Tampilkan postingan dengan label ilmu guru sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu guru sejati. Tampilkan semua postingan

Metafisika Syekh Siti Jenar


ILMU SEJATI SYEKH SITI JENAR

“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

“Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. METAFISIKA WAHDATUL WUJUD

PROBLEM seputar masalah YANG ADA merupakan problem yang berat. Artikel ini bersandar pada teori YANG ADA dari khasanah Metafisika Islam yaitu Mulla Sadra. Meskipun pendek, diharapkan agar bisa menjadi titik pijak untuk memahami metafisika KESATUAN TUHAN atau WAHDATUL WUJUD yang terkenal dengan tokoh-tokoh sufinya seperti Al Hallaj maupun Syeh Siti Jenar.

Dasar dari Filsafat adalah Metafisika. Metafisika dibagi menjadi METAFISIKA UMUM disebut dengan ONTOLOGI, dan METAFISIKA KHUSUS yang terdiri dari KOSMOLOGI, FILSAFAT MANUSIA atau ANTROPOLOGI METAFISIK dan FILSAFAT KETUHANAN atau TEODICEA.

Di antara tema-tema METAFISIKA UMUM yang paling banyak melahirkan kontroversi adalah problema YANG ADA. Sebab hakikatnya terasa ribet dan ruwet. Hal ini lantaran YANG ADA merupakan sesuatu yang repot bila didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu objek, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara YANG ADA itu adalah obyek sekaligus juga subyek karena kita ada didalam YANG ADA.

Menurut para filsuf, konsepsi YANG ADA sedemikian terangnya, sehingga ia persis menyerupai matahari. Dan karena sedemikian terangnya, ia tak mungkin bisa dilihat manusia. Demikianlah YANG ADA. Begitu jelasnya YANG ADA, maka ia tak mungkin bisa didefinisikan lewat genus dan diferensia, yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang YANG ADA itu sendiri.

Secara historis, tema YANG ADA menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filsuf klasik sejak Thales di era Yunani Kuno sampai Josiah Royce di era Modern. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih sekadar menempatkan problematika YANG ADA sebagai bagian dari tema-tema universalitas saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksidensi, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.

Sejak kehadiran Mulla sadra, lahirlah mazhab filsafat EKSISTENSIalisme dalam komunitas Muslim. Namun, EKSISTENSIalisme Sadra sangat berbeda dengan mazhab EKSISTENSIalisme seperti Kierkegaard, Jean Paul Sartre, atau Heidegger.

EKSISTENSIalisme Islam adalah sebuah mazhab filsafat metafisis yang murni. Tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu dan bahkan ingin sampai kepada YANG ADA SEBAGAIMANA YANG ADA yang sebenarnya (the Ultimate Reality). Dengan demikian, nuansa metafisika YANG ADA dalam Islam lebih bersifat teistik bahkan sufistik; sementara aliran filsafat EKSISTENSIalisme barat sebagiannya condong pada ATEISME.

Untuk bisa memahami metafisika YANG ADA, ada baiknya kita batasi pembahasan hanya pada teori Mulla Sadra tentang YANG ADA. Konsep Sadra berdiri di atas tiga prinsip dasar yang sangat fundamental. Dengan memahami ketiga prinsip ini, diharapkan kita akan dengan mudah memahami teori-teori filsafatnya yang lain, baik yang berkaitan dengan kosmologi, epistimologi, dan bahkan teologinya. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut: WAHDATUL WUJUD (KESATUAN YANG ADA), TASYKIKUL WUJUD dan ASALATUL WUJUD. Kita akan mengelaborasi ketiga prinsip ini secara sederhana.

Secara historis, teori WAHDATUL WUJUD pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi. Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat. Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat. Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya TUHAN YANG EKSIS sementara selain Tuhan tak ada yang eksis. Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa SELURUH YANG BERWUJUD SELAIN TUHAN HANYALAH TAJALLIYAT (MANIFESTASI) DARI ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT TUHAN.

Namun Sadra melihat bahwa YANG ADA SEBAGAI YANG ADA meskipun SATU, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama YANG ADA. Sifat YANG ADA-nya TUHAN MUTLAK, sementara yang ada lain hanya bersifat YANG ADA DALAM KEMUNGKINAN. Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. YANG HARUS ADA berbeda dengan YANG MUNGKIN ADA.

Teori WAHDATUL WUJUD sebagai teori tentang YANG ADA menekankan pada KESATUAN YANG ADA yang hadir pada segala sesuatu. Tuhan MEMILIKI SIFAT YANG ADA, begitu juga dengan manusia, benda-benda mati. Apakah YANG ADA setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru ADA KARENA ADANYA YANG LAIN. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara YANG ADA-NYA TUHAN dengan YANG ADA selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa YANG ADA itu SATU, sementara di dunia YANG ADA kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Lalu berapa jumlah YANG ADA?

Persoalan itu dalam metafisika dikenal dengan istilah problem antara YANG SATU DAN YANG BANYAK. Pertama, ada yang disebut dengan istilah composite existence dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori ini maka YANG ADAnya pasti akan terbatas.

Kedua, the Simple Existent, di mana jenis YANG ADAnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak pernah terbatas. YANG ADA ini hanya milik TUHAN saja di mana YANG ADANYA merupakan WUJUD-Nya itu sendiri. Simplifikasi jenis YANG ADA TUHAN ini disebut Sadra dengan istilah basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa YANG ADA yang bersifat sederhana adalah YANG ADA yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.) Karenanya mengikut formula ini, YANG ADA manusia adalah bagian inheren dari YANG ADA TUHAN.

Prinsip WAHDATUL -WUJUD atau KESATUAN YANG ADA dalam filsafat Sadra ini yang melihat KESATUAN YANG ADA terbentang lebar pada segala apa yang disebut sebagai YANG ADA INDIVIDUAL sampai YANG MUNGKIN ADA yang beraneka ragam dan bervariasi, sehingga YANG ADA memiliki sistematisasi.

Menurut aliran filsafat ESENSIALISME, ESENSI tak mengalami perubahan. Yang berubah adalah instansi-instansi partikularnya. Ketika warna putih mengalami intensifikasi warna, itu berarti bahwa warna dahulu hilang dan lahir warna baru yang menggantikannya.

Sadra menolak teori ini. Mereka melihat bahwa suatu ESENSI tidak pernah mengalami perubahan. Suatu ESENSI bisa saja memiliki wilayah intensitas yang tak terbatas. Ketika warna putih mengalami intensifikasi, bukan hanya ke-putih-annya yang tetap, bahkan “putih”nya juga tetap. Jadi semua yang disebut ESENSI memiliki kapabilitas untuk menjadi “more or less”: semua manusia bisa jadi “lebih” atau “kurang” manusia dari manusia lain. “Manusia” dan “kemanusiaan” Muhammad saw lebih sempurna dari manusia dan kemanusiaan kita.

Ini adalah teori “MORE PERFECT AND LESS PERFECT” yang kemudian dimodifikasi oleh Sadra. Pertama, prinsip ambiguitas ini dirubahnya dari ambiguitas ESENSI menjadi ambiguitas dalam EKSISTENSI. Dengan kata lain, yang mengalami graditas bukan ESENSI, tapi justru EKSISTENSInya. Kedua, teori ambiguitas EKSISTENSI ini juga terjadi secara sistematis bukan sekadar ambiguitas. Itu berarti, EKSISTENSI adalah sama bagi seluruh EKSISTENSI, seperti EKSISTENSI Tuhan yang wajib dan makhluk yang mungkin, adalah sama apabila dilihat dari sisi predikat EKSISTENSInya.

Meskipun predikat EKSISTENSI di atas sama namun setiap EKSISTENSI tetap memiliki keunikannya tersendiri yang memisahkannya dari yang lain. Seluruh bentuk EKSISTENSI yang lebih tinggi pasti mengandung bentuk EKSISTENSI yang lebih rendah bahwa EKSISTENSI yang sederhana pasti mencakup secara inheren segala EKSISTENSI yang berada di level bawahnya.

Dengan dasar prinsip di atas KESATUAN YANG ADA terpelihara pada semua EKSISTENSI; namun keragamannya juga terpelihara. Ketika dua prinsip di atas tak terbantahkan secara common sense, maka lahirnya prinsip YANG ADA adalah sesuatu yang aksiomatis. YANG ADA berarti bahwa YANG ADA adalah prinsip dari segala wujud yang ada. Lawan darinya adalah prinsip bahwa YANG ADA sekadar asumsi akal. Perbedaan kedua prinsip ini secara historis telah lahir jauh sebelum munculnya Sadra, seperti yang dapat kita simak dari teori-teori Farabi, Ibnu Sina, bahkan Aristoteles.

Sesuatu memerlukan YANG ADA agar ia bisa eksis. Tanpa YANG ADA, suatu hal tidak akan pernah bisa berEKSISTENSI, suatu YANG ADA tidak akan bisa memperoleh partikularisasinya di dunia YANG ADA. Teori dualitas antara YANG ADA ini kemudian ditolak secara tegas oleh pekikir Islam lain, Suhrawardi. Menurut Suhrawardi, apa yang kita lihat sebagai EKSISTENSI di dunia YANG ADA adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka YANG ADA itu sendiri akan memerlukan YANG ADA lain yang bisa memberinya EKSISTENSI; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinitum.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa suatu YANG ADA yang konkrit tiada lain adalah sebuah fakta bahwa itu adalah YANG ADA itu sendiri. Sehingga kalimat YANG ADA tiada lain kecuali abstraksi akal semata-mata.

Sadra yang EKSISTENSIALIS dan yang berusaha maksimum untuk mensintesiskan kedua aliran ini menolak pendapat Suhrawardi. Baginya yang riil adalah YANG ADA, sementara ESENSI adalah abstraksi mental semata-mata. YANG ADA bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh YANG ADA, namun ia adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab sifat YANG ADA yang paling fundamental yakni SEDERHANA dan berkarakter MENYEBAR ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai EKSISTENSI.

Dan EKSISTENSI yang ada di hadapan kita tidak lebih pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan YANG ADA itu sendiri. Ketika kita melihat di dunia YANG ADA ini ADA, misalnya, kursi, meja, si Amir, kuda, dan sebagainya, maka entitas-entitas itu “membelah” dari bentangan YANG ADA.

Akhirnya, secara teologis, konsep YANG ADA dari Mulla Sadra di atas mengajak kita memahami makna the ULTIMATE REALITY di mana ADA-NYA TUHAN memiliki sifat partikular juga menyatu dalam maknanya yang sangat unik. Meskipun WAHDATUL WUJUD atau YANG ADA ITU MENYATU namun tidak terjebak pada teori PANTEISME, karena YANG ADA entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara. Itulah yang dimaksudkan firman Allah “AKU LEBIH DEKAT DENGANMU DARIPADA DIRIMU SENDIRI.”

Guru Suci Tanah Jawi

Sunan Kalijaga mendapat gelar agung sebagai guru suci Tanah Jawi. Kocap kacarita, Raden Mas Sahid putra kanjeg Adipati Tuban, sudah menjadi alim ulama yang cerdik dan pandai. Bahkan beliu sudah dapat merasakan mati di dalam hidup. Tingkatan pendakian tauhid yang sangat tinggi, dan patut diacungi jempol. Namun beliu belum puas dengan apa yang sudah didapat. Dia mempunyai himatulaliyyah atau cita-cita yang tinggi yaitu bertujuan inging memperoleh petunjuk diri seseorang yang sudah menemukan hakikat kehidupan, yang nantinya dapat mengantarkanya agar mendapat petunjuk yang dipagang para Nabi Wali atau Imam Hidayah.
Tekadnya semakin membaja, menyebabkan beliu melakukan perjalanan hidup yang tidak mempedulikan dampak atau akibat apapun yang akan terjadi, nafsunya menuntut ilmu semakin membara tak perduli samudra api menghadang. Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu biarpun harus menyeberang samudra api!”.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid hatinya bimbang dan pikirannya bingung. Siapa yang tidak bingung! Segala ilmu yang diketahui dan dipahami diamalkan dengan penuh pengabdian kepada Allah, namun beliu merasa selalu tergoda oleh nafsunya, dan merasa tidak mampu mengatasinya. Berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi nafsunya, jangan sampai terlanjur terlantur, hanya puas makan dan tidur. Namun tetap saja dirinya merasa hatinya kalah perang dengan nafsunya. Akhirnya beliu pasrah kepada Allah tempat berserah diri.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid memohon kepada Allah Tuhan Yang Terpilih, semoga dibukakan oleh Tuhan Pembuat Nyawa, agar istiqomah hatinya, selaras dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah dan puji. Dan tiada putus-putusnya dia berdoa, biarpun terselip kekhawatiran dosa dan kekhilafan yang pernah dilakukannya semasa muda, mungkin tak termaafkan oleh Gusti Allah. Sekian lama beliu berdoa, namun tak ada tanda-tanda terkabulnya doa. Akhirnya beliu mawas diri. Mengapa petunjuk yang ditunggu-tunggu belum juga datang? Apakah caranya beribadah dan bersyukur yang salah? Apakah yang dilakukan selama ini acak-acakan tanpa dasar ilmu yaqin?
Ling lang ling lung, akhirnya Raden Mas Sahid diam tak mau berdoa lagi. Beliu menyendiri dan menjauhi urusan duniawi (uzlah). Buak dari laku ini, dirasanya masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dua sura dalam batingnya sendiri, bisikan Malaikat dan bisikan Syaitan. Pertentangan suaranya tidak lantang sebagaimana layaknya orang bertengkar, tetapi pertengkaran hebat itu tidak kunjung berhenti! Bukankah bisikan baik dan buruk saling merebut kemenangan? Apa sih yang diperebutkan? Padahal tidak ada yang diperebutkan! Perang batin ini, kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina oleh Kurawa dan Pandawa yang masih termasuk keluarga sendiri atau darah daging sendiri!
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid menyadari laku uzlah yang dijalankannya tak menghasilkan petunjuk yang diharapkan. Akhirnya tanpa malu-malu, karena didesak oleh hasrat mengetahui petunjuk, beliu berusaha bertapa berlapar-lapar, kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi tidak makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan. Ling lang ling lung, menuruti kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah. Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid meminta upah dari laku bertapa berlapar-lapar ternyata tiada hasil. Beliu akhirnya menyadari kebodohannya dan tersemyun sendiri. Mengapa sampai teganya Dia menagih tak henti-hentinya kepada Allah, padahal tanpa piutang? Gusti Allah yang ditagih wajar kalau diam saja, memang kenyataanya tidak berhutang! Biarpun yang menagih datang dan pergi, semua itu tidak ada bedanya, dan Allah Yang Maha Karya berhak tidak melunasi karena tidak pernah berhutang kepada Raden Mas Sahid. Akhirnya beliu memutuskan diri untuk berguru dengan Kanjeng Sunan Bonang, barangkali dengan itu, beliu dapat petunjuk iman hidayah.
Mulailah Raden Mas Sahid berguru kepada seseorang yang tinggi ilmunya yang bersunyi diri di Desa Bonang yang bergelar Kanjeng Sunan Bonang. Beliu mohon kepada Kanjeng Sunan Bonang untuk ditunjukkan hakikat kehidupan. Syekh Malaya disaat mulai berguru kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintah bertapa menunggu pohon gurda dan dilarang meninggalkan tempat.
Ling lang ling lung, Syekh Malaya dapat dikatakan orang hebat, karena keinginanya yang kuat serta tekad batinnya, tak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Maklumlah beliu berdarah luhur, putra Kanjeng Adipati Tuban Wilwatikta II bernama Raden Mas Sahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga. Rupanya sudah terlebih dahulu mendapat anugrah Kasih Sayang Gusti Allah Pencipta Nyawa yang sudah menjadi kemulian Tuhan Yang terpilih, timbul dari kasih Sayang Allah. Syekh Malaya berguru menuntut ilmu sudah cukup lama, namun merasa belum dapat manfaat yang nyata, rasanya Cuma penderitaan yang didapat, sebab disuruh memperbanyak bertapa, oleh Kanjeng Sunan Bonang, diperintah “menunggui pohon gurda” yang berada ditengah hutan belantara dan tidak boleh meninggalkan tempat, sudah dilaksanakan selama setahun.
Laku tapa yang kedua, disuruh “ngaluwat” yaitu ditanam di tengah hutan di dalam goa Sorowiti Panceng Tuban. Setelah setahun mulut gua yang mulanya ditutup dengan batu-batu, kemudia dibongkar oleh Kanjeng Sunan Bonang. Kemudian laku tapa yang ketiga, yaitu “tarak brata di tepi sungai” selama setahun, dan tidak boleh tidur ataupun makan, lalu ditinggal ke Mekah oleh Kanjeng Sunan Bonang.
Nyatanya sudah genap setahun, Syekh Malaya ditengok, ditemui masih tarak brata saja, Kanjeng Sunan bonang bersabda, “wahai siswaku sudahilah tarak bratamu, kamu mulai sekarang sudah menjadi Wali dan bergelar Sunan Kalijaga. Kamu diangkat sebagai wali Sembilan penutup maksudnya melengkapi Wali Sanga atau Wali Sembilan yang saat itu jumlah kurang satu wali. Tugasmu ikut menyiarkan agama Islam dan perbaikilah ketidakaturan yang ada. Agama itu tata krama, kesopanan untuk Kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Kau harus berpegang pada syariat Islam, serta segala ketentuan iman hidayah. Hidayah itu dari Gusti Allah Yang Maha Agung, yang sangat besar kanugrahan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang, yang demian itu tidak lain adalah anugrah yang besar, paling utama dari segala yang utama (keutamaan). Keutamaan ibarat bayi, siapapun ingn memelihara, yang mencukupi bayi, menguasai pula terhadap dirimu, tapi kamu tak punya hak menentukan, karena kau ini juga yang menentukan Gusti Allah Yang Maha Agung, karena itu mantapkanlah hatimu dalam pasrah diri pada-Nya”.


MERASAKAN HIDAYAH KEIMANAN

Sunan_kali_jagaSyekh Malaya berkata lemah lembut kepada Kanjeng Sunan Bonang, “sugguh hamba sangat bermatur nuwun, semua nasihat akan kami junjung tinggi, tapi hamba memohon pada guru, mohon agar sekalian dijelaskan, tentang maksud sebenarnya dari sukma luhur atau ruh yang berderajat tinggi, yang sering disebut iman hidayah. Hamba harus mantap berserah diri kepada Gusti Allah, bagaimanakah cara melaksanakan dengan sebenar-benarnya? Hamba mohon penjelasan yang sejelas-jelasnya. Kalau hanya sekedar ucapan semata hamba pun mampu mengucapkannya. Hamba takut kalau menemui kesalahan dalam berserah diri, karena menjadikan hamba ibarat asap belaka, tanpa guna menjalankan semua yang kukerjakan.
Kanjeng Sunan Bonang menjawab lembut, “Syekh Malaya benar ucapanmu, pada saat bertapa kau bertemu denganku, yang dimaksud berserah diri ialah selalu ingat perilaku atau pekerjaan, seperti ketika awal mula diciptakan, bukankah itu sama halnya seperti asap? Itu tadi seperti hidayah wening atau petunjuk yang jernih, serupa dengan iman hidayah, apakah itu nampak dengan sebenarnya? Namun ketahuilah semua tidak dapat diduga sebelum mempunyai kepandaian untuk meraihnya, kejelasan tentang hidayah, hanya keterangan yang saya percayai, karena keterangan itu berasal dari sabda Gusti Allah”.
Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga, “ Kanjeng Rama Guru yang bijaksana, hamba mohon dijelaskan, apakah maksudnya, ada nama tanpa sifat, ada sifat tanpa nama? Saya mohon petunjuk, tinggal itu yang saya tanyakan yang terakhir kali ini saja”. Kanjeng Sunan Bonang bersabda lemah lembut, “Kalai kamu ingin keterangan yang jelas tuntas, matikanlah dirimu sendiri, belajarlah kamu tentang mati, selagi kau masih hidup. Caranya bersepi dirilah kamu ke hutan rimba, dan jangan sampai ketahuan manusia”.
Sudah habis segala penjelasan yang disampaikan Kanjeng Sunan Bonang segera meninggalkan tempat, dari hadapan Sunan Kalijaga, timur laut arah langkah yang dituju. Kira-kira baru beberapa langkah berlalu, Syekh Malaya ikut meninggalkan tempat itu, masuk kehutan belantara.
Raden Mas Sahid menjalankan laku kidang, berbaur dengan kidang menjangan, segala gerak laku kidang ditirunya, kecuali bila ingin tidur, ia mengikuti cara tidur berbalik, tidak seperti tidurnya kidang. Kalau pergi mencari makan mengikuti seperti caranya anak kidang. Bila ada manusia yang mengetahui, para kidang berlari tunggal langgang, Sunan Kalijaga juga ikut berlari kencang jangan sampai ketahuan manusia. Larinya dengan merangkak, seperti larinya kidang, pontang panting jangan sampai ketinggalan, mengikuti sepak terjang kidang.
Nyata sudah cukup setahun, Syekh Malaya menjalani laku kidang, bahkan melebihi yang telah ditetapkan, ketika itu Kanjeng Sunan Bonang, bermaksud sholat ke Mekah, dlam sekejap mata sudah sampai, setelah sholat segera datang kembali. Kanjeng Sunan Bonang menuju hutan untuk memberi tahu Syekh Malaya bahwa laku kidangnya telah selesai. Sesampai di dalam hutan ia melihat kidang sama berlari, sedang anaknya sempoyongan mengikuti. Sunan Bonang ingat dalam hati, kalau Wali Syekh Malaya berlaku seperti anak kidang, segera ia mendekati gerombolan kidang, barangkali di sana ditemukan Syekh Malaya.
Syekh Malaya yang kebutulan sedang berlaku meniru kidang tahu akan didekati gurunya. Beliu ingat pesan gurunya, bahwa dirinya tidak boleh diketahui manusia, gurunya juga manusia maka ia harus menghidari jangan sampai didekati manusia biarpun oleh gurunya, larinya tunggang langgang, tanpa memperhitungkan jurang tebing, ditubruk tidak tertangkap, dijaring dan diberi jerat, kalau kena jerat dapat lolos, kalau kena jaring dapat melompat.
Marahlah sang guru Kanjeng Sunan Bonang, bersumpah dalam hatinya, “Wali wadat pun aku tak peduli, memanaskan hati kau kidang, bagiku memegang angin yang lebih lembut saja tidak penar lolos, yang kasar akan lebih mudah ditangkap mustahil akan gagal! Kalau tidak berhasil sekali ini, lebih baik aku tidak usah menjadi manusia, lebih pantas kalau jadi binatang saja!”.
Kanjeng Sunan Bonang bergerak dengan penuh amarah. Beliu berusaha menciptakan nasi tiga kepal atau genggam. Dalam sekejap tangannya telah siap nasi 3 genggam, sgera ia mundur ancang-ancang siap mengejar Kidang Syekh Malaya untuk melemparkanya. Kanjeng Sunan Bonang segera menerobos ke dalam hutan yang lebih lebat dan sulit dilewati, setelah benar-benar menemukan yang sedang laku kidang, tengah berlari. Segera dilemparnya dengan nasi satu kepal, tepat mengenai punggungnya.
Syekh Malaya agak lambat larinya terkena lemparan nasi sekepal. Lalu lemparan yang kedua, mengenai lambungnya, jatuh terduduk Syekh Malaya kemudian dilempar lagi, nasi satu kepal, Syekh Malaya ingat dan sadar kemudia berbakti pada Kanjeng Sunan Bonang.
Syekh Malaya berlutut hormat mencium kaki Kanjeng Sunan Bonang. Berkata sang guru Kangjeng Sunan Bonang “Anakku ketahuilah olehmu, bila kau ingin mendapat kepandaian, yang bersifat hidayatullah, naiklah haji, menuju Mekah dengan hati tulus suci dan ikhlas. Ambillah air zam-zam ke Mekah, itu adalah air yang suci, serta sekaligus mengaharapkan berkah syafaat, Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi suri tauladan manusia”. Syekh Malaya berbakti, mencium kaki gurunya dan mohon diri untuk melaksanakan tugas yaitu segera menuju Mekah. Kanjeng Sunan Bonang lebih dahulu melangkahkan kaki menuju desa Bonang Tuban yang sepi.


NAIK HAJI KE MEKAH

SamudraSyekh Malaya menerobos hutan, naik gunung, turun jurang, tetebingan di dakinya memutar, melintasi jurang dan tanjakan. Tanpa terasa perjalanannya telah sampai di tepi pantai. Hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya karena terhalang oleh samudera luas, sejauh memandang tampak air semata. Dia diam tercenung lama sekali di tepi samodera memutar otak mencari jalan yang sebaiknya ditempuh.
Kocap kacarita tersebutlah seorang manusia, yang bernama Sang Mahyuningrat, mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung yaitu Syekh Malaya. Sang Mahyuningrat tahu segala perjalanan yang dialami oleh Syekh Malaya dengan sejuta keprihatinan karena ingin meraih iman hidayah. Berbagai cara telah ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayah, kecuali kalau mendapatkan kanugrahan Allah yang haq.
Syekh Malaya ternyata sudah terjun merenangi samudra luas, dan tidak mempedulikan nasib jiwanya sendiri. Semakin lama Syekh Malaya sudah hampir sampai tengah samudra, mengikuti jalan untuk mencapai hakikat yang tertinggi dari Allah, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudra. Beliu kehabisan tenaga untuk merenangi samudra menuju Mekah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia berusaha mempertahankan diri jangan sampai tenggelam di dasar laut. Yang tampak kini. Syekh Malaya timbul-tenggelam di permukaan laut berjuang menyelamatkan nyawanya.
Ternyata disaat Syekh Malaya dalam keadaan yang kritis itu berjuang antara hidup dan mati, tiba-tiba penglihatannya melihat seseorang yang sedang berjalan di atas air dengan tenangnya, yang tidak dari mana datangnya. Seketika itu pula, tahu-tahu Syekh Malaya sudah dapat duduk tenang diatas air.
Orang yang mendekati Syekh Malaya tidak lain adalah Kanjeng nabi Khidir yang menyapa Syekh Malaya dengan lemah lembut, “Syekh Malaya apakah tujuanmu mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Ketahuilah di sini tidak ada apa-apa! Tidak ada yang ditemubuktikan, apalagi untuk dimakan dan berpakaian pun tidak ada. Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup yang jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan. Senangkah kamu melihat kenyataan semua itu?”.
Sunan Kalijaga heran mengetahui penjelasan ini. Kanjeng Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku, di sini ini banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini. Di tempat ini segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya. Mengandalkan pikiranmu saja belum apa-apa, biarpun kamu tidak takut mati. Kutegaskan sekali lagi, di sini kau tidak mungking mendapat apa yang kau maksudkan!”.
Syekh Malaya bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab pertanyaan Kanjeng Nabi Khidir, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang sebaiknya perlu ditempuh setelah ini. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya kemudian! “Syekh Malaya pasrah diri kepada Kanjeng Nabi Khidir , katanya terasa memilukan”. Sang guru Kanjeng Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga sangat mengharapkan hidayatullah Allah?”.
Akhirnya Kanjeng Nabi Khidir menjelaskan, “ikutilah petunjukku sekarang ini!” “Kamu telah berusaha menjalankan petunjuk gurumu kanjeng Sunan Bonang yang menyuruhmu menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji. Maka ketahuilah olehmu, makna tugas itu yaitu : sungguh sulit menjalankan lika-liku kehidupan ini”. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kau tuju dan jangan makan kalau belum tahu rasanya yang dimakan, jangan berpakaian kalau belum tahu kegunaan berpakaian. Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia sekaligus dengan persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah!”.
“Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang dari gunung, akan membeli emas, oleh tukang emas biarpun diberi kuningan tetap dianggap emas mulia. Demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah yang harus disembah?” Syekh Malaya ketika mendengar itu, spontan duduk berlutut mohon belas kasihan, setelah mendapati kenyataan Kanjeng Nabi Khidir betul-betul serba tahu yang tersimpan di hatinya. Dengan duduk bersila dia berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan apa pun jadinya nanti. “Syekh Malaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas’, siapakah nama tuan? Mengapa di sini sendirian? Sang Mahyuningrat menjawab, “sesungguhnya saya ini Kanjeng Nabi Khidir”.
Syekh Malaya berkata, “saya menghaturkan hormat sedalam-dalamnya kepada tuan junjunganku dan mohon petunjuk serta perlu dikasihani, saya juga tidak tahu benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan, itupun masih tidak seberapa, bila mau menyelidiki kesucian diriku ini. Dapat dikatakan lebih bodoh dan dungu serta tercela ibarat keris tanpa kerangka dan ibarat bacaan tanpa isi tersirat”.
Maka berkata dengan manisnya Sang Kanjeng Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga. “Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju ke Mekah itu. Ketahuilah mekah itu hanya tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dahulu. Beliulah yang membangun Ka’bah Masjidil Haram serta yang menghiasi Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang tergantung didinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu yang hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala atau bangunan yang dibuat dari batu. Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya. Oleh karenanya itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuanya yang sebenernya dari ibadah haji tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kau tuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’bahtullah (Ka’bah Allah). Demikian itu sesunggunya iman hidayah yang harus kamu yakinkan dalam hati”.
Kanjeng Nabi Khidir memerintah, “Syekh Malaya segeralah kemari secepatnya! Masuk ke dalam tubuhku!” Syekh Malaya terhenyak hatinya tak dapat dicegah lagi, keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan air mata seraya berkata halu. “Melalui jalan manakah harus masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk? Padahal nampak olehku buntu semua?.
Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut. “Besarmana kamu dengan bumi, semua ini beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung tidak bakal penuh bila dimasukkan kedalam tubuhku, jangan khawatir bila tak cukup masuklah di dalam tubuhku ini. Syekh Malaya setelah mendengarnya semakin takut sekali dan bersedia melaksanakan tugas memasuki badan Kanjeng Nabi Khidir, namun bingung tak tahu cara melaksanakannya. Menolehlah Kanjeng Nabi Khidir, ini jalan di telingaku ini”.

MUTIARA ILMU SYARIAT

kalijogoSyekh Malaya masuk dengan segera melalui telinga Kanjeng Nabi Khidir. Sesampainya di dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat samudera luas tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya. Kanjeng Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apay yang kamu lihat?”
Syekh Malaya segera menjawab, “Angkasa Raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan barat timur pun tidak kami kenal lagi, bawah dan atas serta muka belakan, tidak mampu saya bedakan. Bahkan semakin membingungkanku”.
Kanjeng Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “usahakan jangan sampai bingung hatimu”. Tiba-tiba Syekh Malaya melihat suasana terang benderang. Dihadapannya nampak Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat Kanjeng Nabi Khidir malayang di udara kelihatan memancarkan cahaya gemerlapan. Saat itu Syekh Malaya melihat arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah juga sudah terlihat dan mampu menjaringf matahari, tenang rasanya sebab melihat Kanjeng Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.
Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syekh Malaya menjawad, “Ada warna empat macam yang nampak padaku semua itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat yaitu hitam merah kuning dan putih”.
Berkata Kanjeng Nabi Khidir, “yang pertama kau lihat cahaya mencorong tapi tidak tahu namanya ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam dirimu sendiri yang mengatur dirimu. Pancamaya yang indah itu disebut mukasyafah, bila mana kamu mampu membingbing dirimu ke dalam sifat terpuji, yaitu sifat yang asli. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu. Usahakan semaksimal mungkin agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!” Tentramlah hati Syekh Malaya, setelah mengerti itu semua dan baru mantap rasa hatinya serta gembira.
Kanjeng Nabi Khidir melanjutkan penjelasannya, “adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalanya. Sebab isinya dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi kedalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjauhi itu pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menghalangi meningkatkan citra diri. Hati yang tiga macam yaitu hitam, merah dan kuning, semua itu menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya. Maksudnya akan menghalangi menyatunya hamba dengan Tuhan yang membuat nyawa lagi mulia. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, maksudnya orang akan mencapai tingkatan Maqom Fana dan akan masuk Maqom Baqo atau abadi. Maksudnya senantiasa berdekatan rapat dengan Sang Pencipta. Namun yang perlu diperhatikan dan diingat dengan seksama, bahwa penghalang yang ada dalam dihati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui dan sekaligus sumber inti kekuatannya. Yang hitam lebih perkasa, pekerjaanya marah, mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta. Itulah hati yang menghalangi, menutup kepada kebajikan.
Sedangkan yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutup kepada hati yang sudah jernih tenang menuju akhir hidup yang baik (khusnul khatimah). Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya mengahalangi segala hal, pikiran yang baik maupun pekerjaan yang baik. Hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran. Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian”.
Kanjeng Nabi Khidir memberi kesempatan bagi Syekh Malaya untuk merenungkan penjelasannya tadi. Selanjutnya beliu berkata, “hanya itulah yang dapat dirasakan manusia akan kesaksiannya. Sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima anugrah semata-mata dan hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau kamu tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasalah menghadapi tiga musuh yang sangat kejam, besar dan tinggi hati (bohong). Ketiga musuhmu saling kerjasama, padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan. Kalau sekiranya dapat mengatasi akan segala kesukaran yang timbul dari tiga hala itu, maka terjadilah persatuan erat wujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan eret antara manusia dan Penciptanya”. Syekh Malaya sudah memahaminya, dengan semangat mulai berusaha disertai tekad membaja demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT.
Kanjeng Nabi Khidir kembali melanjutkan wejanganya, “Setelah hilang empat macam warna ada hal lain lagi nyala satu delapan warnanya”. Syekh Malaya berkata, “Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya? Nyalanya semakin jelas nyata, ada yang tampak berubah-ubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti permata yang berkilau tajam sinarnya”.
Sang Kanjeng Nabi Khidir berpesan, “Nah, itulah sesungguhnya tunggal. Pada dirmu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu juga, serta seluruh isi bumi tergambar pada tubuhmu dan juga seluruh alam semesta. Dunia kecil tidak jauh berbeda. Ringkasnya, utara, barat, selatan, timur, atas serta bawah. Juga warna hitam, merah, kuning dan putih itulah isi kehidupan dunia. Didunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan semua isinya. Kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu dalam dirimu ini, kalau hilang warna yang ada, dunia kelihatan kosong kesulitannya tidak ada, dikumpulkan kepada wujud rupa yang satu, tidak lelaki tidak pula perempuan. Sama pula dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih. Camkanlah dengan cermat semua itu”. Syekh Malaya mengamati, “yang seperti cahaya berganti-ganti kuning, cahayanya terang benderang memancar, melingkar mirip pelangi, apakah itu yang dimaksudkan wujud dari Dzat yang dicari dan didambakan? Yang merupakan hakikat wujud sejati?”
Kanjeng Nabi Khidir menjawab dengan lemah lembut, “itu bukan yang kau dambakan, yang dapat mmenguasai segala keaadaan. Yang kamu dambakan tidak dapat kamu lihat, tiada bentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal hanya dapat dirasakan oleh orang yang awas mata hatinya, hanya berupa pengambaran-pengambaran (simbol) yang memenuhi jagad raya, dipegang tidak dapat. Bila itu yang kamu lihat, yang nampak seperti berubah-ubah putih, yang terang benderang sinarnya, memancarkan sinar yang menyala-nyala. Sang Permana itulah sebutannya.
Hidupnya ada pada dirimu. Permana itu menyatu pada dirmu sendiri, tetapi tidak merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu. Tidak ikut suka dan duka, juga tidak ikut sakit dan menderita jika Sang Permana meninggalkan tempatnya, raga menjdi tak berdaya dan pastilah lemahlah seluruh badanmu, sebab itulah letak kekuatannya, ikut merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia di dunia. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan pula pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga.
Hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan, mengusai seluruh badan. Permana itu bila mati ikut menggung, namun bila bila telah hilang nyawanya kemudian yang hidup hanya sukma atau nyawa yang ada. Kehilangan itulah yang didapatkan, kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah berlalu diibaratkan seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, sang Permana yang mengetahui dengan sadar, sesungguhnya satu asal.
Menjawablah Syekh Malaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk sebenarnya?” kanjeng Nabi Khidir berkata, “Hal itu tidak dapat kamu pahami di dalam keadaan nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syekh Malaya menyela pembicaraan< “Saya mohon pelajaran lagi, sampai saya paham betul, sampai putus. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang pasti, jangan sampai tanpa hasil”. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut dan manis yang isinya bercampur perlambang dan sindiran, “Misalnya ada orang membicarakan sesuatu hal, lotnya seharusnya baik, nyatanya lotnya justru merupakan bumbunya yang bercampur dengan rahasia yang terasa sebagai jiwa suci. Nubuwah yang penuh rahasia itu sebenarnya rahasia ini. Yaitu ketika masih berada di sifat jamal ialah jauhar awal. Bila sudah keluar menjadi jauhar akhir yang sudah dewasa, yang awal itulah rahasia sejati. Si jauhar akhir itu ternyata dalam satu wujud, satu mati dan satu hidup dengan jauhar, ketika dalam kesatuan satu wujud, satu raksa, satu hidup menyatu dalam keadaan sehidup-semati. Segala ulah jauhar akhir selamanya bersikap pasrah, sedangkan jauhar batin ini ialah yang dipuji dan disembah hanyalah Allah yang sejati. Tidak ada sama sekali rasa sakit karena sebenarnya kamu ini nukad ghaib. Nukad ghaib ialah ketika di masa awal atau kuna, ia tidak hidup juga tidak mati. Sebenarnya yang dikatakan nukad itu, tidak lain ghaib jugalah namanya itu. Setelah datangnya nukad itu, yang sudah hidup sejak dulu, dicipta menjadi Alif. Alif itu sendiri jisim latif. Dan keberadaanmu yang sebenarnya itulah yang disebut atau dinamakan neqdu”. Sambil menghela nafas Kanjeng Nabi Khidir berkata pelan, “Sekarang jauhar sejati, yaitu namamu itu semasa hidup ialah syahadat jati. Dalam hidup dan kehidupanmu disebut juga darah hidup. Darah hidup itu sendiri ialah yang dinamakan Rasulullah rasa sejati. Syahadat jati adalah darah, tempat segala Dzat atau makhluk merasakan rasa yang sebenarnya tentang hidup dan kehidupan. Yang sama dengan satuan Jibril-Muhammad-Allah. Sedangkan keempatnya adalah yang disebut darah hidup. Jelasnya coba perhatikan orang mati! Apa daranya? Darah itu kini hilang, hilangnya bersama atau menyatu dengan sukma. Sukma atau ruh hilang dan kembali pada Alif itu disebut Ruh Idhafi. Pengertian jisim Latif ialah Jisim Angling yang sudah ada terdahulu kala yaitu Alif yang disebut Angling. Padahal alif itu tanpa mata, tidak berkata-kata dan tidak mendengar, tanpa perilaku dan tidak melihat. Dan itulah Alif, yang artinya, menjadi Alif itu karena dijabarkan atau dikembangkang. Bukankah ruh Idhafi itu bagian Dzatullah”?. Setelah mengajarkan semua pelajaran sampai selesai, tentang Ruh Idhafi yang menjadi inti pembahasannya. Kanjeng Nabi Khidir berkata, “Adapun wujud sesungguhnya alif itu, asal muasalnya berasal dari jauhar alif itu. Yang dinamakan Kalam Karsa. Timbullah hasrat kehendak Allah untuk menjadikan terwujudnya dirimu. Dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya. Allah tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri! Adapu sifat jamal (sifat yang bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan bahwa pada dasarnya adanya dirinya itu, karena adanya yang mewujudkan keberadannya”. Kanjeng Nabi Khidir menandaskan penjelsannya, “Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi kekasih-Nya, bunyi firman-Nya sebagai berikut : kalau tidak ada dirimu, Saya (Allah) tidak akan dikenal atau disebut. Hanya dengan sebab adanya kamulah yang menyebut akan keberadaan-Ku. Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku (Allah), menjadikan ada dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-Ku. Dan untuk menjelaskan jati dirmu, tidakkah kau sadari, bahwa hampir ada persamaan Asma-Ku yang baik (Asmaul Husna) dengan sebutan manusia yang baik itu semua kau maksudkan untuk memudahkan pengambaran perwujudan tentang Diri-Ku. Padahal kau tahu, Aku berada dengan dirimu, yang tak mungkin dapat disamakan satu sama lain. Dan kamu pasti mengalami dan tidak mungkin dapat melukiskan atau menyebutkan Asma-Ku dengan setepat-tepatnya. Namamu yang baik dapat menyerupai nama-Ku yang baik (Asmaul Husna)”. Selanjutnya Kanjeng Nabi Khidir bertanya, “Apakah kamu sudah dapat meraih sebutan nama yang baik itu? Baik di dunia maupun di akhirat? Kamu ini merupakan penerus atau pewaris Muhammad Rasulullah, sekaligus Nabi Allah. Ya Illahi, ya Allah ya Tuhanku……”. Kanjeng Nabi Khidir mengakhiri pembacaan Firman Allah SWT, kemudian melanjutkan memberi penjelasan pada Sunan Kalijaga, “Tanda-tanda adanya Allah itu, ada pada dirimu sendiri harap direnungkan dan diingat betul. Asal mula Alif itu akan menjadikan dirimu bersusah-payah selagi hidup, Budi Jati sebutannya. Yang tidak terasa, menimbulkan budi atau usaha untuk mengatasi lika-liku kehidupan. Bagi orang yang senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri, akan dapat melemahkan semangat usahanya, antara tidak dan ya, penuh dengan kebimbangan. Sedang yang dimaksudkan dengan jauhar budi (mutiara budi) ialah, bila sudah mengetahui maksud dan budi iman yaitu menjalankan segala tingkah laku dengan didasari keimanan kepada Allah. Alif tercipka karena sudah menjadi ketentuan yang sudah digariskan. Sesungguhnya Alif itu, tetap kelihatan apa adanya dan tidak dapat berubah. Itulah yang disebur Alif. Adapun bila terjadi perubahan, itulah yang disebut Alif Adi, yang menyesuaikan diri dengan keadaanmu Mutiara awal kehidupan (jauhar awal) dimaksudkan dengan kehidupan tempo dulu yang betul-betul terjadisebagaimana tinja junub dan jinabat. Jauhar awal ibarat bebauan atau aroma akan tiba saatnya, tidak boleh tidak akan kita laksanakan dan rasakan di dalam kehidupan kita didunia. Jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh jauhar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam jauhar awal. Dari keterangan tentang jauhar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan, diantaranya, mengapa kamu wajib shalat di dalam dunia ini? Penjelasannya demikian : Asal mula diwajibkan menjalankan shalat itu ialah disesuaikan dengan ketentuan di zaman azali, kegaiban yang kau rasakan, bukankah juga berdiri tegak, bersidakep mencipkatakan keheningan hati, bersidekep menyatukan konsentrasi, menyatukan segala gerakmu? Ucapanmu juga kau satukan, akhirnya kau rukuk tunduk kepada yang menciptakanmu. Merasa sedih karena malu, sehingga menimbulkan keluar air matamu yang jernih, sehingga tenanglah segala kehidupan ruhmu. Rhasia iman dapat kau resapi. Setelah merasakan semua itu, mengapa harus sujud ke bumi? Pangkal mula dikerjakan sujud bermula adanya cahaya yang memberi pertanda pentingnya sujud. Yaitu merasa berhadapan dengan wujud Allah, biarpun tidak dapat melihat Allah sesungguhnya, dan yakin bahwa Allah melihat segala gerak kita (pelajaran tentang ikhsan). Dengan adanya agama Islam yang dimaksudkan, agar makhluk yang ada di bumi dan di langit termasuk dirimu itu, beribadah sujud kepada Allah dengan hati yang ikhlas sampai kepala diletakkan di muka bumi, sehingga bumi dengan segala keindahannya tidak tampak dihadapanmu, hatimu hanya ingat Allah semata-mata. Ya demikianlah seharusnya perasaanmu, senantiasa merasa sujud dimuka bumi ini. Mengapa pula menjalankan duduk diam seakan-akan menunggu sesuatu? Melambungkan pengosongan diri dengan harapan ketemu Allah. Padahal sebenarnya itu tidak dapat mempertemukan dengan Allah. Allah yang kau sembah itu betul-betul ada. Dan hanya Allah-lah tempat kamu mengabdikan diri dengan sesungguhnya. Dan janganlah sekali-kali dirimu menggap sebagai Allah. Dan dirimu jangan pula menganggap sebagai Nabi Muhammad. Untuk menemukan rahasia (rahsa) yang sebenarnya herus jeli, sebab antara rahasia yang satu berbeda dengan rahasia yang lain. Dari Allah-lah Nabi Muhammad mengetahui segala rahasia yang tersembunyi. Nabi Muhammad sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Beliu sering menjalankan puasa. Dan akan dimuliakan makhluk-Nya, kalau mau mengeluarkan shodagoh. Dimuliakan makhluk-Nya bagi yang dapat naik haji. Dan makhluk-Nya akan dimuliakan, kalau melakukan ibadah shalat”. MUTIARA ILMU MAKRIFAT (Bagian 05) sujud-tahajudKanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya. Sudahkah hidayah iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata. Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang Asli, asli dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, allah yang hidup. Segala afalnya (perbuatanya) adalah bersal dari Allah. Itulah yang demaksud dengan ru’yati. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat (kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara tidak langsung sudah kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup”. Syekh Malaya berkata lemah lembut, “mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”. Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan tersemyum manis, “Wahai Malaya! Maksudnya begini. Neraka jasmani juga berada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saya yang belum mengenal dan meniru laku Nabiyullah. Hanya ruh yang tidak mati. Hidupnya ruh jasmani itu sama dengan sifat hewan, maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga yang mengikuti bujuk rayu iblis, atau yang mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak mengikuti petunjuk Gusti Allah SWT. Mengandalkan ilmu saja, tanpa memperdulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tadlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam. Adapun yang dimaksudkan Rud Idhafi adalah sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancar terang serta tidak berwarna, yang senantiasa meserangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri atau introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian nanti. Merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Ruh Idhafi seudah ada sebelum tercipta. Syirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut Jauhar Ning. keenamnya jauhar awal. Jauhar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agra nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan. Bermula dari ibarat ketujuh, dikala mendengarkan sabda Allah, maka Ruh Idhafi akan menyesuaikan, yang terdapat di dalam Dzat Allah Yang Mutlak. Ruh serba psrah kepada Dzatullah, itullah yang dimaksudkan Ruh Idhafi. Jauhar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat Daim. Shalat Daim tidak perlu mengunakan air wudhu, untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat batin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun buang kotoran. Demikianlah tadi cara shalat Daim. Perbuatan itu termasuk hal terpuji, yang sekaligus merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Jauhar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi atau mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menujukkan adanya Allah, yang mustahil kalau tidak berwujud sebelumnya. Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya. Akibat junub sudah bersatu erat tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad badan Allah. Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama Allah. Bukakah hidayah itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah? Dapat pula disebut utusan Allah. Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh mukmin identik pula dengan Ruh Idhafi dalam keyakinanmu. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati. Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat. Kelak, karena tidak mengetahui ke-Islaman, maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya. Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahamilebih seksama baru dikerjakan, Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi suri tauladan adalah Nabi Muhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir. Fakhir dekat dengan kafir. Sebabnya karena kafir itu, buta dan tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakhir tidak akan mendekatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan ini, tidak menyembah dan memuji, karena kekafirannya. Seperti itulah kalau fakhir terhadap Dzatullah. Dan sesungguhnya Gusti Allah, mematikan kefakhiran manusia, kepastianny ada di tanga Allah semata-mata. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada stu makhluk pun yang mengetahui kecuali Allah sendiri. Ruh Idhafi menimbulkan iman. Ruh Idhafi berasal dari Allah Yang Maha Esa, itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah. Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Gusti Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus menyatu bahwa Gusti Allah itu ada dalam dirimu. Ruh Idhafi ada di dalam dirimu. Makrifat itu sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat, hidup tunggal didalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan Pilihan. Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal tidak akan terjadi padamu, jangan takut menghadapi sakaratil maut. Jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh Idhafi tidak akan mati. Hidup mati, mati hidup. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra Alif (huruf alif) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagi poengetahuan tentang kafir dan syirik! Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang menjelaskan syariat itu berarti sudah mendapatkan anugrah sifat Gusti Allah. Sebagai sarana pengabdian hamba kepada Gusti Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnya raga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya. Seandainya nyawa tidak hidup, maka Lam Tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dijalankan. Secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang yang menjalankan, namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhafi berada di tangan orang mukmin. Semua ruh berada di tangan-Nya. Yaitu terdapat pada Ruh Idhafi. Ruh Idhafi adalah sifat jamal (sifat yang bagus atau indah) keindahan yang berasal Dzatullah. Ruh Idhafi nama sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah). Syarat jisim lathif (jasad halus0 itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati. Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus menerus meliputi jasad. Yang mengisayaratkan sifat jalal (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkat adanya sifat jamal (sifat keindahan). Jauhar awal mayit (mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Setelah semua menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup di akherat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi. Asal mula manusia terlahir, dari adanya Ayah, Ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir. Ya, itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang meninipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala. Bukankah tauhid itu sebagai srana untuk makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk juga titipan, yang ada hanya kemiripan dengan yang tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal dari Nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Tak terkecuali siapun yang merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan. Mati atau hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya? Allah dan Muhammad semuannya berjumlah satu. Seratuspun dapat dilukiskan seperti satu bentuk, seperti diibaratkan dengan adanya cahaya yang bersember dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya. Sama hal pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya, kehadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembalinya pada allah sudah dalam keaadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama dalam keadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama diciptakan”. Syekh Malaya terang hatinya, mendengarkan pelajaran yang baru diterima dari gurunya Syekh Mahyuningrat Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya senang hatinya sehingga beliu belum mau keluar dari dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. “Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Lebih nyaman di sini saja yang bebas dari sengsara derita, tiada selera makan tidur, tidak merasa ngantuk dan lapar, tidak harus bersusah payah dan bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa hanyalah rasa nikmat dan manfaat”. Kanjeng Nabi Khidir memperingatkan, “yang demikian tidak boleh kalau tanpa kematian”. Kanjeng Nabi Khidir semakin iba kepada pemohon yang meruntuhkan hatinya. Kata Kanjeng nabi Khidir, “kalau begitu yang awas sajalah terhadap hambatan upaya. Jangan sampai kau kembali. Memohonlah yang benar dan waspada. Anggaplah kalau sudah kau kuasai, jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja, karena hal itu sebagai rahasia Allah. Tidak diperkenankan mengobrol kepada sesama manusia, kalau tanpa seizin-Nya! Sekiranya akan ada yang mempersolakan, memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan, cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar! Cobaan hidup yang menuju kematian, ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagadmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh, bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan! Kemudian tidak pernah memberitahunakan darimana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah berita sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya adalah denga ruh sejati, tidak menggunakan telinga. Cara melatihnya, juga tanpa dengan mata. Adpun telingannya, matanya yang diberikan oleh allah. Ada padamu itu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikianlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar, pasti ada asap apinya, menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu, tubuhnya dikuasai gerak dan kata hati. Demikian pun dengan Hyang Sukma, sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan dan sukma yang kita kehendaki ada, diberitahu akan tempatnya seperti wayang ragamu itu. Karena datanglah segala gerak wayang. Sedangkan panggungnya jagd. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan atau raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas, perbuatan dengan ucapan. Yang berhak menentukan semuanya, tidak tampak wajahnya. Kehendak justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Permisalan yang jelas ketika berhias. Yang berkaca itu Hyang Sukma, adapun bayangan dalam kaca itu ialah dia yang bernama manusia sesungguhnya, terbentuk di dalam kaca. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya, karena lebih lembutseperti lembunya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia ini? Artinya lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari, karena menentukan segalanya. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak, melata tiada bedanya, benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam menerima perintah dan tidak boleh mengandalkan pada ajaran dan pengetahuan. Karena itu bersungguh-sungguhlah menguasainya. Pahamilah liku-liku solah tingkah kehidupan manusia! Ajaran itu sebagai ibarat benih sedangkan yang diajari ibarat lahan. Misal kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanah pada saat kehujanan dan kepanasan, pasti tidak tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana, melihatmu musnahkanlah pada matamu! Jadikanlah penglihatanmu sukma dan rasa. Demikian pula wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakui saja sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatasnamai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki kebiasaan yang menyimpang, kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau Hangraga Sukma. Yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu dengan kawula Gusti. Bicarakanlah manurut pendapatmu! Bila pendapatmu benar-benar meyakinkan, bila masih merasakan sakit dan was-was, berarti kejangkitan bimbang yang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu dan apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada. Yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai khalifah di dunia. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini, hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah. Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriah kau landasilah dengan pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Sedangkan kelimanya adalah dapat tersimpan dengan baik, berguna dimana saja! Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sukma, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syekh Malaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu! Anugrah berupa wahyu akan datang kepadamu. Seperti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah turnya wahyu meninggalkan kotoran? Bersih bening, hilang kotorannya”. Kemudian Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lembut dan tersenyum. “Tak ada yang dituju, semua sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan keprawiraan, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan”. Habislah sudah wejangan Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya merasa sungkan sekali di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk yang cukup. Rasa batinya menjelajah jagad raya tanpa sayap. Keseluruh jagad raya, jasadnya sudah terkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Misalnya bunga yang masih lam kuncup, sekarang sudah mekar berkembang dan baunya semerbak mewangi. Karena sudah mendapat san Pancaretna, kemudian Sunan Kalijaga disuruh kelura dari raga Kanjeng Nabi Khidir kembali ke alamnya semula”. Lalu Kanjeng Nabi Khidir berkata, “He, Malaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap. Sudah menjelajahi seluruh permukaan bumi. Artinya godaan hati ialah rasa qonaah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutra yang indah. Selalu mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diserapkan kedalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihiasi dengan keselamatan, dan dipajang seperti permata, agar mengetahui akan kemauan berbagai tingkah laku manusia. Perhaluslah budi pekermu atau akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik, sering dinamakan Kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah, terhadap gerak-gerik, sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa ilmu, ingin mendalami tentang ruh itu justru keliru. Lagi pula secara penataan, kita itu ibaratnya busana yang dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai sarungmu. Kemudian terlibat ingatan ketika dulu. Ibarat mendalami mati ketika berada di dalam rongga ragaku. Tampak oleh Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu, sebagai hambatan yang menghadang agar gagal usaha atauu ikhtiar atau cita-citanya. Dan yang putih di tengah itulah yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya. Berkat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat atau mengetahui caranya pemuka agama yang ternyata salah dalam penafsiran. Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar. Tak tahunya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terperosok dalam penerapannya. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi murung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemuliaan hidup baru. Ada orang yang berkedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya di masyarakatkan. Ibaratnya seperti sekedar memperoleh kemuliaan sepele. Jadinya tersesat-sesat. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa. Menumpuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan menguasai putranya. Putra yang bakal menguasai hak asasi orang per orang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikian halnya, menurut pendapatku, belumlah mereka disebut pemuka agama yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tapi masih berkeinginan pribadi atau berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabat. Tatanan yang tidak pasti, belum bisa disebut manusia utama. Yang demikian itu menurut anggapannya dan perasaannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti hak yang benar. Bila kemudian tertimpa kedudukan, terlanjur terbiasa. Memilih jalan sembarang tempat, tanpa mengahasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total. Setidak-tidaknya menimbulkan kecurigaan. Apa kebiasaan ketika hidup didunia. Ketika menghadapi datangnya maut, disitulah biasanya tidak kuat menerima ajal. Merasa berat meninggalkan kehidupan dunia yang tersangkal lagi. Pokoknya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya amencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajatnya. Bila salah menjawab pertanyaannya bumi, lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya tanpa pertanggungjawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Akibatnya, tubuh bumi itu keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah diidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya, untuk mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunjuk Allah, apalagi hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu. 9 MENCAPAI DERAJAT INSAN KAMIL (Tamat) InsanAkibatnya hasilnya kosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapat tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idman yang sia-sia. Bertapanya sampai kurus kering, karena sedemikian rupa caranya menggapai kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karena terlalu serius.adapun cara yang benar adalah tapa itu hanya sebagai ragi atau pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa tanpa ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa, rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar, sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya stengah-setengah. Kepada sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan dihati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya. Penyampaiannya hanya berdasarkan pikiran belaka. Dahulunya belum mendapatkan pelajaran. Sampai tobatnya tidak merasa enak kalau menyanggah. Lalu ikut-ikutan mendengarkan. Dengan menamakan rohaniwan yang terbesar. Dianggapnya sudah pasti pendapatnya benar. Pendapatnya atau ilmunya adalah wahyunya itu anugrah yang khusus diberikan pribadi. Akhirnya sahabatnya diaku sebagai anak. Ditekan-tekankan tuntutan besar berupa ikatan batin. Oleh guru bila sudah akan mejang atau menyampaikan ajaran, duduk merasa sering berdekatan. Sehingga sahabat dikuasai oleh guru, dan sang guru menjadi sahabat batin. Luansnya tanggapan bahwa segalanya merupakan merupakan wahyu Allah. Kebaikannya, keduannya antara guru dan sahabat saling memahami. Kalau seorang diantara mereka dianggap sebagai orang yang berilmu. Harus ditaati segala apapun yang diucapkan itu. Misalnya berjalan juga harus disembah biasanya bertempat di pucuk-pucuk gunung.***** Pengaruh ajarannya sangat mengundang perhatian menemui perguruannya. Bila ada yang berguru atau menghadap, nasihatnya macam-macam dan banyak sekali. Seperti gong besar yang dipukul. Bukankah ajarannya yang dibeber tidak bermutu atau berbobot. Akibatnya rugilah mereka yang berguru? Janganlah seperti itu orang hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya blencong itu ibarat panggung kehidupanmu. Lampunya bulan purnama, layar ibarat alam jagad raya yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir atau kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat bermukim manusia. Hidupnya ditunjang oleh yang nanggap. Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak diganggu oleh siapun. Boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang Permana dalangnya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara oleh sutradara. Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang. Dialognya menyampaikan pesan juga. Bila bercakap lisannya itu menyampaikan berbagai nasihat, menurut kehendaknya. Penonton dibuat terpesona, diarahkan melekat pada dalang. Adapun yang nanggap itu selamanya tidak akan tahu. Karena ia tanpa bentuk dan ia berada di dalam puri atau rumah atau istana. Ia tanpa warna itulah dia Hyang Sukma. Cara Hyang Permana mendalang, mempercakapkan tanpa dirimu. Tanpa membedakan sesama titah. Di samping itu, bukankah dia tidak terlibat sebagai pelaku? Misalnya berada dalam tubuhmu? Atau ibarat minyak di dalam susu? Atau api dalam kayu?. Berhasrat sekali karena belum diberi petunjuk sehingga menggelar doa di kayu, dakon dan gesekan. Dengan beralatkan sesama batang pohon. Gesekan itu disebabkan oleh angin. Hangusnya kayu, keluarlah kukunya. Tak lama kemudian apinya. Api dan asapnya keluar dari kayu itu. Bermula dari ingat pada saat awal mulanya. Semua yang tergelar ini berasal dari tiada. Manusia diciptakan lebih dari makhluk yang lain. Bukankah itu yang disebut rahasia atau rahsa? Manusia itu tidak paling mulia daripada ciptaan yang lain. Maka dari itu janganlah mudah terpengaruh oleh buah pikirmu yang bulat. Bulat atas segala gerak dan kehendak. Adapun isi jagad itu jangan mengira hanya manusia saja, tapi berisi segala macam titah. Hanya saja manusia itu satu. Penguasanya satu. Yang menghidupi jagad seisinya. Demikianlah tekad yang sempurna. Hei Syekh Malaya segeralah menyudahi! Kembalilah kau ke pulau Jawa! Bukankah sebenarnya kau mencari dirimu juga?. Syekh Malaya bergegas. Bersembah dan berkata dengan berbelas kasih untuk memenuhinya, yang disebut Kalingga Murda,”Hamba setia dan taat”. Kanjeng Nabi Khidir lalu musnah dan lenyap. Syekh malaya tampak berdoa di samudera. Tapi tidak tersentuh air. Syekh Malaya sangat berjanji dalam hati atas peringatan atau ajaran sang guru yang sempurna. Bukankah ia masih sangat ingat? Hasrat hati yang telah memiliki atau mengetahui ilmu kawekas. Isinya jagad telah terkuasai dalam hati, merasa mantap dan disimpan dalam ingatan. Sehingga serba mengetahui dan tak akan keliru lagi. Diresapi dalam jiwa dan dijunjung sampai mati. Ia telah lulus dari sumber aroma kasturi yang sebenarnya. Sehingga sifat panasnya hati lenyap. Sesudah itu Syekh Malaya kondur (pulang). Hatinya sudah tidak goyah lagi karena segala ajaran itu tampak jelas dalam hati. Ia tidak salah lagi melihat dirinya siapa sebenarnya. Penjelmaan jiwanya menyatu dalam satu wujud. Walau secara lahiriah dirahasiakan. Norma atau prilaku tat cara jiwa kesatria, berhasil dikuasai. Bukankah ia sudah menggunakan mata batinnya yang tajam atau peka? Ibarat hewan dengan bebannya! Sudah tak ada atau terjadi, kematian dalam kehidupan. Setelah bagaimana ia menerima ajaran gurunya. Sama sekali tidak diragukan lagi. Seluruh ajaran gurunya sudah tamat dan di kuasai dengan tersimpan dalam hati, serta diimankan dengan cermat. Mematuhi semua ajaran guru. Perbuatan, pikiran dan rasa bukankah diuji dalam hati yang suci dan bening? Benar-benar terasa sebagai anugrah Tuhan. Sesungguhnya sang guru benar-benar sudah hilang raganya, sudah tidak ada. Akan tetapi selalu terbayang dalam hatinya. Dan sudah ditetapkan sebagai kekasihnya. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasanya tenanglah dunia dan akhirat. Karena kebersihan dan kesucian jiwa sudah diketemukan. Sukma suci dalam segala tingkah lakunya itu memahami sepaham-pahamnya. Bukankah sudah memahami lewat petunjuk? Sehingga tidak takut akan kematian yang sering timbul dalam buah pikiran? Ia sudah mengharapkan bahwa raganya akan ikhlas kalau kematian yang mulia. Yang diridhai oleh Tuhan atau Sang Hyang Widi. Namun sebenarnya tidak ada tanggapan perasaan. Yaitu rasa seperti itu. Tiadanya pandang atau wawasan seperti itu. Bukankah sudah lenyap semuanya. Tinggal jiwa suci yang terpuji mulia? Mulia seperti zaman dahulu atau awalnya. Tidak meragukan kematian yang sebenarnya. Yang menjemput maut setiap saat. Tidak merasakan akan kematiannya. Toh yang rusak itu nafsu dan badan, jiwa hidup abadi dan aman sejahtera. Senang, mulia dan merdeka, semuanya itu sudah diterapkan dalam hati. Sehingga berpegang pada kuasa-Nya. Sudah mengetahui akan makna kematian yang sebenarnya, ia tidak merasa takut kapanpun maut menjemput. Yang sempurna ialah sudah aman, sejahtera, mulia, itulah makna yang sempurna. Yaitu tidak meninggalkan hak-Nya. Ketujuh alam sudah lenyap. Bukankah lenyapnya alam ini sudah jelas? Kini yang lain ibarat kau sajalah! Penguasa alam bukankah sudah kita ketahui? Yang bernama Abirawa yang artinya beerkuasa dan berkehendak. Adapun alam yang keenam artinya ialah yang telah lenyap : timur, barat, utara, selatan, atas, bawah serta kayu dan batu dan diri sendiri. Bila kita telah mati yang ada hanya kosong dan sepi. Yang terdengar hanya deru angin, debur air dan kobaran api di alam dahana. Matahari, bulan, bukankah termasuk alam juga? Dua puluh tiga alam yang serba nafsu itu, semuanya habis belaka. Walaupun bukankah sama dahulunya? Syekh Malaya sudah memahami hal itu semua? Kalau itu semua adalah alam serba nafsu. Dan alam yang sebenar-benarnya sudah jelas yaitu penguasa alam semua. Sedang penyelarasnya hanyalah alam anbiyak ini. Alam anbiyak itu baunya harum dan mewangi. Tapi bukan pribadi majazi. Yang hakiki yang menyelaraskan alam. Menjadi terang dan mulia semua. Dan alam berarti itu ialah tempat jiwa suci, terang, bersih. Itulah alam malakut. Artinya ialah sudah tiba menjelang alam kemuliaan. Ibarat ruangan, sekat sebagai pemisah. Adapun alam anbiyak ialah alam mulia yang masih akan digapai. Sifat hidup itulah kehidupannya. Tentang mana mirah mana intan. Sudah jelas nilai dari Kumala Adi. Yaitu sebagus-bagusnya warna dari intan itu sendiri. Lenyapnya bukankah sama dengan lainnya? Itulah alam anbiya.
Makrifat Sunan Kalijaga
Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922

Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.

Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.

Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.

Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.

Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.

Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.

Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.

Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.

Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.

Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.

Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI.

KITAB PRIMBON SUNAN BONANG

Bismi’llahi’rrah’mani’rrahimi, wa bihi nasta’in
alhamdu lillahi rabbil alamin,
wa shalatu ‘ala rasulihi Muhammadin wa washabihi ajma’in.
sunan-bonang1

Nyan punika caritanira Shaich al Bari : tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh ; kang pinituturaken wirasaning Usul Suluk – vvedaling carita saking (2) Kitab Ihya ‘ulum aldin lan saking Tamhid – antukira Shaich al Bari ametet ®) i(ng) ti(ng)kahing sisimpenaning nabi wali mukmin kabeh.

PUPUH I

Mangka akecap Shaich al Bari – kang sinalametaken dening pangeran : e-Mitraningsun! sira kabeh den sami angimanaken wirasaning Usul Suluk i(ng)kang kapetet ti(ng)kahing anakseni ing pangeran ; miwah kawruhana yan sira pangeran tunggal, tan kakalih; saksenana yan sira pangeran asifat saja suksma mahasuci tunggalira, tan ana papadanira, kang mahaluhur. e Mitraningsun ! den sami amiarsaha, sampun sira sak malih ; den sami aneguhaken, sampun gingsir idepira.

Iki si lapale tingkahing anakseni ing pangeran : “Wa ash’hadu an la ilaha illa llahu wah’dahu, la sharika lahu wa ash;hadu anna Muhammadan rasulu llahi”.

(3) Tegese ikU: ingsUn anakseni | kahananing pangeran kang anama Allah, kang asifat saja suksma, langgeng kekel wibuh sampurna purba qadim sifatira mahasuci, orana pangeran sabenere anging Allah uga, pangeran kang sinembah sabenere kang agung.

e-Mitraningsun ! sang siptaning lapal “ora” iku: dening sampun awit itbat karihin, nora malih anaksenana i(ng)kang nora yakti ; tanpa wiyos idepe wong iku mene.

Kalawan ingsun anakseni yan baginda Muhammad kawulaning Allah kang sinihan, ingutus agama islam iya iku i(ng)kang tinut dening nabi wali mukmin kabeh.

e-Mitraningsun ! karana satuhune lapal “nora” iku: nora malih angorakena satuhuning Allah pangeran, nora malih angorakena pange(ra)n siya siya – tegesing siya siya (4) iku kadi ta ana | peken barang kakasihe: nora malih. Yan mo(ng)konoa salah tunggal den orakena kupur uga wong iku mene.

Kewala si lapal “nora” iku: sikeping wong kang sinung wasil paningale kang antuk pastining iman sakadare ika. Kewala lapal „nora” iku: i(ng)kangandelingaken mahasucining pangeran jan tunggal tanpa kufu’ iku siptane kang anduweni sabda iku.

Lan norana papadaning Allah pangeran. E-Mitraningsun Sang siptane lapal kang ingorakaken iku iya i(ng)kang orana pisan papadaning Allah pangeran. Tegesing sang sipta iku : dening mantep ananira uga kang andelingaken ing mahasucinira ing piambekira, mapan orana kang Iyan saking Allah pangeran. Kaya apa ta idepe wong iku mene yan anaha papadaning pangeran, duk sadurunge angucap (5) “orana pangeran” iku, | wus pasti ing idepe yan anging Allah pangeran kang sabenere, kang sinembah kang pinuji kang tunggal andadeken satuhune kang agung.

Mangka a(na)bda Shaich al Bari: e-Mitraningsun! karana i(ng)kang napi iku sawusing itbat, karana, duk angucap: “orana pangeran” iku, wus awit itbat: “anging Allah uga pangeran kang sabenere”. Iku salamete ujar iku.

Anapon kaping kalih, kang ingitbataken i(ng)kang anama Allah kang asifat saja purba langge(ng) kekel agung mahasuci : iku wiyos ing napi-itbat. Utawi pastining napi-itbat iku lungguhe ing kawula uga. Kang ingitbataken ta kahananing Allah uga kang asifat saja, mapan saos kang inganakaken lan kang ingorakaken – iku sang sipta – tan Iyan ananira uga, kang andelingaken (6) maha | sucining piambekira, kewa(la) si pangestuning kawula iku anut umiring saking pangakening wah’dahu la sharika lahira anakseni ing tunggal ing katunggalaning mahasucini(ng) piambekira.

Mangka anabda Shaich al Bari: e-Mitraningsun ! karana satuhune ingsun anakseni: anging Allah pangeran kang sabenere kang anitah angreh ing sembah puji kabeh dadi syuh sirna paningalingsun ing jiwaraga iki ; tuwi si ing sembah puji ika, anging kang saja mahasuci kewala langgeng amuji pinuji ing pamujinira, tan owah tan gingsir, tan asifat waliwali saja purba tanpa wiwitan tanpa wekasan.

PUPUH II

e-Mitraningsun! aja sira kadi ujaring wong sasar : iki si ujaring wong sasar iku, AbduI Wahid arane : mangka angucap AbduI Wahid ibnu Makkiyyah – anak pandita Mekah – ika, atunggul sastra tan (7) | apatut kalawan tegese : iki si lapale :

“Al’atlu qadimun wa huwva nafsul mutlaqi wa huwa dhatu’llahi ta’ala”.

Tegese: kang liwung saja iku, iya iku dhatu’llah, sabener-benere pangeran kang sinembah.

walakin laisa lidhatihi waqifun,

tatapi ta napining Allah liwunging Allah iku nora (wikan) yan suwunga.

Walakin(na) qabla chalqi(l) rasuli Muhammad(in),

tatapi ta sadurunging andadeken nabi Muhammad anging sira pangeran kang ana dewek tanpa rowang, norana kawula sawijia, kadi ta angganing sungging sadu runging andadeken, panuli(s) sadurunging anulis : ija iku tegesing liwung napi dhatu’llah nora ing devveke, norana i(ng)kang angawikanana ing dewekira, norana (ingkang) amujia ing anane anging sifate amuji ing (8) date – iku sadurung(ing) andadeken | rasulullah – norana sakutunira nora kaya apa : kaya iku liwung napi dhatu’llah. Anapon sawusing andadeken rasulullah iku mina(ng)ka kanyatahan ing dhatu’llah, ija rasulullah iku saosik lawan dhatu’llah iya, iku i(ng)kang awertaha pardana kabeh iya i(ng)kang pardana iku saosik lawan sih nugrahaning Allah iya sakatahing dumadi iki mina(ngka) tuduhing Allah”.

Mangka anabda Shaich al Bari : e-Mitraningsun ! pamanggihingsun ta nora mongkono kaya Abdul Wahid iku. Karana satuhune pangucape Abdul Wahid iku kupur ing patang madh’hab. Dhatu’llah denarani napi nora ing deweke, kalawan sira pangeran den arani durung andadeken ing rasulullah, durung andadeken ing sawiji-wiji : iku kupure. Karana satuhune kahananing (9) pangeran saja purba | karihin sadurung ana(ning) rasulullah kalawan sadurung ananing sawiji-wiji kahananing Allah mahasuci lan sasifatira chaliq, ananira saja langgeng amuji pinuji ing piambekira purba tan asipat waliwa(li), mapan langgeng kekel ananira mahasuci, tan bastu-jisim tanpa timbangan, tanpa lalawanan rehing langgeng ananira mahasuci.

Mangka anabda Shaich al Bari : e – mitraningsun! Abdul Wahid angucap: kang liwung den tegesaken maring ora : ikupon kupur, karana tegesing liwung iku suksmaning pangeran mahasuci saja ananira, tan ana wikana ing suksmanira tan Iyan piambekira uga punika reke tegesi(ng)kang liwung saja wruh ing suksmanira piambek.

Kadi ta kecping Abdul Wahid sakatahing dumadi denarani tuduhing Allah : ikupon kupur. Satuhune (10) tegesing tuduh iku | sifatullah, utawi anuduhaken iku sifat nugrahaning Allah : iku ana korup ing paekan tuduh lan anuduhaken iku dadi ingaran salwiring dumadi iki tilas kanyatahaning tuduh sipat nugrahaning Allah ika tan ana i(ng)kang akarya;

PUPUH III

e – Mitraningsun ! ana si kecaping wong sasar satengah; „i(ng)kang ana iku Allah; i(ng)kang ora iku Allah” , den tegesaken oraning Allah iku nora andadeken. I(ng)kang angucap iku kapir. Kang nora denarani ana gawene, den tegesaken: kang ora iku andelingaken mahasucining pangeran, nora dumeling mahasucining pangeran iku. Yan tan anaha, nora karane dumeling mahasucining pangeran iku dening ora, kadi ta angganing wong alinggih dewek ing asepi kederan dening ora. Iku njata(ne) Yen (11) sasar. | Mahasuci sira pangeran saki(ng) kadia kecap iku! Karana satuhune sira pangeran kang mahatinggi kang mahaluhur suksma mahasuci tan kadihinan dening ora, tan sarta kalawan ora, tan kederan dening ora rehing langgeng ananira mahasuci pastine tanpa tuduhan.

e-Mitraningsun ! mboya kang ora iku – kaia wirasaning sastra kadia sipating pangeran sifatulsalbi, tegese : sifating pangeran mahasuci lan kadi sawiji-wiji.

Anapon lam(pahing) salab iku : dudu malih sifating pangeran dudu malih sifating machluq, kewala si salab iku tantan andelingaken padudoning kawula gusti, tegese : sifating pangeran tan kadi sifating machluq sifating machluq tan kadi sifating pangeran, tatapi ta salab iku nora jan (12) angemaha dat, dat sipating pangeran sami angema salab, | beda salab iku lan kang ora iku – kang tan kinarsaken dening Pangeran – dadi nora andelingaken mahasucining pangeran : iku pamanggihingsun ing sastra. Utawi i(ng)kang andelingaken mahasucining pangeran iku sarira kanugrahan saking sih nugrahaning pangeran uga : iku kang angestoken anut umiring saking (sih) pangakenira andelingaken mahasucinira yan tunggal tan kakalih. Iku wiyosing anakseni ika, mapan sabdaning wong ‘arif ika nora anguninga napi itbat malih anging wiyose kewala kang ingitbataken : iya kadi iku wiyose sampurnaning napi itbat iku dening sampun anunggal paningale.

Mangka anabda Shaich al Bari kang sinung rahmat dening pangeran; singgih puniku kang atuduh marga agung abener : e-Mitrani(ng)sun ! kalawan ingsun (13) anakseni satuhune anging | Allah kang asifat saja asih anjateni tan antara sapolahi(ng)kang sinihan, amenuhi sih nugrahanira dadi nir anani(ng)kang sinihan tan sah anut i(ng)gek ing sihing dhatu’llah Iku wiyosing panarimani- (ng)kang lewih lewih ika, karana reke yan tan mangkanaha, wiyose idepe wong iku nispra tur ajnyana, tan wruh ing wadine.

Mangka matur Rijal ing Shaich al Bari : Sarwia subakti, ya guru amba ! anenggeh ta reke osiking jiwaraga puniki sarta lan sih nugrahaning pangeran?.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Iya ujarira iku anging maksih amilang paekan, ingsun ta, Rijal, ora mongkono. Osiking jiwaraga iku enir, anging dhatu’llah kewala kang angandeh anirnaken anam(ng)kang sinihan ika, mapan ta reke panarimani(ng)kang lewih lewih iku saos(s)aosing martabating pamanggih : kang (14) pinanggih | ananira kang tunggal tanpa kufu’ kang asifat saja (mahasuci) sasifatira apaekan kadi asma’nira, sangangpuluh (sa)sanga(ng) jangkep dateng nama Allah. Tegese (sangangpuluh) (sa)sanganing tunggal tegese paekaning sasifatira tan Iyaning ananira uga.

Mangka matur Rijal : sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba, Shaich al Bari ! Kadi punendi ing tampa tegesing dalil : “tekane saking Allah ulihe maring Allah”?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegese : puji saking Allah (kang) pinujeken anging Allah, tegese : paningal saking Allah kang tiningalan anging Allah. Iku salamete. e Rijal! ujaringsun ta : tekane saking tan Iyan, ulihe maring tan Iyan.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! kadi punendi siptane andika tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari) : e Rijal! Tegese : ujaringsun iku sang sipta kadi ta upamaning angilo (15) anane osike tingale | wawayangan ika kang angilo uga iku tegesing “saking” ika. Anapon tegesi(ng) “tan Iyan” kang angilo andulu dinulu tan Iyan pandulunira uga. Iku wiyose ujaringsun iku.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Kadi ta ujaring Shaich Abdul Wahid : “sira pangeran denarani dereng andadeken ing sawiji-wiji lan durung anjateni ing rasulullah”, pangucape Shaich Abdul Wahid iku kupur. Kadi apa ta sira pangeran andadeken iku awiwitana awekasana? Karana satuhune kahananing pangeran kang mahaluhur asifat saja agung mahasuci langgeng kekel andadeken anjateni purba qadim tan asifat waliwali tan owah tan gingsir tanpa wiwitan tanpa wekasan rehing langgeng ananira mahasuci.

(16) Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! | Lan ingsun anakseni kahananing Allahu ta’ala asifat saja asih anjateni anir(n)aken a(ng)ganteni ing sasolahing sarira kanugrahan dadi enir ananing sarira kanugrahan kaganten kalingan anane dening wibuhing sih, kahanani(ng)kang anjateni kewala kang angalingi anging ananira uga kang asifat saja urip wruh kawasa aningali amiarsa akarsa anabda purba mahasuci langgeng kekel ame(ng)ka tan owah tan gingsir amuji-pinuji asih sinihan ing piambekira.

e Mitrani(ng)sun ! Iki si lapale :shahidtu nafsi,tegese : sira pangeran anakseni ing mahasucining piambekira agungaken i(ng) sifat kahananira purba ing dewekira tunggal ing katunggalanira agung ing kagunganira ratu. ing karatonira langgeng amuji-pinuji i(ng) piambekira.

(17) Mangka anabda Shaich al Bari : | e Mitraningsun ! Iku sampurnaning anakseni i(ng)kang kapeta ing shahadat ika, iku wiyosi(ng)kang winuwus akeh-akeh ika.

PUPUH IV

Mangka matur Rijal : sarwia subakti, ya guru amba!

Kadi punendi wirasaning sastra punika : mas’alah ‘ishq ‘ashiq ma’shuq?.

Mangka anabda Shaich alBari: e Rijal ! Tegesing ‘ishiq iku sifatira, tegesing ‘ashiq iku ananira, tegesing ma’shuq iku af’al ira, mapan paekaning sasifatira tan Iyaning ananira, mapan sasifatira sarta andadeken tan anantaranira anani(ng)kang agawe lan kang ginawe, tan ana kari karuhun, tegese : tansah ing karsa parekipun kadi sartanira andadeken chaliqu’Imachluq kun fa yakun, iku tegesing sarta kang agawe kalawan kang ginawe, mapan sadurung inganaken ananingkang jinaten lan anani(ng) kabeh iki, uwus pasti ing kawruhira tekani(ng) waktune (18) dadi ing | mangko, iki tan siwah ing karsanira.

e Rijal! ingsun ta mengkene : kang ‘ishq-dhatu lah, kang ‘ashiq-dhatullah, (kang) ma’shuq-dhatullah.

Mangka matur Rijal: ja guru amba! Kadi punapa sang sipta andika tuwan puniku?

Ma(ng)ka akecap Shaich alBari : e Rijal ! tegese ujaringsun iku ‘ishq-dhatullah : birahi ing ananira, tegesing ‘ashiq-dhatullah : kang biniraheken ananira, tegesing ma’shuq-dhatullah : kang birahi tan Iyaning ananira uga. Ika ta ingidep dening tan amarna paekan malih. Iku salamete, nora kaja ujaring wong sasar mangkana kecape : tegesing ‘ishq‘ashiq iku duk durung birahi, tegesing duk lagi birahi, tegesing ma’shuq ambiraheken iku ija ruh idafi iku ma’shuq ing af’alullah. Kang angucap iku kupur!

PUPUH V

Ana wong sasar malih angucap : iya namane iya karsane, (19) iya namane iya date, iya dat(e) iya | karsane. Iku amor ing paekan, tan wruh ing panunggale : iku karane (yen) sasar.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Ana kecaping wong sasar malih, K a w i b a t a n i y a arane, atu(ng)gul sastra, anging tan apatut lan tegese, tan apatut lawan budi, miwah ing Usul Suluk, kadi ta ing Tamhid, ing Ihya ‘ulum aldin norana kapanggih dening-sun – iku nyatane yen sasar! kadi angrupakaken sifating pangeran, kadi angapesaken sifating pangeran, kadi akecap : sakatahing dumadi iki sifating Allah, kadi anganakaken ingkang nota, kadi ama’dumaken ing Allah iku kupur ! ; akecap : endi sifating Allah? kang angucap iku dadi kapir.

Tegese angapesaken i(rig) sifating pangeran : sifating pangeran ora mateni ora andadeken ora anjateni ora weh (20) rijeki pasti kang | angucap iku dadi kapir dening anganakaken ingkang ora. Tegese (iku) ama’dumaken ing pangeran angucap : Allahu ta’ala ora ing deweke, ma’du(m) binafsihi - kang angucap iku dadi kapir.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi puniku, dadia kapira pun temen puniku i(ng)kang akecap mangkaten punika?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Kang angucap iku kapir tenien – Allahu ta’ala denarani ora andadeken lan angapesaken sifating pangeran, lan amurbaken ingkang ora, lan amor paekaning sifating pangeran : mapan narakane kang angucap iku awet kapetekaneng dasaring narakani(ng) wong kapir.

Tuwin antepe kawruhe wong mongkono iku : paningal(e) iki paningaling Allah, sifate iki sifating a) Allah, pakarjane (21) iki pakaryaning Allah, pangucape iki pangucaping | Allah, mapan tegesing Allah iku dat, mangkana malih : osiking jiwaraga iki osiking Allah ija iku traping Allah asung eling asung awas kadi ta u(pa)mani(ng) gelepung wos (s)atu(ng)gal ketan satu(ng)gal, mangka winor : esak punapa ta yan aranana ewos. e Rijal! ika nyatane yen sasar, mapan beda iku lawan andikaning pangeran ing dalem Qur’an:

“maraja bah’raini yaltakiyan(i) bainahuma barzachim la yabghiyani”.

Tegese : kadi patemoning sagar,a kalih asin lawan tawa, anta arane iku, aworeneng rana. Nyatane tegese; ora kena aranana sagara, tan kena aranana toya tawa, utawi ta i(ng) jenenge iku anta, tegese iku dening linewih saking toya kabeh dadi anarima namaning sigihing sagara. (22) Anapon ing sampurnane iku ta tan ana | panarimane, anging sagara kewala kang angandeh anar(n)aken ing toyane tawa, mapan i(ng) karone iku langgeng apadudon tanpanisih kang anjateni lan kang jinaten. Nora kaja patemoning wong sasar mangkana, kang pasti kekel .sasoring narakani(ng) wong kapir ndening kataksisaning tampane. Karana satuhune sasmitane iku sampun kataksisani(ng) tampane andeandene kaJawan kang ingandekandekaken den kagrahita dene kang sinung awas, katampanana ing ati, sampun ing Iesan kewala. Kewala si ande-ande iku ingambil raket ing paningali(ng) kang sinihan. Mahasuci sasipating Allah saking atiti(m)ban, gana lan kawoworana, kadi lapal :

kama’lnasu ghara fi’lbahri, tegese : kadi ta wong asilem i(ng) sagara (23) tegese : kaliputan dening | sagara, tegese : tan lumiring i(ng-) ikalihe malih, la yaltafit,tegese : tan emut ; utawi sasmitane lapal malih idha ja’a ‘lmataru fi ‘lbah’ri, tegese : tatkala teka udan iku ing sagara, (wa) yusamma ‘lbah’ra, tegese : ingaranan sagara.

Utawi sasmitane lapal malih, kadi ta kecaping pandita satengah :

fa waqtan yakunu (‘l)abdu rabban,(tegese :) tatkalaning fana kawula iku awiyos sira pangeran, bila shakkin,tegese : sampun sak malili, (la ‘abda), tegese : norana kawula sawiji-wijia

illa ‘lrabbu, tegese : anging sira pangeran kang saja angandeh anir(n)aken anani(ng)kang sinihan. Iku salamete ujar iku kabeh.

PUPUH VI

Mangka akecap Shaich al Bari: e Ridjal ! Anaudjaring wong sasar malih, Karramiyyah arane : kang iman tawh’id ma’rifat iku den arani tetep ing pangeran, den (24) karepaken dene wong | sasar iku : sira pangeran aneguhaken ing piambekira yen purba tanpa kufu’ iku tegesing iman, sira pangeran anu(ng)gal paningaling piambekira iku tegesing tohid, sira pangeran awas andulu-dinulu ing ananing piambekira – iku tegesing ma’rifat.

e Rijal! Kupure iku ; iman tohid ma’rifat iku den tegesaken maring paekaning wujud tunggal : iku karane (yen) sasar. Karana satuhune iman tohid ma’rifat (iku) titiga iku martabat lungguhe ing kawula, tetep i(ng) kang sinihan, dede iman tohid ma’rifat ing Allahu ta’ala. Dudu i(ng)kang angucap iku iman tohid ma’rifat tetep ing pangeran, kang angucap iku dadi kapir! e Mitraningsun ! Kalawan sira aja angucap kadi pangucaping wong sasar ika, manawa sira dadi kapir, mapan akatah. angucap kadi anutur ujaring wong sasar iku, (25) sami atunggul sastra. Aja sira gumawok, | sampun gingsir idepira; balikan sira den awas angawikani ing awakira lan aja pegat mushahadahira ing pangeran.

Tegesing awakira iku sarira kancegrahan : singgih puniku mina(ng)ka paesanira enggenira awas ing sih nugra(ha)ning pangeran. Ye(n) tansah anugrahani asung wruh, anjateni ing sarira kanugrahan, mapan solahing sarira kanugrahan iku tan antara lan sih nugrahaningkang anjateni ; dadi sira aja tumingal ing Iyan, tumingala sira ing sih nugrahaning Allahu ta’ala uga, dadi sira antuk madyaning tingal salamet sira ing dunya dateng ing aherat, antuk sira jenenging manusya. Lamon ugi sira nora mongkonoa ing tingkahira iki, yakti kapaung tingalira iku mene. Satuhune ananing pangeran kang asifat saja langgeng mahasuci tan Iyan ananira uga, kang tan bastujisim ananira kang purba andadeken kang asifat suksma (26) jati | tan anuksma tan sinuksma tan awor lan salwiring (du)madi kabeh, rehing langge(ng) anani(ng)kang purba, mapan ananira mahasuci suksmanira wibuh sampurna elok mahamulya mahatinggi mahaluhur, utawi ananira tan ana wikana ing suksmanira tan Iyan(ing) piambekira kang wikan ing suksmanira pribadi.

PUPUH VII

e Mitraningsun! Lamon ana wong angucapa mengkene, kapir : sifat iku ana ing dat, asma’ iku ana ing deweke iku pon kupur! Mengkene salamete : asma’ ning dat tan Iyaning ananira (ananira) kang asifat saja langgeng mahasuci, kang purba andulu dinulu ing ananira, kang mahasuci amuji-pinuji ing piambekira.

e Mitraningsun! Lamun ana wong angucapa mengkene “sipat sipat, edat edat” ikupon kapir, apa ta kahanan roro iku yan mongkonoa. Satuhune mengkene salamete (27) paekani(ng) sasifatira tan Iyaning ananira. |

e Rijal, mitraningsun ! Ana ujaring wong sasar *Mutangiyah arane akecap : Apa tegese idepe iku denarani ora kapurba : Allahu ta’ala nora amurba, mapan jenenging kawula iki ora, apa ta purbane, mapan mantep pandelenge : Allahu ta’ala nora amurba, mantep amuji pinuji ing deweke, apa ta karane yen amurbaha? Kang angucap iku dadi kapir.

e Mitraningsun ! Kalawan ta kang orana araharahe, kang orana kajatine kang tan awarna kang tan kaya apa nden arani mahasuci purba andadeken iya kang sinembah tunggal. Iku panga(ng)geping wong sasar, *Muntanengiyah arane.

Utawi ana wong sasar sawiji, ‘Arabiyah arane, akecap : sadurunging ana jagat iki kabeh nama Allah pon dereng nyata lan dereng ana iku dat ; mangkana malih dat (28) | iku anyatakaken ing asma’nira, sarta lan dadine jagat iki kabeh, ingupamakaken dat iku kadiangganing wiji-sawiji awit agodong akembang awoh iku sami amuji ing wit, lintang nikmate rasane manise godong sekar woh iku. Singgih puniku rahasya kabeh rahasyaning wit, norana rahasya wawaneh ; kabeh iku rahasyaning wit : (i)ya iku tegesing dat samata ika tanpa sifat tanpa af’al. Tegese iku : date qadim, sifate af’ale muh’dath anging dat kewala kang ana dewek tanpa rowang. Mangkana malih kahanane jagat iki kabeh rahasyaning dhatu’llah, mapan pujining kabeh iki iya amuji ing dewekira iku. Tegesi(ng)kang amuji ing date kang pinuji ing date kang aningali Allah. Tegese jagat iki kabeh gelaring wiji sawiji, maksih sawiji, tan ana wawaneh, kadi ta ang(29)gani(ng) wesi | bariyuh sawiji, wonten dadi tumbak, dadi duhung tatah wadurig panyukur, dadi usu cacatut

edom kadut, linebur pinalu dadi tosan malih : dene si asale saking wesi sawiji mulih kadjatine sawiji. Mangkana rnalih osiking jiwaraga iki osiking dhatu’llah paningaling kawula iki rahasyaning dhatu’llah. Kang angucap iku pasti kinekelaken sasoring narakaning (wong) kapir kang anembah ing brahala ika.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Ana si sabda kang kocap ing sastra ika kadi ta andikaning dalil dateng ing h’adith :

alinsanu sirri wa ana sirruhu,

tegese andika iku : rahasyaning manusya iku rahasyani(ng)-sun, ingsun pon rahasyane. Tegese iku : dening rahasyaning manusya iku tansah dinaten i(ng) sih saking pa(nga)kening sihing dhatu’llah dadi rahasyaning manusya (30) iki tansah anarima angestoken umiring | pangakening sih rahasyaning dhatu’llah. Iku wiyosing panarimaning manusya kang linewih sinelir ika, mapan sira pangeran kang saja asih angasihi ing piambekira iku minargaken panarimaning lisaning manusya, kewala si sihi(ng) kawula iku minangka walesaning angasihi edat ing sifat af’alira, dadi darma malesi kewala lisaning kawula iki.

e Mitraningsun ! sira pangeran agelar ing kawidagdanira anyata(ka)ken ing saniskara kabeh kasaktenira dat-sifat-af’alira. Kalawan kawruhana salwiring pakaryanira norana apakarana saking kawula utawi anaha sakedep netra ing angenangene, anaha uga apakarana saking kawula kupur.

PUPUH VIII

Kalawan ta sira sami aulaha saca, nden akehakeh wedinira lan awiranga sihing pangeran, aja sumambarana kalawan sira angrasanana;

1. mamanising asepi
2. mamanising (31) | aluwe
3. mamanising urip
4. mamanising rame
5. mamanising lara
6. mamanising pati.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi mamanising asepi puniku kalawan mamanising aluwe? Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing mamanising asepi iku tan keneng apasah tansah akarwan lulut lan pangeran Iku wiyosing asepi ika (i).

Anapon mamanising lapa iku kawruhana jeroning lapa iku tansah angrasani ni’mat saking sih nugrahaning Allah. Iku wijosing lapa ika.

Anapon mamanising agesang iku : kawruhana jeroning uripira iku tansah lumampah ing pakening sabda purba – wisesaning pangeran. Iku wijosing aurip ika.

Anapon mamanising arame (iku) : kawruhana jero(ning) rame iku yan sati(ng)kah-polah iku minangka pangi(n)(32)tipanira dadi katingalan sih nugrahaning pangeran | kewala. Iku wijosing arame ika.

Anapon mamanising alara (iku): kawruhana jeroning alara iku angrasani pakenake iku, ing enenge ing osike ing pangaduhe ing pangesahe, iku mina(ng)ka pamudjine. e Ridjal ! Yen sira wruha ing awakira iku, yen tansah angrasani ni’mat saking sih nugrahanira sadum parentahira, mapan tan antara kang amolah lawan kang pinolah! Iku wijosing lara ika.

Anapon mamanising pati iku : kawruhana jeroning pati iku ye(n) tansah jinaten ing sih tan sinung mulat i(ng)kang Iyan malih, dadi nir patine kandeh kaganten kalingan anane dening wibuhing sih, (ing) anani(ng)kang saja asih anjateni kewala tan Iyan anani(ng)kang sajaagesang langgeng amuji-pinuji andulu dinulu ing pandulunira. Iku wiyosing pati ika.

Lamon ugi nora mo(ng)konoa, i(ng)kang atapa iku | (33) tingale saparti h’aywan tingale z’ahir batine wong iku sato uga!

e Mitraningsun! Mapan kang sinung wikan iku wasil paningale ing pangeran, tan ana patine, salamet ing dunya, urip ing aherat. Kang nem parkara iku ta poma ®) den sami kalampahan denira den sami kacep kabeh.

PUPUH IX

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Punapa ta puniku lampahing wong lewih?

Mangkaanabda Shaich al Bari : e Rijal! (Lam)pahing wong lewih iku kabeh yen ta sira wikana, mangkana luputa ing paningalira iku kabeh, mapan sakatahi(ng)kang karasa i(ng)kang tiningalan miwah ing osike jiwaraganira iku kabeh, ing enenge, ing duka-cipta nastapane kabeh iku dudu lan deweke saparti batang lumampah ; anging lumampah lan idining sih kaharsaning pangeran ugi. (34) Ika mina(ng)ka sapatemonira lan | pangeran, mapan reke osiking jiwaraganira iku sarta lan sih nugrahaning Allah, tatapi osiking jiwaraga iki sarta lan dhatu’llah, tegese : tan aganti lan pangawasaning Allah. Anapon kawula kang sinung sampurna tingale maring anane jaga(t i)ki kabeh i(ng) rupane ing solahe dadi kedape tingale anging wiyosing tingal iku : sira pangeran kewala.

e Rijal! De(n) wruh sira ing anane awakira iki, karane ing anane ing patine duk sira durung dadi, aduwe paran €) sira samana, utawi si ing tembe dening maksih ina ing jenengira iki, tegese dening kalintang tanpa derbe ^). Utawi aderbe paran sira samana, mapan ananira iki ingupamakaken kadiangganing wawajangan, kewala sidening kinarsaken enggening anunggal (pa)ningalira i(ng)kang angilo pribadi, kang aningali tiningalan kang (35) asih sinihan tan Iyan(ing) | piambekira. Kewala si panduluning kawula iki pina(ng)ka cihna panduluni(ng)-kang asih (asih) sinihan ing dewekira dadi nir panduluni(ng)kang si(ni)han kawibuhan dening sihira kang saja aningali, kewala si panduluning kawula iki darma amalesi.

Ma(ng)ka jan ana akecapa mengkene : kang angilo iku nora aningali wawayangan, kang angucap iku dadi kapir. Kalawan ta sira adja gingsir lamun dinedeken ing wong, den apageh idepira. Yen malih sira gingsira, tan antuk pastining kawruh kalawan iman, karana wong kang angluputaken iku ana kang olih marga abener iku, ana kang olih marga sasar. Anapon kang olih marga abener iku : tingkahe wong iku arep pada pada nora malih amelag rarasan sajane amamarahi winarahwarahan, tan ajun dadosa patakenan angilapaken agelisa mengeti ®(36) ing salamete, tan ayun agungena ing awake, | tan ajeng angakena ing kabisane, tan ayun akarya-karya, tegese : dening asanget awedi lan awimng ing pangeran : iku reke cihnaning wong sinalametaken, sinung marga abener dening pangeran, iya iku kang sinung wasil paningale antuk idep tan pegat sinalametaken ing dunya dateng ing aherat.

Anapon kang a(ng)luputaken a(n)tuk marga sasar iku, angilapaken tan asadya amamarahi amalaku ing idep(e), agungaken ing kabisane ayun ing hormataning wong kalingan dene awake dening agungaken ing kabisane. Utawi tingkahe wong kang mongkono iku pancanetra sawadiane oliha ing karsane dene si i(ng) sad-yane arep dadia pangulu utawi lampahe kabisane arep kapiarsaha ndening wong akeh aduwe ‘ilmu sakecap agepeh den wejangaken abungah aburu alemaleman. Iku reke ©(37) | cihnaning wong sinungan jaza’ dening pangeran tan pegat susahe arubiru, tan eca atine dening awet amet gingsiraning wong dene si arep kasihana ndene samasane machluq. Ikpe lah kang kinaumaken lan Iblis - la’natu’llah.

e Mitraningsun! Sira kabeli adoha sira saking wong sasar lampahe kang mo(ng)kono iku, manawa sira katularan sasar; balikan sira anedaha sakauraa kalawan kang sinihan ika, i(ng)kang tansah ing sihing pangeran, anedaha sira sing patulunging pangeran.

e Mitraningsun! Kalawan ta sira aja nga(m)bil dedening wong, utawi aja sira murtadd ing samitranira kang asih ing sira. Kupur hukume ! Tegese asih iku amamarahi kawruh kang sabenere. Wenang mitra iku yan ti(ng)galena, yen wus nyata pangucape iku yen sasar, selang

iku si aja sira mu(ng)kir pisan tedakena ing pangeran, sang(38)ka(na)ne abalika ®| agelisa atobata ni(ng)kaha malih kalawan

rabine. Iku salamete. Kalawan ta sira aja anyipta dunya, kalawan aja sira murtadd sami-saminira islam!

e Mitraningsun! iya kang keneng sakawan parkara iku, kalintang kinagedegan dening pangeran. Wong kang mo(ng)kono iku mesum ing dunya dateng ing aherat. e Mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami saminira islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah.

PUPUH X

Mangka anabda Shaich al Bari : (Ru’yatu’llahi) arus tan arus.

Mangka matu(r) Rijal : ya guru amba! Kadi punendi tegese andika tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari : e Ridjal! tegesing ru’yat iku : aningali ing pangeran, ing aherat lan mata kapala, ing dunya lan mata ati. Nora arus ing dunya aningali ing pangeran iku lan mata kapala, kalawan arus (39) ing tembe | aningali ing pangeran iku lan mata kapala. Tegesing mata kapala iku, paku(m)pulaning sakatahing paningal kalintang dening sira pangeran asung ni’mat anampurnaken ing paningali(ng)kang sinihan. Ingucapaken kang paningal iku kadiangganing pati ing undake ta lisah, kadi ta pisang mentah nyadam mateng ing undake dalu, kadi ta angganing sasi tanggal sapisan, ana kang kadi tanggal pi(ng) kalih, ana kang kadi tanggal pi(ng) tiga- ing undake ta kadi purnamasada ®.

Tegese iku ta kabeh dening saja mundak martabate sinampurnaken tingale dening pangeran dadi tan sak tingale ing dat-sifat-af’alira ; mapan kang tiningalan bila tashbih, kang aningali pon bila tashbih.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi sa(ng) sipta andika tuwan puniku?

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Siptane iku ®(40) ta | dening jinaten sinampurnaken tingale dadining tingale mantep kadi duk dereng ana mangkana – ma(ng)kana siptane iku – anging anane kang sadja anampurnaken kewala, kang langgeng amuji-pinuji ing piambekira.

Nora arus ing aherat aningalana ing Allah lan mata ati : iya iku salamete ujaringsun : “tan arus” ika. e Mitraningsun ! Beda kadi ingishtarataken wulan ika kadi kang kocap ing sastra : andikaning h’adith dateng wali mu’min kabeh :

innakuni satarawna rabbakum yawma ‘lqiyamati kamatarawna ‘lqamara fi lailati ‘lbadri,

(tegese:) karana satuhune sira kabeh aningali ing dina kiyamat ika kadi ta sira aningali wulan ing wengining tanggal pi(ng) padbelas,

amma damiru ‘lqamari ‘llahu munazzahun bila kaifiyyatin c),

Anapon kang linamiraken dateng ing sasi iku pangeran uga mahasuci kang tiningalan tan kadia ande-ande tan kataksisana. |

(41) Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi sasmitane linamiraken dateng ing sasi puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! . Siptane iku dene tan nyatanira aningali ing pangeran dadi inga(m)bil sa(ng) siptaning sasi ika raket i(ng)kang tiningalan ing(kang) aningali ing pangeran mapan bila tashbih sasifatira, ing mangkin pon boya esak denira angawikani ing ananira tan bastu djisim rehing langgeng ananira mahasuci.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Nora kaja ujaring wong sasar mangkana ora kecape : satuhune kang tiningalan ing tembe kadi wulan iku nora maring kang tiningalan nora maring kang aningali ma(ng)ka kang angucap iku dadi kapir. (a’udhu bi’llahi) minha!

PUPUH XI

Mang(ka) akecap Shaich al Bari kan g sinampurnakaken iman(e) tohide ma’rifate dening Allahu ta’ala e Mitraningsun! Den sami awa(s) sira ing pangeranira, den ©(42) sami angestokena, | kalawan sira anglaranana sarira tegesing anglarani sarira iku : aja sira sukasuka awakira — kalawan ta aja mamaesi pangan(ira) panga(ng)genira turunira ing dunya. Atinira aja madep ing Iyan balikan sira asukansukanana akalangena lan pangeran.

Mangka matur Rijal : Sarwia subakti, anuhun ing jeng, ya guru amba! Kadi punendi kang iman singgih dede puniku, i(ng)kang tohid singgih kabeh, kang ma’rifat dede kabeh?

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Kang iman singgih dede puniku dening paningaling iman ambedakaken ingkang ala kalawan kang abecik. Utawi panggawe ala nden kawruhi yan tan kinatujon dening pangeran. Iku karaning siptaning iman singgih dede.

Anapon kang tohid singgih kabeh : dene si paningaling tohid iku, tan lumiring ing singgih dede malih, kang den. ® (43) tingali tan Iyan pinangkane kewala dadi | ing tohid singgih kabeh.

Anapon kang ma’rifat dede kabeh ndene si awase paningale iku kang tunggal maring pangeran iku, dede sajatine tingale dadi syuh sirna tingale dening kandeh, kaganten kalingan tingale dening tingali(ng)kang sadja aningali tiningalan tan Iyan paningalira uga, tunggal kang aningali kabeh. Iku wiyosing “pamuji kang amuji kabeh.

PUPUH XII

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi ma’rifat (t)igang prakara punika, kadi kang kocap ing sastra : ma’rifatu dhati ‘llah, ma’rifatu sifati ‘llah, ma’rifatu af’ali ‘llah), kadi punendi sang siptane katiga punika?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing ma’rifatu dhati ‘llah : kawruhana ananing pangeran kang mahaluhur yan tunggal tan kakalih sasifatira sadja langgeng kekel mahasuci tan bastu-djisim tanpa arah tan

(44) ® misra | tan awor tan anuksma tan sinuksma, rehing langge(ng) ananira mahasuci wonten ing iskinira ing piambekira langgeng ing karatonira tan owah tan gingsir ing pa(ng)lilanira.

Anapon ma’rifatu sifati ‘llah : kawruhana kahananing pangeran asifat h’ayyun : urip langgeng tan kalawan nyawa, angawikani tan kalawan budi, kawasa tan kalawan anggauta, aningali tan kalawan aksi, amiarsa tan kalawan karna, akarep tan kalawan angenangen, angandika tan kalawan lati swara, langgeng kekel mahasuci tan kadi ing dumadi kabeh.

Anapon ma’rifatu ‘laf’al : kawruhana sifat-pakaryaning pangeran : akarya tan kalawan parbot, asung tan kalawan asta, amejahi tan kalawan karga. Iku tegesing ma’rifat tigang warna ika.

Anapon cihnanira yan asifat urip sadja ana wruh (45) kawasa iya anguripi angawasakaken Iwiring | kawasa kabeh, yan anguripi Iwiring urip kabeh : iku enggene nyata. Lan ta sira den sami bakti nastiti paken, lan den aseruh wedinira ing pangeran. Lan raksanen pangucapira saking kadi pangucaping wong sasar punika : demi akecap, dadi kapir, mapan kecap iku medal saking wicarane atine, medal i(ng) lisane, kadi ta wong aguguyon : “ingsun ing tembe sapuluh taun iki arep milu dadi kapir”, demi angucap kadi iku dadi kapir.

e Mitraningsun! Pira wangene idepira! Sakecap sakedap nora yan sira mongkonoa, tan kapira. Kadi ta ujaring wong sasar, manjing kataksisan ing atine, Ka b a t a n I y a h arane, kecape ta : sira pangeran ma’dum binafsihi sira pangeran napi. Demi akecap dadi kapir.

PUPUH XIII

e Mitraningsun ! Aja awasta sira aja wong kang mo(ng)kono iku, karana mesum i(ng) dunya (a)herat (46) amitraha sira sampun, tatapi | ta akatah ujaring wong sasar kang Iyan saking puniku, kadi ta ing kina S h a i c h Supi, Shaich Nuri, Shaich al Djaddi, sami akecap, kagepok ing ujar sasar, mangka kinupuraken denira Imam Ghazali kang awasta ‘Abdu ‘larifin. Tuwi sakatahing sisyane masaek titiga ika sami kinen atobata lan kinen ani(ng)kaha malih kalawan rabine. Mangka akecap masaek titiga ika sami atu(ng)gul sastra, yan sira pangeran ora andadeken. Akecap Shaich al Djaddi :

“alawwahi ‘llahu ta’ala qabla (kulli) shai’in tegese iku : dihin sira pangeran ora andadeken, sadereng ana sawiji-widji iki“.

Ingsun malih ama(ng)geri : sira pangeran dihin sadja andadeken langgeng tan ama(ng)sa, tan asifat wali-wali tanpa wiwitan tanpa wekasan.

Jata sun aturaken dateng padjenganira Imam Ghazali – rah’matu ‘llahi ‘alaihi.

Ma(ng)ka matur Rijal: ja guru amba ! Kadi punendi (47) masaek | titiga punika sami tumut amarek ing Imam Ghazali?

(Mangka akecap Shaich al Bari): e Rijal! Sami tumut masaek titiga ika amarek ing Imam Ghazali : demi katingalan mangka tiningalan masaek titiga ika. Winanpaosaken : a’udhu bi’llahi minha : anglindung amba ing Allah, dohena amba saking marga sasar.

……man ittaba’a ‘lhuda moga lah sira anuta ing margaabener, mapan kinawikanan Shaich Supi, Shaich Nuri, Shaich al Djaddi sami kagepok ing ujar sasar.

Yata ingsun ingulukan salam denira imam Ghazali : Alsalamu ‘alaikum, ya Shaich al Bari, kang sinalametaken dening pangeran kang rinaksa dening Allah saking kagepoka ing marga sasar : punapa karsa tuwan ?

Mangka ingsun atur jawab anapani i(ng)kang (ng)andika imam Ghazali — rahmatu ‘llahi ‘alaihi : ya imam Ghazali kang jinungjung darajate ndening pangeran i(ng)kang amadangi ing wong akatah : amba matur (48) ing tuwan jen Shaich Supi, Shaich Nperi, | Shaich al Djaddi sami akecap: “Allahu ta’ala nora andadeken”.

Mangka angandika imam Ghazali amaca : a’udhu bi’llahi minha, ya Shaich Supi! (Ap)a siptane ujar tuwan puniku ?

Jata matur Shaich Supi : ya imam Ghazali! Nora idep amba yan pastia kadi punika : Sira pangeran tan andadeken iku, kewala si sang siptane kecap amba puniku kadi sabdaning wong ‘arif kang karem kahanane paningale ing pangucape ing kahananing Allah dadi amba angucap : Allahu ta’ala ora andadeken.

Mangka angandika imam Ghazali : ya Shaich Supi! kupur tuwan ing patang madh’hab dening tuwan akecap anakisaken sifating pangeran karana ujar tuwan puniku awit angorakaken angapesaken sifating pangeran iku karan tuwan kupur. Tuwan tegesaken kadi kecapi(ng) wong ‘arif ika : nora mongkono sabdaning wong ‘arif (49) ika, kewala si | semune wong ‘arif iku kadi lapal iki sang siptane :

la ya’rifu …….. la yanz’uruha la yunkiruha ®), tegese : wong ‘arif iku nora kabar ing anane, nora enget ing paningale ing pangeran, nora weruh : tegese iku ta sang siptaning jinaten kandeh kaganten kalingan anane pangucape paningale dening ananing sih nugrahaning pangeran kewala, i(ng)kang asung fana’. Mangkana sang siptaning wong ‘arif ika ora kaja tuwan mo(ng)kono, anakisaken sifating pangeran : iku karan tuwan kagepoking ujar sasar, kagepok ing wong Mu’tazilah.

Mangka angandika imam Ghazali : ya Shaich al Djaddi! Apa siptane ujar tuwan puniku?

Ma(ng)ka matur Shaich al Djaddi : ya tuwanku imam Ghazali! kecap amba kadia puniku Allahu ta’ala ® (50) nora andadeken puniku — saderenging | ana rasulu ‘llah sawiji-wiji dereng ana lawh’ qalam ‘arsh kursi swarga naraka, awang-awang uwung-uwung, ikupon norana; sawuse sirna kabeh, ikipon maksih mangkana uga, anging sira pangeran uga dewek tanpa rowang nora andadeken dewekira : iku mah’alling dhat mulaq jatining ma’dum binafsihi, nora ing deweke : iku tegesing tunggal ing katu(ng)galanira, ratu ing karatonira, agung ing kagunganira, mangka nyata ing kahananing Muhammad, angarsaken ing panggawenira, nyata ing saniskara kabeh.

Mangka imam Ghazali akecap — kang linewihaken kapanditanira, kang tiningalaken ing lawh’ almah’fuz i(ng) jerone wetenge ibunira, i(ng)kang winenangaken angiket Usul Suluk ing jerone wetenge ibunira — : ya Shaich al Djaddi! Kupur lah tuwan ing patang madh’hab, mapan kahananing Allahu ta’ala dihin sadja purba akarsa (51) teka | ta sira arani bodo, sira arani mukup dereng akarsa, dereng andadeken, sifating pangeran dera arani ama(ng)sa-ma(ng)sa. Iku kupurira. Yen ta baya i(ng)sun wenanga amejahana ing sira, supaya sira sun gantung sungsang tur sarwi sun pedang kalintang-linta(ng) denira cala-culu ing pangucapira. Karana satuhune mahasuci sifating pangeran saki(ng) kadia ujarira iku!

Anapon kahananing Allahu ta’ala qadim sasifatira miwah saderenging ‘alam iki kabeh anging kahananing Allah kang asifat sadja langgeng mahasuci sasifatira dewekira tanpa kufu’ sadja suksma asih langge(ng) andadeken tanpa wiwitan tanpa wekasan tan asifat wali-wali. Karana satuhune sifating pangeran suksma langgeng mahaluhur ananira kang asifat sadja tan kena ucapakena : “dereng andadeken, (52) sampun andadeken ‘alam iki kabeh”, angi(ng) | kahanan ika suksma akaharsa langgeng andadeken, mapan sifatira ‘alimu ‘Ima’lum, chaliqu ‘Imachluq, qahiru Imaqhur, qadiru ‘lmaqdur kun fajakun : endi ta uwus-durungira andadeken?

Mapan ananira kang asifat sadja agung ing kagunganira, ratu ing karatonira, tunggal ing katunggalanira, amuji ing piambeki(ra), miwah sasampune djaga(t iki) kabeh inganaken, langgeng ananira tan owah tan gingsir ing piambekira dawak : tan beda ananira lan sahananing ‘alam lan saderenging ‘alam, ananira uga kang sadja langgeng kekel mahasuci maksih ing karatonira tan owah tan gingsir.

Mangka ingandikan Shaich Nuri : ya Shaich Nuri! Sira pangeran tuwan kecapaken – nora andadeken iku apa sang siptane ?

Mangka matur Shaich Nuri : ya imam Gha(za)li! Kadi punika kaharsa amba : djagat puniki kabeh nora (53) dadi de(ning) nama, dadi | dening panggawe?

Ma(ng)ka imam Ghazali angandika : ya Shaich Nuri! Kupur idep tuwan puniku ! Apa ta kahanan roro iku asma’ sifat iku : satuhune kahananing pangeran asifat sadja andadeken sasifatira chaliq, mapan sifatira tan Iyaning ananira.

Hai’atu ‘lwujud hai’atu ‘lmafhum : mangkana ing balike hai’atu ‘lmafhum hai’atu ‘lwujud : endi ta wawahe iku, mapan paekaning wujud tunggal tan kakalih, mapan sifatira sifating dat, (af’alira) af’aling dat, utawi ja(ti)ning asma’ iku kakalih paekane asma’u (‘l)sifat asma’u ‘ldhat iku paekaning sasifatira tan Iyaning ananira. Anapon chaliq machluq iku pasti kahanan kalih, tan apisah.

Ma(ng)ka imam Ghazali angandika: ya Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nuri! chilaf idep tuwan puniku, kupur tuwan ing patang madh’hab.

©(54) Ma(ng)ka masaek titiga punika sami aneda | tinobataken (den)ing imam Ghazali.

Mangka angandika imam Ghazali — kang sinung rah’mat dening pangeran : ya Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nuri, nora kawasa amba anobatakena walining Allah, Abecik yan tuwan atobata piambek ing pangeran wong sowa(ng) sami amarenana idep tuwan kang kupur puniku. Yen ta baja tuwan tan amarenana ing idep tuwan kupur puniku, supaya tuwan linungsur jenengira wali dening pangeran miwah sakatahing wong sanak tuwan sami anganyarana iman kalawan (n)i(ng)kah lan tuwan tobatena.

Amba amiarsa kang ngandika nabiyyu’llah, salla’llahu ‘alaihi wasallama — tur amba ingandikan piambek – e imam Ghazali! Lamun ana manusya akecap me(ng)kene “kahananing Allah nora asih, nora ‘ngasihi, nora andadeken, asma’ nira nora andadeken”, anirnaken (n)ugrahaning pangeran (55) lan amor paekaning sifating pangeran, | lan kang aliyanaken sifating pangeran, angapesaken sifating pangeran, e imam Ghazali! aja esak lah kapirena wong kang mongkono iku, dudu umatingsun, kalawan ta Allahu ta’ala aken angulatana pangeran wawaneh lan kinen angulatana panutan Iyan saking nabi Muhammad. Yan tan amarenana atobata pakecapi(ng) kang kupur iku supaya sira salameta!

PUPUH XIV

e Mitraningsun! Singgih puniku kang pawetra imam Ghazali ing i(ng)sun kalawan masaek titiga ika.

e Mitraningsun! Atutur malih imam Ghazali : i(ng)kang ngandika nabiyyu’llah, ‘alaihi ‘lsalam, tinutur ing i(ng)sun lan masaek titiga ika : ya Shaich al Bari, Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nurir miwah samongko kang (ng)andika nabiyyu’llah salla’llahu (56) ‘alaihi wasallama, kalawan malih pamanggihingsun ing sastra : Poma sira | aja anakisaken sifating pangeran saderahing angenangenira anakis(ak)ena sifating pangeran. Anapon kang (tan) kinarsaken dening pangeran tan ana

kajatine, telase iku ta dening tan kinarsaken dening pangeran tan ana pisan iwa mangkana nora luput ing kawruhing pangeran kinawruhan sami pisan tan asifat waliwali, tegese dening lewih mahasucinira langgeng kekel ing karatonira beda lan awangawang ingkang ana kadjatine ika, mapan kang ingaran awangawang iku : netra kalih, sawidji awang-awang kang ana kajatine, kang sawiji kang orana kajatine. Muwah ulatana selaning pitung bumi (selan)ing pitung langit, lan selaning lintang selaning wedini(ng) sagara, lan sajabaning bumi langit, selaning ciptariptaning ati : ikupon ora kapanggih. Tegese iku dening tan (57) kitiarsaken karaning | tan ana pisan.

e Mitraningsun! Jen ana angucapa mengkene : kupur! : “Awangawang iku nora dinadeken” …. kupur ! tegese : angapesaken sifating pangeran. Mengkene salamete : kang tan kinarsaken awangawang kang tan ana kadjatine; kang kinarsaken awangawang kang ana kajatine, mapan sira pangeran andadeken saniskaraning dumadi kabeh saki(ng) nora dadi ana kadi ta reke sira pangeran tan pegat tan asifat wali-wali, utawi andadeken kang alembut lewih le(m)bute saking banyu, (ana) lembute malih geni lewih le(m)bute, ana lewih lembut malih kukus lewih le(m)bute, ana lembut malih angina lewih lembute, ana le(m)but malih antara lewih le(m)bute, ana le(m)but malih dharrah lewih le(m)bute — ana ing jeroning awangawang — ana kang lewih le(m)bute malih (58) sini(m)pen dening pangeran saking purba kaharsaning | pangeran andadeken tan kena dinugeng budi anging kaharsanira dawak kadi ta kang dinadeken sajagat salaksa patang ewu, iwa mangkana iku anereh saking kang (ng)andika nabiyyu’llah (Muhammad al)Mustafa : …… tegese iku ta dening witing dumadi iku witing kanugrahan. Tan ana nabi lewih utama Iyana Nabi Muhammad (al)mustafa kang pina(ng)ka panutup nabi. Iwa mangkana kahananing pangeran kang lewih mahasuci anjateni ing kakasihira, malah inga(na)ken kadi tunggal dening saking seruning sihira jinaten ing sifat-dat-af’alira dadi nir ananira kang jinaten anging kari anane kang anjateni kewala. Mangkana malih anani(ng) wali mu’min kabeh i(ng)kang ananggung titipan kadi ta iman tohid ma’rifat kabeh iku saking kang sih barkat nabiyyu’llah (Muhammad) (al)mustafa dening awiyos kapit ing sihing pangeran lan kang (ng)andika nabi — ‘alaihi ‘lsalam, (59) i(ng)kang | atuduh marga abener — witing kanugrahan iku lewih demite.

e Rijal! Mapan ta reke saderenging ana iku sampun angema ana ingaran ‘adam mumkin.

e Mitraningsun! Mangkana malih sira aningali salwiring dumadi kabeh iki den tunggal ing paningalira tan Iyana kang kadulu kang andsideken kewala.

e Rijal! ikupon maksih serik : tingale ing sampurnane iku ta lamon uwus (s)ima tingale, kantun kang asung awas kewala aningali tiningalan asih sinihan ing piambekira.

e Rijal, mitraningsun! Beda kadi ma’dum sirf ika dene tan kinarsaken, karaning tan ana pisan. e Rijal, mitraningsun! Ana pandita iku kang apaesan ma’dum.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punapa sang siptane puniku?

Mangka anabda Shaich al Bari kang sinukan dening Allah : e Rijal ! Sang siptane udjar iku sambi (60) liwat | sampun kataksisan ing tampa, kewala si iku dening djinaten ing dat-sifat-af’alira dadi kahananingkang sinihan ika kadi nora kadi duk durung ana mangka(na), babatange labete gandane sadidik pon norana kari dening kalindih kaganten kalingan anane deri(ng) kang sadja asih anjateni i(ng)kang amibuhi langgeng kekel asih sinihan ing piambekira. Iku kang papanggeran imam Ghazali saking kang barkat andika rasulu’llah, ‘alaihi (‘lsalat) wa ‘lsalam.

e Mitraningsun! Yata atutur malih imam Ghazali ing i(ng)sun.

Mangka matu(r) Rijal : ya guru amba! Punapa kang pinituturaken ing tuwan ?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Singsapa wruh ing sisimpenan limang parkara iku, ma(ng)ka antuk sisimpenaning nabi wali mu’min kabeh. Muwah singsapa anyecep sisimpenan limang parkara, ma(ng)ka wruh ing (61) jiwaragane yen kandeh kaganten anane dening | wibuhing sih, anani(ng)kang anjateni, dadi syuh sirna jiwaragane tan Iyan anani(ng)kang sadja purba akaharsa langgeng kekel mahasuci, tan owah tan gingsir, tan a(sifat) wali-wali, anging ananira uga kang asih asifat sadja urip wibuh kawasa aningali amiarsa anabda purba langgeng kekel ing karatonira. Miwah singsapa angawikani ananing pangeran, duk sira durung ana sawiji-wiji iki kabeh lawh’ qalam ‘arsh kursi dereng ana awangawang uwunguwung.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptane puniku?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegese iku sang siptaning sampurnaning ma’rifat kadi ta sira tan wikan ing pangeranira utawi ing ananira mangko iki mantep ka’lma’dum, tegese : kadi duk durung ana mangkana tan beda (62) lan saderenge ana lan sawuse ana waluja | mulih maring jatine kadi duk dereng ana, anging kang asifat sadja langgeng kekel mahasuci ratu amengka tan owah tan gingsir, tuwi nora beda ananira saderenging ‘alam lan sawusing ‘alam lan sahananing ‘alam, anging ananira uga kang langgeng kekel maksih ing karatonira tan owah tan gingsir pasti ananira kang asifat suksma wibuh, langgeng mahasuci tanpa tuduhan.

PUPUH XV

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun Ana kecaping wong sasar satengah: “Lam yalid walam Yulad” iku den arani sifating pangeran : ikupon kupur. Apa ta sira pangeran asifata oraora anakanak kalawan kang inganakanakaken puniku kang tan inganakanakaken lungguhe sifating pangeran “Lam yalid walam yulad” iku tegese sifatira mahasuci ora anak-anak, tan inganakanakaken (63) | ora malih awit ora.

Utawi si singsapa angraosi sifating pangeran awiyos ta awit salab, iku kupur, e Rijal, mapan ing(kang) aran salab iku den(ing) awiyos awit sifating pangeran mahasuci : iku salamete.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi kang ingucapaken kadi wirasani(ng) sastra : siptaning Usul punika dhatu‘llah kewala?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Ijaiku sikepi(ng) wong ‘arif : tingale iku dening awiyos karihin aningali kahananing Allah asifat suksma langgeng mahasuci dihin purba akaharsa andadeken, tan awiwitan tan awekasan, tan a(sifat) wali-wali kadi ta sang siptaning wong ‘arif ika Awangawang-uwunguwung mumtani’u ‘lwujud iku kang den karya paesan kadi talapal : (ja’isu) ‘lwujud af’alu (64) ‘llah. Jenenging qadim :) wadjibu ‘lwujud sifatu ‘llah, | ja’isu ‘lwujud af’alu ‘llah, mumtani’u ‘lwujud dhatu ‘llah.

Anapon jenengi(ng) qadim : wajibu ‘lwujud, tegese sifating pangeran pasti sadja ana ing piambekira, mapan ananira nora beda lan saderenging ‘alam lan sawusing ‘alam, langgeng panglilanira tan ovvah tan gingsir ananira (tan owah tan gingsir ananira) kang agesang asifat sadja wibuh sampurna langgeng kekel mahasuci.

Utawi lamun ana akecapa mengkene : kupur! – tegesing wajib sadja iku kupure mapan jenenging wadjib iku lungguhe ing kawula kang sinihan, mapan — sadurunging anani(ng)kang sinihan, kewala si ika pasti ing kawruhing pangeran — sira pangeran kang asifat sadja aken teka ing waqtune dadi anani(ng)kang sinihan teka angestoken yan jenenging qadim wadjibu ‘lwujud (65) sifatu ‘llah sifatira pasti sadja | ana dadining sifate pangestuning ®) sinihan ika kaganten dening sifatu ‘llah.

Mangka matur Rijal : Sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba ! Tegesing ja’isu ‘lwujud af’alu ‘llah kadi punendi?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Tegesing ja’isu ‘lwujud afalu ‘llah pakaryaning wali mu’min kabeh iku pracihnaning sifat pakaryaning pangeran. Anapon jenenging ja’isu ‘lwujud iku jenenging kawula uga, wenang ana wenang ora.

(Mangka) matur Rijal : Kadi punendi wenange ana wenange ora puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Wenange ana iku dene si anane iku mina(ng)ka lantaran (eng)gening mulat ing wujudu ‘llah ing sifatu ‘llah af’alu ‘llah ya’ni yen ana kang andadeken.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba! Tan wenange ta kadi punendi?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tan (66) wenange iku sawusing awasi(ng) | ‘wujudu ‘llah sifatu ‘llah af’alu ‘llah utawi katiga iku kinarja pangilon pangi(n)tipaning nabi wali mu’min kang utama.

(Mangka) matu(r) Rijal : ya guru amba! Tegesing mumtani’u ‘lwudjud dhatu’lHlah kadia punendi?

(Mangka akecap Shaich al Bari) : e Rijal! Tegese iku sang sipta sambi liwat tan dadi wiyosing tingal kang mumtani’ iku, uta(wi) wiyosing tingal puniku dateng kahananing suksma kewala.

e Rijal! Lamun ana manusya akecapa mengkene : “mumtani’ iku den senggeh edat, atawa si edat den aranana mumtani’” — wong iku lah kupur kapir.

Utawi mengkene salamete : Anani(ng)kang sinihan iku jinaten ing dat-sifat-af’alira dadi nir anani(ng)kang jinaten, malah kadi nora dening kandeh kaganten kalingan anane dening wibuhi(ng) sih, ing kahananingkang sadja (67) andjateni kewala | i(ng)kang anampurnaken.

e Rijal! Ija iku kang papa(ng)geran imam Ghazali kang tinutur maring i(ng)sun, mapan norana wong saruparu(pa)ne kang ader(be)ni sikep sisimpenan kadia sipta iku, wong kang pinilih sinelir dening pangeran, wong kang sinung wasil paningale kang kadi kilatlaksanane : iku kang anduweni sipta iku.

e Mitraningsun ! Den sami sira angimanaken ing tuturingsun iki, lan ani(ng)gahana sira kadi sikeping wong sasar ika, mapan angandika imam Ghazali : kawruhana wong sasar iku tekaning akir jaman maksih ana dene si sisyarie masaek titiga ika nora enti dene anobataken dening kalingan sagara gunung iku kang tan wruh gurune yen tinobataken iku kang maksih angaruaru calaculu pangucape iku i(ng)kang amuruk kababaraken ujar sasar tekaning mangke maksih sasar dene (68) si maksih | wite masaek titiga ika sakatahe malih kang anut maksih mangkana uga dadi kapir dene si iku maksih angimanaken ujare gurune. Bahagya temen ingkang abalik, kang anut i(ng)kang (ng)andika imam Ghazali, i(ng)kang katutur ing sastra iki kabeh!

PUPUH XVI

Mangka akecap Shaich al Bari maring mitranira kabeh : e -Mitrani(ng)sun! Den sami tetep sira kabeh ing salat limang waqtu. Kalawan sira asidekaha saleh, asidekaha sirr, asidekaha rahasya.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba ! Kadi punendi ing jero(ning) salat puniku anarika iman atawa nora ?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! yen si anaha : serik salate, yen si norana : kapir.

Ma(ng)ka matur Rijal : sarwia subakti, anuhun ing jeng, ya guru amba! Kadi punendi salamete ing tampa sabda tuwan puniku?

(69) (Mangka akecap Shaich al Bari) e Rijal! | Karaning salating wali mu’min tan serik tan kapir dening kendit anut kang sebut nabiyyu ‘llah, ‘alaihi (‘lsalat) wa ‘lsalam, — iku karaning tan serik tan kapir, mapan reke kang sinebut andika nabiyyu ‘llah : bila tashbih dadi enir anane, kabeh pon norana kari dening jinaten ing dat-sifat-af’alira dadi kandeh kaganten anane dening wibuhing sih, (ing) ananingkang anjateni. Mangkana ta jeroning salati(ng) wali mu’min iki wiyose pon mangkana uga kadi lapal iki sang siptane :

wa ‘li’tiqadi wa ‘limani wa ‘Itauh’idi wa ‘lma’rifati.

e Rijal! Karane lewih sembah-pujine wali mu’min iku den kawruhi sembah-pujine iku yen tansah jinaten ing sih pinurba rineh dadi ulate maring kang (70) amurba angreh ing enggene sirna | dening kandeh kaganten kalingan dening wibuhing sih, ing ananingkang anjateni : mantep sira pangeran langgeng aurip amuji ing piambekira, mapan Allahu ta’ala amuji ing piambekira iku minargaken ing ra(ha)sya, panarimaning manusya njinataken ing kakasihira. Kewala si lisanmg manusya iki darma amalesi, mapan sembah-pujine nora tingale kang maring pangeran iku pasti dudu sajatine wijose kewala si

iku Iwir pawana marg(an)e tulupane : iku salamete kabeh.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi tegesing asidekah saleh?

Ma(ng)ka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing asidekah saleh iku asung(sung) tan ana ‘ngawruhi, angabakti tan ana wikan, mushahadah tan ana pegate.

(Mangka matur Rijal :) Tegesing asidekah sirr kadi punendi ?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! (71) Tegesing asidekah esir iya kang tan pegat asrah | jiwaragane ing pangeran lan kang tan pegat angecani atining wong. Tegesing asidekah rahasya iku iya kang andjateni ing kawruh i(ng)kang sabenere lan asung ngelmi ing wong kang tan ana upayane.

Mangka matu(r) Rijal : sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba ! amba amanggih lapal kadi punika qablakum * dhatu ‘llah ma’akum dhatu ‘llah ba’dakum dhatu ‘llah, kadi punendi — ja tuwanku ! — sang siptaning lapal puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Siptane iku dening tan amilang paekaning sifat malih, mapan saderenging ana i(ng)kang ingandikan iku, anging kahananing Allah kang langge(ng) asifat mahasuci sadja angandika : mo(ng)kono siptane kabeh iku.

e Rijalu‘llah! Sira mitraningsun kang lewih saking mitraningsun kabeh — sangkane sira sunwastani Rijalu’llah, wong lanang ing Allah, dening asanget lampahira lan dening alungid siptanira : (72) iku | tegesing lanang iku.

PUPUH XVII

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba, Shaich al Bari! – kang sinalametaken iman(e) tawh’ide ma’rifate deni(ng) Hyang mahaluhur : Kadi punendi kecapira Shaich Nuriman dateng ing Shaich Atim :

“Tuwan aningali ing Allah” ? ; kecapira Shaich Atim : “Aningali amba ing Allah” ; ma(ng)ka akecap Shaich Nuriman: “Yen tuwan aningali ing Allah, supaya tuwan nora kawasa aningalana wawaneh !”…. kadi punendi sang siptane Shaich Atim punika?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal! Siptane Shaich Atim iku dene si sakatahe kang den piarsa kang den ucap iku awiyos maring pangeran kewala tingale siptane Atim iku, e Rijal, karana wong aningali ing pangeran iku sarta lan pangeran dadi ora aningali ing wawaneh.

Matur malih Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptanipun Shaich Nuriman akecap dateng ing (73) Atim: “Tuwan tiningalan dening pangeran?”; | kecaping Shaich Atim: “Tiningalan ingsun dening pangeran” kecaping Shaich Nuriman: “ya Atim ! lamun tuwan tiningalan dening pangeran, supaya kang wawaneh nora aningali ing tuwan”; akecap Shaich Atim : “Iya kang wawaneh nora aningali ing amba” ma(ng)ka matur Ri jal : kadia punendi sang siptane puniku ?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal! Siptane Atim iku dene si sakatahe kang tumingal iku tan ana waneh ingkang aningalaken tan Ijan sira pangeran kang aningalaken dadi siptane Atim iku maring kang asung tingal kewala sadja langgeng aningali tiningalan anakseni sinaksen angawikani kinawikanan asih sinihan tan Iyan piambekira.

e Rijal !. Siptanira imam Ghazali : tunggal wiyose i(ng)kang aningali pangeran i(ng)kang tiningalan pangeran.

(74) Mangka | matu(r) Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptane puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Ridjal! tegese sipta iku dene syuh sirna paningale ing djagat kabeh dadi siptane iku tan Ijan sira pangeran kewala kang sadja andulu dinulu ing piambekira.

e Rijal, mitraningsun kabeh! Den sami amiarsaha ing tuturingsun iki! Kalawan sapisan ingsun lumampah ing ara-ara iman, suntingali tindakingsun ika sarta lan idining sih nugrahaning pangeran. Sasampun ingsu(n) lumampah ing ara-ara iman, tumindak ingsun ing ara-ara tawh’id ; yata suntingali tindakingsun ika tan katon : kang katingalan deningsun ika kahananing Allah kewala. Sasampun ingsun lumampah ing ara-ara tawh’id, lumampah ingsun ing ara-ara ma’rifat: norana kahananingsun : tingalingsun kang maring pangeran pon nora (75) ana. | Tegese iku dening sampun anunggal tingal dadi nir tingalingsun ika ing tingal tunggal kang tiningal kang sadja andulu dinulu ing pandulunira.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Kadi ta palajaraning wong ‘arif (al’arifu) : “gharaqtu fi bah’ri ‘l’adami” wong ‘arif iku karem ing sagara ora.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba ! Kadi punendi sang siptaning “sagara ora” puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal ! Sang siptane iku patemoning wong ‘arif kang ora iku dening djinaten dadi nir anane, malah kadi duk durung ana mangkana.

e Mitraningsun ! Ora sun kalewihaken i(ng) wong atapa kang kaliwat sangete kasuta(pa)ne, dereng ta ichlas atine.

Sapisan ingsun lumampah kalintang sangete lampahingsun ika ; ing kerejete atiningsun ika mengkene : mangko (76) baya | ingsun teka ing lampah kang lewih.

Mangka ana swara kapiarsa deningsun : “e Shaich al Bari! Lampahira baya kang dinadeken api naraka ika tinampikaken maring anggautanira kabeh”. Singgih ta saking sih patulunging pangeran tan koninga lampahingsun punika.

Yata wonten swara malih maring i(ng)sun : “Ya Shaich al Bari! Mangko baja sira teka ing lampah kang aluhur anglungguhi sira, yan tan lumampah mulih tanpanembah tanpamuji.” Mandaha ta ingsun lumampaha karana (bi)rahi lan ayun kapiarsa apened supaya ingsun tinulan dening pangeran kinen angulatana pangeran wawaneh lan kinen angulatana panutan Ijan saking rasulu’llah, ‘alaihi ‘Isalam.

e Mitraningsun, (ora sun) kalewihaken wong kang (77) aderbeni | kapanditan lan kawruh kang abener, dereng ta ichlas atine. Sapisan ingsun ginaduhan ngelmu kapanditan lan kawruhing masaek, ing kerejete atiningsun ika : mangko baya ingsun ideping hukum kang ewuh ingkang asamar-samar ika.

Yata ana swara kapiarsa deni(ng)sun : “e Shaich alBari! . sira baya kawulaning Allah kang wuta tuli bisu ika.” Saking sih patulunging pangeran tan koninga kawruh lan (ng)elmu kapanditan ika.

Wonten swara malih kapiarsa deningsun : mangko sira linewih dening pangeran alungguh ing kapanditanira malih yan tanpanembah tanpamudji tanpa tingal. Mandaha ta banggi ingsun aderbeni kawruh lan (ng)elmi kapanditan ika, miringa baya ingsun ing dunya lan kalulutana (78) deni(ng) wong, supaya | ingsun ingaranan acacayad dening pangeran dening kalintanglintang sangete bendunira.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal, mitraningsun ! ora sun kalewihaken wong kang aderbeni bangsa ka(ng) kaliwat luhure, i(ng)kang aderbeni kagungan kang kaliwat gunge, dereng ta ichlas atine.

Sapisan ingsun sinungan bangsa aluhur dening pangeran, kalawan kagungan kalintang gungingsun lan deningsu(n) amertani ing wong kasihan: ing kerejete atiningsun ika : Mangko baya ingsun sinung bangsa aluhur kalawan kagungan kang agung iki.

Yata wonten swara kapiarsa deni(ng)sun : “e Shaich al Bari! Sira baya kawulaning Allah kang *ema bahagyaika.” Saki(ng) sihing pangeran tan koninga bangsa kaluhuran ika kalawan (ka)gungan kang agung ika, kang (79) katingalan deningsun ika sih | wilasaning pangeran.

Yata ana swara malih kapiarsa deningsun : e Shaich al Bari! Sira baya kawulaning Allah kang serik ika.

Yata ilang panguningani(ng)sun kang maring pangeran.

Won(ten) swara malih maring ingsun : “ya Shaich al Bari! Mangko (baya) sira alungguh ing bangsanira kang aluhur mulih maring kagunganira malih.”

Yan ta banggi ingsun agungena ing bangsaningsun kalawan kagungan ika supaja ingsun ingaranan munafiq.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Mitraningsun! Den abecik-becik lampahira, den ichlas, sampun kaprikaken sarira, kalawan ing kawruh sampun kadi wong sasar kang pinasti sinasaraken.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadia punendi kang pinasti sinasaraken puniku?

Kang saur Shaich al Bari : e Rijal! kang pinasti sinasaraken iku iya kang akecap: osiki(ng) jiwaraga iki (80) osiking dhatu’llah, kang | akecap : napi Allah itbat iku Allah ; kang akecap : kawula nora pinurba, sira pangeran nora andadeken, nora amurba : iya iku kang* pinasti (sinasaraken) dening Allah, kang kinekelaken ing soring narakaning wong kapir.

e Mitraningsun sadaja! Iki si mitraningsun Rijalu‘llah sundjudjuluki : den tiruha dening mitraningsun kabeh : kang kadi macan tanagane, kang kadi kilat laksanane, kang sunjujuluki urip tan kalawan nyawa, kawasa tan kalawan anggauta, aningali tan kalawan aksi, amiarsa tan kalawan karna.

Mangka matur mitranira kabeh : ya guru amba, Shaich al Bari! Punapa tegese sabda tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Mitraningsun sadaya! Tegesing Rijalu’llah iku : urip sarta lan pangeran, pangawasane Rijalu’llah iku sarta lan pangawasaning (81) Allah, pamiarsane Rijalu’llah iku sarta lan | pamiarsaning Allah, kadi ta* kang sabda baginda Abu Bakr, radiya ‘llahu ‘anhu : ra’aitu rabbi birabbi.

Tegese : wong kang aningali ing pangeran iku sarta lan pangerane : iku salamete ; tegese : telas-telase ta iku kabeh dudu lan deweke. Tegese wirasaningsun iku : lamun ugi lampahe tingale wong iku ora mongkonoa, pasti wong iku salah, kekel soring narakaning wong kapir.

e Mitraningsun! Mangkana malih tingalira iku kabeh sarta kalawan ing sih purba kaharsaning pangeran ugi i(ng)kang anugrahani asung awas ing kawula kang sinihan lan ta sira den alus (ing) tampanira, inglampahira den aturut-turut kalawan ta sira aja aliliwatan aja alilinyokan, aja pranesa karana wong aliliwatan iku mambet ajnjana (82) tur kasariran, wong kang | mongkono iku ora karana Allah karana shaitan : satuhune wong kang mongkono iku angrurusak anggingsir lampahing wong karan(a) Allah. Wong mongkono iku tan kena dera cekela ujare rehing ara-uru tan pegat sinusahaken atine dening pangeran sakatahe malih i(ng)kang anut mangkana uga susahe atine.

e Mitraningsun! Den sami sira akecapa becik-becik kalawan lampahira z’akir batin anuta kang sarengat, andika rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa sallama asih pramuleha sira ing rasulu’llah, ‘alaihi ‘lsalam marganira anampani sih nugrahaning pangeran. Deni(ng) kang sih andika rasulu’llah, ‘alaihi ‘lsalam, sira iki awiyos kapit (83) ing sih, karihin sihing pangeran kalawan | kang sih rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa sallama.

Mitraningsun! Iku titinggalingsun ing sira kang awet poma anak -putunira sami wekasen, sami anuta wirasaning tuturingsun iku kabeh, karana manawa anut ing wuwusi(ng) wong sasar.

e Mitraning(sun) sadaja ! Baula si akeh yen ingsun, tutura sawirasaning sastra iku anging sira den sami awedi ing pangeran. Aja sira salah simpang, sami sira amriha kasidan.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments