Tampilkan postingan dengan label kaweruh alam gaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaweruh alam gaib. Tampilkan semua postingan

Kunci-Kunci Ilmu Ghaib

Belakangan ini sering kita jumpai di berbagai media adanya orang-orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib. Di antara mereka ada yang mengatakan sanggup untuk mengetahui bagaimana karir, rezeki, asmara dan lain sebagainya selama beberapa waktu dengan melihat tanggal lahirnya, bahkan ada di antara orang-orang yang mengklaim bahwa mereka dan beberapa gelintir pengikutnya mengetahui kapan terjadinya hari kiamat dan alhamdulillah kedustaan seperti ini telah terbongkar dengan sendirinya ketika tidak terjadi hari kiamat di hari yang telah mereka ramalkan tersebut. Kaum muslimin rahimakumullah, sebenarnya bagaimanakah hal ini dalam Islam, apakah manusia mengetahui ilmu-ilmu gaib tersebut? Pembahasan kali ini insya Allah sedikit mengupas tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah semata. 
Kunci-Kunci Ilmu Gaib di Tangan Allah
Kaum muslimin rahimakumullah, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59). Apakah yang dimaksud kunci-kunci ilmu gaib tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling memahami Al Quran- menafsirkan bahwa kunci-kunci ilmu gaib tersebut ada lima macam. Beliau bersabda yang artinya, ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (HR Bukhori)
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34). Para ulama menyebutkan bahwa kelima hal ini disebut dengan kunci ilmu gaib karena kelima hal ini merupakan awal dan pintu gerbang dari hal-hal lain yang mengikutinya.
Adapun nabi, rasul, dan para malaikat, maka terkadang Allah memberitahukan kepada mereka beberapa perkara yang gaib seperti tanda-tanda kiamat yang banyak disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan lain sebagainya. Namun demikian, ilmu gaib yang Allah sampaikan pada utusan-Nya tersebut hanyalah sebatas yang Allah beri tahukan sehingga tidak mencakup seluruh ilmu gaib yang ada. Allah berfirman yang artinya, “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Jin: 26,27)

Kunci Ilmu Gaib Pertama: Hari Kiamat
Kaum muslimin rahimakumullah, inilah kunci ilmu gaib pertama yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala yaitu ilmu tentang hari kiamat. Hari kiamat adalah awal mula dimulainya alam akhirat. Tidak ada seorang makhluk pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Bahkan ketika Jibril -malaikat yang paling mulia- bertanya kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling mulia- tentang kapan terjadinya hari kiamat, Rasulullah hanya menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dibandingkan yang bertanya” (HR Muslim). Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan Jibril ‘alaihis salam keduanya tidaklah mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Oleh karena itu, janganlah kita mudah terbawa arus jika ada yang menyebutkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada tanggal sekian atau sekian dan perlu diketahui bahwa klaim seperti itu tidak lebih dari kedustaan yang dihembuskan syaitan dan bala tentaranya untuk memalingkan manusia dari jalan Allah, wal ‘iyadzu billah.
Kunci Ilmu Gaib Kedua: Turunnya Hujan
Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang kedua adalah ilmu tentang waktu turunnya hujan yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Turunnya hujan adalah awal tumbuhnya tanaman di permukaan bumi. Allah yang menurunkan hujan dan Dia pula yang tahu kapan hujan akan turun. Namun jika ada orang yang mengatakan, “Bagaimana dengan ramalan hujan yang bisa diprediksi oleh alat canggih di zaman sekarang?” Maka hal ini tidaklah bertentangan sama sekali karena alat secanggih apapun yang dibuat oleh manusia sekarang ini, hanya sebatas memprediksikan dan bukan memastikan. Seringkali prediksi alat tersebut meleset. Maka tidak ada satu orang pun atau sebuah alat secanggih apa pun yang tahu dengan pasti kapan hujan akan turun.

Kunci Ilmu Gaib Ketiga: Apa Yang Dikandung Oleh Rahim
Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib ketiga adalah pengetahuan tentang janin yang dikandung dalam rahim seorang ibu. Allah lah yang menciptakan janin tersebut dan hanya Allah lah yang mengetahui seluruh hal yang akan terjadi pada janin tersebut. Kehidupan dalam rahim adalah awal mula kehidupan dunia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya” (QS Ar Ra’d: 8 )
Kemudian, jika ada yang menanyakan, “Bagaimana dengan USG di zaman sekarang yang bisa mengetahui jenis kelamin janin tersebut?” Maka hal ini tidaklah bertentangan. Karena alat yang dikenal dengan USG tersebut hanya bisa mengetahui jenis kelamin janin, itu pun setelah janin terbentuk selama beberapa waktu dan juga berapa banyak prediksi USG tersebut yang keliru dan berbeda dengan kenyataan setelah janin tersebut lahir. Dan tidak ada satu alat pun yang bisa mengetahui bagaimana nasib janin tersebut di dunia dan akhirat, apakah dia akan menjadi hamba yang soleh atau seorang yang banyak berbuat dosa. Apakah janin tersebut akan berumur singkat atau akan hidup di dunia dalam jangka waktu yang lama? Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang janin tersebut yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja.
Kunci Ilmu Gaib Keempat: Apa Yang Dilakukan Esok Hari
Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang keempat adalah pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan oleh seseorang esok hari. Jika seseorang tidak tahu apa yang akan dilakukan dirinya sendiri esok hari, maka lebih tidak mungkin lagi untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang lain esok hari. Oleh karena itu jelaslah kedustaan dukun, tukang ramal dan manusia yang setipe dengan mereka yang mengklaim bahwa mereka tahu tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang. Jika ada yang mengatakan, “Saya tahu apa akan saya lakukan esok hari, bahkan saya telah menyusun jadwal kegiatan saya esok hari”. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan dalil Al Quran. Karena jadwal yang telah disusun tersebut barulah sebatas rencana yang belum tentu terlaksana. Siapa tahu keesokan harinya ada hal yang menghalangi kita sehingga kita tidak bisa melaksanakan jadwal tersebut, karena sakit misalnya. Atau boleh jadi di malam hari kematian menjemput kita sehingga jadwal tersebut tidaklah lagi berguna bagi kita. Maka hal ini sebagaimana yang sering disebutkan oleh orang, “Manusia boleh berencana tapi Allah jualah yang menentukan.”

Kunci Ilmu Gaib Kelima: Tentang Kematian
Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang terakhir yang hanya diketahui oleh Allah semata adalah tentang kematian seseorang. Kapan dan di mana dia mati? Bagaimana akhir kehidupannya? Apakah dia akan mati di atas kebaikan atau keburukan? Maka hal ini hanya Allah sajalah yang tahu. Kematian ini merupakan awal mula bagi seseorang untuk memasuki alam akhirat. Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana dengan orang yang dihukum mati? Bukankah dia telah tahu kapan dia akan mati dan tempat kematiannya?” Maka kembali kami tegaskan bahwa hal ini tidaklah bertentangan. Karena boleh jadi justru dia mati lebih awal sebelum waktu eksekusi dilakukan, atau bisa jadi tiba-tiba dia mendapatkan pengampunan sehingga tidak jadi dieksekusi. Demikian pula dengan tempat kematiannya, bisa jadi dia mati lebih dahulu di tempat yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya. Oleh karena itu janganlah seseorang menunda untuk bertaubat walaupun dia telah divonis dengan hukuman mati karena bisa jadi kematian datang lebih cepat dan dia belum sempat untuk bertaubat, na’udzubillah

Kaum muslimin rahimakumullah, demikianlah sekelumit penjelasan tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala semata. Barang siapa yang mengaku-ngaku bahwa ia tahu tentang salah satu di antara lima hal ini atau orang yang membenarkan pengakuan tersebut, maka orang tersebut telah kafir jika syarat-syaratnya telah terpenuhi dan tidak ada penghalang untuk memberikan vonis kafir. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati terutama dengan maraknya fenomena perdukunan dan dunia ramal belakangan ini. Jangan sampai kita menggadaikan dan menjual agama kita demi mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya dari dukun dan tukang ramal tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa kesyirikan baik yang nampak maupun yang tersembunyi, yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Amiin ya mujibbassaailiin. [Amrullah Akadhinta]

Kunci Ilmu Pedanyangan


Sering kita mendengar kalau dissetiap tempat dimuka bumi ini bersemayam makhluk yang tidak kelihatan oleh mata. tetapi bukan kuman atau virus!!! yang saya masud adalah makhluk gondoruwo, demit, tuyul, siluman dsb.
Meskipun anda sudah pernah melihat atau belum pernah melihat sejatinya makhluk makhluk itu memang benar ada, hanya sebutannya saja berbeda pada setiap etnis suku maupun bangsa. bahkan di china adfa sosok makhluk yang menakutkan disebut dengan Vampir dan negara lain ada yang menyebut drakula atau monster pengisap darah.

Saya pernah menerima ilmu dari seorang guru bagaimana agar kita dapat berkomunikasi dengan makhluk alam ghaib tanpa perlu memiliki keahlian penerawangan. Bahkan dapat minta bantuan apa saja keperluannya. Syaratnya kita harus percaya bahwa “Dia” itu ada dan keberadaannyadimana saja“. Sugesti ini akan memberi energi positif untuk keilmuanilmu perdanyangan“.

Inilah rupa ilmu yang saya maksud:
  • Komunikasi dengan makhluk ghaib yang ada di darat.
Ibu bumi smoro bumi
Ibu kowo bopo adam
Semi rupo danyang pranyangan
Gedi cilik, tuwo enom, lanang wadon,
Sing njogo kampung iki …(sebutkan nama desa atau kampung yang dimaksud)
aku njaluk bantuan…..(sebut permintaannya)
saksine bumi lan langit pengucapanku iki karo danyang pranyangan seng manggon nang …(sebutkan nama desa atau kampung yang dimaksud).
Aku menuwun bantuan, dalam perkenalanku iki aku membacakke Sholawat pitung kali lan Sahadat pitung kali
Ikilah perkenalanku.
Jenengku:….(sebutkan nama anda dan nama orang tua laki laki anda)”
Setelah membacaAllahumma sholli ala saidina muhammadsebanyak 7x
dan “Ashadu alla ilaha ilallah Wa ashadu anna muhammaddarrosulullohsebanyak 7x kemudian hembuslah tapak tangan kanan 3x lalu tepukkan tangan kanan tadi kebumi 3x.
maka apabila ada sesuatu yang membahayakan diri kita maka akan ada pertolongan dari alam ghaib melalui perantaraan manusia yang sudah disurupi makhluk lain atau makhluk itu sendiri yang menampakkan diri (penampakan) maupun hewan, alam sekitar dfan sebagainya.
  • Komunikasi dengan makhluk ghaib yang ada di air:
Salam Danyang kang mangku amartaning tirto,Ratu kang pinendem ono tengahe samudro,sunan wali mukmin kang jejogo kali lepen nyuwun berkah pangestu kabuko gerbang plawangan jagad pedanyangan,kinaryo aji amatek kersaning Gusti Allah ta'ala,gampil sarining gampil ciptaning nawaitu,rasaning niat,lailahailallah“
lailahailallah muhammaddarrosulullohtangan kanan dan tepukkan ke permukaan air 3x.
maka akan selamat dari kejahatan makhluk alam lain yang berada di air.

Misteri Pesugihan Buto Ijo


Jenis makhluk halus ini biasa dimintai bantuan oleh para dukun dan paranormal untuk mempercepat mendatangkan uang dan kekayaan materi dengan hebat.
Saat kita bernegosiasi bisnis, mereka akan menggedor hati lawan bisnis untuk menyerahkan pada kita. Saat kita berjualan rumah, mobil dst mereka akan membantu kita mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Saat kita berjualan, maka pembeli akan dirayu buto ijo untuk membeli di di tempat kita. Tidak ke tempat penjual lain. Buto ijo bisa Anda temukan di bank-bank. Buto ijo adalah satpam gaib yang setia menunggui lembaga keuangan agar terbebas dari pencurian tuyul.
Namun sayangnya sebagaimana yang terjadi saat kita bermufakat dan meminta sesuatu dengan jenis makhluk halus apapun maka mereka akan minta tumbal atau imbalan baik yang ringan maupun yang berat. Begitu juga dengan buto ijo, apabila kita sudah meminta bantuan maka mereka akan meminta imbalan baik berupa sesajen atau nyawa. Ya, di alam gaib pun tidak ada sesuatu yang gratis. Mereka akan bertransaksi dengan kita. Persis dunia bisnis era sekarang.
Saya sama sekali tidak menyarankan Anda untuk berhubungan dengan Buto Ijo karena kebanyakan mereka memiliki watak yang brangasan, ngawur dan tidak terkontrol. Tapi bila Anda sekedar ingin membuktikan apa dan bagaimana kehidupan mereka dan cara mencari informasi langsung dengan bercakap-cakap dengannya, atau ingin membuktikan bahwa dunia gaib itu benar-benar ada untuk mendukung kepercayaan pada Gusti Allah SWT, maka amalannya sebagai berikut:
Sesajen yang perlu disiapkan: kembang setaman, menyan arab, dupa cina (sebelas biji) dinyalakan sambil baca mantra berulang-ulang sampai buto ijo datang, ayam kampung (tujuh ekor), air putih di kendi, wewangian lain, madat yang mahal. Semuanya diletakkan di nampan anyaman bambu tradisional dan diletakkan di tempat beradanya buto ijo. Mantra yang biasa dibacakan:
Hong ilaheng prayoga naniro,Aku si komo dadiaku teko ngajak dulurku si komo wurung,mayan-mayanku,bukakno plawangan gaibe...
sedulurku den baguse kaki Buto Ijo lan den ayune nini Buto Ijo,Hu..hu..hu..hurip,jud maujudo ono ngarsaku heh dulurku,tak jaluk mreneyo,jabang bayiku...
duwe perlu marang sliramu,
siro teko-o,wujuto gage memoni aku…
Sesaat kemudian menunggu, Buto Ijo akan datang dan memakan sesajen yang kita siapkan. Lalu, setelah kenyang mereka akan siap ngobrol atau melayani apapun permintaan kita.
Ini hanya sekedar informasi sebagai wawasan kita.Bila ingin memanfaatkan jasa Buto Ijo, yang perlu dipertimbangkan untung ruginya bagi kehidupan kita,dunia akhirat! artikel ini dari Wong Alus dan mantra diatas saya peroleh dari Juru Kunci Goa Susuh Angin-Salatiga-Jawa Tengah.

Menguak Misteri Genderuwo

Genderuwo adalah salah satu mahluk halus yang cukup terkenal dan hanya ada di Indonesia khususnya di pulau jawa. Hingga saat ini belum ada negara lain yang mengklaim genderuwo adalah khazanah kepunyaan negara selain Indonesia.

Genderuwo adalah sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Genderuwo terutama dikenal dalam masyarakat di Pulau Jawa (orang Sunda menyebutnya "gandaruwo" dan orang Jawa menyebutnya "gendruwo").

Habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Pusat domisili makhluk ini dipercaya berada di Hutan Jati Donoloyo,kecamatan Sloghimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri, dan di
wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo sekitar 60 km ke barat Yogyakarta dan kawasan hutan lainnya yang ada di jawa ini.

Legenda Genderuwo

Makhluk halus ini dipercaya dapat berkomunikasi dan melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan kalau genderuwo dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seseorang untuk menggoda manusia. Genderuwo dipercaya sebagai sosok makhluk yang iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum perempuan dan anak-anak. Genderuwo kadang senang menepuk pantat
perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain. Kadang genderuwo muncul dalam wujud makhluk kecil berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, genderuwo juga gemar melempari rumah orang dengan batu kelikir di malam hari, ada pula yang iseng mengencingi orang yang lewat di tempat gelap biasanya pas kebetulan lewat di bawah pohon.

Salah satu kegemaran genderuwo yang paling utama adalah menggoda istri-istri kesepian yang ditinggal suami atau para janda, bahkan kadang genderuwo bisa sampai melakukan hubungan seksual dengan mereka.Dipercaya bahwa benih daripada genderuwo dapat menyebabkan seorang wanita menjadi hamil dan memiliki keturunan dari genderuwo. Menurut legenda, genderuwo memiliki kemampuan gendam untuk menarik wanita agar mau bersetubuh dengannya. Permainan seks genderuwo juga diyakini amat luar biasa, sehingga wanita-wanita korban pencabulannya seringkali merasakan puas dan nikmat yang luar biasa apabila berhubungan badan dengan genderuwo.
Namun biasanya wanita korban yang disetubuhi oleh genderuwo tidak akan sadar sedang bersetubuh dengan genderuwo karena genderuwo akan menyamar sebagai suami atau kekasih korban dalam melakukan pencabulannya. Disebutkan pula kalau genderuwo memiliki libido dan gairah seksual yang besar dan jauh di atas manusia, sehingga ia amat mudah terangsang melihat kemolekan perempuan dan membuatnya menjadi makhluk yang senang menggoda perempuan.
Ada legenda menyatakan genderuwo kadang senang bersemayam di dalam rahim perempuan. Perempuan yang rahimnya disemayami oleh genderuwo akan memiliki gairah seks yang tinggi dan tak mampu menahan gairahnya. Si perempuan akan senang melakukan hubungan intim. Apabila pasangan si perempuan tak mampu mengimbangi gairahnya, maka si perempuan takkan segan mencari pasangan lain. Hal ini terjadi karena gairah si wanita dikendalikan oleh genderuwo, apabila si wanita melakukan hubungan intim, maka si genderuwo yang bersemayam di rahimnya juga akan merasakan nikmat dari hubungan intim yang dilakukan wanita tersebut.

Tidak semua genderuwo bersifat jahat, ada pula genderuwo yang bersifat baik. Genderuwo yang bersifat baik ini dipercaya biasanya menampakkan wujudnya sebagai seorang kakek tua berjubah putih yang kelihatan amat berwibawa. Genderuwo yang baik tidak bersifat cabul seperti saudara sebangsanya yang bersifat jahat, genderuwo yang baik seringkali
membantu manusia seperti menjaga tempat gaib atau rumah dari tangan jahil atau perampok. Pernah juga terdengar bahwa genderuwo yang bersifat baik terkadang membantu menyunat anak-anak dari keluarga tidak mampu yang sholeh beribadah.

Asal-Usul Gendruwo

Asal-usul genderuwo dikatakan berasal dari arwah orang yang meninggal secara tidak sempurna, bisa akibat bunuh diri, penguburannya tidak sempurna ataupun kecelakaan. Sehingga ia merasa penasaran dan belum mau naik ke akhirat. Genderuwo tidak dapat dilihat oleh orang biasa tapi pada saat tertentu dia dapat menampakkan dirinya bila merasa terganggu. Pada dasarnya tidak semua genderuwo jahat, ada genderuwo yang jahat ada pula yang baik. Semuanya tergantung bagaimana kita bersikap, mau berteman atau bermusuhan padanya.

Banyak kalangan mempercayai salah satu cara memanggil genderuwo adalah dengan membakar sate gagak. Diyakini, burung gagak adalah makanan kesukaan sekaligus binatang peliharaan genderuwo. Seperti halnya bangsa manusia yang memelihara ayam. Untuk melakukan ritual ini,
subyek yang ingin bertemu dengan makhluk gaib ini tidak boleh asal atau sembarangan ketika mulai membakar sate burung gagak.

Ada cara khusus untuk membuatnya. Caranya adalah sebagai berikut: setelah berhasil menangkap burung gagak, sembelihlah gagak tersebut dengan pisau yang sangat tajam. Alasannya, ketajaman mata pisau akan mempengaruhi lancar tidaknya darah yang mengalir keluar dari bekas luka yang ditimbulkan. Berikutnya adalah mencabuti bulu-bulu hitam
yang kasar itu hingga benar-benar bersih. Selanjutnya, daging yang sudah bersih itu ditelikung seperti halnya kalau membuat ingkung ayam.Baru kemudian, bisa dibakar di atas perapian. Hal terpenting dari ritual itu adalah mengucapkan rapalan mantra khusus agar si makhluk gaib itu mendengar selain mencium bau makanannya.
Mantra Memanggil Genderuwo"Hong ilaheng,heh..heh si komo wurung,dulurku lenang kang arane gandarwo,siro metuwo,iki aku ono pesto anyate gagak kang eco,gondhone arum wangi sing turu wae podho tangi,gage teko-o, gage pangano.enggal-enggal yen ora teko aku dewe kerso,hayo teko,hayo teko,hayo teko" Mantra dibaca berulang-ulang,sambil membakar gagak, sewaktu sampai hayo teko tangan / kaki gedruk-gudruk bumi 3x.
Mantra pemanggil genderuwo jangan asal di rapal/baca aja!butuh nyali untuk ritual ini.Tempat yang dianggap paling tepat untuk melakukan ritual ini adalah tempat yang terbuka. agar bau burung gagak yang dibakar bisa menyebar ke mana-mana dibawa oleh angin. Sehingga semerbak daging terbakar api itu bisa mengundang genderuwo mendatangi tempat tersebut. Belakangan, ritual mengundang genderuwo lengkap dengan segala sejajinya makin banyak dilakukan orang. Hal ini berkaitan erat dengan maraknya perjudian togel yang dulu amat dikenal dengan nomor buntut. Mereka meyakini, dengan mengundang genderuwo, keinginan untuk mendapat nomor jitu bisa terpenuhi. Dengan berbekal sedikit keberanian, keuntungan besar bakal gampang diperoleh. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah resikonya,katanya kalo pas naas menemui Genderuwo yang jahil punya watak jahat,bisa-bisa merebut sate burung gagaknya lalu pergi,jika dipertahanin tentu harus dihadapi dengan perkelahian.
Wawancara Indo Ghaib dengan Juru Kunci Goa Susuh

Menurut budayawan/metafisikawan asal Salatiga, Mas Han yang juga sebagai juru kunci Goa Susuh Angin memberikan informasi pada Indo Ghaib bahwa soal pemanggilan Genderuwo ada 3 mantra yang pertama: Mantra Sate Gagak(yang telah beliau wedarkan ke kami/mantra di atas), ke dua Mantra Pesugihan Kumoro Kumandang dengan cara menyuruh Genderuwo mencuri uang,dan ke tiga Mantra Gendak-an yaitu memanggil Genderuwo untuk di ajak hubungan intim jelas pelakunya musti perempuan, layaknya pelacur tapi dapat upahnya lebih gedhe.Untuk mantra kedua dan ketiga beliau tidak mau memberikan dengan dalih, "jika mau menjalakan ritual dengan salah satu mantra yang tidak saya berikan itu,ya silahkan datang aja silahturahmi ke rumah. Jika cuma sekedar tau janganlah!itu bukan ritual main-main,beresiko tinggi! mengapa tidak saya kasih bukan masalah medit, itu perlu pemahaman jangan sampai salah jalan,jika salah bisa-bisa jadi wadal sendiri",tegas beliau. Inilah gambaran seklumit soal dunia ghaib mengenai khasanah menguak misteri Genderuwo.Semoga ini bisa menjadi wawasan yang berarti buat pembaca Indo Ghaib. Saran saya apapun Ilmu terlebih yang berbau ghaib hendaknya tanyakan/gurukan pada orang yang mengerti perihal dunia metafisika,jangan asal menjalani ritual!!!Salam Ghaib....

Kidung Pedayangan Tanah Jawa


Para Ratuning Dhedhemit Ing Nusa Jawi
Pupuh Sinom:
Apuranen sun angetang, lelembut ing nusa Jawi kang rumeksa
ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi yen
eling sadayanipun, pedah kinaya tulah, ginawe tunggu wong
sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
Kang rumiyin ing bang wetan. Durganeluh Maospahit lawan Raja
Bohureksa iku ratuning dhedhemit Blambangan kang winarni
awasta Sang balabatu, aran Butalocaya, kang rumeksa ing
Kadhiri, Prabuyeksa kang rumeksa Giripura.
Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klenthingmungil Endrayaksa
ing Magetan, Jenggala si Tujungputih, Prangmuka Surabanggi.
Pananggulang Abur-abur Sapujagad ing Jipang, Madiyun si
Kalasekti, pan si Koreb lelembut ing Pranaraga.
Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan guguh
Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping Balitar
si Kalakatung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si
Sekargambir, Carub-awor kang rumekso ing Lamongan.
Gurnita ing Puspalaya, si Lempur ing Pilangputih, si Lancuk
aneng Balora, Pagambiran Kalasekti, Kedhunggene Ni Jenggi,
Ki Bajangklewer puniku ngLangsem Kalabrahala Sdayu si
Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candi Kahyanganira.
Semarang Baratkatiga, Pakalongan Gunturgeni, Pecalang si
Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati ing Padhas Nyai Ragil,
Jayalelana ing Suruh Butatrenggiling Tegal, ing Tegal si
Guntinggeni, Kaliwungu Gutukapi kang rumeksa.
Magelang Ki Samaita, Dhadhungawuk Geseng nenggih,
Butasalewah ing Pajang, Manda-manda ing Matawis, Paleret
Rajekwesi, Kuthagede Nyai Panggung, Pragota Kartasura,
Cirebon Setankoberi, Jurutaman ingkang aneng Tegallayang.
Genawati ing Seluman, Ki Kemandhang Wringinputih, si Karetek
Pajajaran, Sapuregel ing Betawi, Ki Drusul ing Banawi,
ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlekah ngawang-awang Ki Tapa
ardi Marapi, Ni Taruki ingkang ana Tunjung Banag.
Setan kareteg ing Kendal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada
ing Rangkudan, Ni Pandansari ing Srisig, kang aneng
Wanapeti, Palangkaarsa wastanipun, Ki Candung ing Sawahan,
Plabuhan Ki Dudukwarih, Batutukang kang aneng Palayangan.
Ni rara Aris ing Bawang, ing Tidar Ki Kalasekti, Ki
Padureksa Sundara Ki Jalela ardi Sumbing, Ngungrungan
Kesbumurti, Ki Krama ardi Rebabu, Nirbangsan ardi Kombang,
Prabu Jaka ardi Kelir, Ajidipa gunung Kendheng kang den
reksa.
Ing Pasisir Butakala, ing Tlacap si Kalasekti, Kalanadhah
ing Banyumas, Sigaluh aran Prenthil Banjaran Ki Wewasi Kyai
Korog ing Lowanu, gunung Duk Geniyara, Nyai Bureng
Parangtritis, Drembamoha ingkang aneng Prabalingga.
Ki Kerta Sangkalbolongan, Kedhungandhong Winongsari ing Jenu
Ki Karungkala, ing Pengging Banjaransari, ing Kedhu kang
nenggani, anamaa Ki Candralatu, Gunung Kendhalisada
Kethekputih kang nenggani, Butaglemboh ing Ayah
kahyanganira.
Ni Rara Dhenok ing Dewak, ing Tubin Nyai Bathithing ing Kuwu
Ki Juwalpayal, si Jungkit ing Guyanag nenggih, Trenggalek Ni
Daruni, Tunjungseta Cmarasewu, Kalawadung Kenthongan, Jepara
Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganiraa.
Magiri Ki Manglarmonga, ing Gading Ki Puspasari Ketanggung
Ki Klanthungwelah, Brengkalan si banaspati, Ni Kopek ing
Manolih, ing tengah si Sabukalu, Nglandhak Ki Mayangkara, si
Gori Kedhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.
Sunan Lawu ing Argapura, ing Bayat si Puspakati,
Cucukdandang ing Kartikan, kulawarga Tasih Wedhi, kali Opak
winarni, Sanggabuwana ranipun, si Kecek Pajarakan,
Cingcinggoling Kaliwening, ing Dhahrama Ulawelang kang
rumeksa.
Kang aneng Kayulandheyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang
aneng RobanSungujaya Udanriris, Sidarangga Dalepih, si
Gadhung Kedhunggarunggung, kang neng Bajanegara, Citranaya
kang nenggani, Genapura kanaan aneng Majapura.
Ki Logenjang ing Juwana, ing Rembang si Bajulbali, Ki Lender
ing Wirasaba, Madura Ki Butagrigis, kang ngreksa ing Matesih
Jaranpanolih ranipun, Ki Londir Pacangakan, si Landhep ing
Jataisari, Ondar-andir ingkanag aneng Jatimalang.
Arya Tiron ing Lodhaya, Sarpabangsa aneng Pening,
Perangtandanag ing Kasanga, ing Crewek Ki Mandamandi setan
telagapasir, ingkang aran Ki Jalingkung, Kalanadhah ing
Tuntang, Bancuri Kalabancuri, kang rumekso sukune ardi
Baita,Retno Anjani rumekso Ardi Kuncen.
Ragadungik Randhulawang, ing Sendhang Retna Pengasih
Butakapaa ing Prambanan, Bok Sampurna ardi Wilis, Raden
Galinggangjati kang rumeksa Gajahmungkur, si Gendruk ing
Talpegat, Ngembet Raden Panjisari, Pagerwaja kang aran
Udakusuma.
Ki Penthul ing Pakacangan, Cangakan si Dhodhotkawit
kalangkung ing sektinira, titihane kudha putih, cakra
payungireki lar waja kekemulipun, pan sami rinajegan,
respati rajege wesi, camethine pat-upate ula lanang.
Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali
mengetan mangidul, panyaberneki, lara prapta ambalik,
tinulak bali mangidul ngulon banyabetira ana lara teka bali,
pan tinulak mangulon bali kang lara.
Mangalor panyabetira, ana lara teka bali, mangalor
balitinulak anulya nyabet manginggil, lara prapta ambalik
tinulak bali mandhuwur nulya nyaber mangandhap, ana lara
teka bali, pan tinulak larane bali mangandhap.
Dhemit kang aneng Jepara, lan dhemit kang aneng Pati
kalangkung kasektenira, Juweyawastanireki, Gus rema
Tambaksuli, Kudhapeksa ing Delanggung, Ki Klunthung
Ringinpethak, Ni Gambir ing Glagahwangi, si Kacubung
Kadilangu kang den reksa.
Ni Duleg ing Pamancingan, Guwa langse Nini Suntring, kang
rumeksa Parangwedang raden Arya Jayengwesti, kabeh urut
pasisir, kulawarga Nyai Rara Kidul, sampun pepak sadaya,
paraa ratuning dhedhemit, nusa Jawa pangeran kang rumeksa

WAHANANING DZAT


Ing ngisor iki amratelakake urut-urutane Wahananing Dzat kabeh.
derah1
Dzat mutlak kang kadim azali abadi.
1. Chayu, tegese urip, kasebut atma.
2. Nur, tegese cahya, kasebut pranawa.
3. Sir, tegese rahsa, kasebut pramana.
4. Roh, tegese nyawa, kasebut sukma.
5. Napsu, tegese angkara.
6. Akal, tegese budi.
7. Jasad, tegese badan.
Dene Dzat iku tanpa tuduhan, amung dumunung ana rambahi ana sajroning urip kita, ananging akeh kang pada katambuhan, awit dening binasakake ora mawa jaman makam, tegese ora arah ora enggon, akanta tanpa warna tanpa rupa , asifat elok dudu lanang dudu wadon dudu wandu, dipralambangi : ”Kombang angajap ing tawang”, tegese : kombang angleng ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : la takyun, saka durung sanyata ing kahanan.
Dene Cahyu iku minangka tajalining Dzat, awit kasorotan saka purbaning Dzat sejati, dipralambangi : ”Kusuma anjarah ing tawang”, tegese : kembang tuwuh ana ing awang-awang, mula ing dalem martabat kasebut : takyun awal, dening wiwit sanyata ing kahanane.
Dene Nur iku minangka tajalining Chayu, iya iku dadi sesandaning urip, awit kasorotan saka wisesaning atma sajati, dipralambangi : ”Tunjung tanpa talaga”, tegese : kembang terate urip ora mawa banyu, mula ing dalem martabat kasebut : takyun sani, dening wis sanyata kahanane.
Dene Sir iku minangka tajalining Nur, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Isining wuluh wungwang”, tegese : ora kawistara isen-isening wuluh wungwang iku,mula ing dalem martabat kasebut : akyan sabitah, dening sanyata tetep ing kahanane.
Dene Roh iku minangka tajalining Sir, awit kasorotan saka wisesaning pramana sajati, dipralambangi : ”Tapaking Kuntul anglayang”, tegese : ora mawa labet tapaking manuk kuntul anglayang iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan kajariyah, dening sanyata metu ing kahanane.
Dene Napsu iku minangka tajalining Roh, awit kasorotan saka wisesaning sukma sajati, dipralambangi : ”Geni murub ing teleng samudra”, tegese : kaelokan urubing geni ana sajroning banyu iku, mula ing dalem martabat kasebut : akyan mukawiyah, dening sanyata urip ing kahanane.
Dene Budi iku minangka tajalining Napsu, awit kasorotan saka wisesaning angkara sajati, dipralambangi : ”Kuda ngerap ing pandengan”, tegese : jaran anyander isih kinarung ana sajroning jajaran dadi upacara, surasane pada karo pralambang : lumpuh angideri jagad, mula ing dalem martabat kasebut : akyan maknawiyah, dening sanyata kawedar ing kahanane.
Dene Jasad iku minangka tajaline Wahananing sifat, dadi embane para mudah kang wis kasebut ing ngarep mau, awit kalimputan dening pakumpulaning sorot, pada sumarambah amaratani salir anggaotaning badan jasmani kabeh, mula manawa isih jamaning sifat, dipralambangi : ”Kodok kinemulan ing leng”, tegese : kodok iku ngibarating mudah kang ana sajroning jasad, eleng ing ngibarating jasad sajabaning mudah, iya iku kahaning Dzating Gusti isih kalimputan dening sifating kawula, dene manawajamaning Dzat ing delahan, dipralambangi : ”Kodok angemuli ing leng”, tegese : jasad genti dumunung ana ing jero, iya iku kahanane sifating kawula wis kalimputan dening Dzating Gusti, dadi pada tarik-tinarik, tetep-tinetepan, kaya ing ngisor iki dasare.
DERAH KAHANANING DZAT ING DUNYA LAN ING DELAHAN (ACHIRAT)
Kodok kinemulan ing Leng - Kodok angemuli ing Leng
dwrah1
Kahanane ing Dunya —– Kahanane ing Achirat

DZATING GUSTI KANG NGUWASANI
ING ATASE TURU TANGI LAN PATINING JSAD KITA
Balik mungguh Dzating Gusti iku kaceke karo kawula dening adanbeni pangawasa, wenang ambabar prabawa sarta anarik wedaring gelar kukudan.
Kaya upamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning budi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, rerem sajroning Bait al makmur, banjur amuntu ing wiwaraning pramana, anglerep saniskaraning pancadriya, mangka kaprabawa dening pangawasaning suksma anggelar pangrasa, wahanane dadi turu kahananing jasad kita, ing kono saka pangrasa katonton alaming ngimpi, kalaksanan saliring saloh bawa kabeh.
Manawa pangawasaning suksma wis ambabar pancadriya sarta ambabar wiwaraning pramana, banjur angredakake hawaning napsu, anuwuhake pangrasaning budi nganti sumarambah ing jasad kabeh, ing kono wahanane dadi tangi kahananing jasad kita, banjur weruh maneh marang saniskara kang katon ing alam dunya, mula dipralambangi : anenun senteg pisan anigasi tegese : lagi sadela ing paningaling alam ngimpi banjur bisa weruh kang katonton ing alam dunya maneh.
Kaya mangkono uga umpamane manawa karkating jasad katarik ing pangrasaning budi, pangrasaning bbudi kairup ing hawaning napsu, hawaning napsu kasirep dening wisesaning suksma, wisesaning suksma kakukud marang pangawasaning rahsa, banjur luluh manjing ing dalem pranawaning cahya, anunggal karo purbaning atma, mulih dadi sajatining Dzat mutlak kang kadin azali abadi, ing kono wahanane diarani matri kahananing jasad kita, ananging satemene ora mati, amung ngalih panggonan bae, malah waluya uripe langgeng ana ing kahanan kang maha mulya, mula dipralambangi : tanggal pisan kapurnaman tegese : durung suwe tumitah ana ing alam dunya, banjur bisa bali maneh dadi manungsa kang sampurna sarta waskita ing saniskara.

PATRAPE MANEKUNG SAKA WASIYAT DALEM KANJENG PANEMBAHAN SENAPATI INGALAGA
Dene santosaning pangesti kayektekake kang dadi tandane, iku Manawa pinesu ing sajroning manekung anungka semadi aneges karsa, amrsudi kawasa, adapt kang wis kalakon, ana mangunah teka kagawa ing utusan metu saka sarira kita kang amaha mulya, amawa tanda katon saka pramana karasa ing dalem rahsa, ing kono Manawa katarima kang cinipta dadi, kang sinedya ana, kang kinarsan teka saka parmaning Kang Kawasa, mungguh pratikele Manawa arep manekung saka wsiyate Kanjeng Panembahan Senapati Ingalaga Mataram, kaya ing ngisor iki.
Wiwit angurangi dahar sare, anyegah sahwat ambirat napsu hawa ing sawatara dina, banjur pasa anglowong sarta ambisu ing dalem telung dina telung bengi, ora kena angemu sak serik duka cipta, Manawa pasane wis kari sawengi ora kena sare, bareng ing wayah tengah wengi adus banjur manganggo kang sarwa suci, sarta akekonyoh (damel) ganda wida jebab wangi (minyak wangi), adedupa madep mangetan utawa mangulon angarepake keblate dewe, tumeka ing wayah bangun esuk iku wiwit tafakur mati raga nutupi babahan nawasanga, patrape pitekur, jempol sikil ketemokake pada jempol sikil dipapak, polok katemukake pada polok di gatuk, jengku katemokake pada jengku dirapet, palanangan sapalandungane sinipat karo jempol sikil dibener aja nganti katindihan, nuli asta karo angrangkul jengku patrap sidakep suku tunggal, darijining asta pada antuk ing selaning dariji kaya angapu rancang, jempol asta banjur winawas karo pucuking grana, nuli anata wetuning napas tanapas anpas nupus, aja nganti tumpang suh kumpule dadi siwiji, ing kono tinarik saka kiwa tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake anengen metu ing leng grana tengen kang alon aja nganti kasusu. Manawa wis sareh anarik napas maneh saka tengen tumeka ing puser leren saantara suwene banjur katurunake angiwa metu ing leng grana kiwa kang alon aja nganti kasusu, ambal kaping telu kaya mangkono panariking napas, wekasane manawa sareh anarik napas maneh saka kiwa mubeng anengen, saka tengen mubeng angiwa, kakumpulake dadi sawiji ana ing puser, banjur katarik manduwur bener kang sareh, leren tinata ana ing dada, banjur katarik manduwur maneh kang alon-alon, leren tinata ana ing sirah, ing kono angenengake cipta sarwi osik matrapake panjenenganing Dzat kaya mangkene :
“Ingsung Tajalining Dzat Kang Amaha Suci, Kang Amurba Amisesa kang Kawasa angandika kun fayakun, dadi saciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun, ……………… anung………….. metu saka ing kudratingsun”. Manawa wis mangkono, adat pada sanalika bae kayektenan kang dadi tandane, nuli panariking napas katurunake metu ing leng grana karo pisan kang alon aja nganti kasusu, ing wekasan pasrah analangsa marang Dzat kita dewe.
Mungguh patraping panekungan iku prayogane bisaa kalakon ing saben sasi sapisan, arane amung saben ing dina ijabah bae aja nganti katowangan (kelalen), sabab ing kono waktuning katarima saliring panuwun, kaya kang kasebut kapratelakake ing ngisor iki.
1. Sasi Muharram, ijabahe tanggal kaping 9, karo tanggal kaping 10.
2. Sasi Mulud, ijabahe tanggal kaping 12.
3. Sasi Rejeb, ijabahe tanggal kaping 27.
4. Sasi Ruwah ijabahe tanggal kaping 15.
5. Sasi Pasa, ijabahe tanggal kaping 21, 23, 25, 27 utawa tanggal kaping 29.
6. Sasi Besar, ijabahe tanggal kaping 8 utawa tanggal kaping 9.
Liyane dina-dina ing duwur iku pada sepen tanpa dina ijabah.
Urut-uruting Arane Wahananing Dzat
Ing mengko amratelakake urut-urutaning namane Wahananing Dzat kang wis kasebut ing ngarep kabeh mau kaya ing ngisor iki.
CHAYU
Kang dinging Chayu tegese urip, diarani Chayun tegese panguripan, diarani maneh Chayat tegese anguripi, diarani maneh Chayu Daim tegese urip kang tetep, ananging sejatine iya among sawiji Chayu iku.
N U R
Kang kapindo Nur tegese Cahya, iku sejatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan.
1. Nur Riyat tegese cahya samar, warnane ireng.
2. Nur Rani tegese cahyo loro, iya iku cahya kapindo, warnane abang.
3. Nur Mahdi tegese cahya sumirat, warnane kuning.
4. Nur Nubuwat tegese cahya kang santosa, warnane ijo.
5. Nur Muhammad tegese cahya kang pinuji, warnane putih
Mungguh grebane kabeh iku, kasebut Nurullah tegese cahyaning Allah.
S I R
Kang kaping telu Sir tegese rahsa, iku sejatine iya amung siwiji, ananging dinamani dadi nem pasebutan.
1. Sir Ibtadi tegese rahsa purba, iya iku dadi wahyaning asmaranala.
2. Sir Kahiri tegese rahsa wisesa, iya iku dadi wahyaning asmaratura.
3. Sir Kamali tegese rahsa sampurna, iya iku dadi wahyaning asmaraturida.
4. Sir Ngaji tegese rahsa mulya, iya iku dadi wahyaning asmaradana.
5. Sir Hakiki tegese rahsa sajati, iya iku dadi wahyaning asmaratantra.
6. Sir Wahdi tegese rahsa tunggal, dinamani Sir Gaibi tegese rahsa gaib, iya iku dadi wahyaning asmaragama.
Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Sirullah tegese rahsaning Allah.
R O H
Kang kaping pat Roh tegese nyawa utama suksma, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi pitung pasebutan.
1. Roh Jasmani tegese nyawaning jasad, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake anggaotaning badan, dingibaratake roh kewani tegese kaupamakake nyawa kang anguripi sato kewa.
2. Roh Nabati tegese nyawaning tumuwuh, iya iku wewanyanganing nyawa kang anuwuhake wulu kuku sapanunggalane, tumanem dadi uriping budi.
3. Roh Napsani tegese nyawaning napsu, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake hawananing napsu.
4. Roh Rochani tegese nyawaning suksma, iya iku wewayangananing nyawa kang anguripake warananing suksma.
5. Roh Rahmani tegese nyawaning kang sifat murah diarani Roh Rabani tegese nyawaning Pangeran, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake kahananing rahsa.
6. Roh Nurani tegese nyawaning cahya, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake wahananing cahya.
7. Roh Idlafi tegese nyawa kang wening diarani Roh Kudus tegese nyawa kang suci, iya iku wewayanganing nyawa kang anguripake ananing atma.
Mungguh grebone kabeh iku kasebut nama Rachullah tegese nyawaning Allah.
Dene terange wewejanganing Roh iku manawa karujukake karo wsiyate Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung, nalika musawaratan ngelmu kadawuhake marang Kyai Pangulu Ahmad Kategan, mangkene pangandika dalem.

Sejatine Roh iku sawiji minangka kahananing rahsa, binasakake nyawa utawa jiwa kasebut aran suksma, prabedane pada amawa tanda sowang-sowang.
1. Tandaning Roh iku anganakake getih.
2. Tandaning Nyawa anganakake keketek.
3. Tandaning Jiwa anganakake napas.
4. Tandaning Suksma anganakake rasaning jasad.

Ananging Suksma iku ana pepangkatane dadi pitung warna, iki sawiji-wijine.
1. Patemone jasad lan napas iku den arani Suksma Wahya tegese suksma lair.
2. Patemoning napas lan budi iku den arani Suksma Dyatmika tegese suksma batin.
3. Patemoning budi lan napsu iku den arani Suksma Lana tegese suksma tetep.
4. Patemoning napsu lan nyawa iku den arani Suksma Mulya tegese suksma mulus.
5. Patemoning nyawa lan rahsa iku den arani Suksma Jati tegese suksma nyata, den arani maneh Suksma Rasa tegese suksma rahsa.
6. Patemoning rahsa lan cahya iku den arani Suksma Wisesa tegese suksma wenang.
7. Patemoning cahya lan urip iku den arani Suksma Kawekas tegese suksma pungkasan.
Dene patemoning Suksma kabeh iku dadi Suksma Adi Luwih tegese suksma utama, yen kumpul dadi Retna Inten Jumanten, iku ngibarating martabat Wachidiyat, campur dadi Sasraludira, iku ngibarating martabat Wahdat, sampurna dadi Sotyaludira, iku ngibarating martabat Achadiyat, waluya dadi Manik Maya gumilang tanpa wewayangan tegese bali dadi Dzating nukat gaib, mulih marang azali abadi.
N A P S U
Kang kaping lima Napsu tegese angkara, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi patang pasebutan.
1. Napsu Luwamah tegese angangsa, darbe hawa amarakake dahaga arip luwe sapanunggalane, hawane ing waduk, wahyane saka lesan kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot ireng, sampurnane anarik leburing wulu kuku.
2. Napsu Amarah tegese sereng, darbe hawa amarakake angkara, panasten deduka sapanunggalane, wahanane ing amperu, wahyane saka karna (kuping) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot abang, sampurnane anarik leburing kulit getih.
3. Napsu Sufiyah tegese meles, dinamani napsu Suwiyah tegese adreng, darbe hawa amarakake murka, pepinginan pakareman kabungahan sapanunggalane, wahanane ing lelimpa, wahyane saka netra kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot kuning, sampurnane anarik leburing daging otot.
4. Napsu Mutmainah tegese jinem, darbe hawa amarakake loba, iya iku loba marang kautaman, kaya ta anglakoni puja brata tapa brata kang kalantur-lantur ora mawa watara, wahanane ing bebalung wahyane saka grana (irung) kasebut dadi ngibarat kahananing ati kang asorot putih, sampurnane anarik leburing balung sungsum.
Dene manawa kapatitisake witing napsu iku saka utek, dumunung ing ati dadi cipta, dumunung ing jantung dadi birahi, wetune saka jantung banjur dadi nupus, katampan ing ati maneh banjur dadi anpas, anunggal lakunimng getih banjur dadi tanapas, agambah marang maras banjur dadi napas, sumarambah ing jasad banjur ametokake swara saka lesan, mula sangkaning cipta birahi, nupus, anpas, tanapas, napas, swara, iku pada metu saka hawaning napsu kabeh.
A K A L
Kang kaping nem Akal tegese budi, iku sajatine iya amung sawiji, ananging dinamani dadi limang pasebutan, manawa kaetung dalah kang arangkep nama dadi pitung pasebutan, pada anartani marang ngibarat namaning ati, kadadiyane anunggal pasebutan.
1. Budi Maknawi, iya ati manakwi tegese wahyaning budi.
2. Budi Sanubari, iya ati sanubari tegese wahananing budi.
3. Budi Suweda, iya ati suweda tegese woding ati, dadi ngibarat kahananing budi.
4. Budi Pu-at, iya ati pu-at tegese woting jajantung, dinamani budi jaki utawa ati jaki tegese ati suci dadi ngibarat pramananing budi.
5. Budi Siri, iya ati siri tegese rahsaning ati, dinamani budi safi utawa ati safi tegese ati wening dadi ngibarat pangrasaning budi.
Dene manawa kapatitisake pakartining budi iku diarani pancadriya, tegese ati lima, iya iku pangawasa kang metu saka rahsaning budi, peperangane dadi telung pangkat pada anglimang pakarti.
1. Diarani Karmendriya tegese purbaning budi, kayata : paningal, pamiyarsa, pangganda, pamirasa, pangrasa.
2. Diarani Antarendriya tegese antaraning budi kayata : keketek, napas, kedeping netra, rasaning lidah, kenyaming lambe.
3. Diarani Jayanendriya tegese wisesaning budi, kayata : karasaning kulit, parji, dubur, asta, sikil.
J A S A D
Kang kaping pitu Jasad tegese badan, iku sajatine iya mung sawiji, ananging dinamani dadi rong pasebutan.
1. Jasad Turab tegese badan kadadiyan saka lebu, dibasakake badan jasmani iya iku badan wadag.
2. Jasad Latip tegese badan alus, dibasakake badan rochani iya iku badan suksma.
Mungguh janjine badan wadag karo badan alus iku ora kena pisah, sangkan parane anunggal kahanan sajati, upama satu munggwing rimbagan, ananging wewangsulan ing tembe badan wadag iku luluh sampurna ana sajroning badan alus, kalimputan dening Chayu Daim tegese urip kang tetep dumunung ing kahanan kita pribadi, mula dipralambangi : warangka manjing curiga tegese badan wadag dumunung sajroning badan alus, nalika badan wadag isih dadi emban, lambange : curiga manjing warangka tegese badan alus isih dumunung sajroning badan wadag.
Pratikele Angluluh Ing Badan Wadag
Dene pratikele angluluh badan wadag mau, saka wsiyat dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Pakubuwana I, kena kalanteh anglakoni tapa brata kaya ing ngisor iki.
1. Asesuci tegese taberi adus esuk.
2. Angengurangi dahar tegese dahara manawa banget luwe.
3. Angengurangi ngunjuk tegese angunjuka manawa banget kasatan.
4. Angengurangi sare tegese sareya manawa banget karipan.
5. Angarang-arangi pangandika tegese angandika manawa nganggo masa kala.
6. Anguda-uda sahwat tegese asahwata karo garwa manawa banget kangen.
7. Ambirat napsu tegese aja nganti angumbar hawa, angagema budi trima, lila, temen, utama.
Manawa wis bisa kalakon mangkono, angger ora kawistara, sarta dumunung ing asepen iya wallahu alam katarimane.
Dene manawa arep waskita dununging asepen, iku, sakaliring rupa kita kapasrahena marang kang adarbe rupa sakaliring swara kita kaulihena marang kang adarbe swara, paninggal kita, pamiyarsa kita, panganda kita pangrasa kita, pamirasa kita, pada kabalekena marang sangkane dewe-dewe.
Mungguh patrape anyidakake eninging rahsa, angawasake enenging pancadriya, tegese anglerenake saniskaraning ngaurip kabeh, manawa wis bisa mangkono, iya iku bebasan lungguh sarwa lumaku, lumaku karo andeprok, lumayu sarwa alinggih, ambisu karo carita, lunga sarwa aturu, turu karo amelek kaya mangkono ngibarate.
Iki Warahing Hidayat Jati, anuduhake dununge pangkating ngelmu makrifat wewejangan saka para Wali ing Tanah Jawa, sasedane Kanjeng Susuhunan ing Ngampeldenta, pada karsa ambuka wiridan kang dadi wijining wewejangan surasaning ngelmu kasampurnan dewe-dewe, wiyose iya uga asal saka Dalil Hadis Ijmak Kiyas, kaya kang wis kasebut ana sajroning Wirid kabeh, mungguh pepangkatane sawiji-wiji kapratelakake ing ngisor iki :
Kang dingin, saankatan nalika jaman awale nagara ing Demak, para Wali kang karsa amejang amung wolu.
1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Kadaton, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.
2. Kanjeng Susuhunan ing Tandes, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.
3. Kanjeng Susuhunan ing Majagung, wejangane, Gelaran Kahananing Dzat.
4. Kanjeng Susuhunan ing Benang, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur.
5. Kanjeng Susuhunan ing Muryapada, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.
6. Kanjeng Susuhan ing Kalinyamat, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.
7. Kanjeng Susuhunan ing Gunungjati, wewejangane, Santosaning Iman.
8. Kanjeng Susuhunan Kajenar, wewejangane, Sasahidan.
Kang kapindo, ing saangkatan maneh nalika jaman akhire nagara ing Demak, para Wali karsa amejang iya amung wolu.
1. Kanjeng Susuhunan ing Giri Parapen, wewejangane, Wisikan Ananing Dzat.
2. Kanjeng Susuhunan ing Darajat, wewejangane, Wedaran Wahananing Dzat.
3. Kanjeng Susuhunan ing Atasangin, wewejangane, Gelaran Kahananing Dzat.
4. Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-makmur, banjur ambabar sagung kang dadi parabote amatrapake panjenenganing Dzat kabeh, nanging durung urut patrap panggonane ing sawiji-wiji.
5. Kanjeng Susuhunan ing Tembayat, kalilan dening guru Kanjeng Susuhunan Kalijaga, ambabarake wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-muharram.
6. Kanjeng Susuhunan ing Padusan, wewejangane, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas.
7. Kanjeng Susuhunan ing Kudus, wewejangane, Panetep Santosaning Iman.
8. Kanjeng Susuhunan Geseng, wewejangane, Sasahidan.
Dene wewejangane kang wis kasebut ing duwur iku, surasane iya anunggal bae, amarga pada wewiridan saka pamejange Kanjeng Susuhunan Ngampeldenta kabeh, mula ing mangko kaimpun dadi sawiji, supaya gampanga enggonku angrasakake riwayating Dalil Hadis Ijmak Kiyas, sarehne hakekate Dzating Pangeran Kang Amaha Suci iku binasakake luwih dening gaib, tanpa warna tanpa rupa, asifat dudu lanang, dudu wadon, dudu wandu, sarta ora mawa jaman, ora arah ora enggon, amung cipta-sasmita dumunung ana waskita, wewisikane ora ana apa-apa, sakehe kang kasebut iku dudu sajatining Dzat kabeh, ananging kang wajib kaimanake amung Ingsun.
Mungguh wewisikane kang wis waskita iku, manawa durung bisa anampani ing panggalih, prayoga amarsudi ing surasane pangimpuning para wewejangan kabeh, kaya kang kasebut ana Warahing Hidayat Jati mangkene.
Sajatining Dzat Kang Amaha Suci iku asifat Esa, dibasakake Dzat mutlak kadim azali abadi, tegese asifat sawiji, kang amasti dingin dewe nalika isih awang0uwung salawase ing kahanan kita, iya iku jueneng pribadi, ana sajroning nukat gaib kang keluwih langgeng, ing kono amedarake kurat iradate dadi pitung kahanan, minangka warnaning Dzat, dadi wahananing sifat, asma afngal kabeh, ing ngisor iki babare sawiji-wiji.
1. Chayu, tegese urip, dumunung sajabaning Dzat.
2. Nur, tegese, cahya, dumunung sajabaning Dzat.
3. Sir, tegese rahsa, dumunung sajabaning cahya.
4. Roh, tegese nyawa, diarani sukma, dumunung sajabaning rahsa.
5. Napsu, tegese angkara, dumunung sajabaning sukma.
6. Akal, tegese budi, dumuning sajabaning napsu.
7. Jasad, tegese badan, dumunung sajabaning budi.
Denen Chayu, iku kang kapasrahan pangawasaning Dzat, kinarsakake anguripi kahananing cahya, rahsa, sukma, napsu, budi, badan kabeh, sumarambah saka ing wiwitan tumeka ing wekasan, mungguh wewijangane kaya ing ngisor iki.
1. Ing nalika kayu anguripi kahananing cahya, sumarambah ing netra ing netra, wahanane dadi bisa aningali iya iku paningaling Dzat angagem ing netra kita.
2. Ing nalika kayu anguripi kahananing rahsa, sumarambah ing grana, wahanane dadi bisa angganda, iya iku panggandaning Dzat angagem ing grana kita.
3. Ing nalika kayu anguripi kahananing suksma, sumarambah ing lidah, wahanane dadi bisa angandika, iya iku pangandukaning Dzat angagem lesan kita.
4. Ing nalika kayu anguripi kahananing napsu, sumarambah ing talingan, wahanane dadi bisa amiyarsa, iya iku pamiyarsaning Dzat angagem ing karna kita.
5. Ing nalika kayu anguripi kahananing budi, sumarambah ing ati, wahanane dadi bisa birahi anduweni karsa, iya iku karsaning Dzat angagem ing ati kita.
6. Ing nalika kayu anguripi kahananing jasad, sumarambah ing getih, wahanane dadi bisa ambekan, banjur anuwuhake wulu kuku sapadene, iya iku afngaling Dzat angagem ing saulah kita, saestu ora beda ing nalika amratandani agngal sajroning alam, banjur bisa amolahake srengenge rembulan angin sapanunggalane, saisen-isening alam kabeh , pada dumunung ana ing purba wisesaning Dzat kaya kang kasebut ing ngisor iki :
a. Dzat amurba Kayu, tegese Dzat iku witing urip.
b. Kayu amisesa Nur, tegese urip iku amengku wahyaning cahya.
c. Nur kang misesa Sir, tegese cahya iku amengku uriping suksma.
d. Sir amisesa Roh, tegese rahsa iku amengku uriping suksma.
e. Roh amisesa Napsu, tegese suksma iku amengku uriping napsu.
f. Napsu amisesa Akal, tegese napsu iku amengku uriping budi.
g. Akal amisesa jasad, tegese budi iku amengku uriping jasad. Mungguh baline mangkene.
Jasad kawisesa dening budi, budi kawisesa dening napsu, napsu kawisesa dening suksma, suksma kawisesa dening rahsa, rahsa kaisesa dening cahya, cahya kaiwisesa dening urip, urip kapurba Dzat, mulane wahananing urip iku tanpa wangenan karo ananing Dzat, iya urip kita iku Dzating Gusti Kang Amaha Suci Sajati, aja uwas sumelang ing galih.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments