uripipun, nabi Iskhak kang ndarbeni, lakune datan mendra, sadina sadalu, saptu uripe ing toya kang rumeksa sadina lawan sawengi, malekat sangang leksa.
kuwasane : lungguhe ing sumsum, angumpulaken sakehing rasa kabeh
8. Dina pitu lakon solan salin, mung sadina sawengi salinnya, pan akatah supangate, sarta anganggo laku lakunira solan salin, puji lan nabirira, myang cecegahipun apa kajate tinekan, lan malati ora kena den langkahi wayangane kang maca.
kuwasane : lungguhe getih,anekakake sangkan paraning dumadi(sak niate kabeh)
P erlu diwigatekake dening para pamaos,dadining ismu iki kabeh iku kalakone kanti laku,awit sakehing ismu kang ora nganggo dilakoni,iku nora ana dayane apa-apa,dene yen kanti diwiradati lakune kanti temen-temen bakal ana daya prabawane.Mangkono atur kandane pinisepuh kang ahli lelampahan para Wali Pitu.



Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments