Tampilkan postingan dengan label ajaran wali songo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajaran wali songo. Tampilkan semua postingan

Rahasia 37 kepangkatan Wali Allah

PANGKAT WALI ALLAH SEBAGAI BERIKUT:
1.Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)
2. Aimmah (1 Abad 2 orang )
3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)
4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain (Abdal=Pengganti) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya (Wanita)
5. Nuqoba’ ( Naqib ) (1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap2 Bulan)
6. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang )
7. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang ) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.
8. Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.
9. Khotam ( penutup Wali )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup)
10. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )
11. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )
12. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 7 Orang )
13. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )
14. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)
15.Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )
16. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )
17. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.
18. Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang )
19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )
20. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang )
21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )
22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )
23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )
23. Rizalul Ma’arijil ‘Ula ( 1 Abad 7 Orang )
24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )
25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )
26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )
Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ” Rozulun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.
29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )
30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 Abad 1 Orang)
31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang ) sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina ” Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).
31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )
33. Budala’ ( 1 Abad 12 orang ) Budala’ Jama’ nya ( Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’) dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal
34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )
35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang ) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty
36. Rizalul Ma’ ( 1 Abad 124 Orang ) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.
37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )
Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab ” Berada di Dalam Hizabnya Alloh “, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.
Firman Allah dalam Surat Al-Imron ayat 169:
“LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA ”
Terjemahnya sebagai berikut:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang2 yang gugur di jalan Alloh itu ‘MATI’ bahkan mereka itu ‘HIDUP’ di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi”.
HIDUP Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat keni’matan2 di sisi Alloh, Dan hanya Alloh sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan HIDUP nya itu.

Nawaitu Bin Niyat Madep Mantep Islam Sejati


“ Innama A’malu bin Niat “
Begitulah sebuah kalimat yang menjadi basic dan landasan bagi salah satu golongan/kelompok Agama yang ada di dalam negeri ini. Rasanya gak berlebihan jika saya mencontek salah satu Hadis yang sangat POPULER bagi kalangan awam.

“ Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada NIATNYA “ begitu kata sebuah Hadis atau maaaf klu saya harus mengatakan dengan istilah “ Pendapat “. Yah… sebuah pendapat yang berkembang di daerah Timur Tengah dan telah dianggap sebagai pendapat yang TULEN dan telah mendapatkan LEGALITAS dari para penyusunnya ( perawi ) yang kesohor dengan sebutan Hadis yang “ Shokheh “. Saya pribadi gak ambil pusing dengan Hadis tersebut dalam batasan mau disebut Sokheh atau Da’if halah..halah…sok ke Arab-araban…

Pedahal jujur saja saya gak mudheng dengan bahasa yang satu ini, walau sedari kecil selalu membaca yang TERSURAT loh.

Yah..niat memang merupakan dorongan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Karena itu, niat bukanlah merupakan “ Bahasa atau Suara “, niat bukanlah sebatas ucapan, baik itu ucapan dalam hati ataupun melalui mulut. Jika niat hanya berupa ucapan ( bersuara maupun dalam Hati ) itu sama saja antara mengucapkan niat untuk melakukan Sembahyang ( shalat ) maupun hendak melakukan Perampokan. Karena niat yang demikian, jelas tidak lebih UTAMA daripada PEBUATAN.

Sebuah Niat akan menjadi lebih penting daripada AMALAN yang banyak, bila niat itu merupakan KEHENDAK untuk melakukan segala sesuatu yang telah DIGAGAS dalam pikiran, niat yang sudah DIRENCANAKAN dan DIMANTAPKAN dalam pikiran dan Hati. Niat semacam inilah yang membedakan antara perbuatan KEBAJIKAN dan perbuatan KEJAHATAN.

Heks..heks…
Mungkin ada yang mau berseloroh neh…” klu begitu yah lebih baik ber NIAT saja, tidak perlu beramal atau bertindak “. Halah..halah…anggapan dan pikiran semacam ini jelas-jelas kurang memahami makna tentang NIAT yang tersurat dalam hadis Impor tadi.

Apa yang dimaksud dengan NIAT itu lebih baik daripada AMALNYA…??.

Begini nih…contoh yang paling sederhana, untuk membuktikan bahwa NIAT bisa dikategorikan lebih BAIK daripada AMALANNYA.
Ada 2 orang yang satu kaya dan satunya orang biasa ( pas-pasan ), mereka sama-sama berNIAT menolong dan membantu orang miskin. Mereka sama-sama memberikan uang kepada si miskin. Si kaya memberikan lima ratus ribu dan orang yang biasa tadi memberikan limapuluh ribu rupiah. Jika kita melihat dari segi banyaknya uang, tentu saja AMALAN si orang kaya tadi akan lebih besar NILAINYA dari pada si orang biasa ya nggak…ya nggak…!! Tetapi bagaimana jika dilihat dari segi NIAT..?? boleh jadi nilai yang diperoleh orang biasa jauh lebih besar ketimbang si orang kaya. Loh…kok bisa…?? Mengapa…?? Karena si orang biasa tadi memberikan bantuan berdasarkan uang SISA yang ada pada dirinya…wong namanya saja pas-pasan….he..he… Sedangkan uang si kaya yang diberikan kepada orang miskin tadi hanya sekian PROSEN dari KELEBIHAN uang yang dimilikinya.

Artinya NIAT si orang biasa ialah menolong dengan SEGENAP DAYA yang dimilikinya, sedangkan NIAT si kaya hanyalah menolong dari SEBAGIAN KECIL yang telah dimilikinya.

Nah dengan MEMAHAMI kenyataan demikian ini, kita akan bisa memahami bahwa ternyata memang NIAT itu LEBIH UTAMA daripada AMALAN atau PERBUATANNYA.

Sekarang mari kita perhatikan isi pesan dalam petikan Suluk Wujil yang merupakan Prinsipi hidup telah ada mengakar kuat di negeri Nuswantoro ini telah diulas begitu mendalamnya seakan telah ” Mbalung Sumsum ” dalam diri setiap Kawulo terutama poro sesepuh dalam kehidupan bermasyarakat yang Santun, Lembut, penuh Tepo Sliro dan Tenggang Rasa dalam bersosialisasi terhadap sesama manusia. Dan, inilah AJARAN hidup asli Anak Negeri Nuswantoro sebelum AJARAN produk luar ini masuk di bumi Nuswantoro embuh siapa yang membawanya. Berkut petikan Pitutur Orang/Ulama BIJAK versi suluk Wujil :

Heh Wujil, niyat iku luwih saking amale ponang akathah,
Nora boso utowo swara rek,
Niyating pingil iku kang gumelar nyanane reki,
Sejatine kang niyat nora niyatipun,
Niyating pingil gumelar,
Niyating Sembahyang nora bedaneki lan niyat ambe Begal.

Terjemahannya kira-kira demikian :

Hai Wujil, Niat itu LEBIH UTAMA dari amalan yang banyak, Niat itu BUKAN Bahasa ataupun suara Niat itu untuk melakukan TINDAKAN yang ada di dalam pikiran, Sesungguhnya yang disebut Niat itu bukan pada Niatnya, Tetapi Niat untuk melakukan tindakan yang TERUNGKAP, Kalau hanya Niat, maka niat Sembahyang ( Shalat ) yang tiada bedanya dengan niat Merampok.

Yah…yah…ternyata adanya Hadis seputar Niat yang bergulir dan berasal di Negeri seberang sono, telah ada di Negeri Nuswantoro ini. Lalu Apa bedanya yah…antara

Niat dalam Suluk Wujil versi dan Produk Bumi Nuswantoro dengan Niat versi dan Produknya negeri seberang..??. Adakah…adakah…???

Santri Gundhul ini mencoba merenunginya sambil NGISEP kretek 234…buull…buulll…asapnya ngepul bulet-bulet membumbung..melambung entah kemana tujuannya…hilang..lenyap…dalam KETAIDAAN….

Lantas,…. Terlintas dalam benak ini masihkah di HATI ini tetap memiliki NIAT untuk NGURI-URI Kabudayan Nuswantoro yang kenyataannya lebih PAS dengan CITA RASA lidah kita…??. Daripada harus merasa GEMAGAH ( superior ) dengan menelan mentah-mentah Produk luar yang ternyata baru dipahami sebatas Kulit Luarnya saja sambil “ MENGKLAIM bahwa Produk Ajaran dari luar lebih BENAR dan SHOKHEH “ ketimbang Ajaran HIDUP asli dan telah ada “ MENGAKAR kuat “ di Bumi Nuswantoro ini yang sempat dihembus-hembuskan sebagai Ajaran KLENIK, TAHAYUL, BID’AH dan KHUROFAT…??

Halah…halah…apa lagi ini Bid’ah, Khurofat…wis embuh aku ra mudheng…Mungkin ada baiknya kita sama-sama merenungkan sebuah Petuah si Mbah ini.

Pokoknya sekarang aku NIAT mau Ndlosor…..sambil kemulan sarung….terus sambil berbisik kupanjatkan sebuah NIAT juga, Duh..Gusti Kang Akaryo Jagad…Pejah Gesang hananiro kulo Haturaken dumateng Panjenengan.

Ingsun Teteken Muhammad, Suro suco ludiro Joyodiningrat lebur dening Pangastutiningsun.
ISLAM

Satemene Rukun Iman iku wis ono sajerone Rukun Islam, dadi satemene kang kudu di Imani iku Rukun Islam netepi anane Rukun. Iman, iman marang Alloh, Kitab-e, Rosul-e, Malaikat-e, Dino Wekasan (Kiamat), Qodlo lan Qodar ( Takdir lan Nasib ), kudu biso kawedar ono sajerone lakune Urip anggone .mapakake anane Syahadat-e, Sholat-e, Poso-ne, Zakat-e lan Haji-ne, dadi Rukun Iman iku dadi dasar anane Rukun Islam.

1. Iman marang Alloh SWT.

Iman marang anane Alloh ora amung sadermo nurut anane tembung jare, kudu biso ngudi dewe dununge Alloh, soko anane Syahadate, yen ngucap anane saksi kudu ngerti ope kang dadi wajib dedege manungso kang diangkat dadi Saksi, weruh dewe ope kang disakseni.

2. Iman marang Kitab-kitab Alloh.

Iman marang Kitab, ora sadermo biso moco lan ngerti terjemahane , kudu biso mawas kang tersurat utowo kang tersirat lan biso mapakake ono Uripe sarto , ngerteni opo kang dimaksud Pangeran nganti ngudunake / jarwakake tuntunan mau, koyo anane blegere Manungso Urip ono Jagad Royo iki, sabab opo kang dadi isine Kitab Al Qur’an Nul Karim mau yo anane isine Jagad Royo iki, sarine dadi Surat Al Fatikah yo anane wujud Manungso sarine Jagad Royo, dadi yen ngaku dedegi Umat Islam tuntunan soko Kanjeng Nabi Muhammad saw, yo kudu gelem ngakoni anane umat liyane kang isih netepi Urip sake anane laku Kitab kang luwih awal, koyo to yen isih ono Umat kang laku uripe netepi Tatanan Slamet sadurunge Kanjeng Nabi Daud as, utowo umate Kanjeng Nabi Daud as, mowo Kitab Jabur, umate Kanjeng Nabi Musa as, mowo Kitab Taurot, umate Kanjeng Nabi Isa as, mowo Kitab Injil, kabeh umat ing ngarsane Pangeran nyuwun anane ke-Slametan-e Urip yo anane Islam, Koyo anane umate Kanjeng Nabi Muhammad saw, Kang ke- Islam-anne wus kasampurnakake dene Pangeran, dadi kang kasebut Islam mau anane Umat anggone madep marang Pangerane nyuwun keslametan Uripe, biso kaperang netepi anane Ibadah, Sembahyang tan Sholat katerangake koyo ing ngisor iki :

a. Ibadah, anane Umat madep marang Pangeran sako anane Perilaku kang katindakake saben dinane, koyo wektu Umate Kanjeng Nabi Adam as, nganti satekane Umaate Kanjeng Nabi Daud as, koyo ucape para sesepuh biyen ” Ojo mlaku saliyane tindak kang becik ” , yoiku anane Ibadah.

b. Sembahyang, anane Umat madep marang Pangeran soko anane Perilaku lan Ucapan (omongan) kang katindakake saben dinane, koyo wektu Umate Kanjeng Nabi Daud as, nganti satekane Umate Kanjeng Nabi Muhammad saw, koyo ucape sesepuh biyen ” Ojo among – ngucap saliyane tembung kang apik ” , yo iku anane sembanyang.

c. Sholat, anane Umat madep marang Pangeran soko anane Perilaku, Ucapan lan Angen-angen kang katindakake saben dinane nyuwun anane keslametan Dunyo Akhirate, koyo ucape sesepuh biyen ” Ojo duwe angen – angen saliyane angen¬-angen kang becik ” , yoiku anane Sholat.

Dadi anane Umat madep marang Pangeran netepi Agomone kabagi anane soko tindak laku saben dinane ono 3 (telu) perkoro koyo ing ngisor iki :

1. Ibadah, yo Tingkahlaku dadi dasar Sembahyang ;
2. Sembahyang, yo anane Ucapan (omongan) dadi dasar Sholat;
3. Sholat, yo anane Angen-angen, jejege sake anane Sembahyang lan Ibadah.

Iman marang Kitabe Pangeran iku ono:

a. Kitab kang tinulis yo anane Kitab Garing, koyo to Kitab Jabur, Kitab Taurot, Kitab Injil, Kitab AI Qur’an Nul Karim lan sapanunggalane.

b. Kitab kang tersirat yo anane Kitab Teles, wujud sake maknane Badan saujud kite.

3. Iman marang Rosul.

Iman marang Rosul ing kono koyo iman marang Kitab :

a. Kang Garing, yo anane Kitab-kitab kang tinulis netepi ope anane lumrahe Urip, koyo kang wis kacaritakake ono sajerone Kitabe.

b. Kang Teles, ngerti anane Rosul iku sajatine Roso, sake anane Roso Rasane Urip Pangeran kang katitipake ,marang Umate, kanggo ngudi Jati Diri yo anane dedeg piadege Manungso manunggal marang Roso Urip, yo anane Roso soko Pangeran lan Umate, mengko ono beberane dewe.

4. Iman marang Malaikat.

Iman marang Malaikat, satemene kudu mangerteni yen Urip ing Jagad Royo iki ora dewe, ning akeh kang podo melu urip koyo bangsane lelembut kang pancen nyoto ono, bebarengan anane Pangeran anggone mujudake manungso, kanggo nguji imane manungso dewe-dewe, yen nganti kaliru bakal melu ono uripe lelembut mau, urip ono sajerone Alam Penasaran.

5. Iman marang Jaman Akhir.

Iman marang Dino Akhir yo Dino Pesti, yo anane Dino Wekasan, nyoto yen Manungso iku Urip ono Jagad Royo iki amung sadermo mampir ngombe disilihi Sandangan / Pangganggo, kudu ngerti ope kang dadi Wajibe Urip, Sunahe Urip, Makruhe Urip lan Larangan/Pantangan kanggo njejegi anane Urip kang Sampurno, iki wus ono sajerone Rukun Islam.

6. Iman marang Qodlo laD Qodar

Iman marang Qodlo lan Qodar, kudu mangerteni yen Uripe Manungso iku katulisake ono sajerone Kitab kang nyoto, Qodlo iku katulis ono sajerone Takdir Urip yo anane Tuntunane Urip ono Jagad Royo, sapo kang biso netepi anane Takdir Uripe bakal nemu Mulyo Dunyo – Akhirate, Qodar iku katulis ono sajerone Nasib Urip, jarwane opo kang dialami ono sajerone Uripe, iku wujud soko tindak – laku kang katindakake wus adoh soko anane Tuntunane Urip kang samestine, nyatane yen arep ono opo-opo Pangeran mesti maringi tondo luwih disik, dadi sing Eling biso netepi Takdire, yen Lali yo ono sajerone Nasibe.

Maknane Syahadat, yen karasakake ono sajerone netepi Wajibe Urip kang kudu dilakoni krona Alloh, ono sajerone urip ing Alam Dunyo, yen biso kabeberake iku kiro¬kiro koyo ing ngisor iki :

a. Urip iku umpamane 100% (satus persen) kuwajiban soko Alloh;
b. Syahadat amung ono 95% soko Urip;
c. Sholat amung ono 5% ( limang persen ) soko Urip;
d. Poso amung ono seperapate soko Sholat;
e. Zakat amung ono sapertelone poso;
f. Haji amung ono separohne Zakat.

Ing ngisor iki ono pituture leluhur menowo dedeg wajibe lan larangan kang dumunung ono Rukun Islam kang kudu di Imani kacaritakake koyo ing ngisor iki :

a. Syahadat : Anane Mahayu Hayuning Bawono cilike Keluarga, larangane Madon ;

b. Sholat : Anetepi angen angen kang becik,’ ndedegi Pamikiran kang Agung netepi anane Sastro Jendro Hayuningrat kanggo ngudi laku kang becik, larangane Madat ;

c. Poso : Kuoso nota Rasane Urip, maknane ngerti manowo Urip amung sadermo nglakoni, yen wistiti wancine ora nggowo opo-opo, kabeh anane soko panyuwunan kanggo nyukupi kebutuhan keluargane kang wujud soko ngunggulake Drajat Urip keluargane, larangane Mabuk ;

d. Zakat : Madep mantep marang kuasane Gusti anggone njogo Kanugrahaan lan Rakhmat Pangeran marang barang Pribadi, anane ngluhurake Asmo larangane Main;

e. Haji : Tegen anggone mapakake Roso yo anane kumpule Urip Roso Pribadi marang Kuasane Urip Pangerane, kuoso njogo arum gandane asmo ono sajerone Urip, larangane Maling.

Yen gelem ngudi kaluhurane Urip ing Alam Dunyo tumekane Alam Akhir koyo unine ayat ”Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wafil aakhiroti hasanataw wa qinaa adzaaban naar” , kanti sabenere Manungso kudu mangerteni, lan mapakake opo sabenere Kalimat Syahadat iku, yen ora kaliru koyo kagambarake ing ngisor iki :

” Laa ilaaha illallahu Muhammadur Rasuulullah” ketemu anane :

1. HU mujudake anane Nur Illahi ;
2. Nur Illahi mujudake anane: a. Nur Muhammad,
b. Asma Alloh ono 99 Asmo lan Sifat Alloh ono 20 Sifat;

3. Nur Muhammad, Asmo lan Sifat Alloh mujudake anane Alam Dunyo saisine, yo anane Kitab AI Qur’an Nul Karim bebere wujud dadi Jagad Royo, sarine Kitab Al Qur’an Nul Karim bebere wujud anane Surat Al Fatikah, Surat Al Fatikah wujude makna dadi Badan Jasmani kito yo anane Jagad Dumadi, kang samestine isine Jagad Royo iku podo lan memper karo isine Jagad Dumadi yo anane Badan Jasad yo Badan Jasmani kito.

Ing kono Manungso bakal nemahi anane Urip lan Pati, mangerteni sejatine sopo kang Urip lan sopo kang Mati, biso kaematake koyo fig ngisor iki :

U r i p :

a. Arahe nunggal nyawiji, anane Tauhit, wujude urip Ikhlas – Sabar, koyo anane napas kito, gegambarane nafas wektu ono sajabane irung iku anane HU, yen wis ono sajerone irung nganti tekan gulu iku anane Allah, bareng ono sajerone dodo lan sateruse iku anane Urip kito soko Kanugrahane Pangeran yo biso kasebut wenange Pangeran wus kanugrahake dadi wenange Umat;

b. Sampurnane margo soko ngabekti marang Kaluargane, ngerteni yen Manungso ora biso wujud tanpo anane Bopo-Biyung kang kasebut Pangeran Katon, wujude toto – tentrem kasembadan kabutuhane.

c. Mulyane margo wus ketekan kekarepane, wujude biso nunggal marang Jatine Urip soko netepi Pangangen – angene nunggal marang panyuwunan ketemu keluhurane yo mapan ono sajerone Baitullah.

PAKUBUMI TANAH JOWO.

Ono sawijine tetenger soko Pinisepuh kang ono Gunung Tidar, wujud Tenger Pal pratelon mowo Sandi aksoro Jowo So kang kapendem saduwure Puncak kasebut Paku Bumi Tanah Jowo, mowo aran Nyi Ratu Roro Mangli, aksoro Jowo So mau ono 3 (te1u). aksara, yen ora keliru mowo maksud koyo ing ngisor iki :

a. Kang sapisan aksoro SO-l mowo maksud Sastro, kang wujud ono sajerone bebere Ponang Jabang Bayi kang isih ono sajerone kandutan si Biyung iku anane Sastro, yo kasebut Garis Panguripane si Jabang Bayi, anane Sastro sajabane Garis Takdir lan Nasib.

b. Kang kapindo aksoro SO-2 mowo maksud Sugih, kang mujudake anane dedege Ratu Rumah Tangga yo Ibu Rumah Tangga unine Sugih, Sugih iku titi wancine Panyuwunane si Biyung wektu ndedege isi kang kasebut Purborangrang kanggo Anak Bojo lan Putune, biso nyukupi kabutuhane kaluargane.

c. Kang kaping telu aksoro SO-3 mowo maksud Sandi, kang wujud ono sajerone lambe barange wong wadon, anarik rasane si kakung (lanang) kasebut Sandi yo anane Wadi, asline wujud sake buah Quldi, awal anane Roso kang biso mujudake anunggale Rasane Pangeran. Sandi yo Wadi iku Rasane Pangeran kang dumunung ono Manungso, kudu biso nunggal misah Roso Rasane Manungso kalawan Roso kang kasinungan Rasane Pangeran yo anane Roso Rasane urip Manungso Sejati, njejegi anane Kawulo marang Gustine.

Tetengeran mau kasebut aran Nyi Ratu Mangli, aran mau anane tembung sanepan kang mowo maksud kurang luwih Ojo Pangling utowo Lali, manowo Urip sajatine wis ono kang nota lan ngersakake, Manungso among sadermo anglakoni.

Sake tatanan mau kite bakal mangerteni awal anane Pangeran anggone mujudake Manungso, netepi :

A. Tatanan aksoro SO-1. koyo ing ngisor iki :

1. Wektu Wiji sake Bopo lan Biyung ketemu ing keno Pangeran ngudunake Wahyu Nungkat Gaib, yo anane Wiji Kang Samar, kang wujud sake Roso Rasane Pangeran, wujude Wahyu Gaib mujudakake anane ROSO KANG AWAL sake anane Manungso;

2. Wiji mau banjur wujud setetes Getih yo anane Rah, ing keno Pangeran ngudunake ROH, yen satemene yo ing wektu iku Pangeran nyiptakake anane Bongso JIN, setetes Getih mau banjur wujud dadi segumpal Getih, ing wektu iku anane Alame SETAN – IBLIS ;

3. Soko segumpal Getih banjur wujud dadi Segumpal Daging, ing kono Pangeran ngudunake NYOWO bebarengan mapakake anane Wahyu Doyo Gaib, kang satemene Pangeran nyiptakake anane Bongso MALAIKAT ;

4. Sabanjure segumpal Daging wujud gegambaran Bayi soko anane Pangeran mujudakake “Sungging Purbangkoro” kang satemene soko anane Neptu Gaib mujudake anane SASTRO, yen ing Kuno biso kasebut ” Sastro Jendro Hayuningrat; Mahayu Hayu ning Bawono ” , yo anane Dino Pesti ;

5. Gegambaran Bayi banjur wujud anane Bayi kang sampurno, ing kono Pangeran mapakake anane ATMO yo anane Alame ASMO, Asmo kang wujud soko anane LELUHURE ;

6. Bayi lahir Sampurno, ing kono soko anane Wahyu Panguasane Gaib, yo mudune Kanugrahaane Pangeran kang wujud Sukmo, yo anane Uripe si Bayi, bayi banjur ngekarake derijine nuduhake yen Wahyu Neptu Gaib wus nunggal nyawiji, ing kono asline Pangeran ngudunake Wahyu Nungkat Gaib wus nunggal wujud ono sajerone badan saujude si jabang bayi, satemene Wahyu Nungkat Gaib mau wujud soko anane Nur Muhammad, kang bakal wujud dadi Nurcahyo yo Drajat Urip si Bayi.

Yen nurut gegambaran soko Surat Al Fatikah :

1. Ayat 1, ayat 2 lan ayat 3 ing kono anane Sukmo-yo Urip nguripi Umate ; soko Pujine Jagad Royo marang Pangeran kerso ngudunake Umate ing Alam Dunyo, krona Welas – Asih kanggo netepi Kratonan Jagad Royo, Manungso Kawenangake dadi kalifah ing Alam Dunyo, manowo sampurno Syahadate, bab iki kang wenang amung Pangeran.

2. Ayat 4 fig kono satemene anane Jiwo, soko wujud nunggal nyawiji anane :
a. Atmo yo alame Asmo netepi leluhure wektu Urip.
b. Nyowo yo alame Tetanduran mujudake Rojo Kayon mapane Bebalungan.
c. Roh yo alame Kekewanan, mapan ono Rah – Getih, banjur sumrambah ono Badan Jasmani saujud mowo tandane Urip.

Nuduhake manowo soko Kersane Pangeran Manungso iku wewujudan soko nunggale :
a. Rah yo alame Kekewanan dadi Rajane Kekewanan.
b. Roh yo alame Jin-setan dadi Rajane Jin – Setan.
c. Nyowo alame Tetanduran dadi Rajane Rojo Kayon yo anane alame Malaikat.
d. Atmo yo alarne LeIuhur, wenang nyarnpumake; patine LeIuhure. Bab iki anane wenange Pangeran kawenangake dadi wenange Umate.

3. Ayat 5, ayat 6, ayat 7 ing kono anane Roso kang awal yo Roso Rasane Pangeran, kanggo mujudake Roso Rasane Manungso, yen antuk Makrifate Al Fatikah bakal mujudake anane Roso Rasane Urip Manungso Sejati, margo soko UIah-Laku Umat anggone netepi Urip ono ing Alam Dunyo, lan biso mangerteni anane ke Dholiman ora nunggal marang Uripe, dadi wenange Umat, kang satemene bebering Roso iku biso kapilah ono:

a. Roso kang awal yo Roso Rasane Pangeran, kang nuntun sawemane Roso.
b. Roso kang soko anane Alarn yo anane Roso Sejati – Sejatine Roso.
c. Roso kang soko anane Poncodriyo, yo anane Roso soko babahan Howo Songo.
d. Roso Kang soko anane Sifat Aluarnah, Mutmainah, Amarah, Supiyah.
e. Roso soko Alam, Poncodriyo Ian Sifat yen kakumpulake banjur biso wujud dadi Roso Rumongso.
f. Kabeh Roso mau yen biso katunggalake nyawiji banjur wujud dadi Roso Rasane Urip Manungso Sejati.
B. Tatanan Aksoro SO-2 koyo ing ngisor iki :

Kang dimaksud Sugih, ing kene netepi anane Uripe Manungso kang wis biso mapakake Janjine Pangeran yo anane Urip Jejodohan, Sarnpumo mapakake Rasane Urip yo mekare ( makrifat ) Syahadate, bakal nemahi Kamulyane Urip yo anane soko bekti marang Wongtuwo sakloron, Morotuwo sakloron wujud dadi anane Pepuden ing lumrahe kasebut Punden Kang samestine ing wektu iku anane Pangeran mujudake dedeg piadege Wahyu Purbojati, Wahyu Purborangrang, Wahyu Purbosari.

a. Wahyu Purbojati anane wektu si kakung mujudake dedeg piadeg dadi Kepala KeIuarga.
b. Wahyu Purborangrang anane wektu si isteri mujudake dedeg piadeg dadi Ratu Rumah Tangga.
c. Wahyu Purbosari wujud soko panyuwunan si Kakung lan isteri marang Pangerane mujudake anane anak lan dunyo brono, kang satemene ono mudune Wahyu Jodoh, Wahyu Drajat, Wahyu Rejeki kang kasebut anane Wahyu Dorodasih.

C. Tatanan aksoro SO-3 koyo ing ngisor iki :

Kang dimaksud Sandi utowo Wadi iku satemene dedeg piadege ROSO netepi ono Rasane Pangeran, anane Wiji Kang Samar yo Wahyu Nungkat Gaib, mapane ono sajerone Lambe Barange Wong Wadon krona anane buah Quldi, awal anane kedholirnan, kamongko sapo bae yen netepi Among Nunggal Roso ( Senggomo ) yen ora kaawali sake anane Syahadat ing keno iku kalebu laku DHOLIM, kadadeyane bakal anane rusake Jagad Royo, yen kabeh podo ora ngerti maknane Syahadat (isine Jodoh) ono Uripe bakal anane Kiamat.

Satemene Sandi lan Wadi mau ono soko Lakune Pangeran, kang Nglakoni Umate, ning ora kabeh laku Among Nunggal Roso kedunungan Sandi lan Wadi, yen kajarwakake mowo maksud Among Nunggal Roso iku satemene laku ono sajerone Sifat Dholim kang samar.

I. DINO LAN PASARAN

Iki tatanan kang nuduhake arahe Urip kang kawoco sake anane Dino lan Pasaran, kang kawoco soko anane tatanan Neptu Go’ib ono ing Dino :

1. Jum’at Wage = Jowo,
2. Ahad Lagi = Allah,
3. Seloso Pen = Sapo, koyo kasebut ing ngisor iki:

I. Jum’at Wage= Jumat : huruf awal Jo =- neptune = 6
Neptu = 10 = Wage : hurul awal Wo - neptune = 4

Yen huruf awal kajumbuhake muni Jowo, kang mowo maksud hakekate Urip, yo maknane Urip, dadi kang dimaksud Jowo iku yo manungso kang ngerteni Sejatine Urip ing Alam Dunyo, ngerti anane Islam yo Slamete Urip ono ing Alam Dunyo yen ora kaliru ngerti bebere Kitab Layang Kalimosodo yo anane Syahadat kang turun ono Tanah Jowo dadi tuntunan anane serat Sastro Jendro Hayuningrat, Mahayu Hayuning Bawono, yo tuntunan Urip marang Perilaku kang nuduhake anane Hak lan Wajibe Urip, dadi kang kamaksud Jowo ing kene dudu Pawongan Kang lahir ono ing tanah Jowo utowo Suku Jowo.

Jumat Wage, Ahad Legi, Seloso Pen kabeh Neptune yen kagunggung ono neptu 10 anuduhake anane kabeh kang wis Kaciptakake dene Pangeran ing Alam Dunyo iki yen kagunggung nurut kasatuanne yo among ono 10 macem koyo kasebut ing ngisor iki :

1. Lemah / tanah 6. Tetanduran
2. Banyu 7. Kekewanan
3. Geni 8. Jin, Setan, Iblis, lelembut
4. Angin 9. Malaikat
5. Watu/Bebatuan ( Wesi, emas, 10. Pawongan (Wong, Tiyang, Manungso)

Yen Jum’at neptu 6 ing kono anane soko rukun Iman, yo biso kasebut soko anane wadah, dadi Dino iku mujudake wadah, lan yen Wage neptu 4 ing kono anane sedulur 4, yo anane isi, dadi Pasaran mujudake isi. Kaumpakake Wadah iku Jasad, isi iku Rogo, ing kono iku ketemu :

- Wadah = Jasad anane Badan Kasar - Jagad Royo – Kitab AI Qur’an
- Isi = Rogo anane Badan Alus - Jagad Dumadi – AI Fatikah.

Manowo kawoco soko gebyar lan gumelare Jagad salumrahe, ing kono ketemu anane dedeg piadege Wahyune Kaluarga kang dadi isine wujud Wahyu Purbo Jati, Wahyu Purbo Rangrang mujudake anane Wahyu Purbo Sari, kang nyoto wujud soko isine Neptu 6 ono ing Dino Jum’at wujud dadi :

1. Kemanten sakloron = 2
2. Wongtuo sakloron = 2
3. Morotuo sakloron = 2, yen kagunggung kabeh ono 6.

yen ing Pasaran Wage wujud soko anane
1. Sandang – pangan.
2. Papan – Pomahan.
3. Anak, Dunyobrono.
4. Luhure Kaluarga, yo isine Keluarga Sakinah “ma Warda wa Rohma yo anane Drajat Dunyo – Akhirat.

Yo ing isine dino Jum’at Wage iki awal bebere Kalimah Syahadat awal dedeg ¬adage Islam ono sajroning Ati – Nurani Manlingso.

Yen Jum’at neptu 6 ing kono anane rukun Iman, lan yen Wage neptu 4 ing kono ugo biso kagambarake cagak 4 utowo awal anane anasir 4 perkoro yo anane Bumi, Banyu, Geni lan Angin, anane Manungso manembah marang Pangerane soko Percoyo – Yakin – Iman marang Rukun Iman :

1. Allah, ono anane, kabeh wujud soko Kekarepan – Kehendak kang Nyoto Tulisane.
2. Kitab, a. ganng : a. Kitab Jabur - Nabi Daud as.
b. Kitab Taurot - Nabi Musa as.
c. Kitab Injil - Nabi Isa as.
d. Kitab Alqur’an - Nabi Muhammad saw.
b. teles : a. Garis Takdir, katulis among sepisan ora kaambalan maneh.
b. Garis Nasib katuIis soko Tindak Laku, Pakaryan lan obah – musike Kekarepan Urip Manungso.

3. Nabi Lan Rasul
4. MaIaikat, Jin – setan
5. Kiamat, Hari Akhir
6. Qodlo – Qadar, anane Takdir -Nasib wujude hukum Sebab – Akibat.

Cagak 4 wujud soko Anasir awaI, yoiku Lemah/Tanah, Banyu, Geni lan Angin kang nuwuhake anane :
a. LemahjTanah netepi Sifat Aluamah, anane Sabar – Narimo, wujud uripe soko kagowo Serakah
b. Banyu netepi Sifat Mutmainah, anane Adil, timbang Pamikirane, wujud uripe soko kagowo Iri – Drengki.
c. Geni netepi Sifat Amarah, anane Perkoso, anduweni Doyo – kekuatan, wujud uripe soko kagowo Murko – Nesu.
d. Angin netepi Sifat Supiyah, anane Adek Pribadi – Mandiri, wujud uripe soko kagowo Sombong – Angkuh.

Kaumpamakake Iman iku Kusir, Cagak 4 (papat) iku Jaran 4 (papat), kang playune nurut kekarepane dewe-dewe, sing kelir ireng playune ngalor tok, sing kelir putih playune ngetan tok, sing kelir abang playune ngidul tok, sing kelir kuning playune ngulon tok, Bendi-ne wujud soko anane Badan, Playune wujud soko Ragane tujuane netepi anane kekarepan.

Dino Jum’at dadi dino kekeran poro Nabi – WaIi, nyoto soko anane Sholat sunat Jum’at, ing kono margo soko Kanugrahane Pangeran Kang Moho Agung, kanggo Umate supoyo gelem Eling marang anane Tatanan Urip Bebrayan ing Alam Dunyo.

II. Ahad Legi : Ahad : huruf awal A - Neptune = 5
Neptu 10 : Legi : huruf awal LA - Neptune = 5

Yen huruf awal kajumbuhake muni Allah yo anane Pangeran, manungso wajib ngawruhi sopo sejatine Pangerane, ing dino Ahad Legi iki anane awal mbukak kawruh kang wis kasebut ono sajrone wawasan Ahad Legi.

Ahad neptu 5 gegambaran soko sedulur Papat ke Limo Pancer, wujud nunggal dadi Badan Kasar, kasebut njobo.

Legi Neptu 5, ono anane njero yo Badan Alus wujud soko anane :

1. Roso : soko Sifat Aluamah, Mutmainah, Arnarah, Supiyah, lsp.
2. Roh : soko manunggale Uripe Kekewanan.
3. Nyowo : soko manunggale Uripe Kekayonan yo Tetanduran.
4. Atmo : soko Gondo Arum Asmane ( sampurnane Budi – Luhur / Ahlak yang terpuji Umat ) alame Asmo Leluhure.
5. Sukmo : soko Kanugrahane Pangeran.

Ing ngisor iki satemene anane tatanan Roso kang dumunung ono sajrorie Badan saujude Manungso :

A. Roso : 1. Rasana Pangerane.
2. Roso Sejati yo Sejatine Roso, Roso kang wujud soko manunggale Roso Rasane Jagad Dumadi marang Roso Rasane Jagad Royo koyo to:
a. Uyah iku asin, asin durung mesti anane uyah,
b. Gulo iku legi, Legi durung mesti anane gulo,
c. Asem iku kecut, kecut durung mesti anane asem.

3. Roso Poncodriyo
a. Pangroso /Pangucap,
b. Panggondo,
c. Pandulu, d. Pangrungu,
e. Pangrobo.
4. Roso kang wujud soko anane manunggale Roso Sifat Aluamah, Mutmainah, Amarah, Supiyah.
5. Rasane Umat yo anane Roso Rumongso kang wujud soko kemampuane Umat anggone nunggalake Roso Rasane Pangeran, Roso Poncodriyo, Roso Sejati – Sejatine Roso, Roso soko anane Sifat Aluamah, Mutmainah, Amarah, Supiyah wujud nunggal ono ing anane Laku yo anane Tingkah Laku Budi Howo saben dinane kang bakal mujudake anane Akhlak kang minulyo.
6. Roso Rasane Urip Manungso Sejati, wujud soko nunggal nyawiji anane sakabehe Roso kang kasebut ing duwur mau.

Soko kawruh kang wis kabeber ing duwur, kito biso anglakoni nunggalake Rasane Umat wujud nunggal marang Rasane Pangeran sake wujud jumbuhe angen-angen lan nunggale kekarepan.

A. Roh : Roh iku Uripe Kekewanan kang nunggal marang Badan saujude Manungso, ananne Kanugrahan soko Pangeran kanggo netepi Serat Sastro Jendro Hayuningrat, Mahayu Hayu Ning Bawono.
B. Nyowo : Nyowo anane Uripe Tetukulan / Tetanduran kang nunggal marang Badan saujude Manungso, anane Kanugrahan sake Pangeran kanggo netepi wajib mapakake Serat Sastro Jendro Hayu Ningrat, Mahayu Hayu ning Bawono.
C. Atmo : Atmo iku Alame Asmo, wujud nunggal marang Manungso sake Dino kalahirane lan tetengeran yo Jeneng yo Aran kang sinebut sake Wongtuwane, kang kudu rinekso Manungsane supoyo biso anggondo Arum.
D. Sukmo : Sukmo yo anane tetengeran soko Pangerane kanggo papan nunggale Kawulo Gustine.

Soko katerangan ing duwur mall manungso biso njupuk Hak sake Pangeran yen manungso mau wis biso nglakoni kang dadi wajibe, yo soko wis biso anglakoni anane Mahayu Hayuning Bawono.

Roh iku Uripe Kekewanan kang nunggal marang Badan saujude Manungso, anane Kanugrahan sake Pangeran kanggo netepi wajib mapakake Serat Sastro Jendro Hayu Ningrat, Mahayu Hayu ning Bawono.

Ahad Legi yo biso kawoco A iku anane Ho lan Le iku anane La koyo kasebut ing ngisor iki :

1. A – Aku : Aku anane Pangeran, kang mengku anane Kitab Serat Layang Kalimosodo,
2. La – Laku : Laku, lakune Manungso ono sajrone bebering Kitab Serat Layang Kalimosodo,

Pangeran kang mengku Karep nunggal marang Kekarepanne Manungso mujudake gegayuhan kang kinarepake manungsane.

Kang biso nunggalake lan ngerteni wektu Badan Kasar nunggal marang Badan Alus kudu biso netepi anane Wahyu Trias Wiji yoiku sake :
a. Tekun, anane nota nafase,
b. Temen, anane tingkah lakune,
c. Teliti, marang satindak – laku lan obah musike kahanan,
d. Awas, marang anane Gudo – Cuba – Pengaruh – Gangguan,
e. Sabar, marang sepapadane Urip.

Bakal biso ketemu marang Alam Kelanggengane yo Mulyane Urip ing tembe.

III. Seloso Pon : Seloso : huruf awal So - Neptune = 3
Neptu 10 : Pon : huruf awal Po - Neptune = 7

Yen huruf awal kajumbuhake unine Sapo, ing kene mowo maksud Manungso wajib ngawruhi sapo Sejatine Pangerane lan sapo Sejatine Manungso, opo kekarepanane Pangeran kanti sake Kanugrahane Manungso mudun Urip ing Alam Dunyo, opo kang dadi Hak-e Manungso ing Alam Dunyo lan opo kang dadi Kewajibane Urip ing Alam Dunyo.

Sejatine Pangeran lan Sejatine Manungso yen ora kaliru kasebut koyo ing ngisor iki:

1. Dzat-e Hu ayang-ayangane wujud dadi Dzat-e Alloh yo kasebut Dzat-e Pangeran.
2. Dzat-e Alloh yo kasebut Dzat-e Pangeran, ayang-ayangane wujud dadi Nur Muhamnlad yo kasebut Wahyu I Sukmane Jagad Royo.
3. Nur Muhammad yo kasebut Wahyu / Sukmane Jagad Royo, ayang-ayangane wujud nunggal dadi Jasad, sake Kanugrahane Pangeran dadi Badan saujud-e Manungso.

Koyo wektu Pangeran nyipto anane Kanjeng Nabi Adam as., sake ruwet ¬krenteg-e Urip, Pangeran nyipto anane Ibu Howo kanggo netepi Sampumane Urip Manungso, sake Sampurnane Urip Manungso kanggo netepi Gumelare Urip, Kanjeng Nabi Adam as. lan Ibu Howo kaudunake ono ing Alam Padang yo anane Alam Dunyo soko Kanugrahane Pangeran.

Soko kaweruh ing duwur, ing keno ono anane sarine Gumelare Drip kang awal koyo ing ngisor iki :

1. Hu netepi anane Alloh, banjur Nur Muhammad netepi isine Jagad Royo, banjur anane Manungso. Ing keno ketemu anane ongko 3, kang dadi Neptune Dino Seloso, yo anane Wadah Panyuwunan.
2. Netepi anane Gumelare Urip ing Alam Dunyo turun remuntun ketemu anane, Cukul – Ngendok – Manak, ing kene ketemu ugo anane ongko 3, kang dadi Neptune Dino Seloso.

Satemene Pangeran ora anduweni Karep opo – opo sake anane Manungso, amung ing keno ono anane Geter-e Urip, kang katuntun sake anane Serat Layang Kalimosodo, Kanugrahane Pangeran kanggo adeg – dedeg Urip Bebrayan ing Alam Dunyo, netepi Gumelare Urip Manungso.

Soko Geter-e Urip lan anane Serat Layang Kalimosodo, ing keno wis wujud anane Hak kang ono anane soko lakune Urip Manungso, katuntunake sake Kanugrahane Pangeran ono ing :

1. Serat Al Fatikah, satemene wujud Pasemon sake Lakune Urip Manungso, “kanggo netepi Urip Bebrayan ing Alam Dunyo, netepi Wajib-e Urip koyo ing Serat Sastro Jendro Hayu Ninggrat, Mahayu Hayu ning Bawovo, kang utomo Tapak Laku yo obah – mosike Budi – Howo ono ayat ” Ihdinash shirothol mustaqim ” lan ” Ghairil magdhuubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin “, ing Serat Al Fatikah iki ketemu anane ongko 7, soko anane ayat Serat Al Fatikah kang dadi Neptune Pasaran Pon yo ono ongko 7, netepi wujud isine Urip yo Drajat-e Urip ing ngarsane Pangerane.

2. Do’a Sapu Jagad ” Robbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhiroti hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar ” ing kene soko isine maksud dadi arahe Urip Manungso ing ngarsane Pangeran, Slamet Dunyo – Slamet Akhirat, soko anane Slamet Akhirat ono ongko 7 kang nyebutake anane Swargo lapis 7 Neroko lapis 7. ongko 7 dadi isine neptu Pasaran Pon, yo anane arahe isine Urip.

Soko anane kawruh ing duwur, kang nerangake anane Urip lan Pati, nerangake anane Tatanan Slamet yo anane Tatanan Islam.

M a t i
a. Papane Ikhlas, ketemu Lego – legowo.
b. Sampurnane ono 5 perkoro :
1. Sing mati Poncodriyo.
2. Kang teko Pesti.
3. Kang lunggo Sukmo.
4. Kang bali Jasad/Badan/Dzat.
5. Kang ditinggal Asmo.

c. Sesebutane iku ono 4 perkoro :
1. Mati manyasar.
2. Mati manyusup.
3. Mati manitis.
4. Mati manatas.

Anane gegambaran mau biso kawoco manowo Pangeran anggone nyipto Manungso ora sadermo ” Kun fayakun “, mbutuhake wektu yo anane Neptu kang jlimet koyo Kersane, amarga Manungso kadadekake Kholifah / Pemimpin ing Alam Dunyo, sapo kang kliru anggone nemtokake anane Urip yo ketemu ke1iru anggone mbalik marang asale.

Koyo salah sijine carito kang keno kaematake ono ing ngisor iki :
Wektu Kanjeng Nabi Muhammad saw ono sajroning Mi’raj, Pangeran ngandikan soko walike Tirai / tabir,. Tirai / tabir iku anane soko asta / tangan sak kloron, sak temene kang kasebut Tirai / tabir iku sajatine yo anane Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo, dunung ono epek-epek tangan kiwo lan tengen, nulis pakaryane, sarto epek-epek suku / sikil kiwo- tengen kanggo nulis tingkah-laku kang katindakake saben dino, supoyo kito Urip ono sajeroning Alam Dunyo iki biso tansah waspodo tan ngati-ati, koyo kang kasebut ing ngisor iki :

1. Ati-ati ojo gumampang ndedegi urip ing Alam Dunyo ( Marcopodo – ono tengah), amarga anane urip ing clam dunyo kudu biso njejegi sifat adil, kuwoso ngatur urip pribadi soko bebering Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo, supoyo ora gampang keblidru marang samubarang kang durung mesti anane, amarga Kalimah Syahadat yo Kitab Layang Kalimosodo iku sejatine Tulisan Takdir kito kang wus dikersakake netepi Kamulyane Drip, yen Tulisan Nasib amarga soko kito mburu Nepsu lan keblidru marang samubarang kang durung mesti anane amarga kurang Imane.

2. Kang katoto ono tengah sajatine dedeg bebering Kitab Layang Kalimosodo, yo anane Kahanan Drip kito Pribadi ono lakune Urip, lakune Urip nunggalake anane Jagat Royo marang Jagat Dumadi sampurno wujud sajerone ono anane Alam Kelanggengan .

3. Amargo anane Urip iku kudu mangerteni Dedeg Urip Pridadi marang Dedeg Uripe Kaluargo kaembanake marang Wujud Gumebyar gelar Cahyone Urip, yo anane Kawibawan kito Pribadi

4. Urip Pribadi mangerteni sapo sing njaluk mangan-ngombe, ono kadedayan ope sajrone mangan lan ngombe, sarto wujud ngrungkepi rage dapi ope ?

a. Sing njaluk mangan lan ngombe iku anane Aluamah sifate Bumi, kudu biso rumekso Uripe, anane wujud kuoso nyukulake wiji kekarepan lan biso nyukupiopo kang dadi isine pangangen – angen sarto mujudake ono anane Gumelare Urip, mapake anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Jalal, yo dedege Gusti Kang Moho Agung, kuoso ngayomi Urip Pribadi, Urip Kaluargane.

b. Sing mangan lan ngombe iku anane Mutmainah sifate Banyu, kudu biso ndedegi kuwasane Gusti Kang Moho Adil, ora gampang kasemsem marang ka¬indahane Jagat Royo, ora melik marang barang kang durung mesti Hak anane, mapakake Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Jamal, mumpuni gawe ka-¬Elokane Jagat, kuoso note anane wujud sarine pangangen – angen biso gumebyar sanaliko, netepi sampurnane Rogo Sejati kanggo nyukupi kabutuhan Kaluargane.

c. Sajroning mangan lan ngombe ono kadadeyan sake anane Amarah sifate Geni, sajrone urip kudu biso mapakake Santosane Urip, ora ambeg siyo marang liyan, biso dadi panunggule bebrayan, yo anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Kahar, mumpuni ing gawe mujudake ka-Wisesane Gelare Urip Pribadi kito marang ka-Santosane Urip Kaluargo.

d. Sajroning mangan lan ngombe ono wewujudan sake anane Supiyah sifate Angin, sajroning urip kudu biso mapakake dedeg urip pribadi kito kang unggul ing drajat, ora gampang keno owah gingsir ono sajrone gelare urip yo obah ¬musike jaman, yo anane Sifat Gusti Kang Moho Suci kang asifat Kamal, biso dadi Pepujine Urip ing Jagat Royo soko anggone biso Sampurno note Urip Kaluargane lan Urip Pribadi kito ono ing bebere Kitab Layang Kalimosodo.

e. Kumpule ope kang dipangan lan diombe mapakake anane Gondo, sumrambah ono sajrone Rogo nguripi anane Doyo – Roso, mujudake anane nungale niyat ono sajrone angen – angen ngrungkepi mantepe karep, biso wujud gumelar keturutan kang dadi panyuwunane, unggul drajat uripe. Ojo nganti keliru utowo kasemsem marang gumebyare ka-Elokane kekarepan, ben biso Mulyo Urip ing Dunyo Akhirate.

Ojo nganti kasemsem marang ka-Indahane wewujudan kang Elo,k asal soko Aluamah, Mutmainah, Amarah tan Supiyah ben ora keduwung ing tembe mburi. Sajatine mangan lan ngombe iku wewujudan awal nunggalake anane Jagat Royo marang Jagad Dumadi supoyo biso karoso Panguasane Jagad Royo ono sajrone Rogo, menowo teller kudu kalarasake marang Nafas netepi anane Geter, Gerak, Pangucap, lan Pangawasane Urip Pribadi kito nunggal nyawiji ono sajrone Urip Sejati.

A. Nafas ono ing (tanpo eling)

1. Wadug : Uripe Bumi, nguripi Aluamah anane Serakah.
2. Ginjel : Uripe Banyu, nguripi mutmainah anane Iri drengki.
3. Paru paru : Uripe Angin, nguripi Supiyah anane Sombong jumawa.
4. Jantung : Uripe Geni nguripi Amarah anane Sereng murko.
5. Ati : Uripe Watu, nguripi kang ngaku Jati Diri anane Pengkuh kaku .

B. Nafas lungguh mapan ing ( eling )

1. Wadug : Netepi eneng- ening mujudake sifat Dermo Sabar.
2. Ginjel : Netepi eneng-ening mujudake sifat Samudono sembarang gawe biso.
3. Paru paru : Netepi eneng-ening mujudake sifat Mengku Drip, Ngayomi.
4. Jantung : Netepi eneng-ening mujudake sifat Wiseso, Santoso Uripe.
5. Ati : Netepi eneng-ening mujudake sifat Kuoso, Sampurno nota Uripe.

Makrifatullah Wali Songo



Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati: “Allah itu adalah yang berwujud haq”
MENJADI GUSTI ALLAH

Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

KITAB PRIMBON SUNAN BONANG

Bismi’llahi’rrah’mani’rrahimi, wa bihi nasta’in
alhamdu lillahi rabbil alamin,
wa shalatu ‘ala rasulihi Muhammadin wa washabihi ajma’in.
sunan-bonang1

Nyan punika caritanira Shaich al Bari : tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh ; kang pinituturaken wirasaning Usul Suluk – vvedaling carita saking (2) Kitab Ihya ‘ulum aldin lan saking Tamhid – antukira Shaich al Bari ametet ®) i(ng) ti(ng)kahing sisimpenaning nabi wali mukmin kabeh.

PUPUH I

Mangka akecap Shaich al Bari – kang sinalametaken dening pangeran : e-Mitraningsun! sira kabeh den sami angimanaken wirasaning Usul Suluk i(ng)kang kapetet ti(ng)kahing anakseni ing pangeran ; miwah kawruhana yan sira pangeran tunggal, tan kakalih; saksenana yan sira pangeran asifat saja suksma mahasuci tunggalira, tan ana papadanira, kang mahaluhur. e Mitraningsun ! den sami amiarsaha, sampun sira sak malih ; den sami aneguhaken, sampun gingsir idepira.

Iki si lapale tingkahing anakseni ing pangeran : Wa ash’hadu an la ilaha illa llahu wah’dahu, la sharika lahu wa ash;hadu anna Muhammadan rasulu llahi”.

(3) Tegese ikU: ingsUn anakseni | kahananing pangeran kang anama Allah, kang asifat saja suksma, langgeng kekel wibuh sampurna purba qadim sifatira mahasuci, orana pangeran sabenere anging Allah uga, pangeran kang sinembah sabenere kang agung.

e-Mitraningsun ! sang siptaning lapal “ora” iku: dening sampun awit itbat karihin, nora malih anaksenana i(ng)kang nora yakti ; tanpa wiyos idepe wong iku mene.

Kalawan ingsun anakseni yan baginda Muhammad kawulaning Allah kang sinihan, ingutus agama islam iya iku i(ng)kang tinut dening nabi wali mukmin kabeh.

e-Mitraningsun ! karana satuhune lapal “nora” iku: nora malih angorakena satuhuning Allah pangeran, nora malih angorakena pange(ra)n siya siya – tegesing siya siya (4) iku kadi ta ana | peken barang kakasihe: nora malih. Yan mo(ng)konoa salah tunggal den orakena kupur uga wong iku mene.

Kewala si lapal “nora” iku: sikeping wong kang sinung wasil paningale kang antuk pastining iman sakadare ika. Kewala lapal „nora” iku: i(ng)kangandelingaken mahasucining pangeran jan tunggal tanpa kufu’ iku siptane kang anduweni sabda iku.

Lan norana papadaning Allah pangeran. E-Mitraningsun Sang siptane lapal kang ingorakaken iku iya i(ng)kang orana pisan papadaning Allah pangeran. Tegesing sang sipta iku : dening mantep ananira uga kang andelingaken ing mahasucinira ing piambekira, mapan orana kang Iyan saking Allah pangeran. Kaya apa ta idepe wong iku mene yan anaha papadaning pangeran, duk sadurunge angucap (5) “orana pangeran” iku, | wus pasti ing idepe yan anging Allah pangeran kang sabenere, kang sinembah kang pinuji kang tunggal andadeken satuhune kang agung.

Mangka a(na)bda Shaich al Bari: e-Mitraningsun! karana i(ng)kang napi iku sawusing itbat, karana, duk angucap: “orana pangeran” iku, wus awit itbat: “anging Allah uga pangeran kang sabenere”. Iku salamete ujar iku.

Anapon kaping kalih, kang ingitbataken i(ng)kang anama Allah kang asifat saja purba langge(ng) kekel agung mahasuci : iku wiyos ing napi-itbat. Utawi pastining napi-itbat iku lungguhe ing kawula uga. Kang ingitbataken ta kahananing Allah uga kang asifat saja, mapan saos kang inganakaken lan kang ingorakaken – iku sang sipta – tan Iyan ananira uga, kang andelingaken (6) maha | sucining piambekira, kewa(la) si pangestuning kawula iku anut umiring saking pangakening wah’dahu la sharika lahira anakseni ing tunggal ing katunggalaning mahasucini(ng) piambekira.

Mangka anabda Shaich al Bari: e-Mitraningsun ! karana satuhune ingsun anakseni: anging Allah pangeran kang sabenere kang anitah angreh ing sembah puji kabeh dadi syuh sirna paningalingsun ing jiwaraga iki ; tuwi si ing sembah puji ika, anging kang saja mahasuci kewala langgeng amuji pinuji ing pamujinira, tan owah tan gingsir, tan asifat waliwali saja purba tanpa wiwitan tanpa wekasan.

PUPUH II

e-Mitraningsun! aja sira kadi ujaring wong sasar : iki si ujaring wong sasar iku, AbduI Wahid arane : mangka angucap AbduI Wahid ibnu Makkiyyah – anak pandita Mekah – ika, atunggul sastra tan (7) | apatut kalawan tegese : iki si lapale :

“Al’atlu qadimun wa huwva nafsul mutlaqi wa huwa dhatu’llahi ta’ala”.

Tegese: kang liwung saja iku, iya iku dhatu’llah, sabener-benere pangeran kang sinembah.

walakin laisa lidhatihi waqifun,

tatapi ta napining Allah liwunging Allah iku nora (wikan) yan suwunga.

Walakin(na) qabla chalqi(l) rasuli Muhammad(in),

tatapi ta sadurunging andadeken nabi Muhammad anging sira pangeran kang ana dewek tanpa rowang, norana kawula sawijia, kadi ta angganing sungging sadu runging andadeken, panuli(s) sadurunging anulis : ija iku tegesing liwung napi dhatu’llah nora ing devveke, norana i(ng)kang angawikanana ing dewekira, norana (ingkang) amujia ing anane anging sifate amuji ing (8) date – iku sadurung(ing) andadeken | rasulullah – norana sakutunira nora kaya apa : kaya iku liwung napi dhatu’llah. Anapon sawusing andadeken rasulullah iku mina(ng)ka kanyatahan ing dhatu’llah, ija rasulullah iku saosik lawan dhatu’llah iya, iku i(ng)kang awertaha pardana kabeh iya i(ng)kang pardana iku saosik lawan sih nugrahaning Allah iya sakatahing dumadi iki mina(ngka) tuduhing Allah”.

Mangka anabda Shaich al Bari : e-Mitraningsun ! pamanggihingsun ta nora mongkono kaya Abdul Wahid iku. Karana satuhune pangucape Abdul Wahid iku kupur ing patang madh’hab. Dhatu’llah denarani napi nora ing deweke, kalawan sira pangeran den arani durung andadeken ing rasulullah, durung andadeken ing sawiji-wiji : iku kupure. Karana satuhune kahananing (9) pangeran saja purba | karihin sadurung ana(ning) rasulullah kalawan sadurung ananing sawiji-wiji kahananing Allah mahasuci lan sasifatira chaliq, ananira saja langgeng amuji pinuji ing piambekira purba tan asipat waliwa(li), mapan langgeng kekel ananira mahasuci, tan bastu-jisim tanpa timbangan, tanpa lalawanan rehing langgeng ananira mahasuci.

Mangka anabda Shaich al Bari : e – mitraningsun! Abdul Wahid angucap: kang liwung den tegesaken maring ora : ikupon kupur, karana tegesing liwung iku suksmaning pangeran mahasuci saja ananira, tan ana wikana ing suksmanira tan Iyan piambekira uga punika reke tegesi(ng)kang liwung saja wruh ing suksmanira piambek.

Kadi ta kecping Abdul Wahid sakatahing dumadi denarani tuduhing Allah : ikupon kupur. Satuhune (10) tegesing tuduh iku | sifatullah, utawi anuduhaken iku sifat nugrahaning Allah : iku ana korup ing paekan tuduh lan anuduhaken iku dadi ingaran salwiring dumadi iki tilas kanyatahaning tuduh sipat nugrahaning Allah ika tan ana i(ng)kang akarya;

PUPUH III

e – Mitraningsun ! ana si kecaping wong sasar satengah; „i(ng)kang ana iku Allah; i(ng)kang ora iku Allah” , den tegesaken oraning Allah iku nora andadeken. I(ng)kang angucap iku kapir. Kang nora denarani ana gawene, den tegesaken: kang ora iku andelingaken mahasucining pangeran, nora dumeling mahasucining pangeran iku. Yan tan anaha, nora karane dumeling mahasucining pangeran iku dening ora, kadi ta angganing wong alinggih dewek ing asepi kederan dening ora. Iku njata(ne) Yen (11) sasar. | Mahasuci sira pangeran saki(ng) kadia kecap iku! Karana satuhune sira pangeran kang mahatinggi kang mahaluhur suksma mahasuci tan kadihinan dening ora, tan sarta kalawan ora, tan kederan dening ora rehing langgeng ananira mahasuci pastine tanpa tuduhan.

e-Mitraningsun ! mboya kang ora iku – kaia wirasaning sastra kadia sipating pangeran sifatulsalbi, tegese : sifating pangeran mahasuci lan kadi sawiji-wiji.

Anapon lam(pahing) salab iku : dudu malih sifating pangeran dudu malih sifating machluq, kewala si salab iku tantan andelingaken padudoning kawula gusti, tegese : sifating pangeran tan kadi sifating machluq sifating machluq tan kadi sifating pangeran, tatapi ta salab iku nora jan (12) angemaha dat, dat sipating pangeran sami angema salab, | beda salab iku lan kang ora iku – kang tan kinarsaken dening Pangeran – dadi nora andelingaken mahasucining pangeran : iku pamanggihingsun ing sastra. Utawi i(ng)kang andelingaken mahasucining pangeran iku sarira kanugrahan saking sih nugrahaning pangeran uga : iku kang angestoken anut umiring saking (sih) pangakenira andelingaken mahasucinira yan tunggal tan kakalih. Iku wiyosing anakseni ika, mapan sabdaning wong ‘arif ika nora anguninga napi itbat malih anging wiyose kewala kang ingitbataken : iya kadi iku wiyose sampurnaning napi itbat iku dening sampun anunggal paningale.

Mangka anabda Shaich al Bari kang sinung rahmat dening pangeran; singgih puniku kang atuduh marga agung abener : e-Mitrani(ng)sun ! kalawan ingsun (13) anakseni satuhune anging | Allah kang asifat saja asih anjateni tan antara sapolahi(ng)kang sinihan, amenuhi sih nugrahanira dadi nir anani(ng)kang sinihan tan sah anut i(ng)gek ing sihing dhatu’llah Iku wiyosing panarimani- (ng)kang lewih lewih ika, karana reke yan tan mangkanaha, wiyose idepe wong iku nispra tur ajnyana, tan wruh ing wadine.

Mangka matur Rijal ing Shaich al Bari : Sarwia subakti, ya guru amba ! anenggeh ta reke osiking jiwaraga puniki sarta lan sih nugrahaning pangeran?.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Iya ujarira iku anging maksih amilang paekan, ingsun ta, Rijal, ora mongkono. Osiking jiwaraga iku enir, anging dhatu’llah kewala kang angandeh anirnaken anam(ng)kang sinihan ika, mapan ta reke panarimani(ng)kang lewih lewih iku saos(s)aosing martabating pamanggih : kang (14) pinanggih | ananira kang tunggal tanpa kufu’ kang asifat saja (mahasuci) sasifatira apaekan kadi asma’nira, sangangpuluh (sa)sanga(ng) jangkep dateng nama Allah. Tegese (sangangpuluh) (sa)sanganing tunggal tegese paekaning sasifatira tan Iyaning ananira uga.

Mangka matur Rijal : sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba, Shaich al Bari ! Kadi punendi ing tampa tegesing dalil : “tekane saking Allah ulihe maring Allah”?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegese : puji saking Allah (kang) pinujeken anging Allah, tegese : paningal saking Allah kang tiningalan anging Allah. Iku salamete. e Rijal! ujaringsun ta : tekane saking tan Iyan, ulihe maring tan Iyan.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! kadi punendi siptane andika tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari) : e Rijal! Tegese : ujaringsun iku sang sipta kadi ta upamaning angilo (15) anane osike tingale | wawayangan ika kang angilo uga iku tegesing “saking” ika. Anapon tegesi(ng) “tan Iyan” kang angilo andulu dinulu tan Iyan pandulunira uga. Iku wiyose ujaringsun iku.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Kadi ta ujaring Shaich Abdul Wahid : “sira pangeran denarani dereng andadeken ing sawiji-wiji lan durung anjateni ing rasulullah, pangucape Shaich Abdul Wahid iku kupur. Kadi apa ta sira pangeran andadeken iku awiwitana awekasana? Karana satuhune kahananing pangeran kang mahaluhur asifat saja agung mahasuci langgeng kekel andadeken anjateni purba qadim tan asifat waliwali tan owah tan gingsir tanpa wiwitan tanpa wekasan rehing langgeng ananira mahasuci.

(16) Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! | Lan ingsun anakseni kahananing Allahu ta’ala asifat saja asih anjateni anir(n)aken a(ng)ganteni ing sasolahing sarira kanugrahan dadi enir ananing sarira kanugrahan kaganten kalingan anane dening wibuhing sih, kahanani(ng)kang anjateni kewala kang angalingi anging ananira uga kang asifat saja urip wruh kawasa aningali amiarsa akarsa anabda purba mahasuci langgeng kekel ame(ng)ka tan owah tan gingsir amuji-pinuji asih sinihan ing piambekira.

e Mitrani(ng)sun ! Iki si lapale :shahidtu nafsi,tegese : sira pangeran anakseni ing mahasucining piambekira agungaken i(ng) sifat kahananira purba ing dewekira tunggal ing katunggalanira agung ing kagunganira ratu. ing karatonira langgeng amuji-pinuji i(ng) piambekira.

(17) Mangka anabda Shaich al Bari : | e Mitraningsun ! Iku sampurnaning anakseni i(ng)kang kapeta ing shahadat ika, iku wiyosi(ng)kang winuwus akeh-akeh ika.

PUPUH IV

Mangka matur Rijal : sarwia subakti, ya guru amba!

Kadi punendi wirasaning sastra punika : mas’alah ‘ishq ‘ashiq ma’shuq?.

Mangka anabda Shaich alBari: e Rijal ! Tegesing ishiq iku sifatira, tegesing ‘ashiq iku ananira, tegesing ma’shuq iku af’al ira, mapan paekaning sasifatira tan Iyaning ananira, mapan sasifatira sarta andadeken tan anantaranira anani(ng)kang agawe lan kang ginawe, tan ana kari karuhun, tegese : tansah ing karsa parekipun kadi sartanira andadeken chaliqu’Imachluq kun fa yakun, iku tegesing sarta kang agawe kalawan kang ginawe, mapan sadurung inganaken ananingkang jinaten lan anani(ng) kabeh iki, uwus pasti ing kawruhira tekani(ng) waktune (18) dadi ing | mangko, iki tan siwah ing karsanira.

e Rijal! ingsun ta mengkene : kang ‘ishq-dhatu lah, kang ‘ashiq-dhatullah, (kang) ma’shuq-dhatullah.

Mangka matur Rijal: ja guru amba! Kadi punapa sang sipta andika tuwan puniku?

Ma(ng)ka akecap Shaich alBari : e Rijal ! tegese ujaringsun iku ishq-dhatullah : birahi ing ananira, tegesing ‘ashiq-dhatullah : kang biniraheken ananira, tegesing ma’shuq-dhatullah : kang birahi tan Iyaning ananira uga. Ika ta ingidep dening tan amarna paekan malih. Iku salamete, nora kaja ujaring wong sasar mangkana kecape : tegesing ‘ishq‘ashiq iku duk durung birahi, tegesing duk lagi birahi, tegesing ma’shuq ambiraheken iku ija ruh idafi iku ma’shuq ing af’alullah. Kang angucap iku kupur!

PUPUH V

Ana wong sasar malih angucap : iya namane iya karsane, (19) iya namane iya date, iya dat(e) iya | karsane. Iku amor ing paekan, tan wruh ing panunggale : iku karane (yen) sasar.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Ana kecaping wong sasar malih, K a w i b a t a n i y a arane, atu(ng)gul sastra, anging tan apatut lan tegese, tan apatut lawan budi, miwah ing Usul Suluk, kadi ta ing Tamhid, ing Ihya ‘ulum aldin norana kapanggih dening-sun – iku nyatane yen sasar! kadi angrupakaken sifating pangeran, kadi angapesaken sifating pangeran, kadi akecap : sakatahing dumadi iki sifating Allah, kadi anganakaken ingkang nota, kadi ama’dumaken ing Allah iku kupur ! ; akecap : endi sifating Allah? kang angucap iku dadi kapir.

Tegese angapesaken i(rig) sifating pangeran : sifating pangeran ora mateni ora andadeken ora anjateni ora weh (20) rijeki pasti kang | angucap iku dadi kapir dening anganakaken ingkang ora. Tegese (iku) ama’dumaken ing pangeran angucap : Allahu ta’ala ora ing deweke, ma’du(m) binafsihi - kang angucap iku dadi kapir.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi puniku, dadia kapira pun temen puniku i(ng)kang akecap mangkaten punika?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Kang angucap iku kapir tenien – Allahu ta’ala denarani ora andadeken lan angapesaken sifating pangeran, lan amurbaken ingkang ora, lan amor paekaning sifating pangeran : mapan narakane kang angucap iku awet kapetekaneng dasaring narakani(ng) wong kapir.

Tuwin antepe kawruhe wong mongkono iku : paningal(e) iki paningaling Allah, sifate iki sifating a) Allah, pakarjane (21) iki pakaryaning Allah, pangucape iki pangucaping | Allah, mapan tegesing Allah iku dat, mangkana malih : osiking jiwaraga iki osiking Allah ija iku traping Allah asung eling asung awas kadi ta u(pa)mani(ng) gelepung wos (s)atu(ng)gal ketan satu(ng)gal, mangka winor : esak punapa ta yan aranana ewos. e Rijal! ika nyatane yen sasar, mapan beda iku lawan andikaning pangeran ing dalem Qur’an:

“maraja bah’raini yaltakiyan(i) bainahuma barzachim la yabghiyani”.

Tegese : kadi patemoning sagar,a kalih asin lawan tawa, anta arane iku, aworeneng rana. Nyatane tegese; ora kena aranana sagara, tan kena aranana toya tawa, utawi ta i(ng) jenenge iku anta, tegese iku dening linewih saking toya kabeh dadi anarima namaning sigihing sagara. (22) Anapon ing sampurnane iku ta tan ana | panarimane, anging sagara kewala kang angandeh anar(n)aken ing toyane tawa, mapan i(ng) karone iku langgeng apadudon tanpanisih kang anjateni lan kang jinaten. Nora kaja patemoning wong sasar mangkana, kang pasti kekel .sasoring narakani(ng) wong kapir ndening kataksisaning tampane. Karana satuhune sasmitane iku sampun kataksisani(ng) tampane andeandene kaJawan kang ingandekandekaken den kagrahita dene kang sinung awas, katampanana ing ati, sampun ing Iesan kewala. Kewala si ande-ande iku ingambil raket ing paningali(ng) kang sinihan. Mahasuci sasipating Allah saking atiti(m)ban, gana lan kawoworana, kadi lapal :

kama’lnasu ghara fi’lbahri, tegese : kadi ta wong asilem i(ng) sagara (23) tegese : kaliputan dening | sagara, tegese : tan lumiring i(ng-) ikalihe malih, la yaltafit,tegese : tan emut ; utawi sasmitane lapal malih idha ja’a ‘lmataru fi ‘lbah’ri, tegese : tatkala teka udan iku ing sagara, (wa) yusamma ‘lbah’ra, tegese : ingaranan sagara.

Utawi sasmitane lapal malih, kadi ta kecaping pandita satengah :

fa waqtan yakunu (‘l)abdu rabban,(tegese :) tatkalaning fana kawula iku awiyos sira pangeran, bila shakkin,tegese : sampun sak malili, (la ‘abda), tegese : norana kawula sawiji-wijia

illa ‘lrabbu, tegese : anging sira pangeran kang saja angandeh anir(n)aken anani(ng)kang sinihan. Iku salamete ujar iku kabeh.

PUPUH VI

Mangka akecap Shaich al Bari: e Ridjal ! Anaudjaring wong sasar malih, Karramiyyah arane : kang iman tawh’id ma’rifat iku den arani tetep ing pangeran, den (24) karepaken dene wong | sasar iku : sira pangeran aneguhaken ing piambekira yen purba tanpa kufu’ iku tegesing iman, sira pangeran anu(ng)gal paningaling piambekira iku tegesing tohid, sira pangeran awas andulu-dinulu ing ananing piambekira – iku tegesing ma’rifat.

e Rijal! Kupure iku ; iman tohid ma’rifat iku den tegesaken maring paekaning wujud tunggal : iku karane (yen) sasar. Karana satuhune iman tohid ma’rifat (iku) titiga iku martabat lungguhe ing kawula, tetep i(ng) kang sinihan, dede iman tohid ma’rifat ing Allahu ta’ala. Dudu i(ng)kang angucap iku iman tohid ma’rifat tetep ing pangeran, kang angucap iku dadi kapir! e Mitraningsun ! Kalawan sira aja angucap kadi pangucaping wong sasar ika, manawa sira dadi kapir, mapan akatah. angucap kadi anutur ujaring wong sasar iku, (25) sami atunggul sastra. Aja sira gumawok, | sampun gingsir idepira; balikan sira den awas angawikani ing awakira lan aja pegat mushahadahira ing pangeran.

Tegesing awakira iku sarira kancegrahan : singgih puniku mina(ng)ka paesanira enggenira awas ing sih nugra(ha)ning pangeran. Ye(n) tansah anugrahani asung wruh, anjateni ing sarira kanugrahan, mapan solahing sarira kanugrahan iku tan antara lan sih nugrahaningkang anjateni ; dadi sira aja tumingal ing Iyan, tumingala sira ing sih nugrahaning Allahu ta’ala uga, dadi sira antuk madyaning tingal salamet sira ing dunya dateng ing aherat, antuk sira jenenging manusya. Lamon ugi sira nora mongkonoa ing tingkahira iki, yakti kapaung tingalira iku mene. Satuhune ananing pangeran kang asifat saja langgeng mahasuci tan Iyan ananira uga, kang tan bastujisim ananira kang purba andadeken kang asifat suksma (26) jati | tan anuksma tan sinuksma tan awor lan salwiring (du)madi kabeh, rehing langge(ng) anani(ng)kang purba, mapan ananira mahasuci suksmanira wibuh sampurna elok mahamulya mahatinggi mahaluhur, utawi ananira tan ana wikana ing suksmanira tan Iyan(ing) piambekira kang wikan ing suksmanira pribadi.

PUPUH VII

e Mitraningsun! Lamon ana wong angucapa mengkene, kapir : sifat iku ana ing dat, asma’ iku ana ing deweke iku pon kupur! Mengkene salamete : asma’ ning dat tan Iyaning ananira (ananira) kang asifat saja langgeng mahasuci, kang purba andulu dinulu ing ananira, kang mahasuci amuji-pinuji ing piambekira.

e Mitraningsun! Lamun ana wong angucapa mengkene “sipat sipat, edat edat” ikupon kapir, apa ta kahanan roro iku yan mongkonoa. Satuhune mengkene salamete (27) paekani(ng) sasifatira tan Iyaning ananira. |

e Rijal, mitraningsun ! Ana ujaring wong sasar *Mutangiyah arane akecap : Apa tegese idepe iku denarani ora kapurba : Allahu ta’ala nora amurba, mapan jenenging kawula iki ora, apa ta purbane, mapan mantep pandelenge : Allahu ta’ala nora amurba, mantep amuji pinuji ing deweke, apa ta karane yen amurbaha? Kang angucap iku dadi kapir.

e Mitraningsun ! Kalawan ta kang orana araharahe, kang orana kajatine kang tan awarna kang tan kaya apa nden arani mahasuci purba andadeken iya kang sinembah tunggal. Iku panga(ng)geping wong sasar, *Muntanengiyah arane.

Utawi ana wong sasar sawiji, ‘Arabiyah arane, akecap : sadurunging ana jagat iki kabeh nama Allah pon dereng nyata lan dereng ana iku dat ; mangkana malih dat (28) | iku anyatakaken ing asma’nira, sarta lan dadine jagat iki kabeh, ingupamakaken dat iku kadiangganing wiji-sawiji awit agodong akembang awoh iku sami amuji ing wit, lintang nikmate rasane manise godong sekar woh iku. Singgih puniku rahasya kabeh rahasyaning wit, norana rahasya wawaneh ; kabeh iku rahasyaning wit : (i)ya iku tegesing dat samata ika tanpa sifat tanpa af’al. Tegese iku : date qadim, sifate af’ale muh’dath anging dat kewala kang ana dewek tanpa rowang. Mangkana malih kahanane jagat iki kabeh rahasyaning dhatu’llah, mapan pujining kabeh iki iya amuji ing dewekira iku. Tegesi(ng)kang amuji ing date kang pinuji ing date kang aningali Allah. Tegese jagat iki kabeh gelaring wiji sawiji, maksih sawiji, tan ana wawaneh, kadi ta ang(29)gani(ng) wesi | bariyuh sawiji, wonten dadi tumbak, dadi duhung tatah wadurig panyukur, dadi usu cacatut

edom kadut, linebur pinalu dadi tosan malih : dene si asale saking wesi sawiji mulih kadjatine sawiji. Mangkana rnalih osiking jiwaraga iki osiking dhatu’llah paningaling kawula iki rahasyaning dhatu’llah. Kang angucap iku pasti kinekelaken sasoring narakaning (wong) kapir kang anembah ing brahala ika.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun ! Ana si sabda kang kocap ing sastra ika kadi ta andikaning dalil dateng ing h’adith :

alinsanu sirri wa ana sirruhu,

tegese andika iku : rahasyaning manusya iku rahasyani(ng)-sun, ingsun pon rahasyane. Tegese iku : dening rahasyaning manusya iku tansah dinaten i(ng) sih saking pa(nga)kening sihing dhatu’llah dadi rahasyaning manusya (30) iki tansah anarima angestoken umiring | pangakening sih rahasyaning dhatu’llah. Iku wiyosing panarimaning manusya kang linewih sinelir ika, mapan sira pangeran kang saja asih angasihi ing piambekira iku minargaken panarimaning lisaning manusya, kewala si sihi(ng) kawula iku minangka walesaning angasihi edat ing sifat af’alira, dadi darma malesi kewala lisaning kawula iki.

e Mitraningsun ! sira pangeran agelar ing kawidagdanira anyata(ka)ken ing saniskara kabeh kasaktenira dat-sifat-af’alira. Kalawan kawruhana salwiring pakaryanira norana apakarana saking kawula utawi anaha sakedep netra ing angenangene, anaha uga apakarana saking kawula kupur.

PUPUH VIII

Kalawan ta sira sami aulaha saca, nden akehakeh wedinira lan awiranga sihing pangeran, aja sumambarana kalawan sira angrasanana;

1. mamanising asepi
2. mamanising (31) | aluwe
3. mamanising urip
4. mamanising rame
5. mamanising lara
6. mamanising pati.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi mamanising asepi puniku kalawan mamanising aluwe? Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing mamanising asepi iku tan keneng apasah tansah akarwan lulut lan pangeran Iku wiyosing asepi ika (i).

Anapon mamanising lapa iku kawruhana jeroning lapa iku tansah angrasani ni’mat saking sih nugrahaning Allah. Iku wijosing lapa ika.

Anapon mamanising agesang iku : kawruhana jeroning uripira iku tansah lumampah ing pakening sabda purba – wisesaning pangeran. Iku wijosing aurip ika.

Anapon mamanising arame (iku) : kawruhana jero(ning) rame iku yan sati(ng)kah-polah iku minangka pangi(n)(32)tipanira dadi katingalan sih nugrahaning pangeran | kewala. Iku wijosing arame ika.

Anapon mamanising alara (iku): kawruhana jeroning alara iku angrasani pakenake iku, ing enenge ing osike ing pangaduhe ing pangesahe, iku mina(ng)ka pamudjine. e Ridjal ! Yen sira wruha ing awakira iku, yen tansah angrasani ni’mat saking sih nugrahanira sadum parentahira, mapan tan antara kang amolah lawan kang pinolah! Iku wijosing lara ika.

Anapon mamanising pati iku : kawruhana jeroning pati iku ye(n) tansah jinaten ing sih tan sinung mulat i(ng)kang Iyan malih, dadi nir patine kandeh kaganten kalingan anane dening wibuhing sih, (ing) anani(ng)kang saja asih anjateni kewala tan Iyan anani(ng)kang sajaagesang langgeng amuji-pinuji andulu dinulu ing pandulunira. Iku wiyosing pati ika.

Lamon ugi nora mo(ng)konoa, i(ng)kang atapa iku | (33) tingale saparti h’aywan tingale z’ahir batine wong iku sato uga!

e Mitraningsun! Mapan kang sinung wikan iku wasil paningale ing pangeran, tan ana patine, salamet ing dunya, urip ing aherat. Kang nem parkara iku ta poma ®) den sami kalampahan denira den sami kacep kabeh.

PUPUH IX

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Punapa ta puniku lampahing wong lewih?

Mangkaanabda Shaich al Bari : e Rijal! (Lam)pahing wong lewih iku kabeh yen ta sira wikana, mangkana luputa ing paningalira iku kabeh, mapan sakatahi(ng)kang karasa i(ng)kang tiningalan miwah ing osike jiwaraganira iku kabeh, ing enenge, ing duka-cipta nastapane kabeh iku dudu lan deweke saparti batang lumampah ; anging lumampah lan idining sih kaharsaning pangeran ugi. (34) Ika mina(ng)ka sapatemonira lan | pangeran, mapan reke osiking jiwaraganira iku sarta lan sih nugrahaning Allah, tatapi osiking jiwaraga iki sarta lan dhatu’llah, tegese : tan aganti lan pangawasaning Allah. Anapon kawula kang sinung sampurna tingale maring anane jaga(t i)ki kabeh i(ng) rupane ing solahe dadi kedape tingale anging wiyosing tingal iku : sira pangeran kewala.

e Rijal! De(n) wruh sira ing anane awakira iki, karane ing anane ing patine duk sira durung dadi, aduwe paran €) sira samana, utawi si ing tembe dening maksih ina ing jenengira iki, tegese dening kalintang tanpa derbe ^). Utawi aderbe paran sira samana, mapan ananira iki ingupamakaken kadiangganing wawajangan, kewala sidening kinarsaken enggening anunggal (pa)ningalira i(ng)kang angilo pribadi, kang aningali tiningalan kang (35) asih sinihan tan Iyan(ing) | piambekira. Kewala si panduluning kawula iki pina(ng)ka cihna panduluni(ng)-kang asih (asih) sinihan ing dewekira dadi nir panduluni(ng)kang si(ni)han kawibuhan dening sihira kang saja aningali, kewala si panduluning kawula iki darma amalesi.

Ma(ng)ka jan ana akecapa mengkene : kang angilo iku nora aningali wawayangan, kang angucap iku dadi kapir. Kalawan ta sira adja gingsir lamun dinedeken ing wong, den apageh idepira. Yen malih sira gingsira, tan antuk pastining kawruh kalawan iman, karana wong kang angluputaken iku ana kang olih marga abener iku, ana kang olih marga sasar. Anapon kang olih marga abener iku : tingkahe wong iku arep pada pada nora malih amelag rarasan sajane amamarahi winarahwarahan, tan ajun dadosa patakenan angilapaken agelisa mengeti ®(36) ing salamete, tan ayun agungena ing awake, | tan ajeng angakena ing kabisane, tan ayun akarya-karya, tegese : dening asanget awedi lan awimng ing pangeran : iku reke cihnaning wong sinalametaken, sinung marga abener dening pangeran, iya iku kang sinung wasil paningale antuk idep tan pegat sinalametaken ing dunya dateng ing aherat.

Anapon kang a(ng)luputaken a(n)tuk marga sasar iku, angilapaken tan asadya amamarahi amalaku ing idep(e), agungaken ing kabisane ayun ing hormataning wong kalingan dene awake dening agungaken ing kabisane. Utawi tingkahe wong kang mongkono iku pancanetra sawadiane oliha ing karsane dene si i(ng) sad-yane arep dadia pangulu utawi lampahe kabisane arep kapiarsaha ndening wong akeh aduwe ‘ilmu sakecap agepeh den wejangaken abungah aburu alemaleman. Iku reke ©(37) | cihnaning wong sinungan jaza’ dening pangeran tan pegat susahe arubiru, tan eca atine dening awet amet gingsiraning wong dene si arep kasihana ndene samasane machluq. Ikpe lah kang kinaumaken lan Iblis - la’natu’llah.

e Mitraningsun! Sira kabeli adoha sira saking wong sasar lampahe kang mo(ng)kono iku, manawa sira katularan sasar; balikan sira anedaha sakauraa kalawan kang sinihan ika, i(ng)kang tansah ing sihing pangeran, anedaha sira sing patulunging pangeran.

e Mitraningsun! Kalawan ta sira aja nga(m)bil dedening wong, utawi aja sira murtadd ing samitranira kang asih ing sira. Kupur hukume ! Tegese asih iku amamarahi kawruh kang sabenere. Wenang mitra iku yan ti(ng)galena, yen wus nyata pangucape iku yen sasar, selang

iku si aja sira mu(ng)kir pisan tedakena ing pangeran, sang(38)ka(na)ne abalika ®| agelisa atobata ni(ng)kaha malih kalawan

rabine. Iku salamete. Kalawan ta sira aja anyipta dunya, kalawan aja sira murtadd sami-saminira islam!

e Mitraningsun! iya kang keneng sakawan parkara iku, kalintang kinagedegan dening pangeran. Wong kang mo(ng)kono iku mesum ing dunya dateng ing aherat. e Mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami saminira islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah.

PUPUH X

Mangka anabda Shaich al Bari : (Ru’yatu’llahi) arus tan arus.

Mangka matu(r) Rijal : ya guru amba! Kadi punendi tegese andika tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari : e Ridjal! tegesing ru’yat iku : aningali ing pangeran, ing aherat lan mata kapala, ing dunya lan mata ati. Nora arus ing dunya aningali ing pangeran iku lan mata kapala, kalawan arus (39) ing tembe | aningali ing pangeran iku lan mata kapala. Tegesing mata kapala iku, paku(m)pulaning sakatahing paningal kalintang dening sira pangeran asung ni’mat anampurnaken ing paningali(ng)kang sinihan. Ingucapaken kang paningal iku kadiangganing pati ing undake ta lisah, kadi ta pisang mentah nyadam mateng ing undake dalu, kadi ta angganing sasi tanggal sapisan, ana kang kadi tanggal pi(ng) kalih, ana kang kadi tanggal pi(ng) tiga- ing undake ta kadi purnamasada ®.

Tegese iku ta kabeh dening saja mundak martabate sinampurnaken tingale dening pangeran dadi tan sak tingale ing dat-sifat-af’alira ; mapan kang tiningalan bila tashbih, kang aningali pon bila tashbih.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi sa(ng) sipta andika tuwan puniku?

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Siptane iku ®(40) ta | dening jinaten sinampurnaken tingale dadining tingale mantep kadi duk dereng ana mangkana – ma(ng)kana siptane iku – anging anane kang sadja anampurnaken kewala, kang langgeng amuji-pinuji ing piambekira.

Nora arus ing aherat aningalana ing Allah lan mata ati : iya iku salamete ujaringsun : “tan arus” ika. e Mitraningsun ! Beda kadi ingishtarataken wulan ika kadi kang kocap ing sastra : andikaning h’adith dateng wali mu’min kabeh :

innakuni satarawna rabbakum yawma ‘lqiyamati kamatarawna ‘lqamara fi lailati ‘lbadri,

(tegese:) karana satuhune sira kabeh aningali ing dina kiyamat ika kadi ta sira aningali wulan ing wengining tanggal pi(ng) padbelas,

amma damiru ‘lqamari ‘llahu munazzahun bila kaifiyyatin c),

Anapon kang linamiraken dateng ing sasi iku pangeran uga mahasuci kang tiningalan tan kadia ande-ande tan kataksisana. |

(41) Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi sasmitane linamiraken dateng ing sasi puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! . Siptane iku dene tan nyatanira aningali ing pangeran dadi inga(m)bil sa(ng) siptaning sasi ika raket i(ng)kang tiningalan ing(kang) aningali ing pangeran mapan bila tashbih sasifatira, ing mangkin pon boya esak denira angawikani ing ananira tan bastu djisim rehing langgeng ananira mahasuci.

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Nora kaja ujaring wong sasar mangkana ora kecape : satuhune kang tiningalan ing tembe kadi wulan iku nora maring kang tiningalan nora maring kang aningali ma(ng)ka kang angucap iku dadi kapir. (a’udhu bi’llahi) minha!

PUPUH XI

Mang(ka) akecap Shaich al Bari kan g sinampurnakaken iman(e) tohide ma’rifate dening Allahu ta’ala e Mitraningsun! Den sami awa(s) sira ing pangeranira, den ©(42) sami angestokena, | kalawan sira anglaranana sarira tegesing anglarani sarira iku : aja sira sukasuka awakira — kalawan ta aja mamaesi pangan(ira) panga(ng)genira turunira ing dunya. Atinira aja madep ing Iyan balikan sira asukansukanana akalangena lan pangeran.

Mangka matur Rijal : Sarwia subakti, anuhun ing jeng, ya guru amba! Kadi punendi kang iman singgih dede puniku, i(ng)kang tohid singgih kabeh, kang ma’rifat dede kabeh?

Mangka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Kang iman singgih dede puniku dening paningaling iman ambedakaken ingkang ala kalawan kang abecik. Utawi panggawe ala nden kawruhi yan tan kinatujon dening pangeran. Iku karaning siptaning iman singgih dede.

Anapon kang tohid singgih kabeh : dene si paningaling tohid iku, tan lumiring ing singgih dede malih, kang den. ® (43) tingali tan Iyan pinangkane kewala dadi | ing tohid singgih kabeh.

Anapon kang ma’rifat dede kabeh ndene si awase paningale iku kang tunggal maring pangeran iku, dede sajatine tingale dadi syuh sirna tingale dening kandeh, kaganten kalingan tingale dening tingali(ng)kang sadja aningali tiningalan tan Iyan paningalira uga, tunggal kang aningali kabeh. Iku wiyosing “pamuji kang amuji kabeh.

PUPUH XII

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi ma’rifat (t)igang prakara punika, kadi kang kocap ing sastra : ma’rifatu dhati ‘llah, ma’rifatu sifati ‘llah, ma’rifatu af’ali ‘llah), kadi punendi sang siptane katiga punika?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing ma’rifatu dhati ‘llah : kawruhana ananing pangeran kang mahaluhur yan tunggal tan kakalih sasifatira sadja langgeng kekel mahasuci tan bastu-djisim tanpa arah tan

(44) ® misra | tan awor tan anuksma tan sinuksma, rehing langge(ng) ananira mahasuci wonten ing iskinira ing piambekira langgeng ing karatonira tan owah tan gingsir ing pa(ng)lilanira.

Anapon ma’rifatu sifati ‘llah : kawruhana kahananing pangeran asifat h’ayyun : urip langgeng tan kalawan nyawa, angawikani tan kalawan budi, kawasa tan kalawan anggauta, aningali tan kalawan aksi, amiarsa tan kalawan karna, akarep tan kalawan angenangen, angandika tan kalawan lati swara, langgeng kekel mahasuci tan kadi ing dumadi kabeh.

Anapon ma’rifatu ‘laf’al : kawruhana sifat-pakaryaning pangeran : akarya tan kalawan parbot, asung tan kalawan asta, amejahi tan kalawan karga. Iku tegesing ma’rifat tigang warna ika.

Anapon cihnanira yan asifat urip sadja ana wruh (45) kawasa iya anguripi angawasakaken Iwiring | kawasa kabeh, yan anguripi Iwiring urip kabeh : iku enggene nyata. Lan ta sira den sami bakti nastiti paken, lan den aseruh wedinira ing pangeran. Lan raksanen pangucapira saking kadi pangucaping wong sasar punika : demi akecap, dadi kapir, mapan kecap iku medal saking wicarane atine, medal i(ng) lisane, kadi ta wong aguguyon : “ingsun ing tembe sapuluh taun iki arep milu dadi kapir”, demi angucap kadi iku dadi kapir.

e Mitraningsun! Pira wangene idepira! Sakecap sakedap nora yan sira mongkonoa, tan kapira. Kadi ta ujaring wong sasar, manjing kataksisan ing atine, Ka b a t a n I y a h arane, kecape ta : sira pangeran ma’dum binafsihi sira pangeran napi. Demi akecap dadi kapir.

PUPUH XIII

e Mitraningsun ! Aja awasta sira aja wong kang mo(ng)kono iku, karana mesum i(ng) dunya (a)herat (46) amitraha sira sampun, tatapi | ta akatah ujaring wong sasar kang Iyan saking puniku, kadi ta ing kina S h a i c h Supi, Shaich Nuri, Shaich al Djaddi, sami akecap, kagepok ing ujar sasar, mangka kinupuraken denira Imam Ghazali kang awasta ‘Abdu ‘larifin. Tuwi sakatahing sisyane masaek titiga ika sami kinen atobata lan kinen ani(ng)kaha malih kalawan rabine. Mangka akecap masaek titiga ika sami atu(ng)gul sastra, yan sira pangeran ora andadeken. Akecap Shaich al Djaddi :

“alawwahi ‘llahu ta’ala qabla (kulli) shai’in tegese iku : dihin sira pangeran ora andadeken, sadereng ana sawiji-widji iki.

Ingsun malih ama(ng)geri : sira pangeran dihin sadja andadeken langgeng tan ama(ng)sa, tan asifat wali-wali tanpa wiwitan tanpa wekasan.

Jata sun aturaken dateng padjenganira Imam Ghazali – rah’matu ‘llahi ‘alaihi.

Ma(ng)ka matur Rijal: ja guru amba ! Kadi punendi (47) masaek | titiga punika sami tumut amarek ing Imam Ghazali?

(Mangka akecap Shaich al Bari): e Rijal! Sami tumut masaek titiga ika amarek ing Imam Ghazali : demi katingalan mangka tiningalan masaek titiga ika. Winanpaosaken : a’udhu bi’llahi minha : anglindung amba ing Allah, dohena amba saking marga sasar.

……man ittaba’a ‘lhuda moga lah sira anuta ing margaabener, mapan kinawikanan Shaich Supi, Shaich Nuri, Shaich al Djaddi sami kagepok ing ujar sasar.

Yata ingsun ingulukan salam denira imam Ghazali : Alsalamu ‘alaikum, ya Shaich al Bari, kang sinalametaken dening pangeran kang rinaksa dening Allah saking kagepoka ing marga sasar : punapa karsa tuwan ?

Mangka ingsun atur jawab anapani i(ng)kang (ng)andika imam Ghazali — rahmatu ‘llahi ‘alaihi : ya imam Ghazali kang jinungjung darajate ndening pangeran i(ng)kang amadangi ing wong akatah : amba matur (48) ing tuwan jen Shaich Supi, Shaich Nperi, | Shaich al Djaddi sami akecap: “Allahu ta’ala nora andadeken”.

Mangka angandika imam Ghazali amaca : a’udhu bi’llahi minha, ya Shaich Supi! (Ap)a siptane ujar tuwan puniku ?

Jata matur Shaich Supi : ya imam Ghazali! Nora idep amba yan pastia kadi punika : Sira pangeran tan andadeken iku, kewala si sang siptane kecap amba puniku kadi sabdaning wong ‘arif kang karem kahanane paningale ing pangucape ing kahananing Allah dadi amba angucap : Allahu ta’ala ora andadeken.

Mangka angandika imam Ghazali : ya Shaich Supi! kupur tuwan ing patang madh’hab dening tuwan akecap anakisaken sifating pangeran karana ujar tuwan puniku awit angorakaken angapesaken sifating pangeran iku karan tuwan kupur. Tuwan tegesaken kadi kecapi(ng) wong ‘arif ika : nora mongkono sabdaning wong ‘arif (49) ika, kewala si | semune wong ‘arif iku kadi lapal iki sang siptane :

la ya’rifu …….. la yanz’uruha la yunkiruha ®), tegese : wong ‘arif iku nora kabar ing anane, nora enget ing paningale ing pangeran, nora weruh : tegese iku ta sang siptaning jinaten kandeh kaganten kalingan anane pangucape paningale dening ananing sih nugrahaning pangeran kewala, i(ng)kang asung fana’. Mangkana sang siptaning wong ‘arif ika ora kaja tuwan mo(ng)kono, anakisaken sifating pangeran : iku karan tuwan kagepoking ujar sasar, kagepok ing wong Mu’tazilah.

Mangka angandika imam Ghazali : ya Shaich al Djaddi! Apa siptane ujar tuwan puniku?

Ma(ng)ka matur Shaich al Djaddi : ya tuwanku imam Ghazali! kecap amba kadia puniku Allahu ta’ala ® (50) nora andadeken puniku — saderenging | ana rasulu ‘llah sawiji-wiji dereng ana lawh’ qalam ‘arsh kursi swarga naraka, awang-awang uwung-uwung, ikupon norana; sawuse sirna kabeh, ikipon maksih mangkana uga, anging sira pangeran uga dewek tanpa rowang nora andadeken dewekira : iku mah’alling dhat mulaq jatining ma’dum binafsihi, nora ing deweke : iku tegesing tunggal ing katu(ng)galanira, ratu ing karatonira, agung ing kagunganira, mangka nyata ing kahananing Muhammad, angarsaken ing panggawenira, nyata ing saniskara kabeh.

Mangka imam Ghazali akecap — kang linewihaken kapanditanira, kang tiningalaken ing lawh’ almah’fuz i(ng) jerone wetenge ibunira, i(ng)kang winenangaken angiket Usul Suluk ing jerone wetenge ibunira — : ya Shaich al Djaddi! Kupur lah tuwan ing patang madh’hab, mapan kahananing Allahu ta’ala dihin sadja purba akarsa (51) teka | ta sira arani bodo, sira arani mukup dereng akarsa, dereng andadeken, sifating pangeran dera arani ama(ng)sa-ma(ng)sa. Iku kupurira. Yen ta baya i(ng)sun wenanga amejahana ing sira, supaya sira sun gantung sungsang tur sarwi sun pedang kalintang-linta(ng) denira cala-culu ing pangucapira. Karana satuhune mahasuci sifating pangeran saki(ng) kadia ujarira iku!

Anapon kahananing Allahu ta’ala qadim sasifatira miwah saderenging ‘alam iki kabeh anging kahananing Allah kang asifat sadja langgeng mahasuci sasifatira dewekira tanpa kufu’ sadja suksma asih langge(ng) andadeken tanpa wiwitan tanpa wekasan tan asifat wali-wali. Karana satuhune sifating pangeran suksma langgeng mahaluhur ananira kang asifat sadja tan kena ucapakena : “dereng andadeken, (52) sampun andadeken ‘alam iki kabeh”, angi(ng) | kahanan ika suksma akaharsa langgeng andadeken, mapan sifatira ‘alimu ‘Ima’lum, chaliqu ‘Imachluq, qahiru Imaqhur, qadiru ‘lmaqdur kun fajakun : endi ta uwus-durungira andadeken?

Mapan ananira kang asifat sadja agung ing kagunganira, ratu ing karatonira, tunggal ing katunggalanira, amuji ing piambeki(ra), miwah sasampune djaga(t iki) kabeh inganaken, langgeng ananira tan owah tan gingsir ing piambekira dawak : tan beda ananira lan sahananing ‘alam lan saderenging alam, ananira uga kang sadja langgeng kekel mahasuci maksih ing karatonira tan owah tan gingsir.

Mangka ingandikan Shaich Nuri : ya Shaich Nuri! Sira pangeran tuwan kecapaken – nora andadeken iku apa sang siptane ?

Mangka matur Shaich Nuri : ya imam Gha(za)li! Kadi punika kaharsa amba : djagat puniki kabeh nora (53) dadi de(ning) nama, dadi | dening panggawe?

Ma(ng)ka imam Ghazali angandika : ya Shaich Nuri! Kupur idep tuwan puniku ! Apa ta kahanan roro iku asma’ sifat iku : satuhune kahananing pangeran asifat sadja andadeken sasifatira chaliq, mapan sifatira tan Iyaning ananira.

Hai’atu ‘lwujud hai’atu ‘lmafhum : mangkana ing balike hai’atu ‘lmafhum hai’atu ‘lwujud : endi ta wawahe iku, mapan paekaning wujud tunggal tan kakalih, mapan sifatira sifating dat, (af’alira) af’aling dat, utawi ja(ti)ning asma’ iku kakalih paekane asma’u (‘l)sifat asma’u ‘ldhat iku paekaning sasifatira tan Iyaning ananira. Anapon chaliq machluq iku pasti kahanan kalih, tan apisah.

Ma(ng)ka imam Ghazali angandika: ya Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nuri! chilaf idep tuwan puniku, kupur tuwan ing patang madh’hab.

©(54) Ma(ng)ka masaek titiga punika sami aneda | tinobataken (den)ing imam Ghazali.

Mangka angandika imam Ghazali — kang sinung rah’mat dening pangeran : ya Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nuri, nora kawasa amba anobatakena walining Allah, Abecik yan tuwan atobata piambek ing pangeran wong sowa(ng) sami amarenana idep tuwan kang kupur puniku. Yen ta baja tuwan tan amarenana ing idep tuwan kupur puniku, supaya tuwan linungsur jenengira wali dening pangeran miwah sakatahing wong sanak tuwan sami anganyarana iman kalawan (n)i(ng)kah lan tuwan tobatena.

Amba amiarsa kang ngandika nabiyyu’llah, salla’llahu ‘alaihi wasallama — tur amba ingandikan piambek – e imam Ghazali! Lamun ana manusya akecap me(ng)kene “kahananing Allah nora asih, nora ‘ngasihi, nora andadeken, asma’ nira nora andadeken”, anirnaken (n)ugrahaning pangeran (55) lan amor paekaning sifating pangeran, | lan kang aliyanaken sifating pangeran, angapesaken sifating pangeran, e imam Ghazali! aja esak lah kapirena wong kang mongkono iku, dudu umatingsun, kalawan ta Allahu ta’ala aken angulatana pangeran wawaneh lan kinen angulatana panutan Iyan saking nabi Muhammad. Yan tan amarenana atobata pakecapi(ng) kang kupur iku supaya sira salameta!

PUPUH XIV

e Mitraningsun! Singgih puniku kang pawetra imam Ghazali ing i(ng)sun kalawan masaek titiga ika.

e Mitraningsun! Atutur malih imam Ghazali : i(ng)kang ngandika nabiyyu’llah, ‘alaihi ‘lsalam, tinutur ing i(ng)sun lan masaek titiga ika : ya Shaich al Bari, Shaich Supi, Shaich al Djaddi, Shaich Nurir miwah samongko kang (ng)andika nabiyyu’llah salla’llahu (56) ‘alaihi wasallama, kalawan malih pamanggihingsun ing sastra : Poma sira | aja anakisaken sifating pangeran saderahing angenangenira anakis(ak)ena sifating pangeran. Anapon kang (tan) kinarsaken dening pangeran tan ana

kajatine, telase iku ta dening tan kinarsaken dening pangeran tan ana pisan iwa mangkana nora luput ing kawruhing pangeran kinawruhan sami pisan tan asifat waliwali, tegese dening lewih mahasucinira langgeng kekel ing karatonira beda lan awangawang ingkang ana kadjatine ika, mapan kang ingaran awangawang iku : netra kalih, sawidji awang-awang kang ana kajatine, kang sawiji kang orana kajatine. Muwah ulatana selaning pitung bumi (selan)ing pitung langit, lan selaning lintang selaning wedini(ng) sagara, lan sajabaning bumi langit, selaning ciptariptaning ati : ikupon ora kapanggih. Tegese iku dening tan (57) kitiarsaken karaning | tan ana pisan.

e Mitraningsun! Jen ana angucapa mengkene : kupur! : “Awangawang iku nora dinadeken” …. kupur ! tegese : angapesaken sifating pangeran. Mengkene salamete : kang tan kinarsaken awangawang kang tan ana kadjatine; kang kinarsaken awangawang kang ana kajatine, mapan sira pangeran andadeken saniskaraning dumadi kabeh saki(ng) nora dadi ana kadi ta reke sira pangeran tan pegat tan asifat wali-wali, utawi andadeken kang alembut lewih le(m)bute saking banyu, (ana) lembute malih geni lewih le(m)bute, ana lewih lembut malih kukus lewih le(m)bute, ana lembut malih angina lewih lembute, ana le(m)but malih antara lewih le(m)bute, ana le(m)but malih dharrah lewih le(m)bute — ana ing jeroning awangawang — ana kang lewih le(m)bute malih (58) sini(m)pen dening pangeran saking purba kaharsaning | pangeran andadeken tan kena dinugeng budi anging kaharsanira dawak kadi ta kang dinadeken sajagat salaksa patang ewu, iwa mangkana iku anereh saking kang (ng)andika nabiyyu’llah (Muhammad al)Mustafa : …… tegese iku ta dening witing dumadi iku witing kanugrahan. Tan ana nabi lewih utama Iyana Nabi Muhammad (al)mustafa kang pina(ng)ka panutup nabi. Iwa mangkana kahananing pangeran kang lewih mahasuci anjateni ing kakasihira, malah inga(na)ken kadi tunggal dening saking seruning sihira jinaten ing sifat-dat-af’alira dadi nir ananira kang jinaten anging kari anane kang anjateni kewala. Mangkana malih anani(ng) wali mu’min kabeh i(ng)kang ananggung titipan kadi ta iman tohid ma’rifat kabeh iku saking kang sih barkat nabiyyu’llah (Muhammad) (al)mustafa dening awiyos kapit ing sihing pangeran lan kang (ng)andika nabi — alaihi ‘lsalam, (59) i(ng)kang | atuduh marga abener — witing kanugrahan iku lewih demite.

e Rijal! Mapan ta reke saderenging ana iku sampun angema ana ingaran ‘adam mumkin.

e Mitraningsun! Mangkana malih sira aningali salwiring dumadi kabeh iki den tunggal ing paningalira tan Iyana kang kadulu kang andsideken kewala.

e Rijal! ikupon maksih serik : tingale ing sampurnane iku ta lamon uwus (s)ima tingale, kantun kang asung awas kewala aningali tiningalan asih sinihan ing piambekira.

e Rijal, mitraningsun! Beda kadi ma’dum sirf ika dene tan kinarsaken, karaning tan ana pisan. e Rijal, mitraningsun! Ana pandita iku kang apaesan ma’dum.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punapa sang siptane puniku?

Mangka anabda Shaich al Bari kang sinukan dening Allah : e Rijal ! Sang siptane udjar iku sambi (60) liwat | sampun kataksisan ing tampa, kewala si iku dening djinaten ing dat-sifat-af’alira dadi kahananingkang sinihan ika kadi nora kadi duk durung ana mangka(na), babatange labete gandane sadidik pon norana kari dening kalindih kaganten kalingan anane deri(ng) kang sadja asih anjateni i(ng)kang amibuhi langgeng kekel asih sinihan ing piambekira. Iku kang papanggeran imam Ghazali saking kang barkat andika rasulu’llah, ‘alaihi (‘lsalat) wa ‘lsalam.

e Mitraningsun! Yata atutur malih imam Ghazali ing i(ng)sun.

Mangka matu(r) Rijal : ya guru amba! Punapa kang pinituturaken ing tuwan ?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Singsapa wruh ing sisimpenan limang parkara iku, ma(ng)ka antuk sisimpenaning nabi wali mu’min kabeh. Muwah singsapa anyecep sisimpenan limang parkara, ma(ng)ka wruh ing (61) jiwaragane yen kandeh kaganten anane dening | wibuhing sih, anani(ng)kang anjateni, dadi syuh sirna jiwaragane tan Iyan anani(ng)kang sadja purba akaharsa langgeng kekel mahasuci, tan owah tan gingsir, tan a(sifat) wali-wali, anging ananira uga kang asih asifat sadja urip wibuh kawasa aningali amiarsa anabda purba langgeng kekel ing karatonira. Miwah singsapa angawikani ananing pangeran, duk sira durung ana sawiji-wiji iki kabeh lawh’ qalam ‘arsh kursi dereng ana awangawang uwunguwung.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptane puniku?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Tegese iku sang siptaning sampurnaning ma’rifat kadi ta sira tan wikan ing pangeranira utawi ing ananira mangko iki mantep ka’lma’dum, tegese : kadi duk durung ana mangkana tan beda (62) lan saderenge ana lan sawuse ana waluja | mulih maring jatine kadi duk dereng ana, anging kang asifat sadja langgeng kekel mahasuci ratu amengka tan owah tan gingsir, tuwi nora beda ananira saderenging ‘alam lan sawusing ‘alam lan sahananing ‘alam, anging ananira uga kang langgeng kekel maksih ing karatonira tan owah tan gingsir pasti ananira kang asifat suksma wibuh, langgeng mahasuci tanpa tuduhan.

PUPUH XV

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Mitraningsun Ana kecaping wong sasar satengah: “Lam yalid walam Yulad” iku den arani sifating pangeran : ikupon kupur. Apa ta sira pangeran asifata oraora anakanak kalawan kang inganakanakaken puniku kang tan inganakanakaken lungguhe sifating pangeran “Lam yalid walam yulad” iku tegese sifatira mahasuci ora anak-anak, tan inganakanakaken (63) | ora malih awit ora.

Utawi si singsapa angraosi sifating pangeran awiyos ta awit salab, iku kupur, e Rijal, mapan ing(kang) aran salab iku den(ing) awiyos awit sifating pangeran mahasuci : iku salamete.

Mangka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi kang ingucapaken kadi wirasani(ng) sastra : siptaning Usul punika dhatu‘llah kewala?

Ma(ng)ka anabda Shaich al Bari : e Rijal! Ijaiku sikepi(ng) wong ‘arif : tingale iku dening awiyos karihin aningali kahananing Allah asifat suksma langgeng mahasuci dihin purba akaharsa andadeken, tan awiwitan tan awekasan, tan a(sifat) wali-wali kadi ta sang siptaning wong ‘arif ika Awangawang-uwunguwung mumtani’u ‘lwujud iku kang den karya paesan kadi talapal : (ja’isu) ‘lwujud af’alu (64) llah. Jenenging qadim :) wadjibu ‘lwujud sifatu ‘llah, | ja’isu ‘lwujud af’alu ‘llah, mumtani’u ‘lwujud dhatu ‘llah.

Anapon jenengi(ng) qadim : wajibu ‘lwujud, tegese sifating pangeran pasti sadja ana ing piambekira, mapan ananira nora beda lan saderenging alam lan sawusing ‘alam, langgeng panglilanira tan ovvah tan gingsir ananira (tan owah tan gingsir ananira) kang agesang asifat sadja wibuh sampurna langgeng kekel mahasuci.

Utawi lamun ana akecapa mengkene : kupur! – tegesing wajib sadja iku kupure mapan jenenging wadjib iku lungguhe ing kawula kang sinihan, mapan — sadurunging anani(ng)kang sinihan, kewala si ika pasti ing kawruhing pangeran — sira pangeran kang asifat sadja aken teka ing waqtune dadi anani(ng)kang sinihan teka angestoken yan jenenging qadim wadjibu ‘lwujud (65) sifatu ‘llah sifatira pasti sadja | ana dadining sifate pangestuning ®) sinihan ika kaganten dening sifatu ‘llah.

Mangka matur Rijal : Sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba ! Tegesing ja’isu ‘lwujud af’alu ‘llah kadi punendi?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Tegesing ja’isu ‘lwujud afalu ‘llah pakaryaning wali mu’min kabeh iku pracihnaning sifat pakaryaning pangeran. Anapon jenenging ja’isu ‘lwujud iku jenenging kawula uga, wenang ana wenang ora.

(Mangka) matur Rijal : Kadi punendi wenange ana wenange ora puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Wenange ana iku dene si anane iku mina(ng)ka lantaran (eng)gening mulat ing wujudu ‘llah ing sifatu ‘llah af’alu ‘llah ya’ni yen ana kang andadeken.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba! Tan wenange ta kadi punendi?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tan (66) wenange iku sawusing awasi(ng) | ‘wujudu ‘llah sifatu ‘llah af’alu ‘llah utawi katiga iku kinarja pangilon pangi(n)tipaning nabi wali mu’min kang utama.

(Mangka) matu(r) Rijal : ya guru amba! Tegesing mumtani’u ‘lwudjud dhatu’lHlah kadia punendi?

(Mangka akecap Shaich al Bari) : e Rijal! Tegese iku sang sipta sambi liwat tan dadi wiyosing tingal kang mumtani’ iku, uta(wi) wiyosing tingal puniku dateng kahananing suksma kewala.

e Rijal! Lamun ana manusya akecapa mengkene : “mumtani’ iku den senggeh edat, atawa si edat den aranana mumtani’” — wong iku lah kupur kapir.

Utawi mengkene salamete : Anani(ng)kang sinihan iku jinaten ing dat-sifat-af’alira dadi nir anani(ng)kang jinaten, malah kadi nora dening kandeh kaganten kalingan anane dening wibuhi(ng) sih, ing kahananingkang sadja (67) andjateni kewala | i(ng)kang anampurnaken.

e Rijal! Ija iku kang papa(ng)geran imam Ghazali kang tinutur maring i(ng)sun, mapan norana wong saruparu(pa)ne kang ader(be)ni sikep sisimpenan kadia sipta iku, wong kang pinilih sinelir dening pangeran, wong kang sinung wasil paningale kang kadi kilatlaksanane : iku kang anduweni sipta iku.

e Mitraningsun ! Den sami sira angimanaken ing tuturingsun iki, lan ani(ng)gahana sira kadi sikeping wong sasar ika, mapan angandika imam Ghazali : kawruhana wong sasar iku tekaning akir jaman maksih ana dene si sisyarie masaek titiga ika nora enti dene anobataken dening kalingan sagara gunung iku kang tan wruh gurune yen tinobataken iku kang maksih angaruaru calaculu pangucape iku i(ng)kang amuruk kababaraken ujar sasar tekaning mangke maksih sasar dene (68) si maksih | wite masaek titiga ika sakatahe malih kang anut maksih mangkana uga dadi kapir dene si iku maksih angimanaken ujare gurune. Bahagya temen ingkang abalik, kang anut i(ng)kang (ng)andika imam Ghazali, i(ng)kang katutur ing sastra iki kabeh!

PUPUH XVI

Mangka akecap Shaich al Bari maring mitranira kabeh : e -Mitrani(ng)sun! Den sami tetep sira kabeh ing salat limang waqtu. Kalawan sira asidekaha saleh, asidekaha sirr, asidekaha rahasya.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba ! Kadi punendi ing jero(ning) salat puniku anarika iman atawa nora ?

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! yen si anaha : serik salate, yen si norana : kapir.

Ma(ng)ka matur Rijal : sarwia subakti, anuhun ing jeng, ya guru amba! Kadi punendi salamete ing tampa sabda tuwan puniku?

(69) (Mangka akecap Shaich al Bari) e Rijal! | Karaning salating wali mu’min tan serik tan kapir dening kendit anut kang sebut nabiyyu ‘llah, ‘alaihi (‘lsalat) wa ‘lsalam, — iku karaning tan serik tan kapir, mapan reke kang sinebut andika nabiyyu ‘llah : bila tashbih dadi enir anane, kabeh pon norana kari dening jinaten ing dat-sifat-af’alira dadi kandeh kaganten anane dening wibuhing sih, (ing) ananingkang anjateni. Mangkana ta jeroning salati(ng) wali mu’min iki wiyose pon mangkana uga kadi lapal iki sang siptane :

wa ‘li’tiqadi wa ‘limani wa ‘Itauh’idi wa ‘lma’rifati.

e Rijal! Karane lewih sembah-pujine wali mu’min iku den kawruhi sembah-pujine iku yen tansah jinaten ing sih pinurba rineh dadi ulate maring kang (70) amurba angreh ing enggene sirna | dening kandeh kaganten kalingan dening wibuhing sih, ing ananingkang anjateni : mantep sira pangeran langgeng aurip amuji ing piambekira, mapan Allahu ta’ala amuji ing piambekira iku minargaken ing ra(ha)sya, panarimaning manusya njinataken ing kakasihira. Kewala si lisanmg manusya iki darma amalesi, mapan sembah-pujine nora tingale kang maring pangeran iku pasti dudu sajatine wijose kewala si

iku Iwir pawana marg(an)e tulupane : iku salamete kabeh.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadi punendi tegesing asidekah saleh?

Ma(ng)ka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Tegesing asidekah saleh iku asung(sung) tan ana ‘ngawruhi, angabakti tan ana wikan, mushahadah tan ana pegate.

(Mangka matur Rijal :) Tegesing asidekah sirr kadi punendi ?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! (71) Tegesing asidekah esir iya kang tan pegat asrah | jiwaragane ing pangeran lan kang tan pegat angecani atining wong. Tegesing asidekah rahasya iku iya kang andjateni ing kawruh i(ng)kang sabenere lan asung ngelmi ing wong kang tan ana upayane.

Mangka matu(r) Rijal : sarwia subakti, anuhun i(ng) jeng, ya guru amba ! amba amanggih lapal kadi punika qablakum * dhatu ‘llah ma’akum dhatu ‘llah ba’dakum dhatu ‘llah, kadi punendi — ja tuwanku ! — sang siptaning lapal puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari :) e Rijal! Siptane iku dening tan amilang paekaning sifat malih, mapan saderenging ana i(ng)kang ingandikan iku, anging kahananing Allah kang langge(ng) asifat mahasuci sadja angandika : mo(ng)kono siptane kabeh iku.

e Rijalu‘llah! Sira mitraningsun kang lewih saking mitraningsun kabeh — sangkane sira sunwastani Rijalu’llah, wong lanang ing Allah, dening asanget lampahira lan dening alungid siptanira : (72) iku | tegesing lanang iku.

PUPUH XVII

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba, Shaich al Bari! – kang sinalametaken iman(e) tawh’ide ma’rifate deni(ng) Hyang mahaluhur : Kadi punendi kecapira Shaich Nuriman dateng ing Shaich Atim :

“Tuwan aningali ing Allah” ? ; kecapira Shaich Atim : “Aningali amba ing Allah” ; ma(ng)ka akecap Shaich Nuriman: “Yen tuwan aningali ing Allah, supaya tuwan nora kawasa aningalana wawaneh !”…. kadi punendi sang siptane Shaich Atim punika?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal! Siptane Shaich Atim iku dene si sakatahe kang den piarsa kang den ucap iku awiyos maring pangeran kewala tingale siptane Atim iku, e Rijal, karana wong aningali ing pangeran iku sarta lan pangeran dadi ora aningali ing wawaneh.

Matur malih Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptanipun Shaich Nuriman akecap dateng ing (73) Atim: “Tuwan tiningalan dening pangeran?”; | kecaping Shaich Atim: “Tiningalan ingsun dening pangeran” kecaping Shaich Nuriman: “ya Atim ! lamun tuwan tiningalan dening pangeran, supaya kang wawaneh nora aningali ing tuwan”; akecap Shaich Atim : “Iya kang wawaneh nora aningali ing amba” ma(ng)ka matur Ri jal : kadia punendi sang siptane puniku ?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal! Siptane Atim iku dene si sakatahe kang tumingal iku tan ana waneh ingkang aningalaken tan Ijan sira pangeran kang aningalaken dadi siptane Atim iku maring kang asung tingal kewala sadja langgeng aningali tiningalan anakseni sinaksen angawikani kinawikanan asih sinihan tan Iyan piambekira.

e Rijal !. Siptanira imam Ghazali : tunggal wiyose i(ng)kang aningali pangeran i(ng)kang tiningalan pangeran.

(74) Mangka | matu(r) Rijal : ya guru amba! Kadi punendi siptane puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Ridjal! tegese sipta iku dene syuh sirna paningale ing djagat kabeh dadi siptane iku tan Ijan sira pangeran kewala kang sadja andulu dinulu ing piambekira.

e Rijal, mitraningsun kabeh! Den sami amiarsaha ing tuturingsun iki! Kalawan sapisan ingsun lumampah ing ara-ara iman, suntingali tindakingsun ika sarta lan idining sih nugrahaning pangeran. Sasampun ingsu(n) lumampah ing ara-ara iman, tumindak ingsun ing ara-ara tawh’id ; yata suntingali tindakingsun ika tan katon : kang katingalan deningsun ika kahananing Allah kewala. Sasampun ingsun lumampah ing ara-ara tawh’id, lumampah ingsun ing ara-ara ma’rifat: norana kahananingsun : tingalingsun kang maring pangeran pon nora (75) ana. | Tegese iku dening sampun anunggal tingal dadi nir tingalingsun ika ing tingal tunggal kang tiningal kang sadja andulu dinulu ing pandulunira.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal! Kadi ta palajaraning wong ‘arif (al’arifu) : “gharaqtu fi bah’ri ‘l’adami” wong ‘arif iku karem ing sagara ora.

Ma(ng)ka matu(r) Rijal : ya guru amba ! Kadi punendi sang siptaning “sagara ora” puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Rijal ! Sang siptane iku patemoning wong ‘arif kang ora iku dening djinaten dadi nir anane, malah kadi duk durung ana mangkana.

e Mitraningsun ! Ora sun kalewihaken i(ng) wong atapa kang kaliwat sangete kasuta(pa)ne, dereng ta ichlas atine.

Sapisan ingsun lumampah kalintang sangete lampahingsun ika ; ing kerejete atiningsun ika mengkene : mangko (76) baya | ingsun teka ing lampah kang lewih.

Mangka ana swara kapiarsa deningsun : “e Shaich al Bari! Lampahira baya kang dinadeken api naraka ika tinampikaken maring anggautanira kabeh”. Singgih ta saking sih patulunging pangeran tan koninga lampahingsun punika.

Yata wonten swara malih maring i(ng)sun : “Ya Shaich al Bari! Mangko baja sira teka ing lampah kang aluhur anglungguhi sira, yan tan lumampah mulih tanpanembah tanpamuji.” Mandaha ta ingsun lumampaha karana (bi)rahi lan ayun kapiarsa apened supaya ingsun tinulan dening pangeran kinen angulatana pangeran wawaneh lan kinen angulatana panutan Ijan saking rasulu’llah, ‘alaihi ‘Isalam.

e Mitraningsun, (ora sun) kalewihaken wong kang (77) aderbeni | kapanditan lan kawruh kang abener, dereng ta ichlas atine. Sapisan ingsun ginaduhan ngelmu kapanditan lan kawruhing masaek, ing kerejete atiningsun ika : mangko baya ingsun ideping hukum kang ewuh ingkang asamar-samar ika.

Yata ana swara kapiarsa deni(ng)sun : “e Shaich alBari! . sira baya kawulaning Allah kang wuta tuli bisu ika.” Saking sih patulunging pangeran tan koninga kawruh lan (ng)elmu kapanditan ika.

Wonten swara malih kapiarsa deningsun : mangko sira linewih dening pangeran alungguh ing kapanditanira malih yan tanpanembah tanpamudji tanpa tingal. Mandaha ta banggi ingsun aderbeni kawruh lan (ng)elmi kapanditan ika, miringa baya ingsun ing dunya lan kalulutana (78) deni(ng) wong, supaya | ingsun ingaranan acacayad dening pangeran dening kalintanglintang sangete bendunira.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Rijal, mitraningsun ! ora sun kalewihaken wong kang aderbeni bangsa ka(ng) kaliwat luhure, i(ng)kang aderbeni kagungan kang kaliwat gunge, dereng ta ichlas atine.

Sapisan ingsun sinungan bangsa aluhur dening pangeran, kalawan kagungan kalintang gungingsun lan deningsu(n) amertani ing wong kasihan: ing kerejete atiningsun ika : Mangko baya ingsun sinung bangsa aluhur kalawan kagungan kang agung iki.

Yata wonten swara kapiarsa deni(ng)sun : “e Shaich al Bari! Sira baya kawulaning Allah kang *ema bahagyaika.” Saki(ng) sihing pangeran tan koninga bangsa kaluhuran ika kalawan (ka)gungan kang agung ika, kang (79) katingalan deningsun ika sih | wilasaning pangeran.

Yata ana swara malih kapiarsa deningsun : e Shaich al Bari! Sira baya kawulaning Allah kang serik ika.

Yata ilang panguningani(ng)sun kang maring pangeran.

Won(ten) swara malih maring ingsun : “ya Shaich al Bari! Mangko (baya) sira alungguh ing bangsanira kang aluhur mulih maring kagunganira malih.”

Yan ta banggi ingsun agungena ing bangsaningsun kalawan kagungan ika supaja ingsun ingaranan munafiq.

Mangka akecap Shaich al Bari : e Mitraningsun! Den abecik-becik lampahira, den ichlas, sampun kaprikaken sarira, kalawan ing kawruh sampun kadi wong sasar kang pinasti sinasaraken.

Ma(ng)ka matur Rijal : ya guru amba! Kadia punendi kang pinasti sinasaraken puniku?

Kang saur Shaich al Bari : e Rijal! kang pinasti sinasaraken iku iya kang akecap: osiki(ng) jiwaraga iki (80) osiking dhatu’llah, kang | akecap : napi Allah itbat iku Allah ; kang akecap : kawula nora pinurba, sira pangeran nora andadeken, nora amurba : iya iku kang* pinasti (sinasaraken) dening Allah, kang kinekelaken ing soring narakaning wong kapir.

e Mitraningsun sadaja! Iki si mitraningsun Rijalu‘llah sundjudjuluki : den tiruha dening mitraningsun kabeh : kang kadi macan tanagane, kang kadi kilat laksanane, kang sunjujuluki urip tan kalawan nyawa, kawasa tan kalawan anggauta, aningali tan kalawan aksi, amiarsa tan kalawan karna.

Mangka matur mitranira kabeh : ya guru amba, Shaich al Bari! Punapa tegese sabda tuwan puniku?

(Mangka akecap Shaich al Bari e Mitraningsun sadaya! Tegesing Rijalu’llah iku : urip sarta lan pangeran, pangawasane Rijalu’llah iku sarta lan pangawasaning (81) Allah, pamiarsane Rijalu’llah iku sarta lan | pamiarsaning Allah, kadi ta* kang sabda baginda Abu Bakr, radiya ‘llahu ‘anhu : ra’aitu rabbi birabbi.

Tegese : wong kang aningali ing pangeran iku sarta lan pangerane : iku salamete ; tegese : telas-telase ta iku kabeh dudu lan deweke. Tegese wirasaningsun iku : lamun ugi lampahe tingale wong iku ora mongkonoa, pasti wong iku salah, kekel soring narakaning wong kapir.

e Mitraningsun! Mangkana malih tingalira iku kabeh sarta kalawan ing sih purba kaharsaning pangeran ugi i(ng)kang anugrahani asung awas ing kawula kang sinihan lan ta sira den alus (ing) tampanira, inglampahira den aturut-turut kalawan ta sira aja aliliwatan aja alilinyokan, aja pranesa karana wong aliliwatan iku mambet ajnjana (82) tur kasariran, wong kang | mongkono iku ora karana Allah karana shaitan : satuhune wong kang mongkono iku angrurusak anggingsir lampahing wong karan(a) Allah. Wong mongkono iku tan kena dera cekela ujare rehing ara-uru tan pegat sinusahaken atine dening pangeran sakatahe malih i(ng)kang anut mangkana uga susahe atine.

e Mitraningsun! Den sami sira akecapa becik-becik kalawan lampahira z’akir batin anuta kang sarengat, andika rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa sallama asih pramuleha sira ing rasulu’llah, ‘alaihi ‘lsalam marganira anampani sih nugrahaning pangeran. Deni(ng) kang sih andika rasulu’llah, ‘alaihi ‘lsalam, sira iki awiyos kapit (83) ing sih, karihin sihing pangeran kalawan | kang sih rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa sallama.

Mitraningsun! Iku titinggalingsun ing sira kang awet poma anak -putunira sami wekasen, sami anuta wirasaning tuturingsun iku kabeh, karana manawa anut ing wuwusi(ng) wong sasar.

e Mitraning(sun) sadaja ! Baula si akeh yen ingsun, tutura sawirasaning sastra iku anging sira den sami awedi ing pangeran. Aja sira salah simpang, sami sira amriha kasidan.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments