Tampilkan postingan dengan label ilmu kebatinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu kebatinan. Tampilkan semua postingan

Ajian Ratu Laut Kidul

Ajian Ratu Laut Kidul mungkin hanya sebuah mitos yang melegenda dikalangan masyarakat. Bahkan Ajian Ratu Laut Kidul diangkat menjadi sebuah film layar lebar di Indonesia tahun 1991 yang disutradarai oleh Naryono Prayitno dengan dibintangi oleh Suzanna dan Clift Sangra.
Ajian Ratu Laut Kidul ada yang menyebutnya Ajian Ratu Pantai Selatan, Ajian ini adalah sebuah keilmuan meminta bantuan sang penguasa laut selatan atau dikenal dengan laut kidul. Ajian Ratu Laut Kidul banyak diburu orang lantaran diharapkan dengan ajian yang satu ini, seseorang sanggup menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi. Ajian Ratu Laut Kidul sebenarnya bertujuan untuk melalap berkah minta doa restu Kanjeng Ratu Kidul sebagai perantaraan permohonan pada Hyang Maha Kuasa. Akan tetapi dalam prakteknya ajian ini banyak disalah gunakan disebabkan banyak faktor, kurangnya pengetahuan, kurangnya pemahaman, lemahnya keimanan dan kalutnya menghadapi permasalahan hidup sehingga tidak bisa menggunakan akal sehat lagi,yang dipikirkan segera menuntaskan problem hidupnya. Ajian Ratu Laut Kidul juga banyak ditopangi oknum paranormal yang hanya memanfaat moment untuk mengeruk suatu keuntungan semata, ajian ini banyak disalahgunakan dengan dalih ilmu pesugihan.

Kunci Rahasia Meditasi


Konsep mengenai Ruh.
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu Ruh atau Jiwa dan Raga atau Badan tempat ruh itu berdiam. Tentunya ini disamping akal pikiran yang telah diberikan Allah kepada manusia.Ruh tidak mengenal kondisi fi sik seperti sakit, berdarah karena perlukaan dsb, sedangkan raga tidak mengenal kondisi ruh yang bersifaat kejiwaan. Tetapi kedua unsur ini saling berkaitan satu sama lainnya, yang menandakan kemanunggalan antara ruh dan raga dari simanusia itu sendiri. Seperti contohnya orang yang sakit-sakitan secara fi sik, maka jiwanya cenderung lebih perasa dsb.
Dalam kondisi normal, ruh dan jiwa mendapatkan bagian yang seimbang.Sehingga upaya untuk meningkatkan kondisi tertentu seperti unsur ruh yang dominan dalam diri manusia, akan memberikan dampak yang supra rasional,seperti menghilangnya sifat material dari raga kita. Sebagai contoh, orang yang telah berhasil meningkatkan unsur ruh yang ada dalam dirinya mendekati titik dominan, maka orang tersebut akan mendapatkan kekebalan dalam artian sifat-sifat raga seperti berdarah, sakit dsb. bisa diminimalisir sedemikian rupa, sehingga unsur raganya sesungguhnya telah tergantikan oleh unsur ruh yang ada pada manusia tersebut.
Ternyata, dengan pengolahan ruh yang sedemikian rupa dalam diri manusia tersebut, disamping meminimalisir gejala raga, juga meningkatkan kadar kepekaan bathin kita. Karena bathin, yang bersemayan dalam ruh manusia, dapat dengan leluasa memanfaatkan indera-indera yang ada dalam raga untuk dapat merasakan atau menangkap gejala-gejala alam secara lebih baik dan sempurna.
Untuk konkritnya mengenai hal ini mari kita lakukan latihan peningkatan unsur ruhani dalam diri manusia dengan metode-metode berikut:

Metode I, penguasaan Ruh dalam diri manusia.
Latihan I : Mencapai ekstase dengan teknik pernafasan dan dzikir.

Ekstase adalah suatu kondisi dimana, kesadaran manusia mulai lepas secara spiritual, dan mulai memasuki kondisi nonmaterialistik.

Cara melatih:
1.Aturlah tubuh pada posisi yang paling rileks dan memungkinkan kita untuk berlama-lama pada posisi tersebut tanpa mengakibatkan efek-efek yang dapat mengganggu jalannya latihan, seperti kesemutan, kram dsb.
2.Mulailah dengan membaca doa-doa perlindungan, untuk muslim dapat membaca Ayat Kursyi, atau membaca doa lainnya menurut yang dipercayai.
3.Mulailah berdzikir Allah... Allah... dengan cara sebagai berikut: Allah yang pertama tarik nafas, Allah yang kedua buang nafas sambil dihentak.
4.Untuk meningkatkan konsentrasi, maka mata dapat ditutup, sambil berdzikir secara lantang.
5.Lakukan selama 5 sampai 10 menit. Ini untuk memasuki tahap ekstase.

Penjelasan:
Teknik pernafasan dengan dzikir ini untuk memaksa raga agar cepat merespon kekondisi ekstase, agar latihan selanjutnya, yaitu memaksimalkan unsur ruh dalam diri kita dapat terlaksana dengan mudah.

Latihan II : memaksimalkan unsur Ruh dalam diri.
Mulai “merasakan” unsur ruh.

Latihan berikut dilakukan segera setelah metode I tadi selesai kita laksanakan.

1.Atur pernafasan agar kembali normal, dan tubuh kembali rileks.
2.Atur tangan kita ditengadahkan keatas seperti hendak berdoa dalam cara Is lam.
3.Tutup mata, sambil merasakan getaran yang sangat halus pada ujungujung jari tangan kita, dimana semakin dirasakan, getaran-getaran tersebut makin menguat seperti aliran setrum yang sangat kecil tetapi dapat kita rasakan. Getaran ini seperti denyut-denyut halus pada pembuluh darah ujung jari kita.
4.Mulailah menarik getaran tersebut kepangkal lengan, pundak, leher, kepala, kemudian jalarkan keseluruh tubuh.
5.Gejala awal yang umumnya terjadi adalah tubuh terasa kebas, baal, atau yang sejenisnya, dimana menandakan sifat raga yang materialistik tersebut mulai tergantikan.
6.Yakinkan dengan mencubit atau menusukkan dengan jarum, atau bahkan melakukan irisan dengan silet pada tubuh kita dimulai dari rambut dan kebagian tubuh lainnya. Bila kita masih merasakan sakit, atau terjadi perlukaan yang mengakibatkan terjadi pendarahan, maka latihan kita belum sempurna, maka ulangilah dari latihan I diatas.
7.Proses diatas bisa saja dihilangkan, bila keyakinan kita dengan menjalarkan getaran tersebut keseluruh tubuh kita anggap telah cukup.

Penjelasan:
Pada latihan ini, sesungguhnya kita sedang mengerjakan proses pemaksimalan unsur ruh yang ada dalam diri manusia. Getaran yang kita rasakan tersebut adalah gejala dimana unsur-unsur materialistik sedang berangsur berkurang, sehingga pada akhirnya unsur ruh menguasai seluruh diri kita.

Tujuan:
Tujuan latihan ini adalah membangkitkan unsur dominan ruh pada diri manusia sehingga tercapai kondisi nonmaterialistik, dimana sifat-sifat raga pada diri mulai tergantikan oleh nilai-nilai ruh. Dengan dapat merasakan unsur ruh, maka kepekaan kita akan meningkat pada titik maksimal, yang nantinya
akan kita pergunakan untuk latihan disesi berikutnya.

Konsep mengenai Aura

Banyak pemahaman mengenai aura ini, tetapi mari kita sederhanakan saja agar sesuai dengan maksud pelatihan kita. Aura bisa diartikan sebagai perbawa, yaitu sifat-sifat manusia yang memang merupakan bawaan sejak kita dilahirkan. Aura seseorang bisa saja dirasakan oleh orang lain tanpa disadari oleh orang tersebut. Sebagai contoh, orang yang sedang marah, maka hawa amarahnya dapat dirasakan oleh orang lain, walaupun orang yang sedang marah tersebut tidak menampakkan ekspresi marah, tetapi hawanya telah membuat orang disekitarnya merasa takut atau enggan. Begitupun orang yang memiliki aura menyejukkan, maka orang-orang yang ada disekitar orang yang
memiliki karakter aura tersebut akan merasa sejuk dan tenang, walaupun orang tersebut tidak berkata-kata atau mengeluarkan senyum sekalipun.

Aura pada kondisi normal, dimana orang tersebut sedang rileks dan tidak dalam suatu kondisi apapun akan dapat menampilkan sifat asli dari orang tersebut, yang memang sesungguhnya bawaan dari sejak lahir. Dengan kombinasi pemaksimalan ruh yang baik, maka kondisi bawaan aura
seseorang dapat dirubah sedemikian rupa hingga memancarkan sifat-sifatAl lah yang baik-baik, yang dapat dirasakan oleh orang lain disekitarnya.

Aura, tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi semua ciptaan Allah memiliki aura. Entah itu benda mati, binatang atau apapun memiliki aura yang berbeda dan bersifat unik satu dengan yang lainnya. Karena keunikannya itulah kita dapat “menggambar” getaran aura yang dimiliki oleh manusia, benda atau makhluk lain bahkan suatu kejadian disuatu lokasi, dengan latihan yang benar tentunya.

Metode I, “merasakan” Aura.
Latihan I : Membaca aura orang lain.
Membaca aura orang lain dapat kita lakukan bilamana kita telah menguasai latihan pada sesi I secara sempurna. Konsepnya adalah dengan dapat merasakan diri sendiri, tentunya merasakan sesuatu diluar diri sendiri menjadi mudah. Merasakan getaran aura orang lain misalnya, dapat saja kita laksanakan bilamana pengaruh kepekaan diri kita telah berhasil kita tingkatkan. Sehingga sekecil apapun getaran yang terasa diluar diri kita dapat terdeteksi secara mudah.

Latihan berikut ini dapat kita pakai untuk dapat membaca sifat-sifat dominan dari orang lain yang memang merupakan sifat bawaan. Untuk memudahkan latihan kita, maka kita dapat menyamakan konsep kita mengenai sifat-sifat yang umumnya dimiliki oleh orang lain, yaitu :

1.Bijaksana - Mutmainah, kita lambangkan dengan warna Kuning, posisinya ada di Jari Jempol tangan dan daerah sekitar Paru-paru. Posisi ini maksudnya adalah ketika kita merasakan aura seseorang, maka getaran aura yang terbesar adalah dari daerah tersebut.
2.Pintar - Mulhimah - Hijau - Jantung atau diatas Perut.
3.Kaya - Aluamah - Hitam - Perut atau Jari Telunjuk Tangan.
4.Berkedudukan - Sufi yah - Putih - Ginjal atau Jari Manis Tangan.
5.Semangat/Ambisius - Amarah - Merah - Hati, telinga atau Jari Kelingking tangan.

Maksud dari menyamakan konsep kita mengenai warna dan aura ini sematamata agar terjadi persamaan pandangan mengenai arti masing-masing warna pada arti aura yang akan menjadi latihan kita nantinya, juga konsep warna itu kita pakai untuk latihan kita pada sesi-sesi selanjutnya.

Cara berlatih :

1.Kerjakan latihan pada Sesi I secara keseluruhan.
2.Kalau tadinya unsur ruh dominan pada seluruh tubuh, kali ini pusatkan getaran ruh kita tersebut hanya pada telapak tangan bagian dalam saja. Ciricirinya adalah telapak tangan kita terasa kebas, baal dsb. yang menandakan konsentrasi ruh kita terpusat pada telapak tangan tersebut, dan juga berarti menunjukkan lokasi kepekaan kita yang paling tinggi.
3.Arahkan telapak tangan kita keseluruh tubuh orang yang akan kita deteksi. Rasakan perbedaan rasa yang ada ditelapak tangan tersebut pada lokasilokasi yang disebutkan diatas.

Tujuan :
Dengan mengkonsentrasikan titik kepekaan ketempat yang terbatas, maka pusat kepekaan dapat kita tingkatkan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.

Latihan 2 : Merasakan aura makhluk gaib yang
ada dipusaka.
Pancaran aura makhluk gaib berbeda dengan aura yang ada dialam kita. Makhluk gaib hampir tidak dapat dirasakan dengan menggunakan kepekaan biasa, tetapi kita mulai mengerahkan seluruh kemampuan indera kita untuk dapat menangkap getaran makhluk gaib tersebut. Yang umumnya terjadi dan dapat kita lakukan untuk latihan kita adalah merasakan debaran jantung yang mengiringi rasa yang diterima oleh sensor kita, seperti telapak tangan contohnya. Debaran ini bahkan biasanya diikuti dengan terbangunnya bulu-bulu disekitar daerah sensor kita. Umpama bila kita menggunakan telapak tangan untuk mendeteksi keberadaannya, maka bulu-bulu disekitar tangan akan bangun/merinding, diikuti dengan debaran jantung yang meningkat secara tiba-tiba.

Cara latihan :

1.Lakukan latihan seperti pada sesi I & II.
2.Arahkan sensor kita, dalam hal ini telapak tangan, pada pusaka yang hendak kita deteksi.
3.Tutup mata, untuk meningkatkan kepekaan rasa kita, dan rasakan bagaimana getaran dan detak jantung yang tiba-tiba meningkat diikuti merinding/ bangunnya bulu-bulu disekitar tangan kita.
4.Bila kita merasakan sensasi atau fenomena tertentu segera buka mata kita.Untuk muslim segera membaca Istighfar, untuk non muslim bisa segera menahan nafas untuk beberapa saat.

Tujuan :
Pada latihan ini, kita belajar mendeteksi aura dari makhluk gaib dimana manfaat pusaka tersebut dapat kita ketahui berdasar arti/warna yang terdeteksi.

Meningkatkan kualitas kepekaan dengan dzikir atau cara lain.

Kualitas kepekaan dapat terus kita tingkatkan dengan berlatih secara rutin dan terus menerus, maupun dengan menggunakan cara-cara khusus. Cara-cara khusus yang dimaksud adalah suatu metode untuk meningkatkan kualitas kepekaan maupun kadar kemampuan bathin dalam mengolah getaran yang diterima.

Meningkatkan kualitas kepekaan, berarti akan memudahkan kita untuk mengikuti kelas pelatihan berikutnya, sehingga sesi ini dianggap penting untuk dapat dilaksanakan oleh seluruh peserta pelatihan.


Metode I : Meningkatkan kepekaan dengan
berdzikir.
Dzikir dipercaya dapat meningkatkan kualitas keimanan kita, orang yang suka berdzikir secara istiqomah, terus menerus dan rutin dikerjakan, dipercaya akan memperoleh hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa pengetahuan yang tersembunyi. Berdzikir tentunya harus dimulai dengan niat. Niat disini menentukan hikmah yang ingin kita dapatkan. Dzikir yang biasanya dibaca untuk meningkatkan kepekaan adalah membaca dzikir Hawqollah yaitu: La Hawla Walaa Quwwaata Illa Billaahil Aliyyul
Adzhiim.

Mengenai jumlahnya tidak ditentukan, selama mengikuti pelatihan ini, sekiranya dapat, maka bacalah dzikir ini diwaktu senggang, setelah sholat, atau memang meluangkan waktu khusus untuk membacanya, seperti setelah selesai sholat tengah malam, misalnya. Bacalah sebanyak yang kita mampu, jangan meneruskan bacaan bilamana hati kita sudah mulai berkurang keikhlasannya, dan selalu memulai dzikiran ini dengan niat. Niat yang dibaca disarankan sebagai berikut :

Ya Allah, dzikirku ini untuk meningkatkan iman dan taqwaku kepada Mu,
juga berikanlah aku hikmah berupa pengetahuan yang gaib.

Metode II : Mengerjakan latihan ditempat
terbuka.
Bagi yang biasa mengerjakan latihan-latihan pada sesi sebelumnya, tentunya kita mengerjakan ditempat tertutup atau dalam bangunan. Entah itu dikamar kita, dimasjid atau musholla, atau tempat lain yang memang tertutup, maka membiasakan mengerjakan latihan ditempat terbuka seperti dihalaman rumah, pegunungan, pantai, ditengah lautan atau tempat-tempat lain yang intinya ditempat atau alam terbuka. Kegiatan tirakatan yang biasa dikerjakan ditempat kami merupakan cara yang efektif untuk melatih peningkatan kualitas kepekaan kita. Karena kegiatan tirakatan tersebut biasanya diadakan ditempat/alam terbuka, dan dalam kondisi yang cukup ekstreem seperti dingin yang sangat atau panas yang cukup.

Tujuan :
Kegiatan latihan yang kita kerjakan diluar ruangan, khususnya di alam terbuka akan merangsang radar kepekaan kita ketingkat yang lebih tinggi. Alam terbuka mengandung jutaan getaran yang berbeda, dimana bathin kita secara otomatis akan terlatih untuk memisahkan getaran-getaran yang kita tangkap tersebut kebentuk pengetahuan yang berguna untuk kita.

Penutup
Melatih kepekaan rasa, merupakan dasar untuk meningkat ke pelatihanpelatihan kita selanjutnya. Dengan kepekaan rasa yang cukup, kita dapat mengetahui, menganalisa, dan memanfaatkan informasi yang kita dapat dari penginderaan/pendeteksian berdasar kepada kepekaan bathin yang kita miliki. Setelah pelatihan ini, para peserta pelatihan diharapkan dapat melakukan pendeteksian atas keberadaan benda-benda, keberadaan makhluk gaib, aura/ perbawa yang dominan pada seseorang, maupun mengetahui manfaat pusaka. Bahkan hal-hal lain yang tanpa kita sadari telah kita peroleh, yang semata-mata karena rahmat yang kita terima dari Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi perlu disadari, bahwa kemampuan yang kita miliki ini haruslah kita pergunakan untuk hal-hal yang baik, serta tidak bertentangan dengan kaidah agama, serta harus jauh dari kemungkinan untuk bersifat fi tnah, syirik apalagi murtad kepada agama yang kita anut. Semua ini harus disadari sebagai upaya kita untuk meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelatihan kepekaan rasa ini masih jauh dari selesai. Karena setelah rasa maka kita dapat meningkat kepelatihan kepekaan gerak, asa/hati, menyalurkan kehendak dst. sehingga apa yang kita harapkan dari pelatihan kepekaan ini dapat kita peroleh secara maksimal.

Sering-seringlah berdiskusi dengan pelatih, untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Juga, banyaklah berlatih secara konsisten dan terus menerus. Memperbanyak dzikir, secara signifi kan akan memberikan dampak yang luar biasa kepada kepekaan kita, disamping tentunya meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kakang Kawah Adhi Ari-ari


Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari menjaga si bayi mulai masih berujud janin
hingga sampai akhir hayat. (karya Herjaka HS)
Serat Primbon Kejawen

Kakang Kawah Adhi Ari-ari
Diantara sembilan saudara yang menyertai kelahiran jabang bayi, Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari adalah yang paling dikenal. Kedua saudara ini selalu disebut pada saat doa permohonan bagi si bayi tersebut, bahkan hingga sampai dewasa, menikah dan sampai menjadi orangtua.
Kakang Kawah. Disebut kakang karena lahir lebih dahulu dari jabang bayi. Kawah adalah banyu kawah. Wujudnya air, fungsinya membasahi dan membuat licin vagina, agar jabang bayi yang akan keluar lewat jalan tersebut dapat lancar, dan kulit bayi yang masih halus sekali tidak luka karenanya. Oleh karena perannya menyiapkan dan membuka jalan untuk kelahiran, maka kemudian banyu kawah tersebut diadakan keberadaannya dan dianggap sebagai saudara tua dari si bayi, dengan sebutan Kakang Kawah. Dalam kehidupan selanjutnya, Kakang Kawah didudukan sebagai kepanjangan Tangan Tuhan yang dapat disambat-sebuti atau dimintai pertolongan untuk membantu memecahkan persoalan-persoalan kehidupan.
Pada saat proses kelahiran berlangsung, si ibu yang melahirkan membutuhkan kain jarit untuk dipakai sebagai alas untuk menampung air dan darah yang keluar dari vagina si ibu. Kain jarit tersebut dinamakan kopohan, arti kata kopoh atau basah.
Setelah selesai proses kelahiran, kain Kopohan ini dicuci, yang mencuci diberi upah uang lalu disimpan, tidak boleh dipakai harian, kecuali jika si bayi sedang sakit, kain Kopohan tersebut dapat di selimutkan si bayi. Atau dipakai besuk kalau si ibu mempunyai anak lagi.
Adhi Ari-Ari. disebut Adhi karena lahirnya menyusul setelah jabang bayi. Ari-ari adalah gumpalan daging lunak, yang sebelumya menjadi tempat jabang bayi.tumbuh dari janin hingga menjadi bayi. Ketika tiba saatnya kelahiran, bayi tersebut lahir keluar diikutti oleh Ari-ari. Antara Bayi dan Ari-ari digandengkan oleh tali pusar. Jika proses kelahirannya di rumah dan ditangani oleh Dukun Bayi atau semacam bidan tradisional, tali pusar tersebut dipotong dengan menggunakan welat, yaitu kulit bambu hitam dan dilandasi dengan kunyit.
Setelah pemotongan tali pusar, ari-ari tersebut dirumat, diopeni, dirawat khusus, ditempatkan dalam kendhil baru dari tanah liat yang di beri alas daun senthe. Setelah ari-ari dimasukan, di atasnya diberi: kembang boreh, minyak wangi, kunir bekas untuk alas memotong tali pusar, welat alat pemotong tali pusar, tulisan Jawa, Arab, Latin, uang sagobang, garam, jarum, jahit, benang, gereh, pethek, gantal, dan kemiri. Barang-barang tersebut setelah dimasukkan ke dalam kendhil dan kemudian ditutup rapat dengan cowek tanah liat, lalu dibungkus kain mori putih.
Pada umumnya ari-ari tersebut di tanam di tanah pada pintu utama rumah sebelah kanan. Sebaiknya yang melakukan adalah bapaknya si bayi dengan pakaian Jawa lengkap dengan memakai keris.
Ada ari ari yang tidak ditanam, tetapi dilabuh di sungai. Ada lagi yang digantungkan di pojok rumah sebelah luar. Setelah sibayi besar, Ari-ari yang digantung tersebut dilabuh di sungai oleh sibayi yang sudah menjadi besar.
Oleh karena perannya yang pokok, mulai dari pertumbuhan janin hingga menjadi bentuk bayi secara utuh, Ari-ari tersebut dianggap sebagai saudara muda dari si bayi dengan sebutan Adhi Ari-ari. Seperti juga Kakang Kawah, Adhi Ari-ari ini dalam kehidupan jabang bayi selanjutnya, didudukan sebagai kepanjangan Tangan Tuhan yang dapat disambat-sebuti atau dimintai pertolongan untuk membantu memecahkan persoalan-persoalan kehidupan.
Pada peringatan weton atau hari dan pasaran kelahiran si bayi, yang terjadi setiap 35 hari atau selapan, si jabang bayi dibuatkan jenang among-among. Jenang among-among tersebut dimaksudkan sebagai ucapan syukur atas keselamatan si bayi dan untuk ngemong-mongi atau memelihara dan menjaga si jabang bayi selanjutnya. Yang disambat-sebuti adalah Tuhan, namun dikarenakan Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari adalah kepanjangan tangan-Nya maka Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari berada dalam wilayah karya penjagaan Tuhan terhadap si bayi. Bahkan sebagai saudara hubungan antara si bayi dengan Kakang Kawah serta Adhi Ari-ari lebih akrab, seperti permohonan yang diucapkan pada saat membuat jenang among-among :
"Kakang Kawah Adhi Ari-ari,
jaganen aku sadina sawengi,
supaya slamet tumeka awakku,
sluman-slumun slamet
tan kena bebaya saka kersaning Allah"
Kakang Kawah dan adhi ari-ari ini dalam ilmu kasepuhan bisa didaya gunakan dalam membantu permasalahan hidup,karena mereka ada dalam diri kita masing-masing maka jika saudaranya meminta bantuan tentunya mereka akan membantu apa yang menjadi keinginan saudaranya. Ada pula yang menyebut Qorin/Khodam Pendamping/Perewangan Urip/dsb,namun yang perlu diketahui Kakang Kawah Adhi Ari-ari adalah saudara/pendamping ghaib anugerah Ilahi yang sudah diberikan pada kita guna mendampingi, menjaga, melantari permohonan / permintaan kita pada Sang Hyang Maha Kuasa agar segera terwujud. Dengan Kunci Ilmu tertentu saudara ghaib ini bisa mampu membantu menyelesaikan permasalahan hidup baik urusan jodoh,rezeki,cinta asmara,keselamatan,bahkan sampai urusan kekayaan/membantu melunasi hutang yang menumpuk agar terselesaikan. Jarang seseorang dijazaman modern ini mengetahui/memiliki keilmuan dalam membangkitkan potensi saudara ghaib anugerah Allah SWT tersebut. Bahkan Paranormal belumlah lengkap/sempurna ilmunya jika belum menguasai ilmu Kakang Kawah Adhi ari-ari.Salah satunya diantara tempat /perguruan yang terpercaya dalam Pengijazahan Kunci Ilmu Kakang Kawah Adhi Ari-ari adalah Indo Pesugihan yang dikhususkan pengijazahannya untuk urusan rezeki yakni meraih Pesugihan Putih dengan perantaraan saudara ghaib "Kakang Kawah adhi Ari-ari" untuk mendongkrak kesuksesan,kemakmuran,terbebas dari masalah keuangan,dsb.Sebenarnya Program tersebut bukan hanya untuk masalah rezeki aja bila urusan tersebut terselesaikan maka potensi itu bisa ditingkatkan untuk perlindungan ghaib,pemagaran ghaib,pelet pengasihan,dll.
Sumber:Herjaka HS(www.tembi.org/primbon) dan Mas Han(www.susuhangin.com)

Sedulur Papat Limo Pancer


Orang jawa tradisional percaya akan eksistensi sedulur papat/saudara empat yg selalu mendampingi seseorang dimana saja dan kapan saja selama orang itu masih hidup. Meraka memang ditugas oleh kekausaan alam untuk selalu setia membantu. Mereka tidak mempunyai badan jasmani tetapi ada baiknya dan kamu juga harus mempunyai hubungan baik dengan mereka. Adapun yang disebut sedulur papat adalah:
1. KAKANG KAWAH: saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya d timur warnanya putih
2. ADI ARI-ARI: adik ari-ari, dia keluar dari gua garba ibu setelah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning
3. GETIH: darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah
4. PUSER: pusar yang dipotong sesudah kelahiran mu, tempatnya di utara warnanya hitam Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah kelima pancer itulah badan jasmani kamu.

Merekalah yang disebut sedulur papat kelima pancer, mereka ada karena kamu ada. Sementara orang mengatakan mereka kiblat papat lima tengah (empat jurusan yang kelima di tengah). Mereka berlima di lahirkan melalui ibu. Mereka itu adalah MAR dan MARTI, berbentuk udara. MAR adalah udara yang di hasilkan karena perjuangan ibu saat melahirkan bayi sedangkan MARTI adalah udara yang merupakan rasa ibu sesudah selamat melahirkan si jabang bayi. Secara mistis MAR dan MARTI ini warnanya putih dan kuning. Kamu bisa minta bantuan MAR dan MARTI setelah kamu melakukan tapa brata (laku spiritual yang sesungguhnya)
Dalam pemikiran Jawa pengertian Sedulur Papat Limo Pancer (Empat Saudara dan Yang Kelima Tengah) mempunyai pengertian yang terus berkembang dari zaman pra-Islam hingga zaman Islam.
Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar Alam Semesta (makrokosmos). Saudara yang empat yang ada di jagad besar itu adalah empat kiblat yang ada yaitu timur, selatan, barat dan utara. Ditambah saudara pancer yaitu tengah dimana diri manusia itu berada.
Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah) dan puser (tali plasenta). Sedangkan yang kelima pancernya adalah diri manusianya itu sendiri.
Dari pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai selain sebagai empat kiblat juga kemudian dimaknai sebagai unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat anasir ini adalah bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri.
Bagi orang Jawa semua ’sedulur’ tadi harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan ‘bancaan’ atau tumpengan. Mereka semua dianggap ‘pamomong’ atau penjaga manusia. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan”. Artinya : “saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku ( air ketuban, ari-ari, darah kelahiran, tali plasenta,dan ruh/jiwa ), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta ), yang terawat maupun yang tidak terawat”.
Namun pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ( ?) kemudian ditambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. Yaitu empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau ‘alam rahsa / sirr’. Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah.
Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia. Yaitu keinginan untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama, dll. Dikatakan bahwa nafsu aluama ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia.
Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dll. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong).
Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, rasa marah, emosi dll. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas / api yang menjadi pembentuk jasad mansia.
Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia.
Untuk penyebutan unsur kelima pancer ada bermacam-macam penafsiran. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang mengartikan sebagai ‘guru sejati’, ada yang menyebut ‘roso jati sejatining roso’ (rasa sejati, sejatinya rasa). Intinya saudara pancer yang kelima itu adalah unsur ’super ego’ yang menjadi sumber nilai bagi manusia. Dalam hal ini penulis cenderung mengartikan sebagai “bashiroh” yaitu mata hati yang bersumber dari kesejatian ‘min Ruhi’ yang dianugerahkan oleh ilahi.
Keempat nafsu yang ada harus ‘dirawat’, diatur, diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan hidayah ilahi. Itulah makna dari ‘angaweruhi’ (merawat) sedulur papat limo pancer.
Namun bagi saya, pemaknaan yang konfrenhensif yang melibatkan macam-macam pengertian yang ada itulah yang harus kita hayati. Yaitu mengakui dan menyelaraskan diri kita (mikrokosmos) sebagai bagian dari jagad besar (makrokosmos) dan sekaligus pengendalian diri kita atas nafsu-nafsu kita dibawah akal dan dalam ‘pituduh’ (petunjuk / hidayah) ilahi.

Kakang Kawah Adi Ari-Ari atau Sedulur Papat Lima Pancer
Pancer itu diibaratkan diri sendiri, Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil. Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan. Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi. Dalam adat dan ajaran jawa dikenal istilah 'SEDULUR PAPAT KELIMA PANCER' PANCER adalah diri kita.. setiap manusia mempunyai empat saudara ketika masih berupa janin. meraka menjaga pertumbuhan manusia didalam kandungan Ibu. Anak pertama yaitu KETUBAN atau KAWAH, ketika Ibu melahirkan yang pertama keluar adalah ketuban karena itu dianggap sebagai Saudara Tua. Setelah itu saudara kandung yang lebih muda yaitu ARI-ARI, Tembuni atau Plasenta pembungkus janin dalam rahim. ARI-ARI memayungi tindakan sang janin dalam perut Ibu yang mengantarkan sampai ke tujuan yaitu ikut keluar bersama sang bayi. Berikutnya DARAH inipun saudara sang janin, tanpa adanya darah janin bukan saja tak bisa tumbuh tapi juga akan mengalami keguguran. Saudara berikutnya yaitu PUSAR ia sebagai sarana yang menghantarkan zat makanan dari sang ibu kepada janin. Umumnya orang menganggap bahwa KETUBAN, ARI-ARI, DARAH dan TALI PUSAR adalah wahana atau alat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dalam perut. Begitu bayi dilahirkan semua itu akan dianggap tidak berfungsi lagi dan tak ada sangkut pautnya dalam kehidupan... dan yang demikian ini merupakan pandangan Materialistik padahal begitu besar maknanya dan pengertiannya bila dilihat dari sudut Metafisik. Saudara kita itulah yang menjaga kita dalam kehidupan ini yang kembali ke anasir bumi, air , udara dan api hanyalah ke empat jasadnya. namun dari segi spiritualnya masih menyertai kehidupan. “Sedulur papat” yang sering disebut “Kakang Pembarep/Kakang Kawah, Adi Ari-ari/Adi Wuragil”. Pemahaman mengenai Empat saudara (kanda) dan satu musuh (kala) yang menemani pribadi sesorang sepanjang perjalanan hidupnya adalah refleksi dari metamofosis Dewa (kekuatan Hyang Widhi) yang datang pada peristiwa kelahiran manusia. Menurut pemahaman kami, Dewa adalah perwujudan Kekuatan Hyang Widhi. Dewa Kala adalah ego manusia. Sedangkan empat saudara penolong Manusia adalah Dewi Uma, Dewa Iswara, Dewa Brahma dan Dewa Mahadewa. Dalam Layang Joyoboyo disebutkan,ketika janin mau masuk umur delapan bulan dalam kandungan, Gusti mengeluarkan kuasanya mencipta asal-usul saudara empat : 1.Darah Putih, artinya Belas-Kasih. 2.Bungkus, artinya yang membuat kekuatan. 3.Ari-ari (placenta) yang menjaga sukma. 4.Darah Merah, yang melawan kondisi berbahaya.

Simbolisasi sedulur papat limo pancer dalam perwayangan
Semar sebagai pamomong keturunan Sapta arga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).
Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.
Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras.
Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya.
Ingin menguasai keilmuan ini secara pratis, mudah, aman, dan materi langsung praktek silahkan klik disini
Sumber : indo ghaib/kompasiana.com/mailing List yahoogroups.com

RAHASIA ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu dengan-NYA?
Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. Dalam prakteknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa.
Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.
1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.
2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.
3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.
4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.
Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:
1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;
2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;
3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.
TIGA TAHAP BERDZIKIR
Ada tiga tahap adab berdzikir. Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.
Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:
1. Bertaubat kepada Allah SWT
2. Mandi atau mengambil air wudhu
3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir
4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah
5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW
Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:
1. Duduk bersila di tempat yang suci
2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
3. Membuat bau harum di tempat zikir
4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian
5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi
6. Pejamkan mata
7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan
8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi
9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir
10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH
11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH
12. Meniadakan wujud lain selain Allah.
Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:
1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat
2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula
3. Menahan diri untuk minum air
Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:
1. BERTAPA (Uzlah). Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.
2. NGAWULO (Mengabdi). Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.
3. AMAL SHOLDAQOH. Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.
Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia).
Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya. Wa salam.

Ritual Banca'kan Weton


TATA CARA BANCAK'AN WETON

Bancak'an weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Dalam tradisi Jawa, seseorang harus dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, biasanya dilakukan bancakan weton selama 7 kali berturut-turut, artinya sekali bancakan setiap 35 hari, selama 7 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCA'KAN

Manfaat dan tujuan banca'kan weton adalah untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif, sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative, dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini, pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain, ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Apapun reaksinya, kiranya saya tetap perlu sekali menjelaskan siapa jati diri sang pamomong ini agar supaya para pembaca yang budiman yang memiliki antusiasme akan luasnya bentang sayap keilmuan, dan secara dinamis berusaha menggapai kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Pamomong, atau sing momong, adalah esensi energy yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing dan mengasuh diri kita kepada sesuatu yang tepat, pas dan pener dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Esensi energy dapat dirasakan bagaikan medan listrik, yang mudah dirasakan tetapi sulit dilihat dengan mata wadag. Jika eksistensi listrik dipercaya ada, karena bisa dirasakan dan dibuktikan secara ilmiah. Sementara itu eksistensi pamomong sejauh ini memang bisa dirasakan, dan bagi masyarakat yang masih awam pembuktiannya masih terbatas pada prinsip-prinsip silogisme setelah menyaksikan dan mersakan realitas empiris. Pamomong diakui eksistensinya setelah melalui proses konklusi dari pengalaman unik (unique experience) yang berulang terjadi pada diri sendiri dan yang dialami banyakan orang. Lain halnya bagi sebagian masyarakat yang pencapaian spiritualitasnya sudah memadai dapat pembuktiannya tidak hanya sekedar merasakan saja, namun dapat menyaksikan atau melihat dengan jelas siapa sejatinya sang pamomong masing-masing diri kita. Dalam pembahasan khusus suatu waktu akan saya uraikan secara detail mengenai jati diri sang Pamomong.

TATACARA WETONAN

Perhatikan "Sate" di pucuk tumpengSetiap anak baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali biasanya pada saat usia bayi menginjak hari ke 35 (selapan hari). Bancakan weton dapat dilaksanakan tepat pada acara upacara selapanan atau selamatan ulang weton yang pertama kali. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih berkualitas atau bermutu, lebih hati-hati, tidak liar dan ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Bahkan seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh hingga berdarah-darah, nakal bukan kepalang, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Dalam beberapa kasus saya menyaksikan sendiri seorang anak sakit panas, sudah di bawa periksa dokter tetap belum ada tanda-tanda sembuh, lalu setelah dibikinkan bancakan weton hanya selang 2 jam sakit demannya langsung sembuh. Inilah sekelumit contoh yang sering saya lihat dengan mata kepala sendiri persoalan di seputar bancakan weton. Masih banyak lagi yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin para pembaca yang budiman memiliki banyak pengalaman spiritual di seputar soal weton, saya berharap anda berkenan untuk berbagi kisah di sini agar bermanfaat bagi kita semua. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan paparkan secara singkat uborampe untuk membuat bancakan weton.

BAHAN-BAHAN

1. Tujuh macam sayuran : kacang panjang dan kangkung (harus ada), kubis, kecambah/tauge yang panjang, wortel, daun kenikir, bayam, dll bebas memilih yang penting jumlahnya ada 7 macam. Seluruh sayuran direbus sampai masak, tetapi jangan sampai mlonyoh, atau terlalu matang. Agar tidak mlonyoh, setelah diangkat langsung disiram dengan air es atau cukup disiram air dingin biasa, sehingga sayuran masih tampak hijau segar tetapi sudah matang.

Banca'kan weton

Maknanya ; 7 macam sayur, tuju atau (Jawa; pitu), yakni mengandung sinergisme harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Kacang panjang dan kangkung tidak boleh dipotong-potong, biarkan saja memanjang apa adanya. Maknanya adalah doa panjang rejeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.

2. Telur ayam (bebas telur ayam apa saja). Jumlah telur bisa 7, 11, atau 17 butir anda bebas menentukannya. Telur ayam direbus lalu dikupas kulitnya.

Maknanya ; jumlah telur 7 (pitu), 11 (sewelas), 17 (pitulas) bermaksud sebagai doa agar mendapatkan pitulungan (7), atau kawelasan (11), atau pitulungan dan kawelasan (17).

3. Bumbu urap atau gudangan. Jika yang diberi bancakan weton masih usia kanak-kanak sampai usia sewindu (8 tahun) bumbunya tidak pedas. Usia lebih dari 8 tahun bumbu urap/gudangannya pedas. Bumbu gudangan terdiri : kelapa agak muda diparut. Diberi bumbu masak sbb : bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, laos, daun jeruk purut, sereh, gula merah dan garam secukupnya. Kalau bumbu pedas tinggal menambah cabe secukupnya. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

Maknanya : bumbu pedas menandakan bahwa seseorang sudah berada pada rentang kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang penuh manis, pahit, dan getir. Hal ini melambangkan falsafah Jawa yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan kedewasaan anak harus dimulai sejak dini. Pada saat anak usia lewat sewindu sudah harus belajar tentang kehidupan yangs sesungguhnya. Karena usia segitu adalah usia yang paling efektif untuk sosialisasi, agar kelak menjadi orang yang pinunjul, mumpuni, perilaku utama, bermartabat dan bermanfaat bagi sesama manusia, seluruh makhluk, lingkungan alamnya.

4. Empat macam polo-poloan. Terdiri dari; 1) polo gumantung (umbi yang tergantung di pohon misalnya; pepaya), 2) polo kependem (tertaman dalam tanah) misalnya telo (singkong), 3) polo rambat atau yang merambat misalnya ubi jalar. 4) kacang-kacangan bisa diwakili dengan kacang tanah. Semuanya direbus kecuali papaya. Papaya boleh utuh atau separoh/sepotong saja.

Bubur 7 Rupa, buah-buahan & jajanan pasar

5. Nasi Tumpeng Putih. Beras dimasak (nasi) untuk membuat tumpeng. Perkirakan mencukupi untuk minimal 7 porsi. Sukur lebih banyak misalnya untuk 11 atau 17 porsi. Setelah nasi tumpeng selesai dibuat dan di doakan, lalu dimakan bersama sekeluarga dan para tetangga. Jumlah minimal orang yang makan usahakan 7 orang, semakin banyak semakin baik, misalnya 11 orang, 17 orang. Porsi nasi tumpeng boleh dibagi-bagikan ke para tetangga anda.

Maknanya, dimakan 7 orang dengan harapan mendapat pitulungan yang berlipat tujuh. Jika 11 orang, berharap mendapat kawelasan yang berlipat sebelas. 17 berharap mendapat pitulungan lan kawelasan berlipat 17. Namun hal ini hanya sebagai harapan saja, perkara terkabul atau tidak hal itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan.

6. Alat-alat kelengkapan : 1) daun pisang secukupnya, digunakan sebagai alas tumpeng (lihat gambar). 2) kalo (saringan santan) harus yang baru atau belum pernah digunakan. 3) cobek tanah liat yang baru atau belum pernah digunakan. Cara menggunakannya lihat dalam gambar.

7. Makanan jajan pasar. Terdiri dari makanan tradisional yang ada di pasar. Misalnya makanan terbuat dari ketan; wajik, jadah, awug, puthu, lemper dll. Makanan yang terbuat dari beras ; apem, cucur, mandra. Serta dilengkapi buah-buahan yang ditemui di pasar seperti salak, rambutan, manggis, mangga, kedondong, pisang. Semuanya dibeli secukupnya saja, jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Maknanya ; kesehatan, rejeki, keselamatan, supaya selalu lengket, menyertai kemanapun pergi, dan dimanapun berada.

8. Kembang setaman (terdiri dari ; mawar merah, mawar putih, kantil, melati, kenanga).

Kembang Setaman

Maknanya : kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri. Misalnya bunga mawar ; awar-awar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati, melat-melat ing ati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan sangkan paraning dumadi. Kanthil supaya tansah kumanthil, hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.

9. Uang Logam (koin) Rp.100 atau 500, atau 1000. (Cara menyajikan lihat gambar).

10. Bubur 7 rupa : bahan dasar bubur putih atau gurih (santan dan garam) dan bubur merah atau bubur manis (ditambah gula jawa dan garam secukupnya). Selanjutnya dibuat menjadi 7 macam kombinasi; bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, putih silang merah, bubur putih tumpang merah, merah tumpang putih, baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya).

Maknanya : bubur merah adalah lambang ibu. Bubur putih lambang ayah. Lalu terjadi hubungan silang menyilang, timbal-balik, dan keluarlah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Hal ini menyiratkan ilmu sangkan, asal mula kita. Menjadi pepeling agar jangan sampai kita menghianati ortu, menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

bubur 7 rupa

bubur 7 rupa

Perhatikan Kalo & Daun Pisang

11. Membuat teh tubruk dan kopi tubruk. Di tambah rujak degan (klamud) menggunakan air kelapa ditambah gula merah dan garam secukupnya. Sajikan dalam gelas atau cangkir tetapi jangan ditutup.

FILE0217

CARA MENYAJIKAN

1. Buatlah “sate” terdiri dari (urutkan dari bawah); cabe merah (posisi horizontal), bawang merah, telur rebus utuh dikupas kulitnya (posisi vertical), dan cabe merah posisi vertical (lihat dalam gambar). “Sate” ditancapkan di pucuk tumpeng.

Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

2. Nasi tumpeng dicetak kerucut besar di bawah runcing di bagian atas. Tumpeng letakkan tepat di tengah-tengah kalo.

Maknanya ; nasi tumpeng sebagai wujud doa, sekaligus keadaan di dunia ini. Segala macam dan ragam yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Yang Satu. Dilambangkan sebagai tumpeng berbentuk kerucut di atas. Makna lainnya bahwa segala macam doa merupakan upaya sinergisme kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, di bagian bawah tumpeng bentuknya lebar dan besar, semakin ke atas semakin kerucut hingga bertemu dalam satu titik. Satu titik itu menjadi pucuk atau penyebab dari segala yang ada (causa prima) melambangkan eksistensi Tuhan sebagai episentrum dari segala episentrum.

3. Tujuh macam sayur ditata mengelilingi tumpeng serta bumbu gudangan/urap diletakkan di antaranya. Makna 7 macam sayur sudah saya ungkapkan di atas. Sayur di tata mengelilingi tumpeng. Tumpeng sebagai pusatnya energy ada di tengah. Energy diisi dengan segala hal yang positif seperti harmonisasi symbol angka 7 (nyuwun pitulungan).

4. Telur rebus boleh utuh atau dibelah menjadi dua, ditata mengelilingi nasi tumpeng (lihat gambar).

Maknanya : telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup. dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro ke IV, telur melambangkan proses meretasnya kesadaran ragawi (sembah raga) menjadi kesadaran ruhani (sembah jiwa). Dua kesadaran itu akan menghantarkan menjadi menusia yang sejati (sebagai kiasan dari proses menetas menjadi anak ayam). Dalam cerita pewayangan telur juga melambangkan proses terjadinya dunia ini. Kuning telur sebagai perlambang dari cahya sejati (manik maya), putih telur sebagai rasa sejati (teja maya). Keduanya ambabar jati menjadi Kyai Semar. Dengan perlambang telur, kita diharapkan selalu eling sangkan (ingat asal muasal), menghargai dan memahami eksistensi sang Guru Sejati kita yang tidak lain adalah sukma sejati yang dilimput oleh rasa sejati dan disinari sang cahya sejati. Inilah unsur Tuhan yang ada dalam diri kita. Dan yang paling dekat; adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan (jauh tanpa jarak, dekat tanpa bersentuhan). Lebih dekat dari urat leher. Inilah salah satu sang Pamomong yang kita hargai eksistensinya melalui bancakan weton.

5. Kalo diletakkan di atas cobek (kalo dialasi dengan cobek).

Maknanya : Cobek merupakan makna dari bumi (tanah) tempak kita berpijak. Nasi tumpeng dan segala isinya yang diletakkan dalam kalo jika tidak dialasi cobek bisa terguling. Hal ini mensyiratkan makna hendaknya menjalani hidup di dunia ini ada keseimbangan atau harmonisasi antara jasmani dan rohani. Antara unsur bumi dan unsur Tuhan. Antara kebutuhan raga dengan kebutuhan jiwa, sehingga menjadi manusia sejati yang meraih kemerdekaan lahir dan kemerdekaan batin.

6. Daun pisang dihias sedemikian rupa sesuai selera sebagai alas meletakkan tumpeng dan sayuran. Daun yang hijau adalah lambang kesuburan dan pertumbuhan. Maknanya adalah pengharapan doa negeri kita maupun pribadi kita selalu diberkati Tuhan sebagai negeri yang subur makmur, ijo royo-royo, kita menjadi pribadi yang subur makmur, dapat menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan kepada sesama makhluk hidup.

7. Sisa guntingan atau potongan daun pisang, hendaknya diletakkan di antara cobek dengan kalo. Jangan lupa letakkan uang logam bersama sampah sisa potongan daun pisang. Hal ini bermakna segala macam “sampah kehidupan”, sebel sial, sifat-sifat buruk ditimbun atau dikendalikan oleh segala macam perilaku kebaikan sebagaimana tersirat di dalam seluruh isi kalo. Uang logam merupakan perlambang dari harta duniawi. Hal ini mengandung pepeling (peringatan) bahwasanya harta karun dan segala macam perhiasan duniawi ibarat sampah tidak akan berharga apa-apa jika tidak digunakan sebagai sarana laku prihatin. Hal itu menjadikan harta kita tak ubahnya seperti sampah yang mengotori kehidupan kita. Maka, jadilah orang kaya harta yang selalu prihatin. Manfaatkan harta kita untuk memberi dan menolong orang lain yang sangat butuh pertolongan dan bantuan, agar tangan kita lebih mampu “telungkup”, agar jangan sampai kita menjadi orang-orang fakir yang telapak tangannya selalu tengadah dan menjadi beban orang lain.

8. Kembang setaman ditaruh dalam mangkok/baskom isi air mentah. Jika ingin menambah dengan dupa ratus / semacam “dupa manten” bisa dibakar sekalian pada saat merapal doa dan japa mantra.

Setelah seluruh uborampe bancakan weton selesai dibuat. Seluruh ubo rampe bancakan diletakkan di dalam kamar yang sedang dibancaki weton. Selanjutnya dirapal mantra dan doa, usahakan yang merapal mantra atau doa seorang pepunden anda yang masih hidup. Misalnya orang tua anda, bude, bulik, atau orang yang anda tuakan/hormati. Adapun doa dan rapalnya secara singkat dan sederhana sbb :

“Kyai among nyai among, ngaturaken pisungsung kagem para leluhur ingkang sami nurunaken jabang bayine…. (diisi nama anak/orang yang diwetoni) mugi tansah kersa njangkung lan njampangi lampahipun, dados lare/tiyang ingkang tansah hambeg utama, wilujeng rahayu, mulya, sentosa lan raharja. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh saka kersaning Gusti”.

(Kyai among nyai among, perkenankan menghaturkan persembahan untuk para leluhur yang menurunkan jabang bayi ….(sebut namanya), semoga selalu membimbing, mengarahkan setiap langkahnya, agar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur, selamat dan mulia dunia akhirat. Selamat selalu didapat, sukses dan keberuntungan selalu datang. Semua atas izin Tuhan)

Setelah banca'kan dihaturkan, tinggalkan sebentar sekitar 10-20 menit lalu dihidangkan di ruang makan atau diedarkan ke para tetangga untuk dimakan bersama-sama. Demikian petuah saya tentang banca'kan weton, semoga artikel ini bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Bagi yang ingin konsultasi silahkan layangkan ke email:indoghaib@gmail.com

FILOSOFI SEMAR



Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya Bebadra = Membangun sarana dari dasar Naya = Nayaka = Utusan mangrasul Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia Filosofi, Biologis Semar Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”. Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi. Ciri sosok semar adalah : Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa. Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi : Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati. Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”. Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya. Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan. Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 ) Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah. Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 ) Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi.

WAHANANING DZAT


Ing ngisor iki amratelakake urut-urutane Wahananing Dzat kabeh.
derah1
Dzat mutlak kang kadim azali abadi.
1. Chayu, tegese urip, kasebut atma.
2. Nur, tegese cahya, kasebut pranawa.
3. Sir, tegese rahsa, kasebut pramana.
4. Roh, tegese nyawa, kasebut sukma.
5. Napsu, tegese angkara.
6. Akal, tegese budi.
7. Jasad, tegese badan.
Dene Dzat iku tanpa tuduhan, amung dumunung ana rambahi ana sajroning urip kita, ananging akeh kang pada katambuhan, awit dening binasakake ora mawa jaman makam, tegese ora arah ora enggon, akanta tanpa warna tanpa rupa , asifat elok dudu lanang dudu wadon dudu wandu, dipralambangi : ”Kombang angajap ing tawang”, tegese : kombang angleng ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : la takyun, saka durung sanyata ing kahanan.
Dene Cahyu iku minangka tajalining Dzat, awit kasorotan saka purbaning Dzat sejati, dipralambangi : ”Kusuma anjarah ing tawang”, tegese : kembang tuwuh ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : takyun awal, dening wiwit sanyata ing kahanane.
Dene Nur iku minangka tajalining Chayu, iya iku dadi sesandaning urip, awit kasorotan saka wisesaning atma sajati, dipralambangi : ”Tunjung tanpa talaga”, tegese : kembang terate urip ora mawa banyu, mula ing dalem martabat kasebut : takyun sani, dening wis sanyata kahanane.
Dene Sir iku minangka tajalining Nur, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Isining wuluh wungwang”, tegese : ora kawistara isen-isening wuluh wungwang iku,mula ing dalem martabat kasebut : akyan sabitah, dening sanyata tetep ing kahanane.
Dene Roh iku minangka tajalining Sir, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Tapaking Kuntul anglayang”, tegese : ora mawa labet tapaking manuk kuntul anglayang iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan kajariyah, dening sanyata metu ing kahanane.
Dene Napsu iku minangka tajalining Roh, awit kasorotan saka wisesaning sukma sajati, dipralambangi : ”Geni murub ing teleng samudra”, tegese : kaelokan urubing geni ana sajroning banyu iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan mukawiyah, dening sanyata urip ing kahanane.
Dene Budi iku minangka tajalining Napsu, awit kasorotan saka wisesaning angkara sajati, dipralambangi : ”Kuda ngerap ing pandengan”, tegese : jaran anyander isih kinarung ana sajroning jajaran dadi upacara, surasane pada karo pralambang : lumpuh angideri jagad, mula ing dalem martabat kasebut : akyan maknawiyah, dening sanyata kawedar ing kahanane.
Dene Jasad iku minangka tajaline Wahananing sifat, dadi embane para mudah kang wis kasebut ing ngarep mau, awit kalimputan dening pakumpulaning sorot, pada sumarambah amaratani salir anggaotaning badan jasmani kabeh, mula manawa isih jamaning sifat, dipralambangi : ”Kodok kinemulan ing leng”, tegese : kodok iku ngibarating mudah kang ana sajroning jasad, eleng ing ngibarating jasad sajabaning mudah, iya iku kahaning Dzating Gusti isih kalimputan dening sifating kawula, dene manawajamaning Dzat ing delahan, dipralambangi : ”Kodok angemuli ing leng”, tegese : jasad genti dumunung ana ing jero, iya iku kahanane sifating kawula wis kalimputan dening Dzating Gusti, dadi pada tarik-tinarik, tetep-tinetepan, kaya ing ngisor iki dasare.
DERAH KAHANANING DZAT ING DUNYA LAN ING DELAHAN (ACHIRAT)
Kodok kinemulan ing Leng - Kodok angemuli ing Leng
dwrah1
Kahanane ing Dunya —– Kahanane ing Achirat

DZATING GUSTI KANG NGUWASANI
ING ATASE TURU TANGI LAN PATINING JSAD KITA
Balik mungguh Dzating Gusti iku kaceke karo kawula dening adanbeni pangawasa, wenang ambabar prabawa sarta anarik wedaring gelar kukudan.
Kaya upamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning budi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, rerem sajroning Bait al makmur, banjur amuntu ing wiwaraning pramana, anglerep saniskaraning pancadriya, mangka kaprabawa dening pangawasaning suksma anggelar pangrasa, wahanane dadi turu kahananing jasad kita, ing kono saka pangrasa katonton alaming ngimpi, kalaksanan saliring saloh bawa kabeh.
Manawa pangawasaning suksma wis ambabar pancadriya sarta ambabar wiwaraning pramana, banjur angredakake hawaning napsu, anuwuhake pangrasaning budi nganti sumarambah ing jasad kabeh, ing kono wahanane dadi tangi kahananing jasad kita, banjur weruh maneh marang saniskara kang katon ing alam dunya, mula dipralambangi : anenun senteg pisan anigasi tegese : lagi sadela ing paningaling alam ngimpi banjur bisa weruh kang katonton ing alam dunya maneh.
Kaya mangkono uga umpamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning bbudi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, wisesaning suksma kakukud marang pangawasaning rahsa, banjur luluh manjing ing dalem pranawaning cahya, anunggal karo purbaning atma, mulih dadi sajatining Dzat mutlak kang kadin azali abadi, ing kono wahanane diarani matri kahananing jasad kita, ananging satemene ora mati, amung ngalih panggonan bae, malah waluya uripe langgeng ana ing kahanan kang maha mulya, mula dipralambangi : tanggal pisan kapurnaman tegese : durung suwe tumitah ana ing alam dunya, banjur bisa bali maneh dadi manungsa kang sampurna sarta waskita ing saniskara.

PATRAPE MANEKUNG SAKA WASIYAT DALEM KANJENG PANEMBAHAN SENAPATI INGALAGA
Dene santosaning pangesti kayektekake kang dadi tandane, iku Manawa pinesu ing sajroning manekung anungka semadi aneges karsa, amrsudi kawasa, adapt kang wis kalakon, ana mangunah teka kagawa ing utusan metu saka sarira kita kang amaha mulya, amawa tanda katon saka pramana karasa ing dalem rahsa, ing kono Manawa katarima kang cinipta dadi, kang sinedya ana, kang kinarsan teka saka parmaning Kang Kawasa, mungguh pratikele Manawa arep manekung saka wsiyate Kanjeng Panembahan Senapati Ingalaga Mataram, kaya ing ngisor iki.
Wiwit angurangi dahar sare, anyegah sahwat ambirat napsu hawa ing sawatara dina, banjur pasa anglowong sarta ambisu ing dalem telung dina telung bengi, ora kena angemu sak serik duka cipta, Manawa pasane wis kari sawengi ora kena sare, bareng ing wayah tengah wengi adus banjur manganggo kang sarwa suci, sarta akekonyoh (damel) ganda wida jebab wangi (minyak wangi), adedupa madep mangetan utawa mangulon angarepake keblate dewe, tumeka ing wayah bangun esuk iku wiwit tafakur mati raga nutupi babahan nawasanga, patrape pitekur, jempol sikil ketemokake pada jempol sikil dipapak, polok katemukake pada polok di gatuk, jengku katemokake pada jengku dirapet, palanangan sapalandungane sinipat karo jempol sikil dibener aja nganti katindihan, nuli asta karo angrangkul jengku patrap sidakep suku tunggal, darijining asta pada antuk ing selaning dariji kaya angapu rancang, jempol asta banjur winawas karo pucuking grana, nuli anata wetuning napas tanapas anpas nupus, aja nganti tumpang suh kumpule dadi siwiji, ing kono tinarik saka kiwa tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake anengen metu ing leng grana tengen kang alon aja nganti kasusu. Manawa wis sareh anarik napas maneh saka tengen tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake angiwa metu ing leng grana kiwa kang alon aja nganti kasusu, ambal kaping telu kaya mangkono panariking napas, wekasane manawa sareh anarik napas maneh saka kiwa mubeng anengen, saka tengen mubeng angiwa, kakumpulake dadi sawiji ana ing puser, banjur katarik manduwur bener kang sareh, leren tinata ana ing dada, banjur katarik manduwur maneh kang alon-alon, leren tinata ana ing sirah, ing kono angenengake cipta sarwi osik matrapake panjenenganing Dzat kaya mangkene :
“Ingsung Tajalining Dzat Kang Amaha Suci, Kang Amurba Amisesa kang Kawasa angandika kun fayakun, dadi saciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun, ……………… anung………….. metu saka ing kudratingsun”. Manawa wis mangkono, adat pada sanalika bae kayektenan kang dadi tandane, nuli panariking napas katurunake metu ing leng grana karo pisan kang alon aja nganti kasusu, ing wekasan pasrah analangsa marang Dzat kita dewe.
Mungguh patraping panekungan iku prayogane bisaa kalakon ing saben sasi sapisan, arane amung saben ing dina ijabah bae aja nganti katowangan (kelalen), sabab ing kono waktuning katarima saliring panuwun, kaya kang kasebut kapratelakake ing ngisor iki.
1. Sasi Muharram, ijabahe tanggal kaping 9, karo tanggal kaping 10.
2. Sasi Mulud, ijabahe tanggal kaping 12.
3. Sasi Rejeb, ijabahe tanggal kaping 27.
4. Sasi Ruwah ijabahe tanggal kaping 15.
5. Sasi Pasa, ijabahe tanggal kaping 21, 23, 25, 27 utawa tanggal kaping 29.
6. Sasi Besar, ijabahe tanggal kaping 8 utawa tanggal kaping 9.
Liyane dina-dina ing duwur iku pada sepen tanpa dina ijabah.
Urut-uruting Arane Wahananing Dzat
Ing mengko amratelakake urut-urutaning namane Wahananing Dzat kang wis kasebut ing ngarep kabeh mau kaya ing ngisor iki.
CHAYU
Kang dinging Chayu tegese urip, diarani Chayun tegese panguripan, diarani maneh Chayat tegese anguripi, diarani maneh Chayu Daim tegese urip kang tetep, ananging sejatine iya among sawiji Chayu iku.
N U R
Kang kapindo Nur tegese Cahya, iku sejatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan.
1. Nur Riyat tegese cahya samar, warnane ireng.
2. Nur Rani tegese cahyo loro, iya iku cahya kapindo, warnane abang.
3. Nur Mahdi tegese cahya sumirat, warnane kuning.
4. Nur Nubuwat tegese cahya kang santosa, warnane ijo.
5. Nur Muhammad tegese cahya kang pinuji, warnane putih
Mungguh grebane kabeh iku, kasebut Nurullah tegese cahyaning Allah.
S I R
Kang kaping telu Sir tegese rahsa, iku sejatine iya amung siwiji, ananging dinamani dadi nem pasebutan.
1. Sir Ibtadi tegese rahsa purba, iya iku dadi wahyaning asmaranala.
2. Sir Kahiri tegese rahsa wisesa, iya iku dadi wahyaning asmaratura.
3. Sir Kamali tegese rahsa sampurna, iya iku dadi wahyaning asmaraturida.
4. Sir Ngaji tegese rahsa mulya, iya iku dadi wahyaning asmaradana.
5. Sir Hakiki tegese rahsa sajati, iya iku dadi wahyaning asmaratantra.
6. Sir Wahdi tegese rahsa tunggal, dinamani Sir Gaibi tegese rahsa gaib, iya iku dadi wahyaning asmaragama.
Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Sirullah tegese rahsaning Allah.
R O H
Kang kaping pat Roh tegese nyawa utama suksma, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi pitung pasebutan.
1. Roh Jasmani tegese nyawaning jasad, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake anggaotaning badan, dingibaratake roh kewani tegese kaupamakake nyawa kang anguripi sato kewa.
2. Roh Nabati tegese nyawaning tumuwuh, iya iku wewanyanganing nyawa kang anuwuhake wulu kuku sapanunggalane, tumanem dadi uriping budi.
3. Roh Napsani tegese nyawaning napsu, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake hawananing napsu.
4. Roh Rochani tegese nyawaning suksma, iya iku wewayangananing nyawa kang anguripake warananing suksma.
5. Roh Rahmani tegese nyawaning kang sifat murah diarani Roh Rabani tegese nyawaning Pangeran, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake kahananing rahsa.
6. Roh Nurani tegese nyawaning cahya, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake wahananing cahya.
7. Roh Idlafi tegese nyawa kang wening diarani Roh Kudus tegese nyawa kang suci, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake ananing atma.
Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Rachullah tegese nyawaning Allah.
Dene terange wewejanganing Roh iku manawa karujukake karo wsiyate Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung, nalika musawaratan ngelmu kadawuhake marang Kyai Pangulu Ahmad Kategan, mangkene pangandika dalem.

Sejatine Roh iku sawiji minangka kahananing rahsa, binasakake nyawa utawa jiwa kasebut aran suksma, prabedane pada amawa tanda sowang-sowang.
1. Tandaning Roh iku anganakake getih.
2. Tandaning Nyawa anganakake keketek.
3. Tandaning Jiwa anganakake napas.
4. Tandaning Suksma anganakake rasaning jasad.

Ananging Suksma iku ana pepangkatane dadi pitung warna, iki sawiji-wijine.
1. Patemone jasad lan napas iku den arani Suksma Wahya tegese suksma lair.
2. Patemoning napas lan budi iku den arani Suksma Dyatmika tegese suksma batin.
3. Patemoning budi lan napsu iku den arani Suksma Lana tegese suksma tetep.
4. Patemoning napsu lan nyawa iku den arani Suksma Mulya tegese suksma mulus.
5. Patemoning nyawa lan rahsa iku den arani Suksma Jati tegese suksma nyata, den arani maneh Suksma Rasa tegese suksma rahsa.
6. Patemoning rahsa lan cahya iku den arani Suksma Wisesa tegese suksma wenang.
7. Patemoning cahya lan urip iku den arani Suksma Kawekas tegese suksma pungkasan.
Dene patemoning Suksma kabeh iku dadi Suksma Adi Luwih tegese suksma utama, yen kumpul dadi Retna Inten Jumanten, iku ngibarating martabat Wachidiyat, campur dadi Sasraludira, iku ngibarating martabat Wahdat, sampurna dadi Sotyaludira, iku ngibarating martabat Achadiyat, waluya dadi Manik Maya gumilang tanpa wewayangan tegese bali dadi Dzating nukat gaib, mulih marang azali abadi.
N A P S U
Kang kaping lima Napsu tegese angkara, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi patang pasebutan.
1. Napsu Luwamah tegese angangsa, darbe hawa amarakake dahaga arip luwe sapanunggalane, hawane ing waduk, wahyane saka lesan kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot ireng, sampurnane anarik leburing wulu kuku.
2. Napsu Amarah tegese sereng, darbe hawa amarakake angkara, panasten deduka sapanunggalane, wahanane ing amperu, wahyane saka karna (kuping) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot abang, sampurnane anarik leburing kulit getih.
3. Napsu Sufiyah tegese meles, dinamani napsu Suwiyah tegese adreng, darbe hawa amarakake murka, pepinginan pakareman kabungahan sapanunggalane, wahanane ing lelimpa, wahyane saka netra kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot kuning, sampurnane anarik leburing daging otot.
4. Napsu Mutmainah tegese jinem, darbe hawa amarakake loba, iya iku loba marang kautaman, kaya ta anglakoni puja brata tapa brata kang kalantur-lantur ora mawa watara, wahanane ing bebalung wahyane saka grana (irung) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot putih, sampurnane anarik leburing balung sungsum.
Dene manawa kapatitisake witing napsu iku saka utek, dumunung ing ati dadi cipta, dumunung ing jantung dadi birahi, wetune saka jantung banjur dadi nupus, katampan ing ati maneh banjur dadi anpas, anunggal lakunimng getih banjur dadi tanapas, agambah marang maras banjur dadi napas, sumarambah ing jasad banjur ametokake swara saka lesan, mula sangkaning cipta birahi, nupus, anpas, tanapas, napas, swara, iku pada metu saka hawaning napsu kabeh.
A K A L
Kang kaping nem Akal tegese budi, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan, manawa kaetung dalah kang arangkep nama dadi pitung pasebutan, pada anartani marang ngibarat namaning ati, kadadiyane anunggal pasebutan.
1. Budi Maknawi, iya ati manakwi tegese wahyaning budi.
2. Budi Sanubari, iya ati sanubari tegese wahananing budi.
3. Budi Suweda, iya ati suweda tegese woding ati, dadi ngibarat kahananing budi.
4. Budi Pu-at, iya ati pu-at tegese woting jajantung, dinamani budi jaki utawa ati jaki tegese ati suci dadi ngibarat pramananing budi.
5. Budi Siri, iya ati siri tegese rahsaning ati, dinamani budi safi utawa ati safi tegese ati wening dadi ngibarat pangrasaning budi.
Dene manawa kapatitisake pakartining budi iku diarani pancadriya, tegese ati lima, iya iku pangawasa kang metu saka rahsaning budi, peperangane dadi telung pangkat pada anglimang pakarti.
1. Diarani Karmendriya tegese purbaning budi, kayata : paningal, pamiyarsa, pangganda, pamirasa, pangrasa.
2. Diarani Antarendriya tegese antaraning budi kayata : keketek, napas, kedeping netra, rasaning lidah, kenyaming lambe.
3. Diarani Jayanendriya tegese wisesaning budi, kayata : karasaning kulit, parji, dubur, asta, sikil.
J A S A D
Kang kaping pitu Jasad tegese badan, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi rong pasebutan.
1. Jasad Turab tegese badan kadadiyan saka lebu, dibasakake badan jasmani iya iku badan wadag.
2. Jasad Latip tegese badan alus, dibasakake badan rochani iya iku badan suksma.
Mungguh janjine badan wadag karo badan alus iku ora kena pisah, sangkan parane anunggal kahanan sajati, upama satu munggwing rimbagan, ananging wewangsulan ing tembe badan wadag iku luluh sampurna ana sajroning badan alus, kalimputan dening Chayu Daim tegese urip kang tetep dumunung ing kahanan kita pribadi, mula dipralambangi : warangka manjing curiga tegese badan wadag dumunung sajroning badan alus, nalika badan wadag isih dadi emban, lambange : curiga manjing warangka tegese badan alus isih dumunung sajroning badan wadag.
Pratikele Angluluh Ing Badan Wadag
Dene pratikele angluluh badan wadag mau, saka wsiyat dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Pakubuwana I, kena kalanteh anglakoni tapa brata kaya ing ngisor iki.
1. Asesuci tegese taberi adus esuk.
2. Angengurangi dahar tegese dahara manawa banget luwe.
3. Angengurangi ngunjuk tegese angunjuka manawa banget kasatan.
4. Angengurangi sare tegese sareya manawa banget karipan.
5. Angarang-arangi pangandika tegese angandika manawa nganggo masa kala.
6. Anguda-uda sahwat tegese asahwata karo garwa manawa banget kangen.
7. Ambirat napsu tegese aja nganti angumbar hawa, angagema budi trima, lila, temen, utama.
Manawa wis bisa kalakon mangkono, angger ora kawistara, sarta dumunung ing asepen iya wallahu alam katarimane.
Dene manawa arep waskita dununging asepen, iku, sakaliring rupa kita kapasrahena marang kang adarbe rupa sakaliring swara kita kaulihena marang kang adarbe swara, paninggal kita, pamiyarsa kita, panganda kita pangrasa kita, pamirasa kita, pada kabalekena marang sangkane dewe-dewe.
Mungguh patrape anyidakake eninging rahsa, angawasake enenging pancadriya, tegese anglerenake saniskaraning ngaurip kabeh, manawa wis bisa mangkono, iya iku bebasan lungguh sarwa lumaku, lumaku karo andeprok, lumayu sarwa alinggih, ambisu karo carita, lunga sarwa aturu, turu karo amelek kaya mangkono ngibarate.
Iki Warahing Hidayat Jati, anuduhake dununge pangkating ngelmu makrifat wewejangan saka para Wali ing Tanah Jawa, sasedane Kanjeng Susuhunan ing Ngampeldenta, pada karsa ambuka wiridan kang dadi wijining wewejangan surasaning ngelmu kasampurnan dewe-dewe, wiyose iya uga asal saka Dalil Hadis Ijmak Kiyas, kaya kang wis kasebut ana sajroning Wirid kabeh, mungguh pepangkatane sawiji-wiji kapratelakake ing ngisor iki :
Kang dingin, saankatan nalika jaman awale nagara ing Demak, para Wali kang karsa amejang amung wolu.
1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Kadaton, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.
2. Kanjeng Susuhunan ing Tandes, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.
3. Kanjeng Susuhunan ing Majagung, wejangane, Gelaran Kahananing Dzat.
4. Kanjeng Susuhunan ing Benang, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur.
5. Kanjeng Susuhunan ing Muryapada, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.
6. Kanjeng Susuhan ing Kalinyamat, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.
7. Kanjeng Susuhunan ing Gunungjati, wewejangane, Santosaning Iman.
8. Kanjeng Susuhunan Kajenar, wewejangane, Sasahidan.
Kang kapindo, ing saangkatan maneh nalika jaman akhire nagara ing Demak, para Wali karsa amejang iya amung wolu.
1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Parapen, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.
2. Kanjeng Susuhunan ing Darajat, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.
3. Kanjeng Susuhunan ing Atasangin, wewejangane, Gelaran Kahananing Dzat.
4. Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur, banjur ambabar sagung kang dadi parabote amatrapake panjenenganing Dzat kabeh, nanging durung urut patrap panggonane ing sawiji-wiji.
5. Kanjeng Susuhunan ing Tembayat, kalilan dening guru Kanjeng Susuhunan Kalijaga, ambabarake wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.
6. Kanjeng Susuhunan ing Padusan, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.
7. Kanjeng Susuhunan ing Kudus, wewejangane, Panetep Santosaning Iman.
8. Kanjeng Susuhunan Geseng, wewejangane, Sasahidan.
Dene wewejangane kang wis kasebut ing duwur iku, surasane iya anunggal bae, amarga pada wewiridan saka pamejange Kanjeng Susuhunan Ngampeldenta kabeh, mula ing mangko kaimpun dadi sawiji, supaya gampanga enggonku angrasakake riwayating Dalil Hadis Ijmak Kiyas, sarehne hakekate Dzating Pangeran Kang Amaha Suci iku binasakake luwih dening gaib, tanpa warna tanpa rupa, asifat dudu lanang, dudu wadon, dudu wandu, sarta ora mawa jaman, ora arah ora enggon, amung cipta-sasmita dumunung ana waskita, wewisikane ora ana apa-apa, sakehe kang kasebut iku dudu sajatining Dzat kabeh, ananging kang wajib kaimanake amung Ingsun.
Mungguh wewisikane kang wis waskita iku, manawa durung bisa anampani ing panggalih, prayoga amarsudi ing surasane pangimpuning para wewejangan kabeh, kaya kang kasebut ana Warahing Hidayat Jati mangkene.
Sajatining Dzat Kang Amaha Suci iku asifat Esa, dibasakake Dzat mutlak kadim azali abadi, tegese asifat sawiji, kang amasti dingin dewe nalika isih awang0uwung salawase ing kahanan kita, iya iku jueneng pribadi, ana sajroning nukat gaib kang keluwih langgeng, ing kono amedarake kurat iradate dadi pitung kahanan, minangka warnaning Dzat, dadi wahananing sifat, asma afngal kabeh, ing ngisor iki babare sawiji-wiji.
1. Chayu, tegese urip, dumunung sajabaning Dzat.
2. Nur, tegese, cahya, dumunung sajabaning Dzat.
3. Sir, tegese rahsa, dumunung sajabaning cahya.
4. Roh, tegese nyawa, diarani sukma, dumunung sajabaning rahsa.
5. Napsu, tegese angkara, dumunung sajabaning sukma.
6. Akal, tegese budi, dumuning sajabaning napsu.
7. Jasad, tegese badan, dumunung sajabaning budi.
Denen Chayu, iku kang kapasrahan pangawasaning Dzat, kinarsakake anguripi kahananing cahya, rahsa, sukma, napsu, budi, badan kabeh, sumarambah saka ing wiwitan tumeka ing wekasan, mungguh wewijangane kaya ing ngisor iki.
1. Ing nalika kayu anguripi kahananing cahya, sumarambah ing netra ing netra, wahanane dadi bisa aningali iya iku paningaling Dzat angagem ing netra kita.
2. Ing nalika kayu anguripi kahananing rahsa, sumarambah ing grana, wahanane dadi bisa angganda, iya iku panggandaning Dzat angagem ing grana kita.
3. Ing nalika kayu anguripi kahananing suksma, sumarambah ing lidah, wahanane dadi bisa angandika, iya iku pangandukaning Dzat angagem lesan kita.
4. Ing nalika kayu anguripi kahananing napsu, sumarambah ing talingan, wahanane dadi bisa amiyarsa, iya iku pamiyarsaning Dzat angagem ing karna kita.
5. Ing nalika kayu anguripi kahananing budi, sumarambah ing ati, wahanane dadi bisa birahi anduweni karsa, iya iku karsaning Dzat angagem ing ati kita.
6. Ing nalika kayu anguripi kahananing jasad, sumarambah ing getih, wahanane dadi bisa ambekan, banjur anuwuhake wulu kuku sapadene, iya iku afngaling Dzat angagem ing saulah kita, saestu ora beda ing nalika amratandani agngal sajroning alam, banjur bisa amolahake srengenge rembulan angin sapanunggalane, saisen-isening alam kabeh , pada dumunung ana ing purba wisesaning Dzat kaya kang kasebut ing ngisor iki :
a. Dzat amurba Kayu, tegese Dzat iku witing urip.
b. Kayu amisesa Nur, tegese urip iku amengku wahyaning cahya.
c. Nur kang misesa Sir, tegese cahya iku amengku uriping suksma.
d. Sir amisesa Roh, tegese rahsa iku amengku uriping suksma.
e. Roh amisesa Napsu, tegese suksma iku amengku uriping napsu.
f. Napsu amisesa Akal, tegese napsu iku amengku uriping budi.
g. Akal amisesa jasad, tegese budi iku amengku uriping jasad. Mungguh baline mangkene.
Jasad kawisesa dening budi, budi kawisesa dening napsu, napsu kawisesa dening suksma, suksma kawisesa dening rahsa, rahsa kaisesa dening cahya, cahya kaiwisesa dening urip, urip kapurba Dzat, mulane wahananing urip iku tanpa wangenan karo ananing Dzat, iya urip kita iku Dzating Gusti Kang Amaha Suci Sajati, aja uwas sumelang ing galih.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments