Tampilkan postingan dengan label ilmu spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu spiritual. Tampilkan semua postingan

Shalawat Kun Fayakun

Shalawat Kun Fayakun merupakan inti kharomah tingkat tinggi. Shalawat ini ibarat suatu induk doa untuk mewujudkan apapun permintaan atau permohonan doa kita, dalam suatu keilmuan disebut puncak ilmu cipta atau daya laduni. Shalawat kun fayakun adalah kunci doa yang hanya bersandar memohon pada Allah dengan menjunjung tinggi nabiyullah muhammad. Sholawat kun fayakun dalam ilmu hikmah banyak diburu karena beranggapan ini adalah puncak kekuatan doa shalawat yang merupakan induk energi ilmu laduni. Namun apapun doa hanya atas kehendak Allah-lah akan memiliki suatu khasiat yang luar biasa. 
Sholawat kun fayakun akhirnya kami tampilkan disini, semoga ini menjadi wawasan dan keilmuan yang bermanfaat bagi kita semua dalam menambah khasanah ilmu ghaib. Sholawat kun fayakun akan sangat bermanfaat buat anda yang sudah memiliki kemampuan ilmu ghaib dan dianjurkan bukan untuk para pemula, karena pengamal haruslah punya dasar (pondasi keilmuan ghaib) yang kuat dalam menguasainya.

Kunci Doa Belajar Ghaib

Perkembangan jaman menuntut manusia untuk semakin berpikir dan berkembang biak secara individu maupun kelompok. Tidaklah salah jika diri manusia akan lebih idealis dalam menyikapi bahkan menghadapi kenyataan hidup yang ada.
Semua tidaklah lepas dari Kodrat manusia di mana manusia terlahir dengan fitrahnya. Terang dan gelap kehidupan justru menjadi bumerang akan hakikat hidup sesungguhnya, bila manusia tidak sadar dan menyadari akan dirinya. Kontrol diri semakin diabaikan dan kepuasan diri justru semakin dikedepankan dengan tanpa batas.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengakses fokus pengembangan diri dari yang berbasis pikiran menuju proses pengembangan diri yang berbasis intelejen hati. Ini adalah sebuah proses pengembangan diri yang menggabungkan kekuatan saint dan motivasi ketuhanan (spiritual). Tidaklah jarang semakin sukses seseorang semakin jauh rasanya dengan kebahagiaan yang dicarinya.
Ego manusia telah banyak menciptakan berbagai kenyaman hidup dan hanya berhasil sedikit dalam memberi sumbangan untuk kebahagiaan hidup. Sebab kemudahan hidup tidak dapat dipahami, hanya lewat rasio pikiran yang cenderung rumit, melainkan harus melalui hati dengan kelembutan logikanya sendiri. Kondisi ini memungkinkan kita untuk semakin mantap dan tahu betul apa arti doa kita sesungguhnya....
Kesuksesan hidup tidaklah cukup dengan hanya bekerja keras dalam mewujudkan yang abstrak menjadi nyata. Untuk mencapai tujuan itu, kita memerlukan dorongan DOA (Sentuhan Hati) yang ikhlas, maksudnya keterampilan (SKILL) penyerahan diri yang TOTAL kepada Tuhan Sang Pencipta untuk meraih puncak sukses dan kebahagiaan. Hal ini merupakan suatu proses mengukur, melatih, dan meningkatkan tingkat keikhlasan dari dasar hati untuk mengakses kekuatan dasyat hati nurani yang natural menuju kesuksesan yang seimbang.
Jika digunakan dengan tepat, doa yang ikhlas ini akan mempercepat peningkatan kesadaran dan membuat proses pengembangan diri serta perjalanan spiritual (Ketuhanan) seseorang menjadi lebih mudah dan rasional yang akan membawa kesuksesan karir, bisnis, kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman jiwa, keselamatan dunia wal akhirat.
Bagi pembaca INDO GHAIB grup jangan asal comot mengamalkan informasi keilmuan, mintalah ijazah dan kata kunci keilmuannya, karena dalam artikel ini ada hal penting yang tentunya tidak dicantumkan. Dengan kehadiran Indo Ghaib Blog's ini diharapkan masyarakat lebih mengetahui seputar informasi lika liku dunia metafisika/ilmu ghaib/hikmah/dsb, serta masyarakat dapat menerima pembelajaran keilmuan yang termaktub dengan digurukan agar tidak ada dampak negatif,dengan itu apa yang anda amalkan dapat bermanfaat dalam kehidupan ini.Wallahu a'lam.

RAHASIA ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu dengan-NYA?
Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. Dalam prakteknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa.
Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.
1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.
2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.
3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.
4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.
Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:
1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;
2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;
3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.
TIGA TAHAP BERDZIKIR
Ada tiga tahap adab berdzikir. Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.
Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:
1. Bertaubat kepada Allah SWT
2. Mandi atau mengambil air wudhu
3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir
4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah
5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW
Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:
1. Duduk bersila di tempat yang suci
2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
3. Membuat bau harum di tempat zikir
4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian
5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi
6. Pejamkan mata
7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan
8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi
9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir
10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH
11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH
12. Meniadakan wujud lain selain Allah.
Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:
1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat
2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula
3. Menahan diri untuk minum air
Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:
1. BERTAPA (Uzlah). Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.
2. NGAWULO (Mengabdi). Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.
3. AMAL SHOLDAQOH. Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.
Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia).
Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya. Wa salam.

Nyampurnakake Roh Manungso



PENYEMPURAAN ARWAH (ROH)

Banyak sekali terdapat tata cara penyempurnaan arwah. Masing-masing daerah, wilayah, budaya, ajaran, memiliki tradisi masing-masing. Penyempurnaan arwah bukan berarti sepenuhnya “nasib” tergantung dari orang yang menyempurnakan. Namun demikian, penyempurnaan sebagai wujud aklamasi, yang melibatkan kedua belah pihak, yakni pihak roh dan orang yang masih hidup.
Aklamasi berisi ungkapan rasa perpisahan tanpa ada ganjalan lagi. Masing-masing, baik yang meninggalkan maupun yang ditinggal merasa ikhlas dan rela. Dan masing-masing menyadari bahwa sudah berbeda alam dan berlainan urusannya. Bagi keluarga yang ditinggalkan sudah merasa ikhlas dan memberikan doa restu bagi arwah untuk melanjutkan “perjalanan” ke alam baka, alam kelanggengan tempat di mana kehidupan yang sejati berada. Bagi arwah sendiri, telah rela melepaskan segala urusan keduniawian, dan menetapkan dalam satu tujuan yakni menghadap kepada Sang Pencipta alam semesta. Sehingga bagi arwah sudah tiada lagi urusan duniawi yang mengganjal atau yang masih membuat penasaran (arwah penasaran). Semua urusan duniawi telah diikrarkan untuk dilanjutkan dan dituntaskan oleh segenap keluarga yang ditinggalkan.

Tatacara yang sejauh ini saya ketahui, misalnya dalam tradisi Nasrani dikenal dengan Missa Arwah. Dalam tradisi Islam dikenal dengan tradisi selamatan doa Tahlil Yaa-Sin (Yasinan),baca doa Al-Mulk dsb. Dalam tradisi Hindu dan Budha juga Kong Hucu,dsb. tentu saja dikenal tradisi penyempurnaan arwah yang berbeda-beda. Pun demikian pula setiap suku dan budaya memiliki tradisinya masing-masing. Berikut ini saya kemukakan menurut tradisi Jawa(Kejawen)

Tradisi Leluhur dengan Tumpeng Pungkur

Dalam upacara penyempurnaan arwah menurut tradisi Jawa dikenal dengan uborampe tumpeng pungkur. Dilakukan pada saat kematian seseorang, bisa pula pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, ke setahun, atau hari ke 1000-nya. Adapun uborampe yang diperlukan adalah sbb :

1. Sayur 7 macam, mislanya : kangkung, kacang panjang, bayem, kubis, kecambah, wortel, buncis dsb.
2. Daun pisang.
3. Nasi untuk membuat tumpeng.
4. Telor ayam 1 butir direbus.
5. Bumbu gudangan tidak pedas seperti bumbu bancakan weton/selapanan bayi.
6. Kembang setaman.
7. Saringan santan kelapa dari bambu atau kalo.
8. Cobek tanah terbuat dari liat.

Kalo dan cobek harus yang baru atau belum pernah digunakan sebelumnya (tidak boleh bekas pakai).

Cara membuat :

Pertama-tama alasi kalo dengan daun pisang. Kemudian cetaklah nasi dalam bentuk tumpeng dengan ukuran sedang atau kecil. Diameter tumpeng pada bagian bawahnya kira-kira cukup antara 10-20 cm saja. Tumpeng dicetak tepat di tengah-tengah kalo yang diletakkan di atas cobek. Setelah tumpeng tercetak, kemudian dibelah dengan menggunakan pisau menjadi dua, tepat dari ujung hingga pangkal tumpeng, masing-masing bagian diusahakan seimbang tidak besar kecil. Setelah tumpeng terbelah menjadi dua bagian, masing-masing bagian diputar 180 derajat menjadi saling berungkuran atau saling membelakangi(lihat gambar).

Seluruh sayuran dan telor ayam direbus. Kangkung dan kacang panjang harus dipotong-potong. Selanjutnya ketujuh macam sayur diletakkan di dalam kalo melingkar mengelilingi tumpeng nasi. Letakkan bumbu gudangan di antara tatanan sayur tersebut. Telor ayam yang sudah direbus lalu dikupas, kemudian dibelah menjadi dua pula. Masing-masing bagian ditempelkan secara terbalik ke punggung tumpeng (lihat gambar).

Siapkan kembang setaman di dalam mangkuk isi air, boleh juga di dalam piring dialasi daun pisang.

Setelah semua uborampe siap, kemudian bagi yang muslim bacakan doa al fatikah, al ikhlas lalu al mulk. Bila kebetulan agama Kristen, bisa dilakukan doa-doa biasa digunakan dalam missa arwah. Namun dalam tradisi Jawa berikut ini doa pengkabulannya :

Niat ingsung nyampurnaake arwah jabang bayine … (sebutkan namanya). Sedaya ngamal kabecikane dipun tampi wonten ing ngarsaning Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, punapa sedaya kalepatan dipun paringi pangapura. “Aja parang tumuleh, terusna lakumu, lepaso parane jembaro kubure”.

Setelah itu tumpeng pungkur dan kembang setaman diletakkan di dalam rumah saja selama satu malam. Keesokan harinya tumpeng pungkur dan bunga setaman bisa dibuang. Namun lebih baik dilarung/dihanyutkan saja di sungai yang airnya mengalir.Namun apabila ada hal yang kurang jelas silahkan hubungi email:indoghaib@yahoo.com

Metafisika Syekh Siti Jenar


ILMU SEJATI SYEKH SITI JENAR

“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

“Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. METAFISIKA WAHDATUL WUJUD

PROBLEM seputar masalah YANG ADA merupakan problem yang berat. Artikel ini bersandar pada teori YANG ADA dari khasanah Metafisika Islam yaitu Mulla Sadra. Meskipun pendek, diharapkan agar bisa menjadi titik pijak untuk memahami metafisika KESATUAN TUHAN atau WAHDATUL WUJUD yang terkenal dengan tokoh-tokoh sufinya seperti Al Hallaj maupun Syeh Siti Jenar.

Dasar dari Filsafat adalah Metafisika. Metafisika dibagi menjadi METAFISIKA UMUM disebut dengan ONTOLOGI, dan METAFISIKA KHUSUS yang terdiri dari KOSMOLOGI, FILSAFAT MANUSIA atau ANTROPOLOGI METAFISIK dan FILSAFAT KETUHANAN atau TEODICEA.

Di antara tema-tema METAFISIKA UMUM yang paling banyak melahirkan kontroversi adalah problema YANG ADA. Sebab hakikatnya terasa ribet dan ruwet. Hal ini lantaran YANG ADA merupakan sesuatu yang repot bila didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu objek, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara YANG ADA itu adalah obyek sekaligus juga subyek karena kita ada didalam YANG ADA.

Menurut para filsuf, konsepsi YANG ADA sedemikian terangnya, sehingga ia persis menyerupai matahari. Dan karena sedemikian terangnya, ia tak mungkin bisa dilihat manusia. Demikianlah YANG ADA. Begitu jelasnya YANG ADA, maka ia tak mungkin bisa didefinisikan lewat genus dan diferensia, yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang YANG ADA itu sendiri.

Secara historis, tema YANG ADA menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filsuf klasik sejak Thales di era Yunani Kuno sampai Josiah Royce di era Modern. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih sekadar menempatkan problematika YANG ADA sebagai bagian dari tema-tema universalitas saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksidensi, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.

Sejak kehadiran Mulla sadra, lahirlah mazhab filsafat EKSISTENSIalisme dalam komunitas Muslim. Namun, EKSISTENSIalisme Sadra sangat berbeda dengan mazhab EKSISTENSIalisme seperti Kierkegaard, Jean Paul Sartre, atau Heidegger.

EKSISTENSIalisme Islam adalah sebuah mazhab filsafat metafisis yang murni. Tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu dan bahkan ingin sampai kepada YANG ADA SEBAGAIMANA YANG ADA yang sebenarnya (the Ultimate Reality). Dengan demikian, nuansa metafisika YANG ADA dalam Islam lebih bersifat teistik bahkan sufistik; sementara aliran filsafat EKSISTENSIalisme barat sebagiannya condong pada ATEISME.

Untuk bisa memahami metafisika YANG ADA, ada baiknya kita batasi pembahasan hanya pada teori Mulla Sadra tentang YANG ADA. Konsep Sadra berdiri di atas tiga prinsip dasar yang sangat fundamental. Dengan memahami ketiga prinsip ini, diharapkan kita akan dengan mudah memahami teori-teori filsafatnya yang lain, baik yang berkaitan dengan kosmologi, epistimologi, dan bahkan teologinya. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut: WAHDATUL WUJUD (KESATUAN YANG ADA), TASYKIKUL WUJUD dan ASALATUL WUJUD. Kita akan mengelaborasi ketiga prinsip ini secara sederhana.

Secara historis, teori WAHDATUL WUJUD pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi. Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat. Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat. Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya TUHAN YANG EKSIS sementara selain Tuhan tak ada yang eksis. Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa SELURUH YANG BERWUJUD SELAIN TUHAN HANYALAH TAJALLIYAT (MANIFESTASI) DARI ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT TUHAN.

Namun Sadra melihat bahwa YANG ADA SEBAGAI YANG ADA meskipun SATU, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama YANG ADA. Sifat YANG ADA-nya TUHAN MUTLAK, sementara yang ada lain hanya bersifat YANG ADA DALAM KEMUNGKINAN. Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. YANG HARUS ADA berbeda dengan YANG MUNGKIN ADA.

Teori WAHDATUL WUJUD sebagai teori tentang YANG ADA menekankan pada KESATUAN YANG ADA yang hadir pada segala sesuatu. Tuhan MEMILIKI SIFAT YANG ADA, begitu juga dengan manusia, benda-benda mati. Apakah YANG ADA setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru ADA KARENA ADANYA YANG LAIN. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara YANG ADA-NYA TUHAN dengan YANG ADA selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa YANG ADA itu SATU, sementara di dunia YANG ADA kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Lalu berapa jumlah YANG ADA?

Persoalan itu dalam metafisika dikenal dengan istilah problem antara YANG SATU DAN YANG BANYAK. Pertama, ada yang disebut dengan istilah composite existence dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori ini maka YANG ADAnya pasti akan terbatas.

Kedua, the Simple Existent, di mana jenis YANG ADAnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak pernah terbatas. YANG ADA ini hanya milik TUHAN saja di mana YANG ADANYA merupakan WUJUD-Nya itu sendiri. Simplifikasi jenis YANG ADA TUHAN ini disebut Sadra dengan istilah basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa YANG ADA yang bersifat sederhana adalah YANG ADA yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.) Karenanya mengikut formula ini, YANG ADA manusia adalah bagian inheren dari YANG ADA TUHAN.

Prinsip WAHDATUL -WUJUD atau KESATUAN YANG ADA dalam filsafat Sadra ini yang melihat KESATUAN YANG ADA terbentang lebar pada segala apa yang disebut sebagai YANG ADA INDIVIDUAL sampai YANG MUNGKIN ADA yang beraneka ragam dan bervariasi, sehingga YANG ADA memiliki sistematisasi.

Menurut aliran filsafat ESENSIALISME, ESENSI tak mengalami perubahan. Yang berubah adalah instansi-instansi partikularnya. Ketika warna putih mengalami intensifikasi warna, itu berarti bahwa warna dahulu hilang dan lahir warna baru yang menggantikannya.

Sadra menolak teori ini. Mereka melihat bahwa suatu ESENSI tidak pernah mengalami perubahan. Suatu ESENSI bisa saja memiliki wilayah intensitas yang tak terbatas. Ketika warna putih mengalami intensifikasi, bukan hanya ke-putih-annya yang tetap, bahkan “putih”nya juga tetap. Jadi semua yang disebut ESENSI memiliki kapabilitas untuk menjadi “more or less”: semua manusia bisa jadi “lebih” atau “kurang” manusia dari manusia lain. “Manusia” dan “kemanusiaan” Muhammad saw lebih sempurna dari manusia dan kemanusiaan kita.

Ini adalah teori “MORE PERFECT AND LESS PERFECT” yang kemudian dimodifikasi oleh Sadra. Pertama, prinsip ambiguitas ini dirubahnya dari ambiguitas ESENSI menjadi ambiguitas dalam EKSISTENSI. Dengan kata lain, yang mengalami graditas bukan ESENSI, tapi justru EKSISTENSInya. Kedua, teori ambiguitas EKSISTENSI ini juga terjadi secara sistematis bukan sekadar ambiguitas. Itu berarti, EKSISTENSI adalah sama bagi seluruh EKSISTENSI, seperti EKSISTENSI Tuhan yang wajib dan makhluk yang mungkin, adalah sama apabila dilihat dari sisi predikat EKSISTENSInya.

Meskipun predikat EKSISTENSI di atas sama namun setiap EKSISTENSI tetap memiliki keunikannya tersendiri yang memisahkannya dari yang lain. Seluruh bentuk EKSISTENSI yang lebih tinggi pasti mengandung bentuk EKSISTENSI yang lebih rendah bahwa EKSISTENSI yang sederhana pasti mencakup secara inheren segala EKSISTENSI yang berada di level bawahnya.

Dengan dasar prinsip di atas KESATUAN YANG ADA terpelihara pada semua EKSISTENSI; namun keragamannya juga terpelihara. Ketika dua prinsip di atas tak terbantahkan secara common sense, maka lahirnya prinsip YANG ADA adalah sesuatu yang aksiomatis. YANG ADA berarti bahwa YANG ADA adalah prinsip dari segala wujud yang ada. Lawan darinya adalah prinsip bahwa YANG ADA sekadar asumsi akal. Perbedaan kedua prinsip ini secara historis telah lahir jauh sebelum munculnya Sadra, seperti yang dapat kita simak dari teori-teori Farabi, Ibnu Sina, bahkan Aristoteles.

Sesuatu memerlukan YANG ADA agar ia bisa eksis. Tanpa YANG ADA, suatu hal tidak akan pernah bisa berEKSISTENSI, suatu YANG ADA tidak akan bisa memperoleh partikularisasinya di dunia YANG ADA. Teori dualitas antara YANG ADA ini kemudian ditolak secara tegas oleh pekikir Islam lain, Suhrawardi. Menurut Suhrawardi, apa yang kita lihat sebagai EKSISTENSI di dunia YANG ADA adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka YANG ADA itu sendiri akan memerlukan YANG ADA lain yang bisa memberinya EKSISTENSI; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinitum.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa suatu YANG ADA yang konkrit tiada lain adalah sebuah fakta bahwa itu adalah YANG ADA itu sendiri. Sehingga kalimat YANG ADA tiada lain kecuali abstraksi akal semata-mata.

Sadra yang EKSISTENSIALIS dan yang berusaha maksimum untuk mensintesiskan kedua aliran ini menolak pendapat Suhrawardi. Baginya yang riil adalah YANG ADA, sementara ESENSI adalah abstraksi mental semata-mata. YANG ADA bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh YANG ADA, namun ia adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab sifat YANG ADA yang paling fundamental yakni SEDERHANA dan berkarakter MENYEBAR ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai EKSISTENSI.

Dan EKSISTENSI yang ada di hadapan kita tidak lebih pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan YANG ADA itu sendiri. Ketika kita melihat di dunia YANG ADA ini ADA, misalnya, kursi, meja, si Amir, kuda, dan sebagainya, maka entitas-entitas itu “membelah” dari bentangan YANG ADA.

Akhirnya, secara teologis, konsep YANG ADA dari Mulla Sadra di atas mengajak kita memahami makna the ULTIMATE REALITY di mana ADA-NYA TUHAN memiliki sifat partikular juga menyatu dalam maknanya yang sangat unik. Meskipun WAHDATUL WUJUD atau YANG ADA ITU MENYATU namun tidak terjebak pada teori PANTEISME, karena YANG ADA entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara. Itulah yang dimaksudkan firman Allah “AKU LEBIH DEKAT DENGANMU DARIPADA DIRIMU SENDIRI.”

Nawaitu Bin Niyat Madep Mantep Islam Sejati


“ Innama A’malu bin Niat “
Begitulah sebuah kalimat yang menjadi basic dan landasan bagi salah satu golongan/kelompok Agama yang ada di dalam negeri ini. Rasanya gak berlebihan jika saya mencontek salah satu Hadis yang sangat POPULER bagi kalangan awam.

“ Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada NIATNYA “ begitu kata sebuah Hadis atau maaaf klu saya harus mengatakan dengan istilah “ Pendapat “. Yah… sebuah pendapat yang berkembang di daerah Timur Tengah dan telah dianggap sebagai pendapat yang TULEN dan telah mendapatkan LEGALITAS dari para penyusunnya ( perawi ) yang kesohor dengan sebutan Hadis yang “ Shokheh “. Saya pribadi gak ambil pusing dengan Hadis tersebut dalam batasan mau disebut Sokheh atau Da’if halah..halah…sok ke Arab-araban…

Pedahal jujur saja saya gak mudheng dengan bahasa yang satu ini, walau sedari kecil selalu membaca yang TERSURAT loh.

Yah..niat memang merupakan dorongan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Karena itu, niat bukanlah merupakan “ Bahasa atau Suara “, niat bukanlah sebatas ucapan, baik itu ucapan dalam hati ataupun melalui mulut. Jika niat hanya berupa ucapan ( bersuara maupun dalam Hati ) itu sama saja antara mengucapkan niat untuk melakukan Sembahyang ( shalat ) maupun hendak melakukan Perampokan. Karena niat yang demikian, jelas tidak lebih UTAMA daripada PEBUATAN.

Sebuah Niat akan menjadi lebih penting daripada AMALAN yang banyak, bila niat itu merupakan KEHENDAK untuk melakukan segala sesuatu yang telah DIGAGAS dalam pikiran, niat yang sudah DIRENCANAKAN dan DIMANTAPKAN dalam pikiran dan Hati. Niat semacam inilah yang membedakan antara perbuatan KEBAJIKAN dan perbuatan KEJAHATAN.

Heks..heks…
Mungkin ada yang mau berseloroh neh…” klu begitu yah lebih baik ber NIAT saja, tidak perlu beramal atau bertindak “. Halah..halah…anggapan dan pikiran semacam ini jelas-jelas kurang memahami makna tentang NIAT yang tersurat dalam hadis Impor tadi.

Apa yang dimaksud dengan NIAT itu lebih baik daripada AMALNYA…??.

Begini nih…contoh yang paling sederhana, untuk membuktikan bahwa NIAT bisa dikategorikan lebih BAIK daripada AMALANNYA.
Ada 2 orang yang satu kaya dan satunya orang biasa ( pas-pasan ), mereka sama-sama berNIAT menolong dan membantu orang miskin. Mereka sama-sama memberikan uang kepada si miskin. Si kaya memberikan lima ratus ribu dan orang yang biasa tadi memberikan limapuluh ribu rupiah. Jika kita melihat dari segi banyaknya uang, tentu saja AMALAN si orang kaya tadi akan lebih besar NILAINYA dari pada si orang biasa ya nggak…ya nggak…!! Tetapi bagaimana jika dilihat dari segi NIAT..?? boleh jadi nilai yang diperoleh orang biasa jauh lebih besar ketimbang si orang kaya. Loh…kok bisa…?? Mengapa…?? Karena si orang biasa tadi memberikan bantuan berdasarkan uang SISA yang ada pada dirinya…wong namanya saja pas-pasan….he..he… Sedangkan uang si kaya yang diberikan kepada orang miskin tadi hanya sekian PROSEN dari KELEBIHAN uang yang dimilikinya.

Artinya NIAT si orang biasa ialah menolong dengan SEGENAP DAYA yang dimilikinya, sedangkan NIAT si kaya hanyalah menolong dari SEBAGIAN KECIL yang telah dimilikinya.

Nah dengan MEMAHAMI kenyataan demikian ini, kita akan bisa memahami bahwa ternyata memang NIAT itu LEBIH UTAMA daripada AMALAN atau PERBUATANNYA.

Sekarang mari kita perhatikan isi pesan dalam petikan Suluk Wujil yang merupakan Prinsipi hidup telah ada mengakar kuat di negeri Nuswantoro ini telah diulas begitu mendalamnya seakan telah ” Mbalung Sumsum ” dalam diri setiap Kawulo terutama poro sesepuh dalam kehidupan bermasyarakat yang Santun, Lembut, penuh Tepo Sliro dan Tenggang Rasa dalam bersosialisasi terhadap sesama manusia. Dan, inilah AJARAN hidup asli Anak Negeri Nuswantoro sebelum AJARAN produk luar ini masuk di bumi Nuswantoro embuh siapa yang membawanya. Berkut petikan Pitutur Orang/Ulama BIJAK versi suluk Wujil :

Heh Wujil, niyat iku luwih saking amale ponang akathah,
Nora boso utowo swara rek,
Niyating pingil iku kang gumelar nyanane reki,
Sejatine kang niyat nora niyatipun,
Niyating pingil gumelar,
Niyating Sembahyang nora bedaneki lan niyat ambe Begal.

Terjemahannya kira-kira demikian :

Hai Wujil, Niat itu LEBIH UTAMA dari amalan yang banyak, Niat itu BUKAN Bahasa ataupun suara Niat itu untuk melakukan TINDAKAN yang ada di dalam pikiran, Sesungguhnya yang disebut Niat itu bukan pada Niatnya, Tetapi Niat untuk melakukan tindakan yang TERUNGKAP, Kalau hanya Niat, maka niat Sembahyang ( Shalat ) yang tiada bedanya dengan niat Merampok.

Yah…yah…ternyata adanya Hadis seputar Niat yang bergulir dan berasal di Negeri seberang sono, telah ada di Negeri Nuswantoro ini. Lalu Apa bedanya yah…antara

Niat dalam Suluk Wujil versi dan Produk Bumi Nuswantoro dengan Niat versi dan Produknya negeri seberang..??. Adakah…adakah…???

Santri Gundhul ini mencoba merenunginya sambil NGISEP kretek 234…buull…buulll…asapnya ngepul bulet-bulet membumbung..melambung entah kemana tujuannya…hilang..lenyap…dalam KETAIDAAN….

Lantas,…. Terlintas dalam benak ini masihkah di HATI ini tetap memiliki NIAT untuk NGURI-URI Kabudayan Nuswantoro yang kenyataannya lebih PAS dengan CITA RASA lidah kita…??. Daripada harus merasa GEMAGAH ( superior ) dengan menelan mentah-mentah Produk luar yang ternyata baru dipahami sebatas Kulit Luarnya saja sambil “ MENGKLAIM bahwa Produk Ajaran dari luar lebih BENAR dan SHOKHEH “ ketimbang Ajaran HIDUP asli dan telah ada “ MENGAKAR kuat “ di Bumi Nuswantoro ini yang sempat dihembus-hembuskan sebagai Ajaran KLENIK, TAHAYUL, BID’AH dan KHUROFAT…??

Halah…halah…apa lagi ini Bid’ah, Khurofat…wis embuh aku ra mudheng…Mungkin ada baiknya kita sama-sama merenungkan sebuah Petuah si Mbah ini.

Pokoknya sekarang aku NIAT mau Ndlosor…..sambil kemulan sarung….terus sambil berbisik kupanjatkan sebuah NIAT juga, Duh..Gusti Kang Akaryo Jagad…Pejah Gesang hananiro kulo Haturaken dumateng Panjenengan.

Ingsun Teteken Muhammad, Suro suco ludiro Joyodiningrat lebur dening Pangastutiningsun.
ISLAM

Satemene Rukun Iman iku wis ono sajerone Rukun Islam, dadi satemene kang kudu di Imani iku Rukun Islam netepi anane Rukun. Iman, iman marang Alloh, Kitab-e, Rosul-e, Malaikat-e, Dino Wekasan (Kiamat), Qodlo lan Qodar ( Takdir lan Nasib ), kudu biso kawedar ono sajerone lakune Urip anggone .mapakake anane Syahadat-e, Sholat-e, Poso-ne, Zakat-e lan Haji-ne, dadi Rukun Iman iku dadi dasar anane Rukun Islam.

1. Iman marang Alloh SWT.

Iman marang anane Alloh ora amung sadermo nurut anane tembung jare, kudu biso ngudi dewe dununge Alloh, soko anane Syahadate, yen ngucap anane saksi kudu ngerti ope kang dadi wajib dedege manungso kang diangkat dadi Saksi, weruh dewe ope kang disakseni.

2. Iman marang Kitab-kitab Alloh.

Iman marang Kitab, ora sadermo biso moco lan ngerti terjemahane , kudu biso mawas kang tersurat utowo kang tersirat lan biso mapakake ono Uripe sarto , ngerteni opo kang dimaksud Pangeran nganti ngudunake / jarwakake tuntunan mau, koyo anane blegere Manungso Urip ono Jagad Royo iki, sabab opo kang dadi isine Kitab Al Qur’an Nul Karim mau yo anane isine Jagad Royo iki, sarine dadi Surat Al Fatikah yo anane wujud Manungso sarine Jagad Royo, dadi yen ngaku dedegi Umat Islam tuntunan soko Kanjeng Nabi Muhammad saw, yo kudu gelem ngakoni anane umat liyane kang isih netepi Urip sake anane laku Kitab kang luwih awal, koyo to yen isih ono Umat kang laku uripe netepi Tatanan Slamet sadurunge Kanjeng Nabi Daud as, utowo umate Kanjeng Nabi Daud as, mowo Kitab Jabur, umate Kanjeng Nabi Musa as, mowo Kitab Taurot, umate Kanjeng Nabi Isa as, mowo Kitab Injil, kabeh umat ing ngarsane Pangeran nyuwun anane ke-Slametan-e Urip yo anane Islam, Koyo anane umate Kanjeng Nabi Muhammad saw, Kang ke- Islam-anne wus kasampurnakake dene Pangeran, dadi kang kasebut Islam mau anane Umat anggone madep marang Pangerane nyuwun keslametan Uripe, biso kaperang netepi anane Ibadah, Sembahyang tan Sholat katerangake koyo ing ngisor iki :

a. Ibadah, anane Umat madep marang Pangeran sako anane Perilaku kang katindakake saben dinane, koyo wektu Umate Kanjeng Nabi Adam as, nganti satekane Umaate Kanjeng Nabi Daud as, koyo ucape para sesepuh biyen ” Ojo mlaku saliyane tindak kang becik ” , yoiku anane Ibadah.

b. Sembahyang, anane Umat madep marang Pangeran soko anane Perilaku lan Ucapan (omongan) kang katindakake saben dinane, koyo wektu Umate Kanjeng Nabi Daud as, nganti satekane Umate Kanjeng Nabi Muhammad saw, koyo ucape sesepuh biyen ” Ojo among – ngucap saliyane tembung kang apik ” , yo iku anane sembanyang.

c. Sholat, anane Umat madep marang Pangeran soko anane Perilaku, Ucapan lan Angen-angen kang katindakake saben dinane nyuwun anane keslametan Dunyo Akhirate, koyo ucape sesepuh biyen ” Ojo duwe angen – angen saliyane angen¬-angen kang becik ” , yoiku anane Sholat.

Dadi anane Umat madep marang Pangeran netepi Agomone kabagi anane soko tindak laku saben dinane ono 3 (telu) perkoro koyo ing ngisor iki :

1. Ibadah, yo Tingkahlaku dadi dasar Sembahyang ;
2. Sembahyang, yo anane Ucapan (omongan) dadi dasar Sholat;
3. Sholat, yo anane Angen-angen, jejege sake anane Sembahyang lan Ibadah.

Iman marang Kitabe Pangeran iku ono:

a. Kitab kang tinulis yo anane Kitab Garing, koyo to Kitab Jabur, Kitab Taurot, Kitab Injil, Kitab AI Qur’an Nul Karim lan sapanunggalane.

b. Kitab kang tersirat yo anane Kitab Teles, wujud sake maknane Badan saujud kite.

3. Iman marang Rosul.

Iman marang Rosul ing kono koyo iman marang Kitab :

a. Kang Garing, yo anane Kitab-kitab kang tinulis netepi ope anane lumrahe Urip, koyo kang wis kacaritakake ono sajerone Kitabe.

b. Kang Teles, ngerti anane Rosul iku sajatine Roso, sake anane Roso Rasane Urip Pangeran kang katitipake ,marang Umate, kanggo ngudi Jati Diri yo anane dedeg piadege Manungso manunggal marang Roso Urip, yo anane Roso soko Pangeran lan Umate, mengko ono beberane dewe.

4. Iman marang Malaikat.

Iman marang Malaikat, satemene kudu mangerteni yen Urip ing Jagad Royo iki ora dewe, ning akeh kang podo melu urip koyo bangsane lelembut kang pancen nyoto ono, bebarengan anane Pangeran anggone mujudake manungso, kanggo nguji imane manungso dewe-dewe, yen nganti kaliru bakal melu ono uripe lelembut mau, urip ono sajerone Alam Penasaran.

5. Iman marang Jaman Akhir.

Iman marang Dino Akhir yo Dino Pesti, yo anane Dino Wekasan, nyoto yen Manungso iku Urip ono Jagad Royo iki amung sadermo mampir ngombe disilihi Sandangan / Pangganggo, kudu ngerti ope kang dadi Wajibe Urip, Sunahe Urip, Makruhe Urip lan Larangan/Pantangan kanggo njejegi anane Urip kang Sampurno, iki wus ono sajerone Rukun Islam.

6. Iman marang Qodlo laD Qodar

Iman marang Qodlo lan Qodar, kudu mangerteni yen Uripe Manungso iku katulisake ono sajerone Kitab kang nyoto, Qodlo iku katulis ono sajerone Takdir Urip yo anane Tuntunane Urip ono Jagad Royo, sapo kang biso netepi anane Takdir Uripe bakal nemu Mulyo Dunyo – Akhirate, Qodar iku katulis ono sajerone Nasib Urip, jarwane opo kang dialami ono sajerone Uripe, iku wujud soko tindak – laku kang katindakake wus adoh soko anane Tuntunane Urip kang samestine, nyatane yen arep ono opo-opo Pangeran mesti maringi tondo luwih disik, dadi sing Eling biso netepi Takdire, yen Lali yo ono sajerone Nasibe.

Maknane Syahadat, yen karasakake ono sajerone netepi Wajibe Urip kang kudu dilakoni krona Alloh, ono sajerone urip ing Alam Dunyo, yen biso kabeberake iku kiro¬kiro koyo ing ngisor iki :

a. Urip iku umpamane 100% (satus persen) kuwajiban soko Alloh;
b. Syahadat amung ono 95% soko Urip;
c. Sholat amung ono 5% ( limang persen ) soko Urip;
d. Poso amung ono seperapate soko Sholat;
e. Zakat amung ono sapertelone poso;
f. Haji amung ono separohne Zakat.

Ing ngisor iki ono pituture leluhur menowo dedeg wajibe lan larangan kang dumunung ono Rukun Islam kang kudu di Imani kacaritakake koyo ing ngisor iki :

a. Syahadat : Anane Mahayu Hayuning Bawono cilike Keluarga, larangane Madon ;

b. Sholat : Anetepi angen angen kang becik,’ ndedegi Pamikiran kang Agung netepi anane Sastro Jendro Hayuningrat kanggo ngudi laku kang becik, larangane Madat ;

c. Poso : Kuoso nota Rasane Urip, maknane ngerti manowo Urip amung sadermo nglakoni, yen wistiti wancine ora nggowo opo-opo, kabeh anane soko panyuwunan kanggo nyukupi kebutuhan keluargane kang wujud soko ngunggulake Drajat Urip keluargane, larangane Mabuk ;

d. Zakat : Madep mantep marang kuasane Gusti anggone njogo Kanugrahaan lan Rakhmat Pangeran marang barang Pribadi, anane ngluhurake Asmo larangane Main;

e. Haji : Tegen anggone mapakake Roso yo anane kumpule Urip Roso Pribadi marang Kuasane Urip Pangerane, kuoso njogo arum gandane asmo ono sajerone Urip, larangane Maling.

Yen gelem ngudi kaluhurane Urip ing Alam Dunyo tumekane Alam Akhir koyo unine ayat ”Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wafil aakhiroti hasanataw wa qinaa adzaaban naar” , kanti sabenere Manungso kudu mangerteni, lan mapakake opo sabenere Kalimat Syahadat iku, yen ora kaliru koyo kagambarake ing ngisor iki :

” Laa ilaaha illallahu Muhammadur Rasuulullah” ketemu anane :

1. HU mujudake anane Nur Illahi ;
2. Nur Illahi mujudake anane: a. Nur Muhammad,
b. Asma Alloh ono 99 Asmo lan Sifat Alloh ono 20 Sifat;

3. Nur Muhammad, Asmo lan Sifat Alloh mujudake anane Alam Dunyo saisine, yo anane Kitab AI Qur’an Nul Karim bebere wujud dadi Jagad Royo, sarine Kitab Al Qur’an Nul Karim bebere wujud anane Surat Al Fatikah, Surat Al Fatikah wujude makna dadi Badan Jasmani kito yo anane Jagad Dumadi, kang samestine isine Jagad Royo iku podo lan memper karo isine Jagad Dumadi yo anane Badan Jasad yo Badan Jasmani kito.

Ing kono Manungso bakal nemahi anane Urip lan Pati, mangerteni sejatine sopo kang Urip lan sopo kang Mati, biso kaematake koyo fig ngisor iki :

U r i p :

a. Arahe nunggal nyawiji, anane Tauhit, wujude urip Ikhlas – Sabar, koyo anane napas kito, gegambarane nafas wektu ono sajabane irung iku anane HU, yen wis ono sajerone irung nganti tekan gulu iku anane Allah, bareng ono sajerone dodo lan sateruse iku anane Urip kito soko Kanugrahane Pangeran yo biso kasebut wenange Pangeran wus kanugrahake dadi wenange Umat;

b. Sampurnane margo soko ngabekti marang Kaluargane, ngerteni yen Manungso ora biso wujud tanpo anane Bopo-Biyung kang kasebut Pangeran Katon, wujude toto – tentrem kasembadan kabutuhane.

c. Mulyane margo wus ketekan kekarepane, wujude biso nunggal marang Jatine Urip soko netepi Pangangen – angene nunggal marang panyuwunan ketemu keluhurane yo mapan ono sajerone Baitullah.

PAKUBUMI TANAH JOWO.

Ono sawijine tetenger soko Pinisepuh kang ono Gunung Tidar, wujud Tenger Pal pratelon mowo Sandi aksoro Jowo So kang kapendem saduwure Puncak kasebut Paku Bumi Tanah Jowo, mowo aran Nyi Ratu Roro Mangli, aksoro Jowo So mau ono 3 (te1u). aksara, yen ora keliru mowo maksud koyo ing ngisor iki :

a. Kang sapisan aksoro SO-l mowo maksud Sastro, kang wujud ono sajerone bebere Ponang Jabang Bayi kang isih ono sajerone kandutan si Biyung iku anane Sastro, yo kasebut Garis Panguripane si Jabang Bayi, anane Sastro sajabane Garis Takdir lan Nasib.

b. Kang kapindo aksoro SO-2 mowo maksud Sugih, kang mujudake anane dedege Ratu Rumah Tangga yo Ibu Rumah Tangga unine Sugih, Sugih iku titi wancine Panyuwunane si Biyung wektu ndedege isi kang kasebut Purborangrang kanggo Anak Bojo lan Putune, biso nyukupi kabutuhane kaluargane.

c. Kang kaping telu aksoro SO-3 mowo maksud Sandi, kang wujud ono sajerone lambe barange wong wadon, anarik rasane si kakung (lanang) kasebut Sandi yo anane Wadi, asline wujud sake buah Quldi, awal anane Roso kang biso mujudake anunggale Rasane Pangeran. Sandi yo Wadi iku Rasane Pangeran kang dumunung ono Manungso, kudu biso nunggal misah Roso Rasane Manungso kalawan Roso kang kasinungan Rasane Pangeran yo anane Roso Rasane urip Manungso Sejati, njejegi anane Kawulo marang Gustine.

Tetengeran mau kasebut aran Nyi Ratu Mangli, aran mau anane tembung sanepan kang mowo maksud kurang luwih Ojo Pangling utowo Lali, manowo Urip sajatine wis ono kang nota lan ngersakake, Manungso among sadermo anglakoni.

Sake tatanan mau kite bakal mangerteni awal anane Pangeran anggone mujudake Manungso, netepi :

A. Tatanan aksoro SO-1. koyo ing ngisor iki :

1. Wektu Wiji sake Bopo lan Biyung ketemu ing keno Pangeran ngudunake Wahyu Nungkat Gaib, yo anane Wiji Kang Samar, kang wujud sake Roso Rasane Pangeran, wujude Wahyu Gaib mujudakake anane ROSO KANG AWAL sake anane Manungso;

2. Wiji mau banjur wujud setetes Getih yo anane Rah, ing keno Pangeran ngudunake ROH, yen satemene yo ing wektu iku Pangeran nyiptakake anane Bongso JIN, setetes Getih mau banjur wujud dadi segumpal Getih, ing wektu iku anane Alame SETAN – IBLIS ;

3. Soko segumpal Getih banjur wujud dadi Segumpal Daging, ing kono Pangeran ngudunake NYOWO bebarengan mapakake anane Wahyu Doyo Gaib, kang satemene Pangeran nyiptakake anane Bongso MALAIKAT ;

4. Sabanjure segumpal Daging wujud gegambaran Bayi soko anane Pangeran mujudakake “Sungging Purbangkoro” kang satemene soko anane Neptu Gaib mujudake anane SASTRO, yen ing Kuno biso kasebut ” Sastro Jendro Hayuningrat; Mahayu Hayu ning Bawono ” , yo anane Dino Pesti ;

5. Gegambaran Bayi banjur wujud anane Bayi kang sampurno, ing kono Pangeran mapakake anane ATMO yo anane Alame ASMO, Asmo kang wujud soko anane LELUHURE ;

6. Bayi lahir Sampurno, ing kono soko anane Wahyu Panguasane Gaib, yo mudune Kanugrahaane Pangeran kang wujud Sukmo, yo anane Uripe si Bayi, bayi banjur ngekarake derijine nuduhake yen Wahyu Neptu Gaib wus nunggal nyawiji, ing kono asline Pangeran ngudunake Wahyu Nungkat Gaib wus nunggal wujud ono sajerone badan saujude si jabang bayi, satemene Wahyu Nungkat Gaib mau wujud soko anane Nur Muhammad, kang bakal wujud dadi Nurcahyo yo Drajat Urip si Bayi.

Yen nurut gegambaran soko Surat Al Fatikah :

1. Ayat 1, ayat 2 lan ayat 3 ing kono anane Sukmo-yo Urip nguripi Umate ; soko Pujine Jagad Royo marang Pangeran kerso ngudunake Umate ing Alam Dunyo, krona Welas – Asih kanggo netepi Kratonan Jagad Royo, Manungso Kawenangake dadi kalifah ing Alam Dunyo, manowo sampurno Syahadate, bab iki kang wenang amung Pangeran.

2. Ayat 4 fig kono satemene anane Jiwo, soko wujud nunggal nyawiji anane :
a. Atmo yo alame Asmo netepi leluhure wektu Urip.
b. Nyowo yo alame Tetanduran mujudake Rojo Kayon mapane Bebalungan.
c. Roh yo alame Kekewanan, mapan ono Rah – Getih, banjur sumrambah ono Badan Jasmani saujud mowo tandane Urip.

Nuduhake manowo soko Kersane Pangeran Manungso iku wewujudan soko nunggale :
a. Rah yo alame Kekewanan dadi Rajane Kekewanan.
b. Roh yo alame Jin-setan dadi Rajane Jin – Setan.
c. Nyowo alame Tetanduran dadi Rajane Rojo Kayon yo anane alame Malaikat.
d. Atmo yo alarne LeIuhur, wenang nyarnpumake; patine LeIuhure. Bab iki anane wenange Pangeran kawenangake dadi wenange Umate.

3. Ayat 5, ayat 6, ayat 7 ing kono anane Roso kang awal yo Roso Rasane Pangeran, kanggo mujudake Roso Rasane Manungso, yen antuk Makrifate Al Fatikah bakal mujudake anane Roso Rasane Urip Manungso Sejati, margo soko UIah-Laku Umat anggone netepi Urip ono ing Alam Dunyo, lan biso mangerteni anane ke Dholiman ora nunggal marang Uripe, dadi wenange Umat, kang satemene bebering Roso iku biso kapilah ono:

a. Roso kang awal yo Roso Rasane Pangeran, kang nuntun sawemane Roso.
b. Roso kang soko anane Alarn yo anane Roso Sejati – Sejatine Roso.
c. Roso kang soko anane Poncodriyo, yo anane Roso soko babahan Howo Songo.
d. Roso Kang soko anane Sifat Aluarnah, Mutmainah, Amarah, Supiyah.
e. Roso soko Alam, Poncodriyo Ian Sifat yen kakumpulake banjur biso wujud dadi Roso Rumongso.
f. Kabeh Roso mau yen biso katunggalake nyawiji banjur wujud dadi Roso Rasane Urip Manungso Sejati.
B. Tatanan Aksoro SO-2 koyo ing ngisor iki :

Kang dimaksud Sugih, ing kene netepi anane Uripe Manungso kang wis biso mapakake Janjine Pangeran yo anane Urip Jejodohan, Sarnpumo mapakake Rasane Urip yo mekare ( makrifat ) Syahadate, bakal nemahi Kamulyane Urip yo anane soko bekti marang Wongtuwo sakloron, Morotuwo sakloron wujud dadi anane Pepuden ing lumrahe kasebut Punden Kang samestine ing wektu iku anane Pangeran mujudake dedeg piadege Wahyu Purbojati, Wahyu Purborangrang, Wahyu Purbosari.

a. Wahyu Purbojati anane wektu si kakung mujudake dedeg piadeg dadi Kepala KeIuarga.
b. Wahyu Purborangrang anane wektu si isteri mujudake dedeg piadeg dadi Ratu Rumah Tangga.
c. Wahyu Purbosari wujud soko panyuwunan si Kakung lan isteri marang Pangerane mujudake anane anak lan dunyo brono, kang satemene ono mudune Wahyu Jodoh, Wahyu Drajat, Wahyu Rejeki kang kasebut anane Wahyu Dorodasih.

C. Tatanan aksoro SO-3 koyo ing ngisor iki :

Kang dimaksud Sandi utowo Wadi iku satemene dedeg piadege ROSO netepi ono Rasane Pangeran, anane Wiji Kang Samar yo Wahyu Nungkat Gaib, mapane ono sajerone Lambe Barange Wong Wadon krona anane buah Quldi, awal anane kedholirnan, kamongko sapo bae yen netepi Among Nunggal Roso ( Senggomo ) yen ora kaawali sake anane Syahadat ing keno iku kalebu laku DHOLIM, kadadeyane bakal anane rusake Jagad Royo, yen kabeh podo ora ngerti maknane Syahadat (isine Jodoh) ono Uripe bakal anane Kiamat.

Satemene Sandi lan Wadi mau ono soko Lakune Pangeran, kang Nglakoni Umate, ning ora kabeh laku Among Nunggal Roso kedunungan Sandi lan Wadi, yen kajarwakake mowo maksud Among Nunggal Roso iku satemene laku ono sajerone Sifat Dholim kang samar.

I. DINO LAN PASARAN

Iki tatanan kang nuduhake arahe Urip kang kawoco sake anane Dino lan Pasaran, kang kawoco soko anane tatanan Neptu Go’ib ono ing Dino :

1. Jum’at Wage = Jowo,
2. Ahad Lagi = Allah,
3. Seloso Pen = Sapo, koyo kasebut ing ngisor iki:

I. Jum’at Wage= Jumat : huruf awal Jo =- neptune = 6
Neptu = 10 = Wage : hurul awal Wo - neptune = 4

Yen huruf awal kajumbuhake muni Jowo, kang mowo maksud hakekate Urip, yo maknane Urip, dadi kang dimaksud Jowo iku yo manungso kang ngerteni Sejatine Urip ing Alam Dunyo, ngerti anane Islam yo Slamete Urip ono ing Alam Dunyo yen ora kaliru ngerti bebere Kitab Layang Kalimosodo yo anane Syahadat kang turun ono Tanah Jowo dadi tuntunan anane serat Sastro Jendro Hayuningrat, Mahayu Hayuning Bawono, yo tuntunan Urip marang Perilaku kang nuduhake anane Hak lan Wajibe Urip, dadi kang kamaksud Jowo ing kene dudu Pawongan Kang lahir ono ing tanah Jowo utowo Suku Jowo.

Jumat Wage, Ahad Legi, Seloso Pen kabeh Neptune yen kagunggung ono neptu 10 anuduhake anane kabeh kang wis Kaciptakake dene Pangeran ing Alam Dunyo iki yen kagunggung nurut kasatuanne yo among ono 10 macem koyo kasebut ing ngisor iki :

1. Lemah / tanah 6. Tetanduran
2. Banyu 7. Kekewanan
3. Geni 8. Jin, Setan, Iblis, lelembut
4. Angin 9. Malaikat
5. Watu/Bebatuan ( Wesi, emas, 10. Pawongan (Wong, Tiyang, Manungso)

Yen Jum’at neptu 6 ing kono anane soko rukun Iman, yo biso kasebut soko anane wadah, dadi Dino iku mujudake wadah, lan yen Wage neptu 4 ing kono anane sedulur 4, yo anane isi, dadi Pasaran mujudake isi. Kaumpakake Wadah iku Jasad, isi iku Rogo, ing kono iku ketemu :

- Wadah = Jasad anane Badan Kasar - Jagad Royo – Kitab AI Qur’an
- Isi = Rogo anane Badan Alus - Jagad Dumadi – AI Fatikah.

Manowo kawoco soko gebyar lan gumelare Jagad salumrahe, ing kono ketemu anane dedeg piadege Wahyune Kaluarga kang dadi isine wujud Wahyu Purbo Jati, Wahyu Purbo Rangrang mujudake anane Wahyu Purbo Sari, kang nyoto wujud soko isine Neptu 6 ono ing Dino Jum’at wujud dadi :

1. Kemanten sakloron = 2
2. Wongtuo sakloron = 2
3. Morotuo sakloron = 2, yen kagunggung kabeh ono 6.

yen ing Pasaran Wage wujud soko anane
1. Sandang – pangan.
2. Papan – Pomahan.
3. Anak, Dunyobrono.
4. Luhure Kaluarga, yo isine Keluarga Sakinah “ma Warda wa Rohma yo anane Drajat Dunyo – Akhirat.

Yo ing isine dino Jum’at Wage iki awal bebere Kalimah Syahadat awal dedeg ¬adage Islam ono sajroning Ati – Nurani Manlingso.

Yen Jum’at neptu 6 ing kono anane rukun Iman, lan yen Wage neptu 4 ing kono ugo biso kagambarake cagak 4 utowo awal anane anasir 4 perkoro yo anane Bumi, Banyu, Geni lan Angin, anane Manungso manembah marang Pangerane soko Percoyo – Yakin – Iman marang Rukun Iman :

1. Allah, ono anane, kabeh wujud soko Kekarepan – Kehendak kang Nyoto Tulisane.
2. Kitab, a. ganng : a. Kitab Jabur - Nabi Daud as.
b. Kitab Taurot - Nabi Musa as.
c. Kitab Injil - Nabi Isa as.
d. Kitab Alqur’an - Nabi Muhammad saw.
b. teles : a. Garis Takdir, katulis among sepisan ora kaambalan maneh.
b. Garis Nasib katuIis soko Tindak Laku, Pakaryan lan obah – musike Kekarepan Urip Manungso.

3. Nabi Lan Rasul
4. MaIaikat, Jin – setan
5. Kiamat, Hari Akhir
6. Qodlo – Qadar, anane Takdir -Nasib wujude hukum Sebab – Akibat.

Cagak 4 wujud soko Anasir awaI, yoiku Lemah/Tanah, Banyu, Geni lan Angin kang nuwuhake anane :
a. LemahjTanah netepi Sifat Aluamah, anane Sabar – Narimo, wujud uripe soko kagowo Serakah
b. Banyu netepi Sifat Mutmainah, anane Adil, timbang Pamikirane, wujud uripe soko kagowo Iri – Drengki.
c. Geni netepi Sifat Amarah, anane Perkoso, anduweni Doyo – kekuatan, wujud uripe soko kagowo Murko – Nesu.
d. Angin netepi Sifat Supiyah, anane Adek Pribadi – Mandiri, wujud uripe soko kagowo Sombong – Angkuh.

Kaumpamakake Iman iku Kusir, Cagak 4 (papat) iku Jaran 4 (papat), kang playune nurut kekarepane dewe-dewe, sing kelir ireng playune ngalor tok, sing kelir putih playune ngetan tok, sing kelir abang playune ngidul tok, sing kelir kuning playune ngulon tok, Bendi-ne wujud soko anane Badan, Playune wujud soko Ragane tujuane netepi anane kekarepan.

Dino Jum’at dadi dino kekeran poro Nabi – WaIi, nyoto soko anane Sholat sunat Jum’at, ing kono margo soko Kanugrahane Pangeran Kang Moho Agung, kanggo Umate supoyo gelem Eling marang anane Tatanan Urip Bebrayan ing Alam Dunyo.

II. Ahad Legi : Ahad : huruf awal A - Neptune = 5
Neptu 10 : Legi : huruf awal LA - Neptune = 5

Yen huruf awal kajumbuhake muni Allah yo anane Pangeran, manungso wajib ngawruhi sopo sejatine Pangerane, ing dino Ahad Legi iki anane awal mbukak kawruh kang wis kasebut ono sajrone wawasan Ahad Legi.

Ahad neptu 5 gegambaran soko sedulur Papat ke Limo Pancer, wujud nunggal dadi Badan Kasar, kasebut njobo.

Legi Neptu 5, ono anane njero yo Badan Alus wujud soko anane :

1. Roso : soko Sifat Aluamah, Mutmainah, Arnarah, Supiyah, lsp.
2. Roh : soko manunggale Uripe Kekewanan.
3. Nyowo : soko manunggale Uripe Kekayonan yo Tetanduran.
4. Atmo : soko Gondo Arum Asmane ( sampurnane Budi – Luhur / Ahlak yang terpuji Umat ) alame Asmo Leluhure.
5. Sukmo : soko Kanugrahane Pangeran.

Ing ngisor iki satemene anane tatanan Roso kang dumunung ono sajrorie Badan saujude Manungso :

A. Roso : 1. Rasana Pangerane.
2. Roso Sejati yo Sejatine Roso, Roso kang wujud soko manunggale Roso Rasane Jagad Dumadi marang Roso Rasane Jagad Royo koyo to:
a. Uyah iku asin, asin durung mesti anane uyah,
b. Gulo iku legi, Legi durung mesti anane gulo,
c. Asem iku kecut, kecut durung mesti anane asem.

3. Roso Poncodriyo
a. Pangroso /Pangucap,
b. Panggondo,
c. Pandulu, d. Pangrungu,
e. Pangrobo.
4. Roso kang wujud soko anane manunggale Roso Sifat Aluamah, Mutmainah, Amarah, Supiyah.
5. Rasane Umat yo anane Roso Rumongso kang wujud soko kemampuane Umat anggone nunggalake Roso Rasane Pangeran, Roso Poncodriyo, Roso Sejati – Sejatine Roso, Roso soko anane Sifat Aluamah, Mutmainah, Amarah, Supiyah wujud nunggal ono ing anane Laku yo anane Tingkah Laku Budi Howo saben dinane kang bakal mujudake anane Akhlak kang minulyo.
6. Roso Rasane Urip Manungso Sejati, wujud soko nunggal nyawiji anane sakabehe Roso kang kasebut ing duwur mau.

Soko kawruh kang wis kabeber ing duwur, kito biso anglakoni nunggalake Rasane Umat wujud nunggal marang Rasane Pangeran sake wujud jumbuhe angen-angen lan nunggale kekarepan.

A. Roh : Roh iku Uripe Kekewanan kang nunggal marang Badan saujude Manungso, ananne Kanugrahan soko Pangeran kanggo netepi Serat Sastro Jendro Hayuningrat, Mahayu Hayu Ning Bawono.
B. Nyowo : Nyowo anane Uripe Tetukulan / Tetanduran kang nunggal marang Badan saujude Manungso, anane Kanugrahan sake Pangeran kanggo netepi wajib mapakake Serat Sastro Jendro Hayu Ningrat, Mahayu Hayu ning Bawono.
C. Atmo : Atmo iku Alame Asmo, wujud nunggal marang Manungso sake Dino kalahirane lan tetengeran yo Jeneng yo Aran kang sinebut sake Wongtuwane, kang kudu rinekso Manungsane supoyo biso anggondo Arum.
D. Sukmo : Sukmo yo anane tetengeran soko Pangerane kanggo papan nunggale Kawulo Gustine.

Soko katerangan ing duwur mall manungso biso njupuk Hak sake Pangeran yen manungso mau wis biso nglakoni kang dadi wajibe, yo soko wis biso anglakoni anane Mahayu Hayuning Bawono.

Roh iku Uripe Kekewanan kang nunggal marang Badan saujude Manungso, anane Kanugrahan sake Pangeran kanggo netepi wajib mapakake Serat Sastro Jendro Hayu Ningrat, Mahayu Hayu ning Bawono.

Ahad Legi yo biso kawoco A iku anane Ho lan Le iku anane La koyo kasebut ing ngisor iki :

1. A – Aku : Aku anane Pangeran, kang mengku anane Kitab Serat Layang Kalimosodo,
2. La – Laku : Laku, lakune Manungso ono sajrone bebering Kitab Serat Layang Kalimosodo,

Pangeran kang mengku Karep nunggal marang Kekarepanne Manungso mujudake gegayuhan kang kinarepake manungsane.

Kang biso nunggalake lan ngerteni wektu Badan Kasar nunggal marang Badan Alus kudu biso netepi anane Wahyu Trias Wiji yoiku sake :
a. Tekun, anane nota nafase,
b. Temen, anane tingkah lakune,
c. Teliti, marang satindak – laku lan obah musike kahanan,
d. Awas, marang anane Gudo – Cuba – Pengaruh – Gangguan,
e. Sabar, marang sepapadane Urip.

Bakal biso ketemu marang Alam Kelanggengane yo Mulyane Urip ing tembe.

III. Seloso Pon : Seloso : huruf awal So - Neptune = 3
Neptu 10 : Pon : huruf awal Po - Neptune = 7

Yen huruf awal kajumbuhake unine Sapo, ing kene mowo maksud Manungso wajib ngawruhi sapo Sejatine Pangerane lan sapo Sejatine Manungso, opo kekarepanane Pangeran kanti sake Kanugrahane Manungso mudun Urip ing Alam Dunyo, opo kang dadi Hak-e Manungso ing Alam Dunyo lan opo kang dadi Kewajibane Urip ing Alam Dunyo.

Sejatine Pangeran lan Sejatine Manungso yen ora kaliru kasebut koyo ing ngisor iki:

1. Dzat-e Hu ayang-ayangane wujud dadi Dzat-e Alloh yo kasebut Dzat-e Pangeran.
2. Dzat-e Alloh yo kasebut Dzat-e Pangeran, ayang-ayangane wujud dadi Nur Muhamnlad yo kasebut Wahyu I Sukmane Jagad Royo.
3. Nur Muhammad yo kasebut Wahyu / Sukmane Jagad Royo, ayang-ayangane wujud nunggal dadi Jasad, sake Kanugrahane Pangeran dadi Badan saujud-e Manungso.

Koyo wektu Pangeran nyipto anane Kanjeng Nabi Adam as., sake ruwet ¬krenteg-e Urip, Pangeran nyipto anane Ibu Howo kanggo netepi Sampumane Urip Manungso, sake Sampurnane Urip Manungso kanggo netepi Gumelare Urip, Kanjeng Nabi Adam as. lan Ibu Howo kaudunake ono ing Alam Padang yo anane Alam Dunyo soko Kanugrahane Pangeran.

Soko kaweruh ing duwur, ing keno ono anane sarine Gumelare Drip kang awal koyo ing ngisor iki :

1. Hu netepi anane Alloh, banjur Nur Muhammad netepi isine Jagad Royo, banjur anane Manungso. Ing keno ketemu anane ongko 3, kang dadi Neptune Dino Seloso, yo anane Wadah Panyuwunan.
2. Netepi anane Gumelare Urip ing Alam Dunyo turun remuntun ketemu anane, Cukul – Ngendok – Manak, ing kene ketemu ugo anane ongko 3, kang dadi Neptune Dino Seloso.

Satemene Pangeran ora anduweni Karep opo – opo sake anane Manungso, amung ing keno ono anane Geter-e Urip, kang katuntun sake anane Serat Layang Kalimosodo, Kanugrahane Pangeran kanggo adeg – dedeg Urip Bebrayan ing Alam Dunyo, netepi Gumelare Urip Manungso.

Soko Geter-e Urip lan anane Serat Layang Kalimosodo, ing keno wis wujud anane Hak kang ono anane soko lakune Urip Manungso, katuntunake sake Kanugrahane Pangeran ono ing :

1. Serat Al Fatikah, satemene wujud Pasemon sake Lakune Urip Manungso, “kanggo netepi Urip Bebrayan ing Alam Dunyo, netepi Wajib-e Urip koyo ing Serat Sastro Jendro Hayu Ninggrat, Mahayu Hayu ning Bawovo, kang utomo Tapak Laku yo obah – mosike Budi – Howo ono ayat ” Ihdinash shirothol mustaqim ” lan ” Ghairil magdhuubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin “, ing Serat Al Fatikah iki ketemu anane ongko 7, soko anane ayat Serat Al Fatikah kang dadi Neptune Pasaran Pon yo ono ongko 7, netepi wujud isine Urip yo Drajat-e Urip ing ngarsane Pangerane.

2. Do’a Sapu Jagad ” Robbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhiroti hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar ” ing kene soko isine maksud dadi arahe Urip Manungso ing ngarsane Pangeran, Slamet Dunyo – Slamet Akhirat, soko anane Slamet Akhirat ono ongko 7 kang nyebutake anane Swargo lapis 7 Neroko lapis 7. ongko 7 dadi isine neptu Pasaran Pon, yo anane arahe isine Urip.

Soko anane kawruh ing duwur, kang nerangake anane Urip lan Pati, nerangake anane Tatanan Slamet yo anane Tatanan Islam.

M a t i
a. Papane Ikhlas, ketemu Lego – legowo.
b. Sampurnane ono 5 perkoro :
1. Sing mati Poncodriyo.
2. Kang teko Pesti.
3. Kang lunggo Sukmo.
4. Kang bali Jasad/Badan/Dzat.
5. Kang ditinggal Asmo.

c. Sesebutane iku ono 4 perkoro :
1. Mati manyasar.
2. Mati manyusup.
3. Mati manitis.
4. Mati manatas.

Anane gegambaran mau biso kawoco manowo Pangeran anggone nyipto Manungso ora sadermo ” Kun fayakun “, mbutuhake wektu yo anane Neptu kang jlimet koyo Kersane, amarga Manungso kadadekake Kholifah / Pemimpin ing Alam Dunyo, sapo kang kliru anggone nemtokake anane Urip yo ketemu ke1iru anggone mbalik marang asale.

Koyo salah sijine carito kang keno kaematake ono ing ngisor iki :
Wektu Kanjeng Nabi Muhammad saw ono sajroning Mi’raj, Pangeran ngandikan soko walike Tirai / tabir,. Tirai / tabir iku anane soko asta / tangan sak kloron, sak temene kang kasebut Tirai / tabir iku sajatine yo anane Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo, dunung ono epek-epek tangan kiwo lan tengen, nulis pakaryane, sarto epek-epek suku / sikil kiwo- tengen kanggo nulis tingkah-laku kang katindakake saben dino, supoyo kito Urip ono sajeroning Alam Dunyo iki biso tansah waspodo tan ngati-ati, koyo kang kasebut ing ngisor iki :

1. Ati-ati ojo gumampang ndedegi urip ing Alam Dunyo ( Marcopodo – ono tengah), amarga anane urip ing clam dunyo kudu biso njejegi sifat adil, kuwoso ngatur urip pribadi soko bebering Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo, supoyo ora gampang keblidru marang samubarang kang durung mesti anane, amarga Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo iku sejatine Tulisan Takdir kito kang wus dikersakake netepi Kamulyane Drip, yen Tulisan Nasib amarga soko kito mburu Nepsu lan keblidru marang samubarang kang durung mesti anane amarga kurang Imane.

2. Kang katoto ono tengah sajatine dedeg bebering Kitab Layang Kalimosodo, yo anane Kahanan Drip kito Pribadi ono lakune Urip, lakune Urip nunggalake anane Jagat Royo marang Jagat Dumadi sampurno wujud sajerone ono anane Alam Kelanggengan .

3. Amargo anane Urip iku kudu mangerteni Dedeg Urip Pridadi marang Dedeg Uripe Kaluargo kaembanake marang Wujud Gumebyar gelar Cahyone Urip, yo anane Kawibawan kito Pribadi

4. Urip Pribadi mangerteni sapo sing njaluk mangan-ngombe, ono kadedayan ope sajrone mangan lan ngombe, sarto wujud ngrungkepi rage dapi ope ?

a. Sing njaluk mangan lan ngombe iku anane Aluamah sifate Bumi, kudu biso rumekso Uripe, anane wujud kuoso nyukulake wiji kekarepan lan biso nyukupiopo kang dadi isine pangangen – angen sarto mujudake ono anane Gumelare Urip, mapake anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Jalal, yo dedege Gusti Kang Moho Agung, kuoso ngayomi Urip Pribadi, Urip Kaluargane.

b. Sing mangan lan ngombe iku anane Mutmainah sifate Banyu, kudu biso ndedegi kuwasane Gusti Kang Moho Adil, ora gampang kasemsem marang ka¬indahane Jagat Royo, ora melik marang barang kang durung mesti Hak anane, mapakake Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Jamal, mumpuni gawe ka-¬Elokane Jagat, kuoso note anane wujud sarine pangangen – angen biso gumebyar sanaliko, netepi sampurnane Rogo Sejati kanggo nyukupi kabutuhan Kaluargane.

c. Sajroning mangan lan ngombe ono kadadeyan sake anane Amarah sifate Geni, sajrone urip kudu biso mapakake Santosane Urip, ora ambeg siyo marang liyan, biso dadi panunggule bebrayan, yo anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Kahar, mumpuni ing gawe mujudake ka-Wisesane Gelare Urip Pribadi kito marang ka-Santosane Urip Kaluargo.

d. Sajroning mangan lan ngombe ono wewujudan sake anane Supiyah sifate Angin, sajroning urip kudu biso mapakake dedeg urip pribadi kito kang unggul ing drajat, ora gampang keno owah gingsir ono sajrone gelare urip yo obah ¬musike jaman, yo anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Kamal, biso dadi Pepujine Urip ing Jagat Royo soko anggone biso Sampurno note Urip Kaluargane lan Urip Pribadi kito ono ing bebere Kitab Layang Kalimosodo.

e. Kumpule ope kang dipangan lan diombe mapakake anane Gondo, sumrambah ono sajrone Rogo nguripi anane Doyo – Roso, mujudake anane nungale niyat ono sajrone angen – angen ngrungkepi mantepe karep, biso wujud gumelar keturutan kang dadi panyuwunane, unggul drajat uripe. Ojo nganti keliru utowo kasemsem marang gumebyare ka-Elokane kekarepan, ben biso Mulyo Urip ing Dunyo Akhirate.

Ojo nganti kasemsem marang ka-Indahane wewujudan kang Elo,k asal soko Aluamah, Mutmainah, Amarah tan Supiyah ben ora keduwung ing tembe mburi. Sajatine mangan lan ngombe iku wewujudan awal nunggalake anane Jagat Royo marang Jagad Dumadi supoyo biso karoso Panguasane Jagad Royo ono sajrone Rogo, menowo teller kudu kalarasake marang Nafas netepi anane Geter, Gerak, Pangucap, lan Pangawasane Urip Pribadi kito nunggal nyawiji ono sajrone Urip Sejati.

A. Nafas ono ing (tanpo eling)

1. Wadug : Uripe Bumi, nguripi Aluamah anane Serakah.
2. Ginjel : Uripe Banyu, nguripi mutmainah anane Iri drengki.
3. Paru paru : Uripe Angin, nguripi Supiyah anane Sombong jumawa.
4. Jantung : Uripe Geni nguripi Amarah anane Sereng murko.
5. Ati : Uripe Watu, nguripi kang ngaku Jati Diri anane Pengkuh kaku .

B. Nafas lungguh mapan ing ( eling )

1. Wadug : Netepi eneng- ening mujudake sifat Dermo Sabar.
2. Ginjel : Netepi eneng-ening mujudake sifat Samudono sembarang gawe biso.
3. Paru paru : Netepi eneng-ening mujudake sifat Mengku Drip, Ngayomi.
4. Jantung : Netepi eneng-ening mujudake sifat Wiseso, Santoso Uripe.
5. Ati : Netepi eneng-ening mujudake sifat Kuoso, Sampurno nota Uripe.

Kidung Kanjeng Sunan Kalijaga




Pengobatan menggunakan kekuatan batin sudah demikian banyak dikenal di nusantara ini sejak lama. Berbagai teknik dan metode sudah dikenal di era kerajaan-kerajaan Sriwijaya,Majapahit,Demak.

Pada zaman modern sekarang ini, kita mengenal juga banyak pengobatan alternatif modern, ditambah menggunakan ramuan herbal dan lain-lain. Ini jelas merupakan kekayaan budaya spiritual yang harus dilestarikan dan dikembangkan.Teknik dan metodenya yang beragam membantu masyarakat untuk memilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan keinginannya.

Salah satu metode pengobatan kuno dengan pengerahan daya batin adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga perlu kita kembangkan dan lestarikan.Menurut Mas Han inti dari semua itu adalah metode menyampaikan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keyakinan penuh bahwa doanya akan diijabahi oleh-Nya dengan diiringi sikap pasrah total dan ikhlas.

Doa yang diajarkan Sunan Kalijaga itu berbahasa Jawa dikenal sebagai Kidung rumeksa ing wengi. Doa yang disampaikan dengan bahasa Jawa,akan lebih meresap ke dalam hati sanubari masyarakat sehingga diharapkan sang pendoanya memahami makna dan tujuan doa tersebut.

Sebelum doa disampaikan, maka didahului oleh amalan PUASA MUTIH selama tiga atau tujuh hari. Puasa mutih yaitu puasa seperti biasa kita melaksanakan puasa Ramadhan.Namun pada saat berbuka, kita hanya memakan nasi dan air putih saja.

Tujuan puasa mutih ini adalah agar tubuh,pikiran,rasa pangrasa kita semakin manunggal untuk menggerakkan daya batin sehingga mampu untuk menggerakkan cinta kasih-Nya dan memberi ijabah pada doa yang akan disampaikan.

Setelah puasa mutih tiga atau tujuh hari dilaksanakan maka pemohon membaca doa sebagaimana berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluh tan ana wani

Wiwah panggawe ala

Gunanung wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pangupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang seraga asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku

Baginda Esis Pangucapku

ya Musa Napasku

Nabi Isa linuwih

Nabi Yakub pamiyarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusup rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging

Ngumar singgih

Balung baginda Ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti Aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal

Inilah pengobatan alternatif untuk segala penyakit bahkan untuk tolak balak segala macam gangguan ghaib. Pengobatan ala Sunan Kalijaga ini tidak bertentangan dengan akidah Tauhid bahkan bila diresapi dengan penghayatan yang mendalam,akan menambah iman kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita yakin penyembuh semua penyakit adalah Dia sehingga kita sampaikan doa setulus-tulusnya padaNya agar mengijabahi permohonan kita.Bagi yang ingin menguasai teknik keilmuan ini lebih lanjut dan penerapan metodenya dalam pengobatan alternatif,silahkan hubungi email:indoghaib@gmail.com

SULUK PANGADEG SHOLAT


SULUK PANGADEG SHOLAT (PAMBUKA)

Sholat khusuAmba anedha pawarta, kalaku matur ing Tuan, bab shalat napa, alenggah angsale saking punapa, pangadeg ngasalat, atanapi ingkang rukuhe, asale saking punapi.
Terjemahan :
Saya mohon berita, sehingga saya berkata pada Tuan, perihal shalat, duduk asalnya apa, berdiri dalam shalat dan juga ruku, itu asalnya dari apa.
Sujud angsale punapi, nabda Tuan jarwanana, kalawan malih lungguh, angsal saking punapa, kawula dereng wikan, kang Ulama alon muwus, ujare kang pun ulama.
Terjemahan :
Sujud asalnya apa, mohon Tuan Jabarkan, dan lagi duduk, asal dari apa, hamba belum tahu, sang Ulama berkata pelan bahwa menurut para ulama.
Pangadeg angsale saking api, dudu api keneng pejah, dudu api panas mangke, apeteng yen winicara, dudu api kinarya, kang tau kena dipun wurung, ingkang dalan kena ewah.
Terjemahan :
Berdiri asalnya api, bukan api yang bisa mati, bukan apai yang panas, gelap jika dikisahkan, bukan api yang dibuat, yang tidak bisa dimatikan dan tak bisa berubah.
Dudu api kang kena wetisi, dudu api keneng owah, dudu api ingkang setan, iku Nini den waspada, ong api iku cahya, roh ilapi tegesipun, kadya katur sarya nembah.
Terjemahan :
Bukan api yang bisa didinginkan, bukan api yang bisa berubah, bukan api yang setan, itulah Nini waspadalah, dalam api itu ada cahaya (atau) roh idhafi maksudnya (Dewi Murtasiyah) berucap lalu menyembah.
Ingkang rukuk kadi pundit, angsale saking punapa, dipun prapta sajatine, gyata Ulama angandika dhuh Raden larening wang, manira iki angrungu, ujare kang pun ngulama.
Terjemahan :
Kemudian rukuk bagaimana, asalnya dari apa, sempurnakan kesejatiannya, segera Ulama berkata, dhuh Raden anakku, saya mendengar perkataan para ulama.
Arukuk angsale angina, dudu angina kenging pegat, dudu angin ngrubuhken kayon, dudu angina kang prahara, tan kagyat sanilika, dudu angin kenging teduh, sejatine iku napas.
Terjemahan :
Rukuk asanya angin, bukan angin yang bisa berhenti, bukan angin yang merobohkan kekayuan, bukan angin prahara, tidak kaget seketika, bukan angin yang bisa dihentikan, sejatinya itu nafas.
Iya ingkang araning angina, puji kang tan kena pegat, iya napas sejatine, angenget pamujenira, siyang dalu tan pegat, iku angina ngaran tobat, datan kesela sanalika.
Terjemahan :
Yang dimaksud angin, puji tak pernah hentii, yaitu nafas sejati, mengingat pujiannya, siang malam tanpa henti, itulah angin yang disebut total yang tak tersela seketika.
Iku tetalining urip, kang muji tan kena pegat, mubeng sadina wengine, datan kandheg sanalika, yekti rusak kang jagad, andene kang asujud, asal saking banyu ika.
Terjemahan :
Itulah tali pengikat hidup, yang memuji tanpa putus, berputar siang malam, tak berhenti seketika, akan rusak dunia (jika berhenti), sedangkan sujud asalnya air.
Dudu banyu ingkang mili, dudu banyu kena asat, banyu urip sejatine, anguripi ing sajagad, dudu urip keneng pejah, iya banyu tegesipun, urip langgeng ten kena wah.
Terjemahan :
Bukan air yang mengalir, bukan air yang bisa kering, air hidup sejati, yang menhidupi di dunia, bukan hidup yang bisa mati, yaitu maksudnya, air keabadian yang tak bisa berubah.
Sang Dyah Ayu matur malih, ingkang alinggih punika, sarta punapa angsale, Amba anyuwun wuninga, Sata Ulama lenggah, iya Nini ingkang lungguh, angsale bumi punika.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu berkata lagi, duduk itu, dari apa berasal,saya mohon diberitahu, Sang Ulama sambil duduk, hai Nini, duduk berasal dari bumi.
Dudu bumi keneng gigrig, dudu bumi keneng gempal, yayah ing jisim tegese, bumi suci langgeng ika, lan paran karsanira, wonten malih aturingsun, Rama Ulama wejanga.
Terjemahan :
Bukan bumi yang bisa bergetar, bukan bumi yang bisa gempa, (akan tetapi) artinya adalah jasad, itulah bumi suci yang abadi, nah sekarang apa kehendakmu, ada lagi pertanyaan hamba, mohon Ayah Ulama ajarkan.
Ingkang ngadeg angsal api, nanging ngadhepken napa, angsaling angin rukuke, kenging ngadhepaken napa, sujud angsaling toya, angsal bumi kang alungguh, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
Berdiri berasal dari api, tetapi menghadap kepada apa, rukuk berasal dari angin, bisa menghadap kepada apa, rukuk berasal dari angin, bisa menghadap kepada apa, sujud berasal dari air dan duduk yang berasal dari bumi, semua menghadap kepada apa.
Seh Ngarip ngandika ris, ingkang ngadhep punika, urip kang ingadhepaken, urip kang tan kena pejah, rupane kadi retna, gumilang umancur, jumenenging kekarone.
Terjemahan :
Seh Ngarip berkata pelan, yang berdiri itu, kehidupan yang dihadapnya, hidup yang tak akan terkena mati, bentuknya seperti ratna, memancarkan cahaya gilang gemilang, berdiri pada keduanya.
Arukuk angsaling angin,angadhepaken sirullah, lir pendhah lintang wernane, cahyane gumilang gilang, malihipun punika, asujud angsale banyu, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
Rukuk berasal dari angin, menghadap sirullah, bagaikan bintang warnanya, cahayanya gilang gemilang, lastas sujud yang berasal dari air, menghadap apa.
Kekasihira Hyang Widhi, kang nama Rasulullah, iku kang den adhepake, kang cahya kadi gurnita, gumebyar kadi kilat, angsale bumi alungguh, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
(Yakni menghadapkan) kekasih Allah yang bernama Rasullah, itu yang dihadapnya, cahayanya ramai sekali bagaikan gurita, gemebyar bagaikan kilat, duduk yang berasal dari bumi menghadap apa.
Rupane luwih dumeling, kang ngadhepaken iya, tanpa sama ing wernane, cahyane aluwih padhang, Sang Dyah Ayu anembah, inggih kawula asuwun, Amba Tuan jarwanana.
Terjemahan :
Bentuknya lebih nyata, yang dihadapnya ialah, tidak sama warnanya, cahayanya lebih terang, Sang Dyah Ayu menyembah, (hai, Tuan) saya mohon dijelaskan.
Wangsul adhepipun nalih, ingkang angsaling punapa, pan saking api angsale, kang den aturaken napa, mring Allah ta’ala, punapa malih kang rukuk, Amba paduka wejanga.
Terjemahan :
Kembali ke masalah penghadapan tadi,yang berasal dari apa, yang berasal dari api, apa yang diucapkan dari Allah ta’ala, dan juga saat rukuk, saya mohon diberitahu.
Apa den aturken singgih, ukarane katarimoa, wong punika sembayang, mila kula matur ing Tuan, saking tambek kawula, atanapi ingkang sujud, punapa aturena.
Terjemahan :
Apa yang akan kau katakan, kalimatnya terimalah, manusia hendaknya melakukan sembahyang, mengapa saya berkata pada Tuan, karena keinginan saya, karena saat sujud apa yang dikatakan.
Miwah wau kang alinggih, punapa ing Tuan, maring Gusti Allah mangke, kadi pundi karsa Tuan, angling sata Ulama, angsale pangadegipun, kang katur ing Pangeran.
Terjemahan :
Kemudian saat duduk, bagaimana Tuan, (yang dikatakan) kepada Tuhan Allah), bagaimana kehendak Tuan, berkata Ulama, waktu berdiri yang diucapkan pada Tuhan.
Maningkem punika Nini, katur paring ing Allah, angsal angin ing rukuk, kang katur Hyang Suksma, ingkang rukuk punika, iya ngrasa hayu-hayu, kang katur Hyang Mahamulya.
Terjemahan :
Adalah maningkem itu Nini, itulah yang dikatakan pada Allah, rukuk yang berasal dari angin, yang diucapkan pada Tuhan, ya hayyu – ya hayyu demikian yang diucapkan, pada Tuhan Yang Mahamulia.
Sang Dyah Ayu matur malih, kang angsal angin punika, punapa dadose mangke, angsal banyu dadi apa, angsal bumi puniku, lah punapa dadosipun, sata Ulama ngandika.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu berkata lagi, yang berasal dari angin, menjadi apa nant,i asal dari air menjadi apa, asal dari bumi menjadi apa, Sang Ulama berkata.
Apadene kang rumiyin, angsal api dadi rupa, angsal angin ping kalihe, angin iku dadi napas, kaping tigane ika, sujud angsal saking banyu, iya bayu dadi nyawa.
Terjemahan :
Adapun yang pertama, asal api menjadi wajah, asal angin yang kedua, menjadi nafas, yeng ketiga sujud yang berasal dari air, ia menjadi nyawa.
Kang alinggih saking bumi, iya bumi dadi badan, Si Murtasiyah ature, soal cara mahatuwa, lah Tuan wejanga sawirayat sedayanipun, kawula aywa wikana.
Terjemahan :
Duduk yang berasal dari bumi, ya menjadi badan, Si Murtasiyah katanya, tentang ngelmu tua, nah, Tuan ajarilah saya riwayat semuanya, agar saya menjadi tahu.
Kang Rama asru denya ling, angsal api dadi nyawa, sumrambahi sakabehe, dadi wulu kulitira, dadi dagingira, saking api angsalipun, sisi manira miyarsa.
Terjemahan :
Sang Ayah segera katanya, asal api jadi nyawa, dan meliputi semuanya, menjadi bulu dan kulitmu, menjadi dagingmu, (itulah yang) berasal dari api, Nini hendaklah kau ketahui.
Kawula umatur malih, otot angsale punapa, balung punapa angsale, uteg angsale punapa, utawi kang paningal, atanapi kang pangrungu, swara angsale punapa.
Terjemahan :
Saya bertanya lagi, otot asalnya dari apa, tulang asalnya dari apa, otak asalnya dari apa, demikian juga mata, juga pendengaran, suara asalnya dari apa.
Sata Ulama nauri, angsal bumi dadi tingal, dene kang dadi swarane, angsal saking api ika, dene ikang pamiyarsa, angsal saking bumi iku, lan malihipun punika.
Terjemahan :
Sang Ulama menjawab, asal bumi dari mata, sedangkan yang menjadi suara, berasal dari api, sedangkan pendengaran asal dari bumi, dan selanjutnya.
Sungsum angsal saking bumi asli, angsal saking banyu ika, dadi otot iku reke, apa dene kang sapindah, iku dadinira, angsal saking bumi iku, iya iku dadi manah.
Terjemahan :
Sumsum berasal dari bumi asli, asal dari air menjadi otot, adapun yang pertama, itu jadinya, asal dari bumi itu, yaitu menjadi hati.
Apa dene kang rumiyin, iya banyu nama Allah, kang dadi rupa tegese, dene banyu sujudullah, iku kang dadi swara, banyu madi kang winuwus, punika dadi cahya.
Terjemahan :
Adapun yang pertama, yaitu air nama Allah, menjadi rupa artinya, sedangkan air sujudullah itu yang menjadi suara, air wadi yang dikatakan itu menjadi cahaya.
Banyu iku Nini, iku kang dadi paningal, lan banyu wadi tegese, ingkang dadi pamyarsa, lawan mani temoya, iku dadi utegipun, sang Juwita matur nembah.
Terjemahan :
Air itu Nini, itu yang menjadi mata, air wadi artinya, yang menjadi telinga (pamyarsa) dan air mani menjadi otak, Sang Juwita berkata sambil menyembah.
Sapa sinten kang ningali, wonten sajroning tingal, lawan pangucape mangke, kang angucap jroning lesan, miyarsa jroning karsa, ya Pangeran guruningsun, nuwun Tuan jarwanana.
Terjemahan :
Siapa yang melihat, apa yang ada dalam pikiran (tingal), dan pengucapan nanti, yang berucap dalam lesan, melihat dalam karsa, ya Tuan guru saya, mohon Tuan jelaskan.
Ingkang Rama lon ature, kang bumi sajroning manah, sirullah iku tegese, rupane kaya kumala, kang mirsa jroning karsa, datullah wastanireku, warnane kaya gurnita.
Terjemahan :
Sang Ayah pelan katanya, bumi yang dalam hati, sirullah itu artinya, bentuknya seperti intan, yang melihat dalam karsa, dzatullah itu namanya, bentuknya sangat terang bagai gurnita.
Kang ngucap sajroning ati, ingaran datullah, kaya ningkem warnane, iku kinarya werene, maring kang murbeng jagad, aja kandheg ing pandulu, ing rupa asale samnya.
Terjemahan :
Yang mengucap dalam hati, disebut dzatullah, seperti maningkem bentuknya, itu sebagai sebab, oleh yang menguasai alam, jangan berhenti pada terkaan, pada bentuk asalnya semua.
Dyah Ayu takon malih, linggih kang saking api punika, api ing pundi asale, angin pundi angsalira, banyu pundi pinangka, saking purwa purwanipun, kawula dipun wulanga.
Terjemahan :
Dyah Ayu bertanya lagi, duduk yang berasal dari api itu, api darimana berasal, angin dari mana awalnya, air dari mana asalnya, dari apa asal muasalnya, ajarilah saya.
Atanapi ingkang bumi, angsale saking punapa, kawan prakawis kathahe, saking pundi angsalira, ingkang kawan prakara, Sata Ulama amuwus, nenggih kang kawan prakara.
Terjemahan :
Akan halnya dengan bumi, asalnya dari apa, perkara yang empat hal jumlahnya itu, dari mana asalnya (masalah empat hal : api, angin, air, bumi), Sang Ulama berkata, bahwa perkara yang empat itu.
Anapun angsaling api, saking aksara Be ika, lan saking aksara Tha, linaling bumi punika, saking Alip angsalnya, anenggih angsaling banyu, angsal saking aksara Kap.
Terjemahan :
Adapun asalnya api, dari huruf Ba, (angin) asalnya huruf Tha, dan bumi, berasal dari Alip, air asalnya dari Kap.
Sang Dyah Ayu anungkemi, ngrangkul padane kang Rama, adhuh Gusti Ramaningsun, kawula angsal nugraha, Sang Tapa angandika uwis putriningsun, pamulangingsun mring sira.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu memeluk dan merangkul lutut Sang Ayah, aduh Tua Ayahanda, saya merasa mendapat anugrah, Sang Tapa berkata cukuplah putriku, pengajaranku padamu.
Ywa sira kakeyan ngelmi, amung sasemune uga, Sang Ayu alon ature, kawula suwun werana wonten atur kawula, kados pundi patrepipun, angladosi wong priya.
Terjemahan :
Agar engkau tidak kebanyakan ilmu, hanya secukupnya saja, (pengantar pupuh berikutnya) Sang Ayu pelan katanya, saya mohon diberitahu, ada permasalahan saya, bagaimana caranya melayani seorang pria.
SULUK TIYANG TILAR SHOLAT
SholatKaya paran tumekoa, tingale marang Hyang Widhi, tingal pangkon sarta angas, aguguyu wong ngabekti, satengah amadani, wus sasat maido rasul, kapire wus tetala, kaya tingkah wong Yahudi, pesthi langgeng dadi dasaring naraka.
Terjemahan :

Kepad tujuan datangilah, arah konsentrasi kepada Tuhan, perhatian ditujukan ke hariban dengan rasa ngeri, menertawakan orang yang berbakti, setengah menyamai (mengolok-olok), bahkan menghina rasul, kafirnya sudah jelas, seperti prilaku orang Yahudi, kelak pasti kekal menjadi dasarnya neraka.
Kathah wong kaliru tampa, dening ujar kang ngawingit, tekadipun kaluputan, miyarsa panemu jati, sisip dadya nampani, pan dadi saya delurung, ujar kasamaran, tinggal salat iku wajib, paninggale yaiku utama.
Terjemahan :
Banyak orang salah paham, oleh perkara yang rahasia, tekadnya jadi salah, mendengar pendapat sejati, salah paham dalam menerima, malah menjadi semakin tersesat, akan perkataan yang samar, meninggalkan shalat itu wajib, meninggalkannya itu lebih utama, meninggalnya itu lebih utama.
Ujar iku kasamaran, saweneh den gawe batin, nyatane atinggal salat, tan idhep iku wajib, parentahing Hyang Widi, dateng Nabi satus ewu, pat likur samnya, kinen salat anetepi, pan sadaya tan ana atinggal salat.
Terjemahan :
Itulah perkataan yang samar, ada yang dibuat batini, nyatanya meninggalkan shalat, tidak tahu bahwa itu wajib, (padahal) perintah Tuhan, kepada Nabi yang seratus dua puluh empat ribu, disuruh menegakkan shalat, semua tak ada yang meninggalkannya.
Nabi Musa cinarita, parentahipun Hyang Widhi, seket wektu prelonira, sadina lawan sawengi, umate anetepi, ika mukmin kang hakiki, iya iku mukmin ingkang utama.
Terjemahan :
Tersebutlah Nabi Musa a.s. diperintahkan Tuhan agar mendekatkan (diri pada) Tuhan, lima puluh waktu fardhu, dalam sehari semalam, umatnya mengikuti, perintah Tuhan tersebut, tak ada yang mengeluh, itulah mukmin yang sesungguhnya, yaitu mukmin yang utama.
Atinggal salat sampurna, kadi pun leh ngawruhi, apan wajib tinggal salat, wajibe lah kadi pundi, osiking lair batin, miwah sembah pujenipun, aja angrasa bisa, anging Allah kang darbeni.
Terjemahan :
Meninggalkan shalat sempurna, bagaimanakah cara memahami, bahwa wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, gerak lahir ataupun batin, dan sembah puji, jangan merasa bisa, hanya Allah yang memiliki.
Aja ngrasa duwe sembah, aja ngrasa duwe puji, miwah barang tingkah polah, angrasa anduweni, miwah tingaling ati, wajibing duwe Hyang Agung, miwah lan wujud kita, puniku hukume napi, tanpa polah, polahe Allah kang Murba.
Terjemahan :
Jangan merasa punya sembah, jangan merasa punya puji, dan segala gerak tindakan, jangan merasa memiliki, dan arah perhatian hati, wajib milik TuhanYyang Maha Agung, bahkan seluruh diri kita, itu adalah nafi, manusia tanpa memiliki gerak, tetapi Allah yang mengatur.
Kang jenenging kawula, duk sirna tan ana keri, apan dadi wujudira, kangeten dening Hyang Widhi, ingkang ngawujud iki, anenggih prelambangipun, lir lintang karahinan, kasorotan Sang Hyang Rawi, lintang ilang kasorotan ing raditya.
Terjemahan :
Yang namanya hamba, ketika hilang musnah tanpa ketinggalan, bahkan yang menjadi diri kita, digatikan oleh wujud Tuhan, yang mewujud ini perlambangnya adalah, bagaikan bintang kesiangan, tersinari oleh matahari, bintang hilang tersinari oleh matahari.
Wong tumeka ing ngasalat, ngangkat qasdu datan runtik, yen iya iku kawruhana, ing tinggal sajroning ati, kelawan ati ening, ati ening tegesipun, arep ta parengna, qasdu takrun lawan takyin, yen rapale alip iku lah tetiga.
Terjemahan :
Orang yang datang melakukan shalat, mengangkat qasdu tanpa ragu, jika itu diketahuinya, dam perhatian di hati, dan dengan hati bening, hati bening artinya membersamakan qasdu, takrun dan takyin (dan) lafal alif ketiganya itu.
Hurup sekawan punika, nenggih kang kariyin Alip, Alip hakekate niyat, Lam awal kelawan akhir, tibane pareksami, umanggihe niyatipun, Allah asmaning Dat, kang sinembah kang pinuji, rapal Akbar sampurna niyat sedaya.
Terjemahan :
Huruf yang empat itu, pertama adalah Alif, Alif hakikatnya niyat, Lam awal dan Lam akhir, jatuhnya bersamaan, bertemu dengan niyat, Allah nama zat, yang di sembah dan dipuj,, pada lafal Akbar sempurnalah segala niyat.
Jatining niyat utama, arep leburing kekalih, tan ana Gusti kawula, yen meksih kawula Gusti, iku dereng utami, dereng tilar salatipun, tegese satunggal-satunggal kaleka maksih kekalih, ora ilang anane roroning tunggal.
Terjemahan :
Sesungguhnya niat yang utama, adalah akan leburnya yang dua hal, tak ada lagi Gusti Kawula, jika masih kawula Gusti, itu belum utama, belum tinggal shalatnya, maksudnya masih (terpisah) satu-satu, ternyata masih dua, tidak hilang adanya roroning atunggal.
Jatenipun tingalira, pareng akasih ing Hyang Widhi, kawula pan ora bisa, yen ora kelawan sih, wisane angabekti, angugrahaning Hyang Agung, kang tumiba kawula kang dadi lantaran puji, dadi pareng sembah puji lan nugraha.
Terjemahan :
Sesungguhnya perhatianmu, bersama kasih Tuhan, (karena) hamba tidak sanggup, kalau tidak karena anugrah, bisanya berbakti anugrah Tuhan yang dijatuhkan pada hamba, yang menjadi perantara puji, jadi kehendak sembah puji dan anugrah.
Kawula enggoning nyata, kahananipun Hyang Widhi, pangaken wujud tingal, kang dadi tibaning asih, kang sembah kang amuji, tan liyan kawulanipun, pan tajalining sipat, miwah Datipun Hyang Widhi, pan kawula puniki kinarya buat.
Terjemahan :
Hamba adalah wujud nyata, dari keadaan Tuhan, mengheningkan wujud konsentrasi, yang menjadi tempat jatuhnya anugrah, yang menyembah dan memuji, tak lain adalah hambanya, yaitu tajali sifat Dzat Tuhan, hamba itu hanya dijadikan sarana.
Endi kang aran kawula, kang dadi tanda sayekti, iya ingkang cari iya, liron sih mring Hyang Widhi, mapan tan wonten malih, kang asung marga kang luhur, poma dipun narima, ing siyang kalawan lastri, malah nyasar dadi kawula kawarna.
Terjemahan :
Mana yang disebut hamba, yang menjadi tanda sejati, yaitu yang dicari, sebagai kekasih Tuhan, bahwa dan adalagi, yeng memberi jalan luhur, maka terimalah, baik siang dan malam, (agar) tidak tersesat sebagai hamba.
Yen manteping panarima, ing siyang kalawan lastri yeku ingkang tinarima, kumawula maring Gusti, yen sampun tumeka ing sih, kang sinedya apan tiba, kapriye puji sembah, tinggal dereng pratitis, pangrasane waliyullah kang tumeka.
Terjemahan :
Dan mantapnya penerimaan, pada siang dan malam, yaitu yang diterima, menghamba kepada Tuhan, jika sudah sampai kepada mahabbah (sih), apa yang dikehendaki pasti tercapai, bagaimana puji dan sembah, pada konsentrasi belum tepat, perasaannya waliyullah yang datang.
Dadine wong sumektan, kang ngrasa dadi kekasih, panembahe duna dungkap, adhepe pas shalat napi, lupute kapir sidik, ingkang saya kupur agung, lah poma den prayitna, iku kabeh anglampahi, salah tanda pangelmune, tanda dadi bahya.
Terjemahan :
Jadinya orang siap sedia, yang merasa menjadi kekasih Tuhan, (padahal) penyembahannya salah kira, menghadapny ketika shalat nafi, salahnya kafir sidik, yang justru kafir besar, maka waspadailah, itu semua menjalani, salah tanda ilmunya, tanda menjadi berbahaya.
Tegese sidik puniku, angrasa murbeng ing widhi, atawa amisahena, ngelmu iku luwih rungsid iku ugi, tan kejaba tan kejero, cerak tanpa gepokan, adohe tan ana mung neng, iku dipun waspada mring alamika.
Terjemahan :
Yang dimaksud dengan sidik, merasa dapat mengatur Tuhan, atau memisahkannya, ilmu itu lebih “berbahaya”, berbahayanya itu juga, tidak hanya luar dalam, dekat tidak bersentuhan, jauhnya tak ada hanya diam, itu waspadailah di alammu.
Rapalipun ladah rukalama jalma, mangke iki tegesipun nora pisah nora kumpul lawan Gusti, nanging nora kari, ing barang polahipun, ewuh iku ing tampa, sisipen salah tampi, perlambange lir kumandang lan suwara.
Terjemahan :
Lafalnya adalah ladah rukalama jalma, artinya tidak berpisah tidak berkumpul dengan Tuhan, tapi tidak ketinggalan dalam tindakannya, jika sulit diterima maksudnya, tapi jangan sampai salah terima, perlambangnya bagaikan kumandang dengan suara.
Kadi guruh lawan toya, kadi kukus lawas geni, lir dhalang lawan wayang, kadya papan lawan tulis, den samnya ngawruhi, tegese sudama iku, malah madarma reka, tingalira ing Hyang Widhi, den prayitna sampun kaliru ing tampa.
Terjemahan :
Bagaikan guruh dengan air, bagaikan asap dan api, sperti Ki Dalang dengan wayang, ibarat papan dengan tulisan, pahamilah, maksudnya dermawan itu, malah berderma padanya, memperhatikan Tuhan dan waspada jangan sampai salah paham.
Tan tumeka tingalira, kumawula ing Hyang Widi, wong ing kalawan panembah, sarta kalawan pamuji, ing siyang kalawan lastri, supaya lamun kadulu, lamun tan muji lan nembah, elinga maring Hyang Widhi, kita darbe cipta ala.
Terjemahan :
Tidak akan sampai perhatiannya, menghambakan diri pada Tuhan, tetapi dengan persembahan dan pujian itu, pada siang dan malam hari, agar sungguh-sungguh mencari, jika tidak memuji dan menyembah, ingatlah Tuhan, yang memiliki kita semua.
Namaning sembah sedaya, lilima ingkang rumiyin, ingaran sembah Jumungah, kalahir kawetu lathi, kathah ingkang teka, sembah Jumungah aranipun, marang kabeh rapale, iya iku lampahan sembah Jumunggah.
Terjemahan :
Jenis sembah semuanya, lima jumlahnya, pertama sembahyang jamaah namanya, adalah apa yang keluar dari lidah, banyak yang datang, itulah sembahyang jamaah namanya, apa yang telah diucapkan, itulah laku sembahyang berjamaah.
Ping kalihe sembah wustha, iku tingal jroning ati, sampun angloro tingal, sapatemon ing Hyang Widhi, kalamun aningali, kados pundi patrapipun, upama tan nemua, nora warna nora rupi, kaya paran sapatemon ing Hyang Suksma.
Terjemahan :
Kedua sembah wusta, itu di dalam hati, jangan mendua perhatian, bersatu dengan Tuhan, jika melihat bagaimana caranya,jika tidak menemukan (karena Tuhan itu), tanpa rupa tanpa warna, seperti tujuan bertemu dengan Tuhan.


SULUK SHALAT (PANUTUP)
SyahadatKepriye wong tinggal shalat, ngaku becik anglakoni, temen sir ya angas, amemada ing wong mukmin, bari angisin-isini, pan sasat nggeguyu rasul, dadi ratuning durga, kaya kapir wong Yahudi, mesthi lebur gempur ing naraka.
Terjemahan :
Bagaimanakah orang yang meninggalkan shalat, mengaku menjalakan dengan baik, sungguh sangat mengerikan, menyamai-nyamai orang mukmin, bahkan memalukan, (orang seperti itu) bagaikan menertawakan Rasul, kelak merekan akan menjadi pimpinan keburukan, sperti orang kafir Yahudi, dan (di akherat) pasti akan hancur lebur di neraka.
Lulure wong tinggal shalat, kadi pundi yen ngawruhi, wajibe wong tinggal salat, wajibe ya kadi pundi, atinggal lahir batin, tan ana liya kaetung, miwah panggawe kita, mapan nora anduweni, anging Allah polahe ya ingkang shalat.
Terjemahan :
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat, bagaimanakah jika (ingin) mengetahui, wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, meninggalkan lahir (atau) batin, tak ada hal lain yang diperhitungkan, juga perbuatan kita, bahwa kita tidak memiliki, tetapi hanya Allah yang mengusai seluruh gerak shalat.
Ingkang jenenge kawula, sru sirna tan ana keri, datan ana ananira, gegentine marang Hyang Widhi, mangan jenenge napi, kawula ing lalisipun, lir lintang karainan, kasorotang ing Hyang Rawi, lintang ilang ing raditya.
Terjemahan :
Yang namanya hamba, segera sirna tak ketinggalan, sesungguhnya ADAnya hamda adalah tidak ada, digantikan oleh ADA-Nya, hamba sesungguhnya adalah nafi, hamba dalam kelaiannya ibarat bintang kesiangan, terkena sorot matahari, bintang hilang tidak tanpak.
Wong tumeka salat tunggal, qasdu takrun lawan takyin, iya iku kang sampurna, kawruhana ingkang budi, lawan atining ati, ya puniki tegesipun, arep amarengine, qasdu takrun lawan takyin, aparengna lafal Allahu Akbar.
Terjemahan :
Orang yang hendak melakukan shalat tunggal, (hendaknya mengamalkan) qasdu takrun dan takyin, itulah yang sempurna, pahamilah budi, hati nurani, maksudnya memahamkan qasdu takrun dan takyin, dan menghayati lafal Allahu Akabar.

Teks terputus di sini. Secara matan isi teks belum selesai, akan tetapi langsung berganti tembang dan lain pula yang dipaparkan.
Aksara Ha aparengna, aksara Alip kang kaki, niyat iku Lam kang awal, Lam akhir niyat singgih, Hu tibaning niyati, parengna niyatipun, ya Allah jeneng Dat, tibane ingkang sayekti, Allahu Akbar sampurnaning niyatira.
Terjemahan :
Perhatikan abjad Ha, dan makna abjad Alif yang hak, niyat itu Lam awal, Lam akhir demikian juga, Hu jatuhnya niyat, pahamilah niyat itu, kepada Allah satu-satunya zat, itulah niyat yang lurus, Allahu Akbar adalah lafal niat yang sempurna.
Jenenging niyat tan ana, pengleburan kang kekalih, tan ana Gusti kawula, yen isih kawula gusti, mangan turu utami, kadi pundi slametipun, ron dadi satunggan, satunggal dadi kekalih, ora ilang kawula lawan Pangeran.
Terjemahan :
Niyat adalah tak ada, penyatuan yang dua, tidak ada Gusti Kawula, jika masih kawula Gusti (ketika shalat), lebih baik makan tidur saja, bagaimana agar selamat, dua menjadi satu, satu menjadi dua, tidak hilang kawula Gusti.
Kawruh iya kawula, parengna sihing Hyang Widhi,lamun tunggal kang kawula, tan ana ingkang ngarani, ingkang anebut Gusti, tan liya kawulanipun, dadi nyata Pangeran, ingkang nembah kang muji, pan kawula kinarya aling-alingan.
Terjemahan :
Pengetahuan seorang hamba, pikirkanlah kasih sayang Tuhan, jika manunggal dengan hamba, tidak ada yang menyebut Tuhan, kecuali adalah hamba-Nya, jadi sesungguhnya adalah, Tuhan sendirilah yang menyembah dan memuji, hamba hanya dijadikan sarana.
Kawula anggome nyata, kahananira Hyang Widhi, pan angaken wujud tunggal, kekalihira Hyang Widhi, amung jenenging jalmi, kekalihira Hyang Agung, amung jeneng manungsa, kang dadi tibaning sang sih, mora ana liyane ingkang manungsa.
Terjemahan :
Hamba adalah tempat wujud nyata, dari keadaan Tuhan yang sesungguhnya, jika dikatakan wujud tunggal, yang kedua adalah Tuha., yang namanya manusia, adalah kekasih Tuhan, yang namanya manusia, adalah menjadi tempat anugrah, tidak ada yang lain selain manusia.
Endi kang aran manungsa, ingkang terus lahir batin, kang narima ing Hyang Suksma, tan darbe polah kekalih, amung marang Hyang Widhi, kang paring marga luhur, apan tan ana liyan, Pangeran ingkang ngasihi, den anarima sih nugrahaning Hyang Suksma.
Terjemahan :
Siapakah yang disebut manusia, yang terus lahir batin, (yang dalam dirinya) ada Tuhan, tidak memiliki gerak mendua, hanya kepada Tuhan, yang memberikan jalan yang luhur, dan tidak ada lain, hanya Tuhan yang memberi anugrah, maka segala apa yang di anugrahkan Tuhan hendaknya diterima.
Utawa jenenging shalat, lelima kathahe nenggih, dhihin Shalat Jumungah, kang kawetu saking lathi, pakumpulaning jalmi, Shalat Jumumgah ranipun, samya den estokna, kang kelahir saking lathi, iya iku lakune Shalat Jumungah.
Terjemahan :
Shalat itu ada lima jenis, pertama shala jamaah, adalah apa yang keluar dari lidah, tempat berkumpulnya orang-orang, itulah yang disebut shalat jamaah, laksanakan dengan baik, apa yang telah diucapkan, itulah laku shalat berjamaah.
Kang sira den ucapna, asih lahir lawan batim, ja katungkul wus manuta, Kanjeng Nabi kang sinelir, kekasihing Hyang Widhi, punika analika wau, yogya angawruhana, bangsa lahir lawan batin, iya ik kang aran Shalta Jumungah.
Terjemahan :
Apa yang engkau ucapkan, selaras antara lahir dan batin, yang terlena oleh karena mengikuti saja, Nabi yang dikasihi, yang dicintai Tuhan, hal yang demikian itu, pahamilah apayang lahir dan yang batin, itulah yang dimaksud shalat jamaah.
Ping kalihe Salat Wusta, dadi papadhang kang ati, tegese kang nora pegat, samaning alamiing ati, sapatemon Hyang Widhi, kaya parena patrepipun, lamun atetemu, nora kontha nora wani, tegesipun jaba jero awasira.
Terjemahan :
Yang kedua adalah shalat wusta, menjadi penerang hati, adalah tidak putus, sama dengan lama hati, bertemu dengan Tuhan, sebagai tujuan hidupnya, hendak bertemu dengan-Nya, zat yang tanpa rupa tanpa warna, maka luar dalam waspadamu.
Ping kalihe Shalat Wusta, jenenge kawula Gusti, pan kawula nora ana, kawula jenenge napi, apa nora ndarbeni, purba wasesa puniku, pan kagenten Hyang Suksma, weruha marang Hyang widhi, polah tingkah iku purbaning Pangeran.
Terjemahan :
Yang kedua shalat wusta, namanya hamba dan Tuhan, bahwa hamba sesungguhnya tidak ada, hamba itu bersifat nafi, dia tidak memiliki, purba wasesa semua adalah hak Tuhan, Tuhan dan segala gerak laku adalah kehendak Tuhan.
Shalat kang kaping tiga, aja ningali kekalih, eroh jasad winicara, jasad eroh kadi pundi, papan dadi gegenti, nggone nyata kendhang agung, jati-jatining tunggal.
Terjemahan :
Shalat yang ketiga (yaitu shalat haji), jangan lagi melihat hamba dan Tuhan secara dualis, ruh yang berbicara, fungsi jasad digantikan oleh ruh, tempat kenyataan “kendang agung”, kesatuan yang sebenar-benarnya.
Iya iku durerasan, panemu kang angawruhi, luput bener kawiwara, lupute pan kadi pundi, luput kang dereng yekti, abener kang sampun weruh, yogya den gurokna, punika jenenging ngelmi, Shalat Haji poma sami kawruhana.
Terjemahan :
Hal itu bukanlah bahan pembicaraan, (hanya) pendapat yang mengetahui, tentang salah benar oleh Sang Pujangga, mana hal yang salah, salah bagi yang belum mengalami, benar bagi yang sudah mengetahui, maka carilah guru (yang mumpuni), itulah yang namanya ilmu, yakni pahamilah makna shalat haji.
Waler sengker kang satengah, yen lamun arebut ngilmi, tan ana gelem kasirnan, datan reja mupakati, mila pating barekin, labete rebutan kawruh, yeku sami wasisnya, tan mikir luputing diri, kaluputan ngelmune pan dadi sasar.
Terjemahan :
Sebagian adalahhal yang dilarang, jika hendak memperebutkan ilmu, tak ada yang mau kehilangan, tidak juga mau bermufakat, maka ramai tidak karuan, padahal maksudnya mencari ilmu, tapi sama-sama merasa pandai, tidak mau berfikir kemungkinan kesalahan diri, padahal jika salah maka jadilah tersesat.
Dadine wong kang rayah, angresa wasis pribadi, tanpa ngrasa yen kapurba, dalil Qur’an ili muni, arepa mengawruhi, pan akeh jenenging ngelmu, dadi wong punika, weruha ngelmu sejati, darbe raga aja angrasa yen bisa.
Terjemahan :
Jadinya orang-orang saling berebut, merasa paling pandai, tidak merasa, dalil Qur’an itu berbunyi (bahwa) jika hendak mengetahui, menunutut ilmu yang banyak, manusia harus memahami ilmu sejati, punya badan jangan merasa kalau bisa.
Shalat Daim ping sekawan, nora mengeng saking ati, uwis eningali, marang Maha Hyang Kang Luhur, jenengipun malrifat, tan ana Gusti kekalih, kang kasebut ing ati Allah Kang Tunggal.
Terjemahan :
Keempat adalah shalat daim, tak pernah putus dalam hati, sudah melihat terhadap Tuhan Yang Mahaluhur, itulah makrifat, tak adalagi Tuhan dan hamba, yang disebut dalam hati, hanyalah Allah Yang Tunggal.
Aja angeloro Pangeran, ing awal tumekeng akhir, awake pun durung ana, jenenge akhir kang keri, akhir jisime isi, awek jeneng rohipun, pan dadi kanyatan, manipaksa (“) sejati, iya iku tegese tunggal tinunggal.
Terjemahan :
Jangan mendua Tuhan, dari awal hingga akhir, zat-Nya memang belum ada, namanya akhir yang ketinggalan, yang akhir jasadnya, kemudian diberi ruh, yang menjadi kenyataan, keterpaksaan sejati, itulah artinya satu yang menyatu.
Tegese kang kaping lima, kanugrahan kanugrahan kang sayekti, Shalat Ismu Ngalim ika, jenenging roh lawan jisim, yogya dipun kawruhi, tegese kang Maha Agung, asma Allah tan pegat, aningali kang dumadi, jagat iku yekti langgeng aneng suksma.
Terjemahan :
Yang kelima artinya adalah, anugrah yang sejati, namanya shalat ismu alam, adanya roh dan jasad, sebaiknya pahamilah, maksudnya Yang Maha Agung, sebutlah asma Tuhan tak pernah henti, melihat Tuhan dunia akan abadidalam suksma.
Tan pegat ing tingaliran, dadine bumi lan langit, iya iku kanugrahan, kang dadi ayat sayekti, kang kajenging ngelmi, tan ana loro tetelu, jenenging kanyatan wajah, tuwah ingkang suci, iya eroh tegese kang aran wajah.
Terjemahan :
Tanpa henti perhatianmu, (memikirkan) terjadinya bumi dan langit, itulah anugrah kehendak Allah, merupakan ayat atau tanda yang sejati, yang dikehendaki ilmu, tidak dua atau tiga, itulah kenyataan wajah (doa tawajuh), mantra yang suci, yang dimaksud wajah adalah ruh.
Utawi tegese pan, kathahe ingkang prakawis, ingkang dhingin pana ing Dat, kapindha sipat, kaping tiga winardi, wong kang pan apngalipun, tegesee pan ing Dat tan anane nenggih, ora ana anging Allah wujud baka.
Terjemahan :
Ada hal yang perlu diketahui, tentang tiga hal, pertama adalah zat, kedua sifat, dan winardi, yaitu orang yang tahu ag’alnya, maksudnya zat adalah, tidak ada zat lain kecuali zat Allah yang kekal abadi.
Anapun ana sipat, akabutana urip, langaliman lakuta, tan ana kuwasa singgih, tan ana angawruhi, anging Allah ingkang agung, kang amurba amasesa, tan ana ingkang madani, ora urip anging Allah Wujud hayat.
Terjemahan :
Ada pun yang disebut sifat, adalah disebut hidup, menguasai alam malakut, tak ada yang berkuasa, tak ada yang memberinya ilmu, hanya Allah Yang Agung, yang amurba amasesa, tak ada yang menyamai, tidak hidup kecuali Allah wujud hidup.
Tegese pan apngal, anane duwe pangreti, anging Allah ingkang karya, kawula tan anduweni, salira polah jisim, tan ana iya kaetung, miwah panggawe kita, tan rumangsa anduweni, apngalira ora ana kang kuwasa.
Terjemahan :
Ada pun yang disebut af’al, adanya punya pengertian, hanya Allah yang berkarya, hamba tidak memiliki, baik jiwa maupun raga, tidak ada yang terhitung, termasuk perbuatan kita, bukan kita yang memiliki, ketahuilah bahwa hambasama sekali tak memiliki kuasa.
Sing sapa weruh ing awak, iku weruh marang Gusti, tegese wruhing salira, tan ana wujude singgih, mapan kawula napi, datan ana wujudipun, tandane wruhing Allah, kawruhana kang sayekti, ora ana anging Allah kang mulya.
Terjemahan :
Barang siapa tahu akan dirinya, akan tahu siapa Tuhan-nya, maksudnya barang siapa bisa memahami sesungguhnya dirinya itu tidak ada, bahwa dirinya itu nafi, tak berwujud apa pun, pertanda ia tahu akan Allah, ketahuilah yang sesungguhnya, tak ada lain kecuali Allah Yang Mahamulia.
Angendika Rasulullah, pangawruh ingkang sayekti, sing sapa nembah ing asma, ora weruh asma singgih, punika dadi kapir, yen tan weruh tegesipun, wong munapik, wong ngaku tan wruhing asma.
Terjemahan :
Berkata Rasulullah, ilmu pengetahuan yang sejati, adalah barang siap yang menyembah asma (Tuhan), tetapi tidak tahu siapa asma (Tuhan) itu, sungguh dia itu kafir, kalau tidak tahu artinya, orang munafik, orang yang mengaku tidak tahu akan asma (Tuhan-nya).
Wong weruh asma lan makna, sirik yen ora ngawruhi, wong kang weruh marang makna. Kelawan hak angawruhi, yen ta wus weruh iki, yaiku mukmin satuhu, lan tinggal ingkang makna, hak ingkang dipun kawruhi, iya iku kang aran mukmin makrifat.
Terjemahan :
Orang (harus tahu akan) asma dan maknanya, syirik jika tidak mengetahuinya, orang yang tahu akan makna, dengan pengetahuan yang benar, kalaulah sudah tahu, itulah mukmin yang sebenarnya, dan tinggal makna, kebenaran yang diketahui, itulah yang disebut mukmin makrifat.
Angendika wong hakikat, alabtu thalabul rahmi, ingsun ngulati roh iku, kaya ngulati Hyang Widhi, lan tegesipun ngulati, roh kelawan ingkang agung, lah para kabeta roh, nora beda ngelmu jati, iya eroh lan Pangeran antaranya.
Terjemahan :
Berkata ahli hakikat, saya mengenali (melihat) ruhku, seperti mengenali Tuhan, dan maksudnya mengenali ruh yang Agung adalah (dengan) mendekatinya ruh, tidak beda dengan ilmu sejati, ialah antara ruh dan Tuhan.
Ngendika Seh Mahmud ika, adoh mesih ing Hyang Widhi, kaya pisaha kapir, saking suwarga kang luhur, lapal watarkus shalat, tinggal ashalat sayekti, luwih luhur tinggal shalat banjur ngojah.
Terjemahan :
Berkata Syekh Mahmud, jauhnya tempat Tuhan bersemayam itu, seperti jauhnya orang kafir, dari surga yang luhur, (karena mereka) meninggalkan shalat sejati, lebih luhur tinggal shalat lalu ngobrol.
Tegese atinggal shalat, salat lahir lawan batin, tan ngresa memuji nembah, eling kang sawiji-wiji, apan nora ndarbeni, panguwasa polahipun, anging nikmating tingal, tang angrasa nembah muji, polah tingkahe Allah kang shalat.
Terjemahan :
Meninggalkan shalat itu maksudnya, shalat lahir dan batin, tak merasa memuji menyembah, ingat pada satu-satunya, tidak merasa memiliki, tak berkuasa atas tindakannya, hanya anugrah Allah, tak merasa menyebah memuji, seluruh tindakan shalat adalah tindakan Allah.
Sampurnane shalat iku, nora ningali kekalih, nora ningali Pangeran, kawula nora kaeksi, ilang kawula Gusti, tan ana dulu dinulu, ananging idhepira, kang anembah kang amuji, pan kagenten sih nugrahaning Pangeran.
Terjemahan :
Sempurnanya shalat itu, tidak melihat dua, tidak melihat Tuhan, hamba tidak diperlihatkan, hilang kawula Gusti, tak ada kuasa menguasai, tetapi maksudmu, yang menyembah dan memuji itu, telah diganti oleh anugrah Allah.
Angandika wong utama, shalat iku malih-malih, kang ngendi tegese nyata, kang aran nyata kang endi, tegese nyata iki wau kang nyata satuhu, nyata ing dalem akal, ingkang nyata ingkang ngendi, alak iku roh satuhu kawruhana.
Terjemahan :
Berkata orang yang utama, shalat itu berubah-ubah, mana yang dimaksud nyata, yang disebut nyata yang mana, artinya nyata ini yang benar-benar nyata dalam akal, yang nyata yang mana, akal itu adalah roh sejati maka pahamilah.
Anapon shalat pasa, lawan jakat munggah Haji, pinedhakken brahala, mapan jeneng shalat wajib, wektu metu iki, wektuning shalat kawektu, iku dadi brahala, apan isih amemuji, pan tinampi kasembahe dadi brahala.
Terjemahan :
Adapun shalat puasa, dan zakat serta naik haji, meruntuhkan berhala, adapun shalat wajib, (adalah tergantung pada) waktu, waktu shalat yang ditentukan, itu menjadi berhala jika masih memuji, tidak diterima panembahnya (jika masih) jadi berhala.
Pundi tegese asalat, wong kang weruh ing Hyang Widhi, kelawan ati kang padhang, kawruhana kang sayekti, aja kaliru tampi, jatining ening puniku, pundi eningkang tunggal, kang ingaran ati ening, iya iku cahyaning e-Dat kang nyata.
Terjemahan :
Bagaimanakah maksud shalat, orang yang mengetahui Tuhan, dengan hati yang terang, pahamilah yang sebaik-baiknya, jangan sampai salah terima, sesungguhnya hening itu, adalah hening pada Yang Tunggal, yang disebut hati hening, yaitu cahaya zat yang nyata.
Angandika Abu Bakar, kinasihan ing Hyang Widhi, ingkang antuk rahmatullah, tegese shalat sejati, tarkulu syai’in, ing tinggal sawiji iku, kang liyan saing Allah, tan ana sawiji-wiji, anging tunggal Allah kang murba misesa.
Terjemahan :
Berkata Abu Bakar, orang yang dikasihi Allah, yang mendapat rahmatullah, bahwa yang dimaksud shalat sejati (adala) meninggalkan segala sesuatu (dan memusatkan pada) satu hal, bukan pada yang lain selain Allah, tak ada sesuatu pun melainkan hanya Allah Yang Esa, yang amurba amasesa.
Tegese anane shalat, sekawan kathahe nenggih, kalima sampurnanira, dhingin wulu tanpa warih, kapindho niyat singgih, ikrar kaping tiganipun, kaping sekawan makrifat, tan kelawan netra jati, ping limane nora kelawan makrifat.
Terjemahan :
Yang dimaksud shalat, empat jumlahnya, dan kelima kesempurnaannya, pertama wudhu tanpa air, kedua niyat, ketiga ikrar, keempat makrifat tanpa netra jati, dan kelima tanpa makrifat.
Kang sira awas makrifat, yaiku yekti Hyang Widhi, kang muji pinuji dawak, memuji pujining Widi, tan ana liyan sejati, anging Allah ingkang Agung, ilang jeneng manungsa, tan ana makhluk sejati, anging Allah ya jenenge ingkang shalat.
Terjemahan :
Ingatlah dikau waspada makrifat, yaitu Tuhan yang sesungguhnya, yang memuji dan dipuji sendiri, memuji pujian-Nya, tak ada yang lain sejati, hanya Allah yang Agung, hilanglah esensi manusia, tak ada makhluk yang sejati, hanya diri Allah-lah yang melakukan shalat.


SULUK PRATINGKAHING SHOLAT (bagian 04)


Syahadat-01Angandika Nabi kang sinelir, angrasani jenenge wong salat, arep weruh Pangerane, kelawan ora weruh, siya-siya dennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh sadennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh satuhu, weruhe kadi punapa, yen weruha sameleke dadi kapir, pan ora werna rupa.
Terjemahan :
Berkata Nabi yang terkasih, membicarakan orang yang shalat, hendak mengetahui Tuhannya, (jika) tidak mengetahui maka sia-sialah salat yang dilakukannya, tingkang laku orang shalat, (ingin) mengetahui sesungguhnya, mengetahui seperti apa, jika mengetahui seperti mata melihat maka jadilah ia kafir, (karena Tuhan itu) tanpa warna tanpa rupa.
Lamun ora weruh ing Hyang Widhi, yekti wuta benjang neng akherat, arep weruh ing semangke, yogya sami nggegurua, ing pagawruh kang sejati, pratingkahe wong shalat, ya weruh satuhu, jenenge asalat tunggal, tunggal wujud kawula kelawan Gusti, kang dadi kenyatan.
Terjemahan :
Jika tidak mengetahui Tuhan, sesungguhnya akan buta besok di akherat, hendak mengetahui nantinya, maka carilah seorang guru, tentang kawruh sejati, tingkah laku orang shalat, harus tahu benar, perihal shalat tunggal, tunggal wujud hamba dan dan Tuhan, yang menjadi kenyataan.
Weruhipun kawula Gusti, jeneng niyat kang tigang perkara, qasdu takrun lan takyine, weruhe bedanipun, niyat iku sawiji-wiji, qasdu ingkang panedya, ingkang niyat iku, dudu bangsa lan suara, ingkang ngadeg sujud rukuk kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
Terjemahan :
Mengetahui hamba dan Tuhan, niat tiga hal, qasdu takrun dan takyin, ketahuilah perbedaannya niat yang tiga itu satu-persatu, qasdu adalah permohonan, niat itu bukan jenis dan ucapannya, berdiri rukuk dan sujud itu juga bukan niat.
Ping kalih takrun kang gumanti, lungguhira bakdane rakangat, papat lawan tetigane, ing Ngasar lan Subuh, dipun awas sawiji-wiji, jenenge kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
Terjemahan :
Yang kedua, takrun yang menggantikan, dudukmu stelah rekaat, yang keempat atau ketiga, dalam waktu Ngasar atau Subuh, pahamilah satu-persatu, menghitung rekaat tidak boleh keliru, takyin yang ketiga, menyatakan padaSshalat Subuh, Magrib dan Isya.
Yen nganggoa qasdu takyin, tan sampurna shalate wong ika, yen ora nganggo kepriye, pan batal salatipun, niyat iku jenenge wajib, tan kena tinggal, iya ingkang tetelu, yen lamun meksih nganggoa, qasdu takrun kelawan takyin puniki, shalate tan sampurna.
Terjemahan :
Jika (tidak) memakai qasdu takyin, maka salatnya orang itu tidak sempurna, jika tidak memakai bagaimana, apakah batal shalatnya, niat itu adalah yang wajib, yang tak boleh ditinggal, sedangkan ketiganya, qasdu takrun dan takyin itu, jika tak dipakai shalatnya tidak sempurna (tetapi tidak batal).
Waler sengker pocapan puniki, kang satengah nora duwe duga, dene ayuh bebasane, nggeguyu peksa weruh, pangucape, pegel kena ati, tan kena den kalahena, padune wong bingung, kudu ngajak kakerengan, kang saweneh ngaku yen bisa tapsir, katungkul ngudi sastra.
Terjemahan :
Nasehat ini adalah nasehat yang terlarang, yang sebagaian jangan sampai kurang pertimbangan, peribahasanya menertawakan memaksa (orang yang) hendak tahu, perkataannya menyakitkan hati, tak bisa dikalahkan, justru (sebenarnya) itu orang yang bingung, ingin mengajak pertengkaran, dan menyombongkan kalau bisa ilmu tafsir, (tapi) terlalu mementingkan nilai susastranya.
Atakona ingkang padha mukmin, jeneng kawruh sejatine shalat, den weruh pisah kumpule, pundi kang mukmin tuhu, iya iku ingkang ngawruhi, sejatine wong shalat, pisah kumpulipun, dudu shalate kawula, sejatine kanugrahaning Hyang Widhi, kang tiba mring kawula.
Terjemahan :
Bertanya pada orang mukmin, tentang pengertian shalat, ketahuilah berpisah dan berkumlpulnya, siapakah orang mukmin sebenarnya, yaitu orang yeng mengetahui, kesejatian shalat, dan berpisah bersatunya (hanba dan Tuhan), shalat itu bukanlah shalat hamba, melainkan anugrah Tuhan yang melimpah pada hamba.
Ingkang tinggal shalat mapan wajib, wus sampurna ingkang tinggal shalat, yogya apa pangawruhe, lamun tan kaya iku, siya-siya dennya nglampahi, angel jeneng shalat, manawa kaleru, dwn dalih atinggal pisan, bebayane aninggal shalat sejati, pan wajib linakonan.
Terjemahan :
Yang meninggalkan shalatyang wajib, dan yang sudah sempurna “meninggalkan shalat”, seperti apa perbuatannya, jika tidak tahu sia-sia olehnya menjalani, sulit memahami shalat, jangan sampai keliru, dikiranya sudah bersatu (padahal belum), bahayanya meninggalkan shalat sejati, yang wajib dilakukan.
Lamun tinggal shalat apan kapir, nora kena mayite dinusan, wong mati bangka hukume, kelawan malihipun, nora tinggal lan bukti, ingkang tinggal shalat, iku janjinipun, lawan malih nora apsah, anembeleh angrusak kalimah kalih, iya wong atinggal shalat.
Terjemahan :
Jika meninggalkan shalat adalah kafir, tak boleh mayatnya dimandikan, itu adalah orang yang mati tidak sempurna, tidak berhak meninggalkan bukti, itulah orang yang meninggalkan shalat, itulah janjinya, dan lagi tidak absah menyembelih (karena) telah mrusak kalimah dua (syahadat), itulah orang yang meninggalkan shalat.
Mintalah pertolongan kepada ALLAH dengan sholat dan sabar, sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusuk”. “Yaitu yang meyakini (telah dan akan) /selalu bertemu dengan Rabbnya (Sang Pencita Alam Semesta) dan mereka yang menjadikan ALLAH sebagai rujukan setiap hal”
( QS. Al – Baqarah 45 – 46 )


Khusuk adalah atribut yang melekat pada kehidupan (sholat dan sabar merupakan bagian dari kehidupan). Orang yang hidupnya khusuk akan senantiasa memelihara perjumpaan dirinya dengan ALLAH, selalu memfokuskan diri kepada ALLAH, selalu mematuhi perintah ALLAH. Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas selalu membaca doa dan menyadari sepenuhnya bahwa segenap tindak laku adalah perintah ALLAH.
Sangat logis sekali jika orang yang hidup khusuk, sholat dan sabar bukan sesuatu yang memberatkan. Sia-sia jika kita berharap sholat khusuk tapi dalam hidup keseharian tidak khusuk (cenderung permisif-serba boleh , profan-terlalu bersifat duniawi, kering dari nilai-nilai & memperturutkan hawa nafsu).

Emangnya SHOLAT KHUSUK yang berupa gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk takhiyat dan beberapa teknik yang kita kejar-kejar dan kita cari cari selama ini bisa menghantarkan kita untuk sampai ( Manunggal ) kepada Tuhan tanpa dibarengi AKSI, TINDAKAN dan PERBUATAN untuk ” Hamemayu Hayuning Bawono…??”. Manusia sebagai HAMBA, ABDI, BATUR, JONGOS nya Tuhan harus memahami keberadaan kita akan MAKNA predikat sebagai ABDI. Jika tidak maka pergulatan, pencarian dan pemelukan manusia terhadap sebuah Agama berikut perintah Ibadah yang ada di dalamnya hanya akan berhenti dan mandeg pada ” stasiun AKAL dan PIKIRAN ” paling banter yah…dalam kapasitas ANGAN-ANGAN dan MIMPI. Jadi jangan “ Nggondhok, Mangkel dan Kecewa “ klu serentetan ibadah ritual yang kita lakukan tak lebih dari sekedar SESEMBAHAN terhadap PIKIRAN, BUDI dan ANGAN-ANGAN kita semata, bukannya sesembahan yang sesungguhnya kepada sang Hyang Moho Tunggal.
Untuk bahan perenungan dan mengetahui lebih jauh tentang pemahaman MAKNA menyembah ( sholat ) mari kita cermati sebuah konsep sesembahan dalam PUPUH Khazanah Jawa berikut ini :
Utamaning sariro puniko,…
Angaweruhono jatining salat,…
Sembah lawan pujine,…
Jatining salat iku Dudu Isa’ tuwin Maghrib,…
Sembahyang arane wenange puniku,…
Lamun aranono salat pan minongko kembangane salat,…
Ing aran toto kromo, …
Endi kang aran sembah sejati,…
Ojo manembah yen tan ketingalan,…
Temahe kasor kulane,…
Yen siro nora weruh Kang sinembah ing ndonya iki kadi anulup kaga, …
Punglune den sawur manu-e mongso keno-o,…
Awekoso amangeran adam sarpin,…
Sembahe siyo-siyo,…
Unggulnya diri itu Mengetahui hakekat sholat
Sembah dan pujian

Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan salat Isa’ dan Maghrib

Itu namanya sembahyang
Apabila disebut salat, maka itu hanyalah hiasan dari salat daim
Yang dinamakan TATA KRAMA

Manakah yang disebut salat yang sesungguhnya itu

Jangan menyembah bila tidak tahu yang disembah

Akibatnya akan direndahkan MARTABAT HIDUPMU

Apabila engkau ingin mengetahui yang disembah di dunia ini Engkau seperti menyumpit burung

Pelurunya disebar kemana-mana tapi tidak ada satupun yang mengenai burungnya
Akhirnya cuman menyembah ANGAN-ANGAN

Penyembahan yang sia-sia tiada berguna

Loh..loh.. kok bisa begitu…?? Yaa Begitu lah…maaf la wong ini juga pendapat saya pribadi kok dan mohon Saudara-saudaraku jangan terpengaruh dengan pendapat saya dan boleh tidak mempercayainya…!!
Sebagai manusia kita sudah semestinya harus memahami TUJUAN HIDUP ( Paraning Dumadi ) kita. Untuk mengetahui Tujuan hidup kita harus mengetahui EKSISTENSI kita, karena eksistensi manusia tak akan bisa lepas daripada Tujuan hidup itu sendiri. Cuman permasalahannya adalah kita-kita ini juga gak inget mengapa kita harus hidup di dunia ini, hik..hik…adakah diantara saudara-saudaraku yang inget…?? Kita tidak ingat, mengapa kita ini harus hidup yah…mengapa kita sekarang ini ada di sini..?? Jadi sangat wajar, lumrah, rasional dan logis klu kita sama-sama gak tahu tentang TUJUAN HIDUP kita he..he..Makanya dalam setiap ritual Sholat ada permohonan kepada Tuhan untuk ditunjukkan kepada JALAN LURUS yah gak..yah gak…??. Artinya apa..?? Kita ini manusia yang sama-sama TERSESATNYA….!! Maka saya kadang GELI, Mesam-mesem, kadang malahan TERPINGKAL-PINGKAL klu ada kelompok/golongan keyakinan tertentu beraninya memfonis orang lain SESAT, KAFIR, MUSYRIK….halah..halah…apa yah gak sadar toh kalau sendirinya tuh sebagai manusia yang sama-sama masih TERSESATNYA di dunia ini..?? Amat banyak loh diantara kita ini yang mencari-cari TUJUAN HIDUP dari teks book Kitab Suci dan Hadis sebagai rujukannya. Yah..yah…mungkin saja kita bisa menemukannya disana. Namun yang LUCUNYA lah wong kita ini mo pingin menemukan TUJUAN HIDUP sendiri kok Informasinya diperoleh dari luar DIRI. Ini kan sama saja dengan anak kecil yang ingin mengetahui namanya sendiri dan bertanya kepada orang yg gak dia kenal. Jika kita mau menelusuri Khasanah Jawa ( maaf karena saya orang Jawa seh ) ternyata tujuan hidup manusia takkan lepas dari apa yang dinamakan SELAMET. Terlepas dari berbagai dalil-dalil atau bahkan kata-kata FALSAFAH, hidup SELAMET adalah tujuan manusia. Yah kata orang Islam di Arab sono ” Khasanah Fiddunya wal Akhirat ” alias SELAMET di dunia dan Akherat serta terbebas dari API NERAKA…!!. Jika kita telisik lebih dalem makna SELAMET adalah AMAN, NYAMAN tak ada gangguan apa-apa, tidak menderita dalam hidup ini, juga tidak mengalami KERUGIAN…!!
Selamet juga memiliki makna ” WIDODO ” yaitu selamat dimana saja, kapan saja selamanya. Suatu keselamatan yang TERBEBAS dari ruang dan waktu.
Adalagi konsep RAHAYU yang masih digunakan sampai sekarang ini. dalam konsep RAHAYU ini terkandung KEBENARAN, KEBAIKAN, KEBAJIKAN, KESELAMATAN dan KETEPATAN. Jadi kehidupan yang RAHAYU dalam konsep Jawa adalah hidup yang ” Toto, Titi, Temtrem, Kerto, Raharjo ” ( teratur, tertib, nyaman, sejahtera dan sehat ) yang penuh kebajikan. Jadi tujuan hidup manusia adalah menempuh perjalanan. Berjalan kemana..?? Yah menuju HIDUP SEJATI…apa itu…? Hidup yang RAHAYU dan SELAMAT. Dan terlepas dari berbagai penafsiran tentang apa itu SELAMAT. Yang jelas selamat BUKAN ANGAN-ANGAN, HAYALAN atau sekedar kepercayaan. Selamat itu REALITAS..dan bukan CARITAS…!!, ia adalah keadaan atau kenyataan dalam hidup ini. Jika sekarang kita yang hidup di negeri ini tidak merasakan RAHAYU itu menandakan masih banyak orang yang belum SELAMAT.
Hidup itu bersifat baru yang dilengkapi oleh adanya “ Panca indra “ yang sekaligus merupakan barang pinjaman dari Gusti Kang Hakaryo Jagad. Jikalau barang tersebut telah diminta kembali oleh si Empu-Nya, apa yang bisa kita perbuat…?? semua akan berubah menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur dan bersifat NAJIS . Oleh karena itu Panca indra TIDAK DAPAT kita pakai dan kita gunakan sebagai PEDOMAN dalam menjalani HIDUP….!!
Nafs, Budi, Pikiran, Angan-angan dan Kesadaran adalah satu wujud dengan Akal yang dapat menjadikan kita GILA, SEDIH, BINGUNG, TAMAK, RAKUS dan sering kali tidak JUJUR. Karena AKAL itu pula yang dalam siang dan malam sering mengajak kita IRI, DENGKI terhadap sesama demi kebahagiaan diri sendiri, bahkan tak jarang merusak kebahagiaan orang lain demi ISI PERUT. Dengki menyebabkan seseorang berbuat jahat, menimbulkan kesombongan. Dan, sering pula menyebabkan jatuh dalam lembah KENISTAAN. Yang pada gilirannya akan MENODAI nama dan citra Manusia itu sendiri.
Jalan hidup manusia yang harus dilalui adalah jalan HATI ( batin ). Batin yang bisa mencapai KEBENARAN. Hati yang demikian haruslah terbebas dari berbagai penyakit atau kotoran. Tanpa pamrih dalam bertindak, tidak dengki dan mendengki. Hati yang pemaaf. Sombong….telah jauh-jauh hari sudah ditinggalkan. Jika hati sudah lurus itu akan tercermin dalam perilakunya, tercermin dalam tutur kata dan terefleksi dalam aura wajahnya. Terpantul dalam suara ketika berbicara. Dalam kondisi hati yang jernih seseorang akan dapat melihat jalan hidup yang harus dilaluinya.
Inilah barangkali CERMINAN sekaligus PENGEJAHWANTAHAN perilaku dari pada Hidup KHUSU’.
Jadi…mana yang bernilai…?? Shalat/Dzikir Khusu’ atau Hidup Khusu’…??? Terserah masing-masing anda menilai dan menjalaninya. So What gitcu loh…??
Maksud hati yang sudah sampai pada Kebenaran,
Kotoran yang telah sirna dari Jasad,
Mencegah segala keburukan,
Bagaikan tubuh yang Jelita,
Yang demikian itu jika telah sampai pada luar dan dalamnya,
Akhirnya seimbang, Bersih, jernih, tanpa campuran,
Akhirnya dapat dikatakan,
Lenyap sudah sifat AWAM manusianya.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments