Tampilkan postingan dengan label ilmu sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu sejati. Tampilkan semua postingan

Metafisika Syekh Siti Jenar


ILMU SEJATI SYEKH SITI JENAR

“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

“Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. METAFISIKA WAHDATUL WUJUD

PROBLEM seputar masalah YANG ADA merupakan problem yang berat. Artikel ini bersandar pada teori YANG ADA dari khasanah Metafisika Islam yaitu Mulla Sadra. Meskipun pendek, diharapkan agar bisa menjadi titik pijak untuk memahami metafisika KESATUAN TUHAN atau WAHDATUL WUJUD yang terkenal dengan tokoh-tokoh sufinya seperti Al Hallaj maupun Syeh Siti Jenar.

Dasar dari Filsafat adalah Metafisika. Metafisika dibagi menjadi METAFISIKA UMUM disebut dengan ONTOLOGI, dan METAFISIKA KHUSUS yang terdiri dari KOSMOLOGI, FILSAFAT MANUSIA atau ANTROPOLOGI METAFISIK dan FILSAFAT KETUHANAN atau TEODICEA.

Di antara tema-tema METAFISIKA UMUM yang paling banyak melahirkan kontroversi adalah problema YANG ADA. Sebab hakikatnya terasa ribet dan ruwet. Hal ini lantaran YANG ADA merupakan sesuatu yang repot bila didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu objek, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara YANG ADA itu adalah obyek sekaligus juga subyek karena kita ada didalam YANG ADA.

Menurut para filsuf, konsepsi YANG ADA sedemikian terangnya, sehingga ia persis menyerupai matahari. Dan karena sedemikian terangnya, ia tak mungkin bisa dilihat manusia. Demikianlah YANG ADA. Begitu jelasnya YANG ADA, maka ia tak mungkin bisa didefinisikan lewat genus dan diferensia, yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang YANG ADA itu sendiri.

Secara historis, tema YANG ADA menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filsuf klasik sejak Thales di era Yunani Kuno sampai Josiah Royce di era Modern. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih sekadar menempatkan problematika YANG ADA sebagai bagian dari tema-tema universalitas saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksidensi, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.

Sejak kehadiran Mulla sadra, lahirlah mazhab filsafat EKSISTENSIalisme dalam komunitas Muslim. Namun, EKSISTENSIalisme Sadra sangat berbeda dengan mazhab EKSISTENSIalisme seperti Kierkegaard, Jean Paul Sartre, atau Heidegger.

EKSISTENSIalisme Islam adalah sebuah mazhab filsafat metafisis yang murni. Tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu dan bahkan ingin sampai kepada YANG ADA SEBAGAIMANA YANG ADA yang sebenarnya (the Ultimate Reality). Dengan demikian, nuansa metafisika YANG ADA dalam Islam lebih bersifat teistik bahkan sufistik; sementara aliran filsafat EKSISTENSIalisme barat sebagiannya condong pada ATEISME.

Untuk bisa memahami metafisika YANG ADA, ada baiknya kita batasi pembahasan hanya pada teori Mulla Sadra tentang YANG ADA. Konsep Sadra berdiri di atas tiga prinsip dasar yang sangat fundamental. Dengan memahami ketiga prinsip ini, diharapkan kita akan dengan mudah memahami teori-teori filsafatnya yang lain, baik yang berkaitan dengan kosmologi, epistimologi, dan bahkan teologinya. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut: WAHDATUL WUJUD (KESATUAN YANG ADA), TASYKIKUL WUJUD dan ASALATUL WUJUD. Kita akan mengelaborasi ketiga prinsip ini secara sederhana.

Secara historis, teori WAHDATUL WUJUD pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi. Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat. Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat. Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya TUHAN YANG EKSIS sementara selain Tuhan tak ada yang eksis. Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa SELURUH YANG BERWUJUD SELAIN TUHAN HANYALAH TAJALLIYAT (MANIFESTASI) DARI ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT TUHAN.

Namun Sadra melihat bahwa YANG ADA SEBAGAI YANG ADA meskipun SATU, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama YANG ADA. Sifat YANG ADA-nya TUHAN MUTLAK, sementara yang ada lain hanya bersifat YANG ADA DALAM KEMUNGKINAN. Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. YANG HARUS ADA berbeda dengan YANG MUNGKIN ADA.

Teori WAHDATUL WUJUD sebagai teori tentang YANG ADA menekankan pada KESATUAN YANG ADA yang hadir pada segala sesuatu. Tuhan MEMILIKI SIFAT YANG ADA, begitu juga dengan manusia, benda-benda mati. Apakah YANG ADA setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru ADA KARENA ADANYA YANG LAIN. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara YANG ADA-NYA TUHAN dengan YANG ADA selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa YANG ADA itu SATU, sementara di dunia YANG ADA kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Lalu berapa jumlah YANG ADA?

Persoalan itu dalam metafisika dikenal dengan istilah problem antara YANG SATU DAN YANG BANYAK. Pertama, ada yang disebut dengan istilah composite existence dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori ini maka YANG ADAnya pasti akan terbatas.

Kedua, the Simple Existent, di mana jenis YANG ADAnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak pernah terbatas. YANG ADA ini hanya milik TUHAN saja di mana YANG ADANYA merupakan WUJUD-Nya itu sendiri. Simplifikasi jenis YANG ADA TUHAN ini disebut Sadra dengan istilah basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa YANG ADA yang bersifat sederhana adalah YANG ADA yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.) Karenanya mengikut formula ini, YANG ADA manusia adalah bagian inheren dari YANG ADA TUHAN.

Prinsip WAHDATUL -WUJUD atau KESATUAN YANG ADA dalam filsafat Sadra ini yang melihat KESATUAN YANG ADA terbentang lebar pada segala apa yang disebut sebagai YANG ADA INDIVIDUAL sampai YANG MUNGKIN ADA yang beraneka ragam dan bervariasi, sehingga YANG ADA memiliki sistematisasi.

Menurut aliran filsafat ESENSIALISME, ESENSI tak mengalami perubahan. Yang berubah adalah instansi-instansi partikularnya. Ketika warna putih mengalami intensifikasi warna, itu berarti bahwa warna dahulu hilang dan lahir warna baru yang menggantikannya.

Sadra menolak teori ini. Mereka melihat bahwa suatu ESENSI tidak pernah mengalami perubahan. Suatu ESENSI bisa saja memiliki wilayah intensitas yang tak terbatas. Ketika warna putih mengalami intensifikasi, bukan hanya ke-putih-annya yang tetap, bahkan “putih”nya juga tetap. Jadi semua yang disebut ESENSI memiliki kapabilitas untuk menjadi “more or less”: semua manusia bisa jadi “lebih” atau “kurang” manusia dari manusia lain. “Manusia” dan “kemanusiaan” Muhammad saw lebih sempurna dari manusia dan kemanusiaan kita.

Ini adalah teori “MORE PERFECT AND LESS PERFECT” yang kemudian dimodifikasi oleh Sadra. Pertama, prinsip ambiguitas ini dirubahnya dari ambiguitas ESENSI menjadi ambiguitas dalam EKSISTENSI. Dengan kata lain, yang mengalami graditas bukan ESENSI, tapi justru EKSISTENSInya. Kedua, teori ambiguitas EKSISTENSI ini juga terjadi secara sistematis bukan sekadar ambiguitas. Itu berarti, EKSISTENSI adalah sama bagi seluruh EKSISTENSI, seperti EKSISTENSI Tuhan yang wajib dan makhluk yang mungkin, adalah sama apabila dilihat dari sisi predikat EKSISTENSInya.

Meskipun predikat EKSISTENSI di atas sama namun setiap EKSISTENSI tetap memiliki keunikannya tersendiri yang memisahkannya dari yang lain. Seluruh bentuk EKSISTENSI yang lebih tinggi pasti mengandung bentuk EKSISTENSI yang lebih rendah bahwa EKSISTENSI yang sederhana pasti mencakup secara inheren segala EKSISTENSI yang berada di level bawahnya.

Dengan dasar prinsip di atas KESATUAN YANG ADA terpelihara pada semua EKSISTENSI; namun keragamannya juga terpelihara. Ketika dua prinsip di atas tak terbantahkan secara common sense, maka lahirnya prinsip YANG ADA adalah sesuatu yang aksiomatis. YANG ADA berarti bahwa YANG ADA adalah prinsip dari segala wujud yang ada. Lawan darinya adalah prinsip bahwa YANG ADA sekadar asumsi akal. Perbedaan kedua prinsip ini secara historis telah lahir jauh sebelum munculnya Sadra, seperti yang dapat kita simak dari teori-teori Farabi, Ibnu Sina, bahkan Aristoteles.

Sesuatu memerlukan YANG ADA agar ia bisa eksis. Tanpa YANG ADA, suatu hal tidak akan pernah bisa berEKSISTENSI, suatu YANG ADA tidak akan bisa memperoleh partikularisasinya di dunia YANG ADA. Teori dualitas antara YANG ADA ini kemudian ditolak secara tegas oleh pekikir Islam lain, Suhrawardi. Menurut Suhrawardi, apa yang kita lihat sebagai EKSISTENSI di dunia YANG ADA adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka YANG ADA itu sendiri akan memerlukan YANG ADA lain yang bisa memberinya EKSISTENSI; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinitum.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa suatu YANG ADA yang konkrit tiada lain adalah sebuah fakta bahwa itu adalah YANG ADA itu sendiri. Sehingga kalimat YANG ADA tiada lain kecuali abstraksi akal semata-mata.

Sadra yang EKSISTENSIALIS dan yang berusaha maksimum untuk mensintesiskan kedua aliran ini menolak pendapat Suhrawardi. Baginya yang riil adalah YANG ADA, sementara ESENSI adalah abstraksi mental semata-mata. YANG ADA bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh YANG ADA, namun ia adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab sifat YANG ADA yang paling fundamental yakni SEDERHANA dan berkarakter MENYEBAR ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai EKSISTENSI.

Dan EKSISTENSI yang ada di hadapan kita tidak lebih pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan YANG ADA itu sendiri. Ketika kita melihat di dunia YANG ADA ini ADA, misalnya, kursi, meja, si Amir, kuda, dan sebagainya, maka entitas-entitas itu “membelah” dari bentangan YANG ADA.

Akhirnya, secara teologis, konsep YANG ADA dari Mulla Sadra di atas mengajak kita memahami makna the ULTIMATE REALITY di mana ADA-NYA TUHAN memiliki sifat partikular juga menyatu dalam maknanya yang sangat unik. Meskipun WAHDATUL WUJUD atau YANG ADA ITU MENYATU namun tidak terjebak pada teori PANTEISME, karena YANG ADA entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara. Itulah yang dimaksudkan firman Allah “AKU LEBIH DEKAT DENGANMU DARIPADA DIRIMU SENDIRI.”

Makrifatullah Wali Songo



Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati: “Allah itu adalah yang berwujud haq”
MENJADI GUSTI ALLAH

Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

Wirid Hidayat Jati

BEBUKANING WIRID

Bebukaning Wirid kang amratelakake ganepe patraping amejang ngelmu makrifat kasampurnaning ngaurip, ing jaman semana wis katindakake dening para Wali kabeh, urute sawiji-wiji ing ngisor iki.

Ingkang dingin, wiwitan patrap kang dadi kawajiban, iku guru karo bakal murid pada amet banyu wudu, sarta niayat kang karepe mengkene : “Nawaitu raf’al hadasi suharata walakabirata fardlanlillahi ta ala Allahu akbar” (Niyatingsun amet banyu kadas, angilangake kadas cilik lan gede perlu karana Allah).

Nuli pada dandan anganggo sandangan sarwa suci, ora kena anganggo kang mawa emas, utamane manawa karsa anganggo kuluk, banjur ngliga sarira kekonyo gando wida, sarta nganggo sumping kembang oncen-oncen Surengpati ana ing kuping kiwa, karo nganggo kalung kembang oncen-oncen Margasupana, wangun kaya oncen-oncen usus pitik karangkep telu, utawa nganggo gombyok keris kaya pangaten anyar.

Nuli ing pamejangan katata dipasangi tetuwuhan maju papat,sarta kadodokan lampit kang resik, banjur katumpangan klasa pasair kang tigas, ing duwur pisan katumpangan mori putih saules lapis pitu, apese lapis telu, mawa kasebaran kembang campur bawur.

Nuli sesaosan srikawin salaka putih bobot satail, kadokok ing wewadah tunggal karo lengz sundul-langit, sarta menyan bobot saringgit, kasasaban mori putih mawa pangiring sesanggan gedang agung suruh ayu, jambene tanganan, kasasaban mori putih dadi rong wadah sarta kembar mayang sajodo pada sumaji ana ing pamejangan.

Nuli ing antara manawa wis sirep wong utawa wayah tengah wengi, pada tindak menyang enggon pamejangan, kang bakal kawejang linggih madep mangulon , sarta dedupa ratus kaasepake ing kuping kiwa, banjur ing irung, wekasan ing dada, iku wiwit kawejang teka gurune. Dene kang kawejangake, anurut pamejange para Wali wolu ing Tanah Jawa, kakumpulake dadi sawiji. Wijose pada amet wijining ngelmu kekiyasan saka Dalil pangandikaning Allah, kang kasebut ing dalem Hadis pangandikane Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah marang Sayidina Ali kawisikake ing kuping kiwa, pepangkatane dadi wolung wejangan, kapratelakake ing ngisor iki jarwane kabeh :

1. Wisikan Ananing Dzat

Wejangan punika dipun-wastani wisikan ananing Dzat, awit dening pamejangipun kawisikaken ing talinga kiwa, wiyosipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang wiwitan, nukilan saking warahing kitab Hidayat khakaik, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, makaten jarwanipun :
“Sejatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin iku ingsun, ora ana Pangeran Nanging Ingsun, sajatining Dzat Kang Maha Suci anglimput ing Sipatingsun, anartani ing asmaningsun amratandhani ing afngalingsun”.

2. Wedharan Wahananing Dzat

Wejangan punika dipun wastani Wedharan Wahananing Dzat, awit dene pamejanganipun amarah urut-urutan dumadining Dzat, sipat, wahanipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping kalih, nukilan saking sarahing kitab Dakaikalkaik.

Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :
”Sajatine ingsung Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodratingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning afngalingsun kang minangka bebukaning IraDzatingsun, kang dhingin Ingsun anitahaken kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Adamm akdum azali abadi, nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh Idlapi, nuli damar aran Kandhil, nuli sesotya aran Darah, nuli dhindhing jalal aran Kijab kang minangka warananing Kalaratingsun”.

3. Gelaran Kahaning Dzat

Wejangan punika dipun wastani gelaran kahaning Dzat, awit dening pamejanganipun ambabar dados kanyataan anasiring Dzat sipat, inggih punika nalika Pangeran Kang Maha Suci karsa amujudaken sipatipun. Gumelar kahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping tiga, nukilan saking Kitab bayan Humirat mupakat kaliyan Kitab Bayan Alip, kitab Madinil Asror, kitab Makdinil Maklum, inggih punika bangsaning kitab tasawup sadaya. Sami amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah karaos ing dalem rahsa, makten jarwanipun ;
”Sajatine manungsa iku rahsaningsun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake Adam, asal saking anasir patang prakara : 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. banyu, Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun. Ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara : 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi, iya iku minangka warananing wajahingsun Kang Amaha Suci”.

4. Pambuka Tata Malige Ing Dalem Bait-al-makmur

Wejangan punika dipun wastani, kayektening kahanan Kang Maha Luhur, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-makmur. Awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha suci, anggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat minangka Baitullah wonten ing sarahipun manungsa, punika sajatosipun dados pitedhah kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya langgeng boten kenging ewah saking gingsir saking kahanan jati.

Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping sekawan nungkilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kapisan karaosaken ing dalem rahsa, makaten jarwanipun.
”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-makmur, iku omah enggoneng Parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam, kang ana sajroning sirah iku dimak, iya iku utek, kang ana antraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun Dzat Kang anglimputi ing kahanan jati”.

5. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-muharram

Wejangan punika dipun wastani kayektening kahanan Kang Maha Agung. Inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-muharram, awit dening pamejanganipun pambuka kodrat iraDzating Pangeran kang Maha suci, enggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitullah wonten ing dhadhaning manungsa.

Kasebut ing dalem daliling dados pitedahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat kang Maha Mulya lenggah boten kenging ewah ginsir saking kahanan jati.

Kasebut ing dalem daliling ngemi ingkang kaping gangsal, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, ayat ingkang kaping kalih karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :
”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-muharram, iku omah enggoning lelaranganingsun, jumeneng ana ing dhadhaning Adam, kang ana ing sajroning dhadha iku ati, kang ana ing antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, iya iku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati”.

6. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-mukaddas

Wejangan punika dipun wastani ; kayektening kahanan Kang Maha Suci, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas, awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha Suci angenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitulah katata wonten ing kontholing manungsa. Punika sajatosipun ugi dados pitedhahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya, lenggah boten kenging ewah gingsir saking kahanan jati. Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping enem, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil. Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha suci dhateng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kaping tiga, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :
”Sajatine Ingsun nata malige sajroning Bait-al-mukkadas, iku omah enggoning Pasuceningsun, jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang ana antarane pringsilan iku nutfah, iya iku mani sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angin Ingsun Dzat kang nglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam ahadiyat, alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajtining sipat Ingsun”.

7. Panetep Santosaning Iman

Wejangan punika dipun wastani panetep santosaning iman, abebuka sahadat jati, awit dening pamejangipun amangsit ingkang dados pikekahing pangandel kita, denira angestokaken dhateng kayektining gesang kita pribadi, manawi sampun tetep minangka tajalining Pangeran Kang Maha Suci sajati. Kasebeut ing dalem ijemak riwayating para wiliyullah, nukilan saking kadis makdus, salebeting bab maklumatul uluhiyah. Wiyosipun anyariyosaken kakekating taukid. Ingkang terus dhateng iktikad, wewiridan saking cipto sasmitanipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsittaken dhateng sayidina Ali, makaten jarwanipun :
”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun”.

Menggah dunungipun makaten :
a. Ingkang dipun wastani Pangeran meniko Dzating gesang kita pribadi, sebab sajatosipun sagung asya sami kukum napi sadaya, tegesipun asya ; sawiji-wiji, tegesipun napi, boten wonten, mila kasebut boten wonten Pangeran isbatipun inggih namung Dzating gesang kita pribadi. Tegesing isbat ; tetep, dados teteping ingkang anyebut kaliyan ingkang sinebut Pangeran punika boten wonten sanesipun, suraos tunggal tanpa wewangenan amung kaot lair batin kemawon.

b. Ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita, mila dipun basakaken utusan, amargi dados pangeran rahsaning Dzat, kawistara wonten ing netya, kados ingkang kasebut wonten ing dalil salebeting Qur’an makaten jarwanipun :
“Sayekti temen-temen teka ing sira kabeh, utusaning Dzat metu saka ing awakira kang maha mulya, mungguhing utusan iku anembadani barang saciptanira, yen angandel sayekti antuk sih pangapuraning Pangeran”.

Manawi sampun anampeni dalil Qur’an pangandikanipun Pangeran Kang Maha Suci makaten wau, dipun waskitha ing galih. Inggih gesangkita pribadi wahananing nugraha, kahananing kanugrahan. Nugraha punika Dzating Gusti, kanugrahan punika sipating kawula, tunggal tanpa wewangenan dumunung wonten ing badan kita. Sampun uwas sumelang malih, sebab ingkang kasebut ing Kitab Insan Kamil amarah manawi namaning Allah punika inggih namaning Muhammad. Umpami sabet kaliyan warangkanipun. Ing mangke Allah minangka warangka, Muhammad minangka sabet, ing tembe wewangsulan.

Wisiyating guru ingkang amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, kaprayogekaken sami anglampahana boten karsa dhahar ulam lembu. Kabar angsal paedah manjing dados putra muridipun Kanjeng Susuhunan ing Kudus, kaidenan ingkang dados saesthining galihipun.

Wonten riwayating guru manawi amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, ingatasipun amejang dhateng pawestri, wenang kawewahan makaten jarwanipun.
”Ingsu ankeseni, satuhune ora ana Pangeran anging ingsun, lan anekseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusan Ingsun Fatimah iku umat Ingsun”.
8. Sasahidan

Wejangan punika dipun wastani sasahidan, awit dening pamejanganipun kinen asahida dhateng wahananing sanak kita. Inggih punika ananing dumadi ingkang gumelar wonten ing alam dunya, kadosta, bumi, langit, wulan, lintang, latu, angin, toya, sapanunggalipun sadaya. Sami aneksenana yen kita mangke sampun purun angakeni “ Jumeneng Dzating Gusti “ Kang Maha Suci, dados sipating Allah Kang sajati. Kasebut ing dalem kiyas wewarahing para pandhita, anggenipun amencaraken nukilan saking kadis mahdus, salebeting bab Maklumating Huluhiyah. Wosipun anartani ing panetep santosaning iman, dados panuntuning tokid ingkang ambontos dhateng iktikad. Inggih ugi pepiridan saking cipta sasmitaning Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsitaken dhateng Sayidina Ali, makaten jarwanipun ;
”Ingsun anekseni ing Dzatingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku rahsaningsun, iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena gingsir ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana Ora kekurangan ing pangerti, Byar sampurna padang tarawangan, Ora krasa apa-apa Ora ana katon apa-apa, Amung Ingsun kang anglimuti ing alam kabeh kalawan kodratingsun”.

Menggah dunungipun makaten :
Ingkang dipun wastani Pangeran punika Dzating gesang kita pribadi, ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita pribadi. Manawi ingkang kasebut ing dalem dhikir “ La Illaha Ilullah, Muhammad Rasulullah “ tegesipun boten wonten Pangeran anging Allah, Nabi Muhammad punika utusaning Allah punika afngaling Rasul, dumunung ing badan kita. Rasul punika asmaning Muhammad, dumunung ing rahsa kita. Muhammad tuwin sipating cahya, dumunung ing gesang kita. Sajataning gesang kita punika, Dzating Pangeran Kang Maha Suci. Kayektosanipun kasebat ing dalem daliling Al Qur’an, manawi Pangeran Kang Mahasuci punika kawasa amijilaken gesang saking pejah, wijiling pejah saking gesang, inggih gesang kita pribadi punika. Sayekti awit saking pejah, ing wekasan boten kenging pejah. Dipun basakaken ; kayun pidareni. Tegesipun : gesang ing kaanan keakalih, wonten ing alam sahir kita gesang, wonten ing alam kabir inggih gesang. Sarta boten kasupen ing Dzat kita kang agung, boten ewah gingsir ing sipat kita kang elok, boten kasamaran ing sama kita kang wisesa, boten kekirangan ing afngal kita kang sampurna, dados pepuntoning taukid ingkang ambontos dhateng iktikad. Sampurnaning gesang kita punika boten wonten karaos utawi tanpa katinggal punapa-punapa. Amung waluya sajati lajeng anglimputi ing alam sadaya ; sampun uwas sumelang.

Wasiyating guru ingkang medharaken ngelmi sasahidan, kaprayogekaken sami anglampahana sampun ngantos anyebut Allah, kaisbatna anyebut Pangeran, kadosta : ing bebasan saking karsaning Allah, isbatipun saking karsaning Pangeran. Kabar pakantukipun ingkang sampul kalampahan asring kadhawahan ilham. Dados amewahi teranging pambudi, ananing wasiyating guru ingkang sami kawaleraken sadaya punika manawi kasupen boten dados punapa, sebab sajatosipun ingkang dados awisaning ulah ngelmi kasampurnan punika namung napsu. Manawi saged ambirat hawa napsu, saking aDzat kadunungan manah awas tuwin emut. Manawi tansah awas emut saestu manggih kamulyan ing sangkan paran sasaminipun kados riwayating para ahli ngelmi ingkang kasebut ing ngandhap punika :
a. Taberi suci temen ; Minangka pambirating durgandana ing tembe, tegesipun ; ganda awon.
b. Angengirangi dhahar nginum ; Minangka paluluhaning raga ing tembe.
c. Angawisi sare shawat ; Minangka pangluyutaning jiwa ing tembe.
d. Nyenyuda napsu wuwus ; Minangka panglenyepaning rahsa ing tembe.

Manawi sampun lenyep rahsanipun, kabar dumugining delahan ing tembe lajeng layat dados cahaya gum, ilang tanpa wewayangan ing kaanan kita kang sejati. Punika sarehning kula dereng saged anglampahi piyambak, dados namung anyumanggakaken ing pamanggihing galih kemawon. Bokmanawi kalampahan makaten inggih wallahu alam katarimahipun.

Sawise ganep pamejange, nuli amarah patrape paraboting ngilmu dadi wolung pangkat, kasebut ing ngisor iki :

1. Pamuja.

“Ana pepujaningsun sawiji, Dzate iya Dzatingsung, sifate iya sifatingsun, asmane iya asmaningsun, afngale iya afngalingsun, Ingsun puja ing patemon tunggal sakahananingsun, sampurna kalawan kudratingsun”.

2. Tobat utawa Panalangsa.

“Ingsun analangsa maring Dzatingsun dewe, regeding jisimingsun gorohe ing atiningsun, serenge ing napsuningsun, laline ing uripingsun salawas-lawase ing mengko Ingsun ruwat sampurna ing sadosaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.

3. Pangruwat.

“Ingsun angruwat kadangingsun papat kalmia pancer kang dumunung ana ing badaningsun dewe, Mar Marti Kakang Kawah Adi Ari-ari Getih Puser, sakehing kadang ingsun kang ora katon lang kang ora karawalan, utawa kadangingsun kang metu saka marga ina, sarta kadangingsun kang metu bareng sadina kabeh pada sampurnaa nirmala waluya kahanan jati dening kudratingsun”.

4. Saksi ing Dzat Kita, kaya Sasahidan.

“Ingsun anakseni ing Dzatingsun dewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anakseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusaningsun, iya sajatine kang Allah iku badaningsun, Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku cahyaningsun, iya Ingsun kang urip ora kena ing pati, iya Ingsun kang eling ora kena lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskita ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa Wicaksana ora kekurangan ing pangreti, byar sampurna padang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, mung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kudratingsun”.

5. Anucekake Sakehing Anasir.

“Ingsun anucenaken sakaliring anasiringsun kang abangsa jasmani, suci mulya sampurna anunggal kalawan sakaliring anasiringsun kang abangsa Rochani, nirmala walya ing kahanan jati dening kudratingsun”.

6. Angawinake Badan Karo Nyawa.

“Allah kang kinawin, winalenan dening Rasul, pangulune Muhammad, saksine Malaekat papat, iya iku Insun kang angawin badaningsun, winalenan dening rahsaningun, kaunggahake dening cahyaningsun, sinaksenan dening Malaekatingsun papat, Jabarail, iya iku pangucapingsun, Mikail pangambuningsun, Israfil paningalingsun, Idjrail pamiyarsaningsun, srikawine sampurna saka ing kudratingsun”.

7. Sangkan Paraning Tanazultarki.

“Ingsun mancad saka ing alam Insan Kamil, tumeka ing alam Ajsam, nuli tumeka ing alam Misal, nuli tumeka ing alam Arwah, nuli tumeka ing alam Wachidiyat, nuli tumeka ing alam Wahdat, nuli tumeka maring alam Insan Kamil maneh, sampurna padang tarawangan saka ing kudratingsun”.

8. Pambirat Asaling Cahya.

“Cahya ireng kadadeyaning napsu, Luwamah sumurup maring cahya kang abang, cahya abang kadadeyaning napsu, Amarah sumurup maring cahya kang kuning, cahya kuning kadadeyaning napsu, Sufiyah sumurup maring cahya kang putih, cahya puti kadadeyaning napsu, Mutmainah sumurup maring cahya kang amancawarna, cahya kang amancawarna kadadeyaning Pramana, sumurup marang Dzating cahyaningsun kang awening mancur mancorong gumilang tanpa wewayangan, byar sampurna padang terawangan, ora ana katon apa-apa, kabeh-kabeh pada kalimputan dening Dzatingsun saka ing kudratingsun”.

Sawise mangkono, nuli amarah maneh praboting amatrapake panjenenganing Dzat, dadi sangang pangkat, kasebut ing ngisor iki.

1. Angumpulake Kawula Gusti.

“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun”.

2. Maha Sucekake Ing Dzat.

“Ingsun Dzat Kang Amaha Suci Kang Sifat Langgeng, kang amurba amisesa kang kawasa, kang sampurna nilmala waluya ing jatiningsun kalawan kudratingsun”.

3. Angrakit Karatoning Dzat.

“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsun, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.

4. Angracut Jisim.

“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana ing jaman karamating maha mulya, waluya kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asala saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali marang ingsun maneh saka ing kudratingsun”.

5. Anarik Sampurnaning Akrab.

“Jaganingsun sapanduwur sapangisor kabeh, kang pada mulih ing jaman karamating alame dewe-dewe, pada suci mulya sampurnaa kaya Ingsun saka ing kudratingsun”.

6. Angukud gumelaring Jagad.

“Ingsun andadekake alam dunya saisen-isene kabeh iki, yen wis tutug ing wewangene, Ingsun kukud mulih mulya sampurnaa dadi sawiji kalawan kahananingsun maneh saka ing kudratingsun”.

7. Ambabar Karaharjaning Turas.

“Turasingsun kang maksih pada kari ana ing alam dunya kabeh pada nemuwa suka bungah sugih singgih aja ana kang kekurangan, rahayu salameta sapanduwure sapangisore saka ing kudratingsun”.

8. Amasang Pangasihan.

“Sakahe titahingsun kabeh, kang pada andulu kang pada karungu pada asih welasa marang Ingsun, saka ing kudratingsun”.

9. Amasang Kamayan.

“Sakeha machlukingsun kabeh, kang ora angendahake maring Sun, pada kaprabawa dening kamayan dening kudratingsun”.

Ing wekasan kang kawejang dijantenana yen panggonaning patrap pratikele sawiji-wiji, kapratelakake ana Babaring Wirid amawa murad maksud kasebut dadi pituduhane dununging ngelmu makrifat kabeh mau iku.

Sawise mangkono, kang amejang maca dunga Istiqfar karo dunga Kabula, sajeroning batin anuwun pangapura marang Kang Amurba Amisesa ing ngurip, supaya aja nganti pleh wewalak anggone amerake rahsaning Dzat iku.

Nuli kang kawejang dijanjeni, Manawa isih urip gurune, ora kena mejang, kang wis kalakon andadekake ora prayoga, dene Manawa kaburu ing perlu, ana akrabe kang lara lara-banget, mangka during ngelmu, iku kena amisik Ananing Dzat bae.

Kajabone saka mangkono, saupama kang kawejang mau during anarima utawa isih kurang padang ing panampane, Manawa arep anggeguru ing liyane maneh ora dadi apa, angger anajaluk idening guru kang amejang ngelmu iku.

Sawise mangkono banjur pada sesalaman, utamane kang kawejang mau yen karsa angabekti marang kang amejang.

Sawise luwar saka pamejangan, ing kono nuli pada angepung mabengan, salamating jiwa raga, mungguh kehing ambengan dadi telung asahan, ing ngisor iki pratikele :
1. Memule angaturi dahar Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, sega wuduk, lembarang pitik, utawa endog, karupuk, lombok, terong.
2. Memule angaturi dahar para Sahabat Rasul karo para Waliyullah, sego golong, pecel pitik, jangan menir, iwak kebo siji kagoreng.
3. Memule angaturi dahar marang leluhur kang pada amedarake rahsaning ngelmu makrifat apa kang dadi dedaharane nalika isih urip, sarta nganggo kinang, kembang konyoh, kabeh iku pada kadonganan onga Rasul, Majmuk Kabula, Tulak-bilahi wekasan Salamet.

Dene pakolehing amejang iku, yeng amarengi sasi tanggale sapisa ing dina Jum’at, pamejange anuju purnama, anggere or sangar ora na’as, sarta ora taliwangke, Manawa sangaraning sasi anuju dina Jum’at, pamejang ing dina Anggara Kasih (seasa Kliwon), ora angetung purnama.

Mungguh pakolehing enggon pamejang iku, bumi sucikang becik arane, sarta ora kauban wangon, utamane yen ana ing gunung, ing ara-ara, ing banyu, angger becik jenege sarta sepen, prayoga kanggo panggonan amejang, kaya ta : ing gunung Agung,ara-ara ing Purwadadi, ing Ngadipala, bangawan ing Ngobol, luwih utama pisan Manawa amejang ana ing Sitinggil, utawa palataran ing Masjid Gede, sapepadane kang sakira pakoleh ing jeneng karo panggonane.

GURU LAN MURID

I. G U R U

Iki pratelane wajibing wong kang pantes dadi guru, ana wolung prakara :
1. Bangsaning Awirya, tegese bangsa luhur, kang isih kadrajatan.
2. Bangsaning Agama, tegese bangsa ulama, kang alim ing kitab.
3. Bangsaning Atapa, tegese bangsa Pandita, kang tansah ulah laku.
4. Bangsaning Sujana, tegese bangsa linuwih, kang dadi wong becik.
5. Bangsaning Aguna, tegese bangsa pinter, kang ulah kabisa.
6. Bangsaning prawira, tegese bangsa prajurit, kang isih kasawur prawirane.
7. Bangsaning Supunya, tegese bangsa sugih, kang isih kabegjan.
8. Bangsaning Susatya, tegese bangsa tani, kang temen.

Dene panganggoning wong dadi guru ana wolung prakara :
1. Paramasastra, tegese limpad ing sastra.
2. Paramakawi, tegese putus ing kawi.
3. Mardibasa, tegese memantes tembung.
4. Mardawalagu, tegese bisa gawe lemesing lelagon.
5. Hawacarita, tegese sugih carita.
6. Mandraguna, tegese sugih kabisan.
7. Nawungkrida, tegese lantip ing panglepasan.
8. Sambegana, tegese engetan.

Uger-ugering wong dadi guru ana wolung prakara :
1. Asih ing murid, dianggep anak putu.
2. Tulaten pamulange, ora mawa wigah-wigih.
3. Lumuh ing pamrid, ora duwe pangarah apa-apa.
4. Tanggap ing sasmita, bisa anampani pasemoning murid.
5. Sepen ing pangrayangan, ora dadi kira-kiraning murid.
6. Ora ambalekake pitakon.
7. Ora angendak kagunan.
8. Ora amburu aleman, angunggul-unggulake kapinteran.

Utamane wong dadi guru ana wolung prakara :
1. Mulus ing sarira, ora ana cacade.
2. Alus ing wicara, ora sok memisuh lan supata.
3. Jatmika ing solah.
4. Antepan bebudene.
5. Paramarta lelabuhane.
6. Patitis nalare.
7. Becik labete.
8. Ora duwe pakareman.

II. M U R I D

Iki pratikele wong kang wajib dadi murid, ana wolung prakara :
1. Tedak turun.
2. Tunggal bangsa.
3. Tunggal agama.
4. Tunggal basa.
5. Sumurup ing sastra.
6. Wis kaliwat tengah tuwuh.
7. Tanpa lelara.
8. Tanpa kuciwa.

Wenanging dadi murid, ana wolung prakara :
1. Nastiti.
2. Nastapa.
3. Kulina.
4. Santosa.
5. Diwasa.
6. Engetan.
7. Santika.
8. Lana.

Mokaling dadi murid, ana wolung prakara :
1. Edan.
2. Ayan.
3. Wuta.
4. Tuli.
5. Bisu.
6. Bocah durung dewasa.
7. Wong tuwa kang wis lali.
8. Wong lara banget kang wis lali.

Panganggoning dadi murid, ana wolung prakara :
1. Angimanake, sirik yen maidowa.
2. Angatonake, sirik yen anapekena.
3. Anastitikake, sirik yen anglirwakna.
4. Anerangake, sirik yen anyuala.
5. Amusawaratake, sirik yen amiyagaha.
6. Anggelarake, sirik yen angumpeta.
7. Anglulusake, sirik yen ambatalena.
8. Anindakakake,sirik yen angenengena.
BABARING WIRID
KANG AMAWA MURAD MAKSUD

Iki Babaring Wirid kang amawa murad saha maksude pisa, angiras minangka bebukaning hidayat kang dadi pituduhe dununging ngelmu makrifat kabeh, wiyose asal saka ing Dalil, Hadis, Ijmak lan Kiyas.
Tegese Dalil, anuduhake pangandikane Allah.
Tegese Hadis, anyaritakake wewulanging Rasulullah.
Tegese Ijmak, angumpulake wewejange para Wali.
Tegese Kiyas, amencarake wewarahing para Pandita/Ulama.

Kabeh iku dadi pambukaning kekeran kang amedarake rahsa gaib sajatining ngaurip, supaya waskita ing uripe, lestariya urip ing awal akir, dene apesing kawula manawa tumeka ing janji, amung bisaa, waskita ing sampurnaning sangkan-paran, kamulyaning kahanan jati ana ing jaman kalangengan, aja nganti korup marang panasaran.

Mungguh kang dadi wijining ngelmu makrifat anurut kekiyasan saka, Hadis pangandikane Kanjeng Nabi Muhammad, kang kawejang marang Sayidina Ali, kinen angestokake Ananing Dzat kang kasebut ing Dalil sapisan, saka pangandikaning Pangeran Kang Amaha Suci, kawisikake ing talingan kiwa, kaya ing ngisor iki jarwane :

“Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dingin iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun Sajatining Dzat Kang Amaha Suci, anglimputi ing sifatingsun, anartani ing asmaningsun, amratandani ing afngalingsun”.

Mungguh dununge mengkene :

Kang angandika Sajatining Dzat Kang Amaha Suci iku iya urip kita pribadi, sayekti katitipan rahsaning Dzat Kang Agung. Anglimputi ing sifat iku iya rupa kita pribadi, sayekti kawimbuhan warnaning Dzat Kang Elok. Anartani asma iku iya nama kita pribadi, sayekti kaaku pasebutaning Dzat Kang Wisesa. Amartandani afngal iku iya solah bawa kita pribadi, sayekti anelakake pakartining Dzat kang Sampurna. Mula bebasane wahananing Dzat iku anyamadi sifat, sifat iku anartani asma, asma iku amratandani afngal, afngal iku dadi wahananing Dzat.

Dene Dzat, enggone anyamadi sifat iku upama kaya madu kalawan manise, yekti ora kena kapisahena.

Dene sifat, enggone anartani asma iku upama kaya srengenge lawan sorote, yekti ora kena yen kabedakena.

Dene asma, enggone amartandani afngal iku upama kaya paesan (kaca), kang angilo lawan wewayangane, yekti saulah bawaning kang angilo, wewayangan mau melu bae.

Dene afngal, enggone dadi wahananing Dzat iku upama kaya samudra lawan ombake, yekti wahananing ombak anut saka rehing samudra.

Dadi sejatine, kang anama Dzat iku, tajalining Muhammad, sajatine kang anama Muhammad iku, wahananing cahya kang anglimputi ing jasad, dumunung ana ing urip kita, iya iku urip dewe ora ana kang anguripi, mula kawasa aningali, amiyarsa, angganda, angandika, angrasakake saliring rahsa, iku saka kudrad kita kabeh, tegese mengkene, Dzating Pangeran Kang Amaha Suci iku enggone aningal saka angagem netra kita, enggone amiyarsa iya angagem ing talingan kita, enggone angambet iya angagem ing grana kita, enggone angandika iya anggagem ing lesam kita, enggone angrasakake saliring rahsa iya angagem pangrasa kita, aja mawa uwas sumelang ing galih, sabab wahananing wahya dyatmika iku wis kasarira, tegese, lair batining Allah wis dumunung ana ing urip kita pribadi, manawa ing bebasane tuwa Dzating Manungsa karo Sifating Allah, awit dadining Dzat iku kadim azali abadi, tegese dingin dewe nalika isih awang-uwung salawase ing kahanan kita, dadining sifat iku kudusul alam, tegese anyar ana kahananing alam dunya, ananging pada tarik-tinarik tetep-tinetepan, samubarang kang anama Dzat iku yekti dumunung ana ing sifat, sakaliring kang anama sifat iku sayekti kadunungan ing Dzat kabeh.

Dene mungguh ing urut-urutane dumadining Dzat sifat iku ana wahanane, kasebut ing Dalil kapindo, saka pangandikaning Pangeran Kang Amaha Suci, mengkene jarwane.

”Sajatine ingsung Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodratingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning afngalingsun kang minangka bebukaning IraDzatingsun, kang dhingin Ingsun anitahaken kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Adamm akdum azali abadi, nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh Idlapi, nuli damar aran Kandhil, nuli sesotya aran Darah, nuli dhindhing jalal aran Kijab kang minangka warananing Kalaratingsun”.

Mungguh dununge mangkene :

1. Sajaratuyakin, tumuwuh ing sajroning alam Adam makdum azali abadi, tegese kayu sajati dumunung ing jagad sunyaruri, isih awang-uwung salawase ing kahanan kita, iku hakekating Dzat mutlak kang kadim, tegese sajatining Dzat kang amasti dingin dewe, iya iku Dzating atma, dadi wahananing alam Ahadiyat.

2. Nur Muhammad, tegese cahya kang pinuji, kacarita ing Hadis, warnane kaya manuk merak, dumunung arah-arahing Sajaratulyakin, iku hakekating cahya kang ingaku tajalining Dzat, ana sajroning nukat gaib, minangka sifating atma, dadi wahananing alam Wahdat.

3. Miratulkayai, tegese kaca wirangi, kacarita ing Hadis dumunung ana sangareping Nur Muhammad, iku hakekating pramana, kang ingaku rahsaning Dzat, minangka asmaning atma, dadi wahananing alam Wahidiyat.

4. Roh Idlafi, tegese nyawa kang wening, kacarita ing Hadis asal saka Nur Muhammad, iku hakekating sukma, kang ingaku kahananing Dzat, minangka afngaling atma, dadi wahananing alam Arwah.

5. Kandil, tegese diyan tanpa geni, kacarita ing Hadis awarna susetya kang mancur mancorong gumantung tanpa cantelan, ing kono kahananing Nur Muhammad, sarta enggon pakumpulaning roh kabeh, iku hakekating angen-angen, kang ingaku wewayanganing Dzat, minangka embaning atma, dadi wahananing alam Misal.

6. Darah, tegese susetya, kacarita ing Hadis adarbe sorot mancawarna, pada kanggonan malaekat, iku hakekating budi, kang ingaku pepaesaning Dzat, minangka wiwaraning atma, dadi wahananing alam Ajsam.

7. Kijab, ingaran dinding jalal, tegese warana kang agung, kacarita ing Hadis metu saka susetya kang amanca warna, ing nalika mosik anganakake uruh, kukus, banyu, iku hakekating jasad, kang ingaku warananing Dzat, minangka sesandanganing atma, dadi wahananing alam Insan Kamil.

Mungguh pratelane saka Ijmak Kiyas, pepangkataning dinding jalal, kang awarna uruh, kukus, banyu, mau pada dadi anelung warana, kasebut ing ngisor iki.

Kang dingin, uruh, amatokake telung pangkat, 1. Kijab Kisma, dadi wahyaning jasad ing jaba, kaya ta kulit, daging, lan sapanunggalane, 2. Kijab Rukmi, dadi wahyaning jasad ing jero, kaya ta utek, manik, ati, jantung, lan sapanunggalane, 3. Kijab Retna, dadi wahyaning jasad kang alembut, kaya ta mani, getih, sungsum, lan sapanunggalane.

Kang kapindo, kukus, ametokake telung pangkat, 1. Kijab Pepeteng, dadi wahananing napas lan sapanunggalane, 2. Kijab Guntur, dadi wahananing pancadriya, 3. Kijab Geni, dadi wahananing napsu.

Kang kaping telu, banyu, ametokake telung pangkat, 1. Kijab Embun / Banyu Urip, dadi kahananing sukma, 2. Kijab Nur Rasa, dadi kahananing rahsa, 3. Kijab Nur Cahya kang luwih padang, dadi kahananing atma.

Kabeh iku warananing Dzat pada dumunung ana Insan Kamil, tegese kasampurnaning manungsa, uja tuwas sumelang maneh, sabab kahananing bale srasy, kursi, lochil-makful, kalam, taraju, wot siratal mustakim, swarga, naraka, bumi, langit, saisen-isene kabeh iku, wis kawengku ana saroning warana, sinamadan dening Dzat kita Kang Maha Agung, gumelar dadi kaelokaning sifat kita kang esa, anartani ing wasaning afngal kita kang sampurna, pratelane kaya ta, ing nalika Kang Amaha Suci karsa amujudake sifate, ingaran Adam, asal saka anasir patang prakara, 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. Banyu, iku kahanane kasebut ana ing daliling telu, saka pangandikaning Pangeran Kang Amaha Suci, mangkene jarwane :

“Sajatine manungsa iku rahsaningsun, lang Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake Adam, asal saka ing anasir patang prakara, 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. Banyu, iku dadi kawujudaning sifatingsun, ing kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi, iya minangka warananing wajahingsun Kang Amaha Sudi”.

Mungguh dununge mangkene :

Mudah iku Dzating kawula, wajah iku Dzating Gusti Kang Asifat Langgeng, kacarita ing Hadis panjinging mudah limang prakara mau, wiwit saka ing embu-embunan, leren ana ing utek, banjur tumurung marang netra, banjur tumurun marang karna, banjur tumurun marang grana, banjur tumurun marang lesan, banjur tumurun marang jaja (dada), banjur sumarambah ing jasad, sangkepe jumeneng Insan Kamil, mangkono iku kawimbuhan saka karsane Kang Amaha Suci enggone anjenengake maligening Dzat, katata ana ing Baitullah, dadi telung kahanan, iku sajatine minangka kayektening kahanan sawiji-wiji, anandakake kalarating Dzat Kang Agung, Kang Amaha Mulya, langgeng ora kena owah gingsir saka kahanan jati, kasebut ana ing dalil kaping pat, saka pangadikaning Pangeran Kang Amaha Suci, dadi telung ayat, kapratekake ing ngisor iki :

Ayat kang kapisan, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al makmur, mangkene jarwane :

“Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-makmur, iku omah enggoning parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam, kang ana sajroning sirah iku dimak, iya iku utek, kang ana antraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun Dzat Kang anglimputi ing kahanan jati”.

Ayat kang kapindo, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al muharram, mangkene jarwane :

”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-muharram, iku omah enggoning lelaranganingsun, jumeneng ana ing dhadhaning Adam, kang ana ing sajroning dhadha iku ati, kang ana ing antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, iya iku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati”.

Ayat kang kaping telu, Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al mukaddas, mangkene jarwane :

”Sajatine Ingsun nata malige sajroning Bait-al-mukkadas, iku omah enggoning Pasuceningsun, jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang ana antarane pringsilan iku nutfah, iya iku mani sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angin Ingsun Dzat kang nglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam ahadiyat, alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajtining sipat Ingsun”.

Manawa wis anampani ing Dalin pangandikane Kang Amaha Suci mangkono mau diwaskita ing galih, duwur dewe iku wahananing nugraha, kahananing kanugrahan, nugraha iku Dzating Gusti, kanugrahan iku sifating kawula, tunggal tanpa wangenan dumunung ana ing badan kita. Dene pratelane kayektening kahanan kabeh mau kasebut ing ngisor iki pituduhane.

Kang dingin, anuduhake kang kasebut ing sajroning Bait al makmur, tegese omah kang arane, mangkene dununge sawiji-wiji :

1. Sirah, iku wiyose kahananing Bait al makmur.

2. Utek, kahananing kanta, anarik wahananing cahya, dadi pambukaning nitya.

3. Manik, kahananing pramana, anarik wahananing warna, dadi pambukaning paningal.

4. Budi, kahananing pranawa, anarik wahananing karsa, dadi pambukaning pamicara.

5. Napsu, kahananing hawa, anarik wahananing swara, dadi pambukaning pamiyarsa.

6. Sukma, kahananing nyawa, anarik wahananing cipta, dadi pambukaning panggada.

7. Rahsa, kahananing atma, anarik wahananing wisesa, dadi pambukaning pangrasa.

Wasiyate guru kang amedarake ngelmu Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al makmur, utamane anglakonana ora karsa dahar iwak utak, karo iwak manik, sedenge aja nganti angarani polo karo manik, kabare pakolehe kang wis kalakon asring katarima ngelmune.

Kang kapindo, anuduhake kang kasebut ing sajroning Bait al muharram, tegese omah kang kalarangan, mangkene dununge sawiji-wiji :

1. Dada, iku wiyose kahananing Bait al muharram.

2. Ati, kahananing pancadriya, anarik wahananing napsu, dadi wahyaning napas.

3. Jantung, kahananing pancamaya, anarik wahananing birahi, dadi wahyaning keketek.

4. Budi, kahananing pranawa, anarik wahananing karsa, dadi wahyaning pamicara.

5. Jinem, kahananing pangraita, anarik wahananing swara, dadi wahyaning pamiyarsa.

6. Suksma, kahananing nyawa, anarik wahananing cipta, dadi wahyaning pangganda.

7. Rahsa, kahananing atma, anarik wahananing wisesa, dadi wahyaning pangrasa.

Wasiyate guru kang amedarake ngelmu Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al muharram, utamane anglakonana ora karsa dahar iwak ati, karo iwak jantung, sedengane aja nganti angarani angen-angen, kabar pakolehe kang wis kalakon, asring katarima ngelmune.

Kang kaping telu, anuduhake kang kasebut sajroning Bait al mukaddas, tegese omah kang sinucekake, mangkene dununge sawiji-wiji :

1. Kontol, iku wiyose Bait al mukaddas.

2. Pringsilan, kahananing purba, katumusan wahananing birahi, dadi bebukaning asmaranala, iku sengseming ati.

3. Mani, kahananing kanta, katumusan wahananing hawa, dadi bebukaning asmaratura, iya iku sengseming sapandulon.

4. Madi, kahananing warna, katumusan wahananing karsa, dadi bebukaning asmaraturida, iya iku sengseming pangrungu.

5. Wadi, kahananing rupa, katumusan wahananing cipta, dadi bebukaning asmaradana, iya iku sengseming sapocapan.

6. Manikem, kahananing suksma, katumusan wahananing pangrasa, dadi bebukaning asmaratantra, iya iku sengseming pangrasan.

7. Rahsa, kahananing atma, katumusan wahananing wisesa, dadi bebukaning asmaragama, iya iku sengseming salulut.

Wasiyate guru kang amedarake ngelmu Pambukaning Tata malige ing dalem Bait al mukaddas, utamane anglakonana ora karsa dahar iwak pringsilan sapanunggalane, sedengane aja nganti angarani mani, kabar pakolehe kang wis kalakon, asring katarima ngelmune.

Ing ngisor iki ana wirayating guru, manawa amedarake rahsaning Bait al mukaddas, ingatase mejang marang pawestri, wenang kiniyas mangkene.

Ing nalika Kang Amaha suci karsa anata malige ana sajroning Bait al mukaddas, jumeneng ing bagane Siti Kawa, kang ana sajroning baga iku puruna, kang ana ing antaraning puruna reta, iya iku mani, sajroning mani madi, sajroning madi wadi, sajroning wadi manikem, sajroning manikem rahsa, sajroning rahsa iku Dzating atma kang anglimputi ing kahanan jati. Dene pituduhe mangkene, baga, timbangane kontol, puruna, timbanging pringsilan, ing sabanjure pada karo ingatase amejang marang kakung, enggone amardi supaya pada amardiya ing waskitaning sangkan-paran.

Mawa wis waskita, prayoga anetepana kang dadi Santosaning Iman, iya iku sahadat jati, kang kasebut ing dalem batin mangkene jarwane :

”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun”.

Riwayating guru ana maneh, ingatase amejang marang pawestri, wenang kawuwuhan mangkene jarwane :

”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, Fatimah iku umatingsun”.

Manawa wis sumurup surasaning sahadat jati mangkono mau, nuli asahida marang wahananing sanak kita, iya iku kahananing dumadi kang gumelar ana ing alam dunya, kaya ta bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu lan sapanunggalane kabeh, pada anaksenana yen kita mengko wis angakoni jumenenge Dzating Gusti Kang Amaha Suci, dadi sifating Allah kang sajati, kasebut ing dalem batin mangkene jarwane :

“Ingsun anakseni ing Dzatingsun dewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anakseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusaningsun, iya sajatine kang Allah iku badaningsun, Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku cahyaningsun, iya Ingsun kang urip ora kena ing pati, iya Ingsun kang eling ora kena lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskita ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa Wicaksana ora kekurangan ing pangreti, byar sampurna padang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, mung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kudratingsun”.#Kepercayaan Jawa yang asli menyatakan bahwa Dzat Tuhan yang disebut dengan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang Widdhiwasa, Hyang Agung) adalah “tan kena kinayangapa” artinya tidak bisa dibayangkan dengan akal, rasa, dan daya spiritual manusia. Namun ada dan menciptakan jagad seisinya dari antiga (telur, wiji/benih) di alam suwung. Penciptaannya dengan meremas (membanting) antiga tersebut hingga tercipta tiga hal : Langit dan bumi (alam semesta). Teja dan cahya, teja merupakan cahaya yang tidak bisa diindera sedangkan cahya merupakan cahaya yang bisa diindera. Manikmaya, yaitu “Dzat Urip” atau “Sejatining Urip” (Kesejatian Hidup, Suksma, Roh). Ketiganya masing-masing merupakan derivate (turunan, emanasi, pancaran, tajali, titah) Tuhan. Melingkupi seluruh semesta yang tiada batas ini.
Menurut Kejawen (Mitologi Jawa), maka seluruh semesta seisinya adalah ciptaan Sang Hyang Wisesa di dalam haribaan-Nya sendiri. Artinya, Tuhan murba wasesa (melingkupi dan memuat serta menguasai dan mengatur) seluruh semesta yang luasnya tiada batas dan seluruh isinya.
Di dalam kesemestaan tersebut ada materi (bumi dan langit), ada sinar dan medan kosmis (teja dan cahya), dan ada Dzat Urip (Manikmaya, Sejatining Urip, Kesejatian Hidup) sebagai derivate (emanasi, pancaran, tajali) Dzat Tuhan. Dalam Kejawen, Dzat Tuhan “tan kena kinayangapa”, yang mampu dihampiri akal, rasa dan daya sepiritual (kebatinan) adalah Dzat Urip, yang kemudian disebut : Pangeran, Gusti, atau Ingsun. Keterangan tentang hal itu bisa disimak lewat wejangan pertama dalam “wirid wolung pangkat ” sebagai berikut :
Wejangan pituduh wahananing Pangeran : Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal). Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran petunjuk keberadaan Pangeran (Dzat Urip) : Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Pangeran kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).
Selanjutnya, marilah kita renungkan kesemestaan yang ada. Maka sungguh Maha Sempurna Tuhan yang telah menciptakan semesta ini. Luasnya tiada terhingga dan semuanya teratur, selaras, dan sempurna. Disebut dalam mitologi Jawa, bahwa semesta tercipta dalam keadaan hayu (elok,indah,selaras dan sempurna).
Dalam tata semesta yang hayu tadi, bisa kita sadari kalau planet bumi yang kita tempati hanya bagian yang sangat kecil dari kesemestaan alam ciptaan Tuhan. Manusia hanyalah salah satu titah dumadi (mahluk hidup) yang ditempatkan di planet bumi bersama milyaran titah dumadi lainnya. Semua titah dumadi disemayami dzat urip sebagai derivate dzat Tuhan. Kiranya bisa disimak wejangan kedua “wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :
Wejangan pambuka
kahananing Pangeran : Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha: Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit. Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun. Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji. Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah. Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake. Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus. Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku Sajatining Manungsa. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran membuka pemahaman keadaan Pangeran : Sesungguhnya Aku adalah Pangeran Sejati, dan berkuasa menitahkan sesuatu, menjadi ada dengan seketika karena kehendak dan takdir-Ku, disitu kenyataan tergelarnya kehendak dan titah (pakarti)-Ku yang menjadi pertandanya : Yang pertama, Aku berada di alam kehampaan (awang-uwung) yang tiada awal dan tiada akhir, yaitu alam-Ku yang masih tersembunyi. Yang kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai penuksmaan-Ku berada di alam keberadaan-Ku. Ketiga, Aku mengadakan bayangan sebagai panuksma dan rahsa-Ku, berada di alam terjadinya benih. Keempat, Aku mengadakan suksma (ruh) sebagai tanda kehidupan-Ku, berada di alam herah (jaringan sel). Kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga sebagai warna-Ku berada di alam yang baru bisa diumpamakan. Keenam, Aku mengadakan budi (gerak) yang menjadi kenyataan berpencarnya angan-angan yang berada di dalam alam badan halus (rohani). Ketujuh, Aku menggelar tabir (hijab) yang sebagai tempat persemayaman-Ku. Tersebut enam perkara diatas tadi tertitahkan di dunia, yaitu Sejatinya Manusia.
Semua “titah dumadi” memiliki kewajiban sebagaimana makna diciptakan. Manusia diciptakan Tuhan dan ditempatkan di planet bumi (bawana/buwana, jw.), maka kewajibannya memayu hayuning bawana (memelihara keselarasan bumi).
WIRID WOLUNG PANGKAT Mitologi Jawa (Kejawen) memberikan suatu tuntunan untuk memahami jatidiri manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibanding titah dumadi yang lain. Ketinggian derajat tersebut berkaitan dengan operasionalnya Dzat Urip (Kesejatian Hidup) sebagai derivate Dzat Tuhan dalam diri manusia. Artinya, pada manusia diberikan suatu kesadaran akal, rasa dan spirituil untuk lebih memahami dirinya sebagai titah mulia (dalam Islam disebut kalifah Tuhan di muka bumi).
Untuk itu mari kita renungkan wejangan ketiga “Wirid 8 pangkat Kejawen” : Wejangan gegelaran kahananing Pangeran : Sajatining manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu, Ingsun panjingi limang prakara, yaiku : cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen lan budi. Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumarambah ana ing dalem badaning manungsa. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran pemahaman tergelarnya keadaan Pangeran : Sesungguhnya manusia itu rahsa-Ku dan Aku ini rahsanya manusia, karena Aku menitahkan benih cacamboran (campuran berbagai unsur) yang terjadi karena kehendak dan kuasa-Ku, yaitu berasal dari api tanah angin dan air, Aku resapi lima perkara, yaitu : cahaya, cipta, suksma (nyawa), angan-angan dan budi (gerak). Itulah yang menjadi cangkok (embanan) merasuknya suksma-Ku rata menyeluruh dalam badannya manusia. Lebih mendalam lagi penjelasan tentang “purba wasesa” (kekuasaan mutlak) Tuhan melalui “derivate”-nya (Dzat Urip) dalam diri manusia sebagaimana disebutkan dalam wejangan keempat, lima, dan enam dari “Wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :
Wejangan keempat
: Wejangan kayektening Pangeran amurba ciptane (nalare) manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan parameyaning-Sun (baitul makmur) dumunung ana ing sirahing manungsa, kang ana sajroning sirah iku utek, kang gegandhengan ana ing antarane utek iku manik (telenging netra aran pramana), sajroning manik iku cipta (nalar), sajroning cipta iku budi, sajroning budi iku napsu (angen-angen), sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi sagunging kahanan. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran kuasanya Pangeran pada akal (cipta, nalar) manusia : Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat keramaian-Ku (baitul makmur) berada di dalam kepalanya manusia, yang ada di dalam kepala itu otak, yang berkaitan antara otak itu manik (pusat penglihatan/mata dinamakan pramana), di dalam manik itu akal, di dalam akal itu budi (gerak), di dalam budi itu nafsu (angan-angan), di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku. Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.
Wejangan kelima
: Wejangan kayektening Pangeran amurba rasa pangrasaning manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan laranganing-Sun (baitul haram) dumunung ana dhadhaning manungsa, ing sajroning dhadha iku ati lan jantung, kang gegandhengan ing antarane ati lan jantung iku rasa pangrasa, ing sajroning rasa pangrasa iku budi, ing sajroning budi iku jinem (angen-angen, napsu), sajroning jinem iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi saguning kahanan. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran kuasa Pangeran pada perasaannya manusia : Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat larangan-Ku (baitul haram) berada di dadanya manusia, di dalam dada itu hati dan jantung, yang berkaitan di antara hati dan jantung itu rasa perasaan, di dalam rasa perasaan itu budi (gerak), di dalam budi itu jinem (angan-angan, nafsu), di dalam jinem itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.
Wejangan keenam
: Wejangan kayektening Pangeran amurba tuwuhing wiji uripe manungsa: Sajatine Ingsun anata palenggahan pasucianing-Sun (baitul kudus) kang dumunung ana kontholing (wadon : baganing) manungsa, kang ana ing sajroning konthol (wadon : baga) iku pringsilan (wadon : purana), kang ana ing antaraning pringsilan (wadon : purana) iku mani (wadon : reta), sajroning mani (wadon : reta) iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sajatining Urip kang anglimputi saliring tumitah, jumeneng dadi wiji kang piningit, tumurun mahanani sesotya kang dhingin kahanan kabeh maksih dumunung ana alaming wiji, laju manggon ana alam pambabaring wiji, laju tumurun ana alaming suksma (iya iku rah), laju tumurun ana ing alam kang durung kahanan (alam kang ingaran upama), laju tumurun marang alam donya (alaming manungsa urip), iya iku sajatine warnaning-Sun. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran kuasa Pangeran pada terjadinya benih kehidupan manusia : Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat kesucian-Ku (baitul kudus) yang berada di dalam konthol manusia laki-laki (perempuan : baga), yang ada di dalam konthol (perempuan : baga) itu buah pelir (perempuan : purana = indung telur), yang ada di antara buah pelir (perempuan : indung telur) itu mani/sperma (perempuan : reta = sel telur), di dalam mani (perempuan : sel telur) itu madi. Di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh titah, berujud benih yang tersembunyi (piningit), turun menjadikan permata (sesotya) yang awal semua suasana masih berada di alam benih, terus bersemayam di alam terjadinya benih, terus turun di alam suksma (yaitu jaringan sel hidup), terus turun di alam yang belum berujud (alam yang disebut upama), terus turun di alam dunia (alamnya manusia hidup), yaitu sesungguhnya warna-Ku. Wirid 8 Pangkat Renungan kita lanjutkan pada Wejangan ke tujuh dari “Wirid Wolung Pangkat” berikut : 7. Wejangan panetepan santosaning pangandel : yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip kita pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pangeran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : 7. Ajaran pemantapan keyakinan : yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling kawula-gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugerah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugerah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri. Wejangan ketujuh ini menjelaskan bahwa konsep Jawa tentang adanya utusan Tuhan berbeda dengan yang diajarkan agama-agama. Dalam konsep keber-Tuhan-an Jawa, sebagaimana diajarkan
“Wirid wolung Pangkat”, menyatakan bahwa yang disebut “utusan Tuhan” adalah “kesejatian hidup” manusia sendiri. Yaitu “Dzat Urip” yang bertahta dan bersemayam dalam diri manusia. Selanjutnya kita renungkan wejangan ke delapan dari”Wirid Wolung Pangkat” sebagai berikut : 8. Wejangan paseksen : yaiku wejangan jumenenge urip kita pribadi angakoni dadi warganing Pangeran kang sejati kinen aneksekake marang sanak sedulur kita, yaiku : bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu, lan sakabehing dumadi kang gumelar ing jagad. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : 8. Ajaran kesaksian : yaitu ajaran bertahtanya hidup kita pribadi mengakui jadi warganya (titahnya) Pangeran yang sejati, disuruh mempersaksikan kepada seluruh sanak saudara kita, yaitu : bumi, langit, matahari, bulan, bintang, api, angin, air, dan seluruh mahluk yang tergelar di jagad (alam semesta). Wejangan dalam “Wirid 8 pangkat Kejawen” merupakan suatu ajaran Kejawen tentang kejatidirian manusia sebagai titah Tuhan Yang Maha Kuasa serta hubungannya dengan alam semesta dan seluruh isinya. Maka wejangan tersebut bisa dijadikan pijakan untuk membangun kesadaran kosmisnya. Melalui kesadaran kosmis tersebut dicapai kesadaran ber-Tuhan yang paripurna menurut Jawa.
“Wirid Wolung Pangkat” ini merupakan “wacana” yang digulirkan oleh para Pujangga Jawa di masa Kerajaan Surakarta (Mataram Kartosuro). Diantaranya tercantum dalam Serat Centhini (Suluk Tambanglaras), Serat Wirid Hidayat Jati (R.Ng. Ranggawarsito), dan Primbon Adammakna. Sistim keber-Tuhan-an Jawa merupakan bagian dari Tata Peradaban Jawa yang menjadi perhatian serius para Pujangga dalam rangka mengupayakan merebut kembali “kedaulatan spirituil” Jawa yang terpuruk sejak runtuhnya Majapahit. Oleh karena itu, oleh kalangan Islam, “wirid wolung pangkat” ini sering dinyatakan sebagai ajaran yang sesat. Yang menarik justru pengantar ajaran tersebut yang diwacanakan oleh para Pujangga.
Konon dirangkum dari ajaran para Wali Sanga yang konon pula bertolak dari “Wejangan” Nabi Muhammad SAW kepada adik sepupu dan menantunya, Sayidina Ali. Boleh jadi “benar”, namun bisa juga merupakan suatu strategi para Pujangga Jawa yang berniat melakukan “rekonstruksi” sistim keber-Tuhan-an Jawa. Maka, marilah kita jadikan bahan untuk ber-”bawarasa” bersama.


SULUK PANGADEG SHOLAT


SULUK PANGADEG SHOLAT (PAMBUKA)

Sholat khusuAmba anedha pawarta, kalaku matur ing Tuan, bab shalat napa, alenggah angsale saking punapa, pangadeg ngasalat, atanapi ingkang rukuhe, asale saking punapi.
Terjemahan :
Saya mohon berita, sehingga saya berkata pada Tuan, perihal shalat, duduk asalnya apa, berdiri dalam shalat dan juga ruku, itu asalnya dari apa.
Sujud angsale punapi, nabda Tuan jarwanana, kalawan malih lungguh, angsal saking punapa, kawula dereng wikan, kang Ulama alon muwus, ujare kang pun ulama.
Terjemahan :
Sujud asalnya apa, mohon Tuan Jabarkan, dan lagi duduk, asal dari apa, hamba belum tahu, sang Ulama berkata pelan bahwa menurut para ulama.
Pangadeg angsale saking api, dudu api keneng pejah, dudu api panas mangke, apeteng yen winicara, dudu api kinarya, kang tau kena dipun wurung, ingkang dalan kena ewah.
Terjemahan :
Berdiri asalnya api, bukan api yang bisa mati, bukan apai yang panas, gelap jika dikisahkan, bukan api yang dibuat, yang tidak bisa dimatikan dan tak bisa berubah.
Dudu api kang kena wetisi, dudu api keneng owah, dudu api ingkang setan, iku Nini den waspada, ong api iku cahya, roh ilapi tegesipun, kadya katur sarya nembah.
Terjemahan :
Bukan api yang bisa didinginkan, bukan api yang bisa berubah, bukan api yang setan, itulah Nini waspadalah, dalam api itu ada cahaya (atau) roh idhafi maksudnya (Dewi Murtasiyah) berucap lalu menyembah.
Ingkang rukuk kadi pundit, angsale saking punapa, dipun prapta sajatine, gyata Ulama angandika dhuh Raden larening wang, manira iki angrungu, ujare kang pun ngulama.
Terjemahan :
Kemudian rukuk bagaimana, asalnya dari apa, sempurnakan kesejatiannya, segera Ulama berkata, dhuh Raden anakku, saya mendengar perkataan para ulama.
Arukuk angsale angina, dudu angina kenging pegat, dudu angin ngrubuhken kayon, dudu angina kang prahara, tan kagyat sanilika, dudu angin kenging teduh, sejatine iku napas.
Terjemahan :
Rukuk asanya angin, bukan angin yang bisa berhenti, bukan angin yang merobohkan kekayuan, bukan angin prahara, tidak kaget seketika, bukan angin yang bisa dihentikan, sejatinya itu nafas.
Iya ingkang araning angina, puji kang tan kena pegat, iya napas sejatine, angenget pamujenira, siyang dalu tan pegat, iku angina ngaran tobat, datan kesela sanalika.
Terjemahan :
Yang dimaksud angin, puji tak pernah hentii, yaitu nafas sejati, mengingat pujiannya, siang malam tanpa henti, itulah angin yang disebut total yang tak tersela seketika.
Iku tetalining urip, kang muji tan kena pegat, mubeng sadina wengine, datan kandheg sanalika, yekti rusak kang jagad, andene kang asujud, asal saking banyu ika.
Terjemahan :
Itulah tali pengikat hidup, yang memuji tanpa putus, berputar siang malam, tak berhenti seketika, akan rusak dunia (jika berhenti), sedangkan sujud asalnya air.
Dudu banyu ingkang mili, dudu banyu kena asat, banyu urip sejatine, anguripi ing sajagad, dudu urip keneng pejah, iya banyu tegesipun, urip langgeng ten kena wah.
Terjemahan :
Bukan air yang mengalir, bukan air yang bisa kering, air hidup sejati, yang menhidupi di dunia, bukan hidup yang bisa mati, yaitu maksudnya, air keabadian yang tak bisa berubah.
Sang Dyah Ayu matur malih, ingkang alinggih punika, sarta punapa angsale, Amba anyuwun wuninga, Sata Ulama lenggah, iya Nini ingkang lungguh, angsale bumi punika.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu berkata lagi, duduk itu, dari apa berasal,saya mohon diberitahu, Sang Ulama sambil duduk, hai Nini, duduk berasal dari bumi.
Dudu bumi keneng gigrig, dudu bumi keneng gempal, yayah ing jisim tegese, bumi suci langgeng ika, lan paran karsanira, wonten malih aturingsun, Rama Ulama wejanga.
Terjemahan :
Bukan bumi yang bisa bergetar, bukan bumi yang bisa gempa, (akan tetapi) artinya adalah jasad, itulah bumi suci yang abadi, nah sekarang apa kehendakmu, ada lagi pertanyaan hamba, mohon Ayah Ulama ajarkan.
Ingkang ngadeg angsal api, nanging ngadhepken napa, angsaling angin rukuke, kenging ngadhepaken napa, sujud angsaling toya, angsal bumi kang alungguh, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
Berdiri berasal dari api, tetapi menghadap kepada apa, rukuk berasal dari angin, bisa menghadap kepada apa, rukuk berasal dari angin, bisa menghadap kepada apa, sujud berasal dari air dan duduk yang berasal dari bumi, semua menghadap kepada apa.
Seh Ngarip ngandika ris, ingkang ngadhep punika, urip kang ingadhepaken, urip kang tan kena pejah, rupane kadi retna, gumilang umancur, jumenenging kekarone.
Terjemahan :
Seh Ngarip berkata pelan, yang berdiri itu, kehidupan yang dihadapnya, hidup yang tak akan terkena mati, bentuknya seperti ratna, memancarkan cahaya gilang gemilang, berdiri pada keduanya.
Arukuk angsaling angin,angadhepaken sirullah, lir pendhah lintang wernane, cahyane gumilang gilang, malihipun punika, asujud angsale banyu, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
Rukuk berasal dari angin, menghadap sirullah, bagaikan bintang warnanya, cahayanya gilang gemilang, lastas sujud yang berasal dari air, menghadap apa.
Kekasihira Hyang Widhi, kang nama Rasulullah, iku kang den adhepake, kang cahya kadi gurnita, gumebyar kadi kilat, angsale bumi alungguh, angadhepaken punapa.
Terjemahan :
(Yakni menghadapkan) kekasih Allah yang bernama Rasullah, itu yang dihadapnya, cahayanya ramai sekali bagaikan gurita, gemebyar bagaikan kilat, duduk yang berasal dari bumi menghadap apa.
Rupane luwih dumeling, kang ngadhepaken iya, tanpa sama ing wernane, cahyane aluwih padhang, Sang Dyah Ayu anembah, inggih kawula asuwun, Amba Tuan jarwanana.
Terjemahan :
Bentuknya lebih nyata, yang dihadapnya ialah, tidak sama warnanya, cahayanya lebih terang, Sang Dyah Ayu menyembah, (hai, Tuan) saya mohon dijelaskan.
Wangsul adhepipun nalih, ingkang angsaling punapa, pan saking api angsale, kang den aturaken napa, mring Allah ta’ala, punapa malih kang rukuk, Amba paduka wejanga.
Terjemahan :
Kembali ke masalah penghadapan tadi,yang berasal dari apa, yang berasal dari api, apa yang diucapkan dari Allah ta’ala, dan juga saat rukuk, saya mohon diberitahu.
Apa den aturken singgih, ukarane katarimoa, wong punika sembayang, mila kula matur ing Tuan, saking tambek kawula, atanapi ingkang sujud, punapa aturena.
Terjemahan :
Apa yang akan kau katakan, kalimatnya terimalah, manusia hendaknya melakukan sembahyang, mengapa saya berkata pada Tuan, karena keinginan saya, karena saat sujud apa yang dikatakan.
Miwah wau kang alinggih, punapa ing Tuan, maring Gusti Allah mangke, kadi pundi karsa Tuan, angling sata Ulama, angsale pangadegipun, kang katur ing Pangeran.
Terjemahan :
Kemudian saat duduk, bagaimana Tuan, (yang dikatakan) kepada Tuhan Allah), bagaimana kehendak Tuan, berkata Ulama, waktu berdiri yang diucapkan pada Tuhan.
Maningkem punika Nini, katur paring ing Allah, angsal angin ing rukuk, kang katur Hyang Suksma, ingkang rukuk punika, iya ngrasa hayu-hayu, kang katur Hyang Mahamulya.
Terjemahan :
Adalah maningkem itu Nini, itulah yang dikatakan pada Allah, rukuk yang berasal dari angin, yang diucapkan pada Tuhan, ya hayyu – ya hayyu demikian yang diucapkan, pada Tuhan Yang Mahamulia.
Sang Dyah Ayu matur malih, kang angsal angin punika, punapa dadose mangke, angsal banyu dadi apa, angsal bumi puniku, lah punapa dadosipun, sata Ulama ngandika.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu berkata lagi, yang berasal dari angin, menjadi apa nant,i asal dari air menjadi apa, asal dari bumi menjadi apa, Sang Ulama berkata.
Apadene kang rumiyin, angsal api dadi rupa, angsal angin ping kalihe, angin iku dadi napas, kaping tigane ika, sujud angsal saking banyu, iya bayu dadi nyawa.
Terjemahan :
Adapun yang pertama, asal api menjadi wajah, asal angin yang kedua, menjadi nafas, yeng ketiga sujud yang berasal dari air, ia menjadi nyawa.
Kang alinggih saking bumi, iya bumi dadi badan, Si Murtasiyah ature, soal cara mahatuwa, lah Tuan wejanga sawirayat sedayanipun, kawula aywa wikana.
Terjemahan :
Duduk yang berasal dari bumi, ya menjadi badan, Si Murtasiyah katanya, tentang ngelmu tua, nah, Tuan ajarilah saya riwayat semuanya, agar saya menjadi tahu.
Kang Rama asru denya ling, angsal api dadi nyawa, sumrambahi sakabehe, dadi wulu kulitira, dadi dagingira, saking api angsalipun, sisi manira miyarsa.
Terjemahan :
Sang Ayah segera katanya, asal api jadi nyawa, dan meliputi semuanya, menjadi bulu dan kulitmu, menjadi dagingmu, (itulah yang) berasal dari api, Nini hendaklah kau ketahui.
Kawula umatur malih, otot angsale punapa, balung punapa angsale, uteg angsale punapa, utawi kang paningal, atanapi kang pangrungu, swara angsale punapa.
Terjemahan :
Saya bertanya lagi, otot asalnya dari apa, tulang asalnya dari apa, otak asalnya dari apa, demikian juga mata, juga pendengaran, suara asalnya dari apa.
Sata Ulama nauri, angsal bumi dadi tingal, dene kang dadi swarane, angsal saking api ika, dene ikang pamiyarsa, angsal saking bumi iku, lan malihipun punika.
Terjemahan :
Sang Ulama menjawab, asal bumi dari mata, sedangkan yang menjadi suara, berasal dari api, sedangkan pendengaran asal dari bumi, dan selanjutnya.
Sungsum angsal saking bumi asli, angsal saking banyu ika, dadi otot iku reke, apa dene kang sapindah, iku dadinira, angsal saking bumi iku, iya iku dadi manah.
Terjemahan :
Sumsum berasal dari bumi asli, asal dari air menjadi otot, adapun yang pertama, itu jadinya, asal dari bumi itu, yaitu menjadi hati.
Apa dene kang rumiyin, iya banyu nama Allah, kang dadi rupa tegese, dene banyu sujudullah, iku kang dadi swara, banyu madi kang winuwus, punika dadi cahya.
Terjemahan :
Adapun yang pertama, yaitu air nama Allah, menjadi rupa artinya, sedangkan air sujudullah itu yang menjadi suara, air wadi yang dikatakan itu menjadi cahaya.
Banyu iku Nini, iku kang dadi paningal, lan banyu wadi tegese, ingkang dadi pamyarsa, lawan mani temoya, iku dadi utegipun, sang Juwita matur nembah.
Terjemahan :
Air itu Nini, itu yang menjadi mata, air wadi artinya, yang menjadi telinga (pamyarsa) dan air mani menjadi otak, Sang Juwita berkata sambil menyembah.
Sapa sinten kang ningali, wonten sajroning tingal, lawan pangucape mangke, kang angucap jroning lesan, miyarsa jroning karsa, ya Pangeran guruningsun, nuwun Tuan jarwanana.
Terjemahan :
Siapa yang melihat, apa yang ada dalam pikiran (tingal), dan pengucapan nanti, yang berucap dalam lesan, melihat dalam karsa, ya Tuan guru saya, mohon Tuan jelaskan.
Ingkang Rama lon ature, kang bumi sajroning manah, sirullah iku tegese, rupane kaya kumala, kang mirsa jroning karsa, datullah wastanireku, warnane kaya gurnita.
Terjemahan :
Sang Ayah pelan katanya, bumi yang dalam hati, sirullah itu artinya, bentuknya seperti intan, yang melihat dalam karsa, dzatullah itu namanya, bentuknya sangat terang bagai gurnita.
Kang ngucap sajroning ati, ingaran datullah, kaya ningkem warnane, iku kinarya werene, maring kang murbeng jagad, aja kandheg ing pandulu, ing rupa asale samnya.
Terjemahan :
Yang mengucap dalam hati, disebut dzatullah, seperti maningkem bentuknya, itu sebagai sebab, oleh yang menguasai alam, jangan berhenti pada terkaan, pada bentuk asalnya semua.
Dyah Ayu takon malih, linggih kang saking api punika, api ing pundi asale, angin pundi angsalira, banyu pundi pinangka, saking purwa purwanipun, kawula dipun wulanga.
Terjemahan :
Dyah Ayu bertanya lagi, duduk yang berasal dari api itu, api darimana berasal, angin dari mana awalnya, air dari mana asalnya, dari apa asal muasalnya, ajarilah saya.
Atanapi ingkang bumi, angsale saking punapa, kawan prakawis kathahe, saking pundi angsalira, ingkang kawan prakara, Sata Ulama amuwus, nenggih kang kawan prakara.
Terjemahan :
Akan halnya dengan bumi, asalnya dari apa, perkara yang empat hal jumlahnya itu, dari mana asalnya (masalah empat hal : api, angin, air, bumi), Sang Ulama berkata, bahwa perkara yang empat itu.
Anapun angsaling api, saking aksara Be ika, lan saking aksara Tha, linaling bumi punika, saking Alip angsalnya, anenggih angsaling banyu, angsal saking aksara Kap.
Terjemahan :
Adapun asalnya api, dari huruf Ba, (angin) asalnya huruf Tha, dan bumi, berasal dari Alip, air asalnya dari Kap.
Sang Dyah Ayu anungkemi, ngrangkul padane kang Rama, adhuh Gusti Ramaningsun, kawula angsal nugraha, Sang Tapa angandika uwis putriningsun, pamulangingsun mring sira.
Terjemahan :
Sang Dyah Ayu memeluk dan merangkul lutut Sang Ayah, aduh Tua Ayahanda, saya merasa mendapat anugrah, Sang Tapa berkata cukuplah putriku, pengajaranku padamu.
Ywa sira kakeyan ngelmi, amung sasemune uga, Sang Ayu alon ature, kawula suwun werana wonten atur kawula, kados pundi patrepipun, angladosi wong priya.
Terjemahan :
Agar engkau tidak kebanyakan ilmu, hanya secukupnya saja, (pengantar pupuh berikutnya) Sang Ayu pelan katanya, saya mohon diberitahu, ada permasalahan saya, bagaimana caranya melayani seorang pria.
SULUK TIYANG TILAR SHOLAT
SholatKaya paran tumekoa, tingale marang Hyang Widhi, tingal pangkon sarta angas, aguguyu wong ngabekti, satengah amadani, wus sasat maido rasul, kapire wus tetala, kaya tingkah wong Yahudi, pesthi langgeng dadi dasaring naraka.
Terjemahan :

Kepad tujuan datangilah, arah konsentrasi kepada Tuhan, perhatian ditujukan ke hariban dengan rasa ngeri, menertawakan orang yang berbakti, setengah menyamai (mengolok-olok), bahkan menghina rasul, kafirnya sudah jelas, seperti prilaku orang Yahudi, kelak pasti kekal menjadi dasarnya neraka.
Kathah wong kaliru tampa, dening ujar kang ngawingit, tekadipun kaluputan, miyarsa panemu jati, sisip dadya nampani, pan dadi saya delurung, ujar kasamaran, tinggal salat iku wajib, paninggale yaiku utama.
Terjemahan :
Banyak orang salah paham, oleh perkara yang rahasia, tekadnya jadi salah, mendengar pendapat sejati, salah paham dalam menerima, malah menjadi semakin tersesat, akan perkataan yang samar, meninggalkan shalat itu wajib, meninggalkannya itu lebih utama, meninggalnya itu lebih utama.
Ujar iku kasamaran, saweneh den gawe batin, nyatane atinggal salat, tan idhep iku wajib, parentahing Hyang Widi, dateng Nabi satus ewu, pat likur samnya, kinen salat anetepi, pan sadaya tan ana atinggal salat.
Terjemahan :
Itulah perkataan yang samar, ada yang dibuat batini, nyatanya meninggalkan shalat, tidak tahu bahwa itu wajib, (padahal) perintah Tuhan, kepada Nabi yang seratus dua puluh empat ribu, disuruh menegakkan shalat, semua tak ada yang meninggalkannya.
Nabi Musa cinarita, parentahipun Hyang Widhi, seket wektu prelonira, sadina lawan sawengi, umate anetepi, ika mukmin kang hakiki, iya iku mukmin ingkang utama.
Terjemahan :
Tersebutlah Nabi Musa a.s. diperintahkan Tuhan agar mendekatkan (diri pada) Tuhan, lima puluh waktu fardhu, dalam sehari semalam, umatnya mengikuti, perintah Tuhan tersebut, tak ada yang mengeluh, itulah mukmin yang sesungguhnya, yaitu mukmin yang utama.
Atinggal salat sampurna, kadi pun leh ngawruhi, apan wajib tinggal salat, wajibe lah kadi pundi, osiking lair batin, miwah sembah pujenipun, aja angrasa bisa, anging Allah kang darbeni.
Terjemahan :
Meninggalkan shalat sempurna, bagaimanakah cara memahami, bahwa wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, gerak lahir ataupun batin, dan sembah puji, jangan merasa bisa, hanya Allah yang memiliki.
Aja ngrasa duwe sembah, aja ngrasa duwe puji, miwah barang tingkah polah, angrasa anduweni, miwah tingaling ati, wajibing duwe Hyang Agung, miwah lan wujud kita, puniku hukume napi, tanpa polah, polahe Allah kang Murba.
Terjemahan :
Jangan merasa punya sembah, jangan merasa punya puji, dan segala gerak tindakan, jangan merasa memiliki, dan arah perhatian hati, wajib milik TuhanYyang Maha Agung, bahkan seluruh diri kita, itu adalah nafi, manusia tanpa memiliki gerak, tetapi Allah yang mengatur.
Kang jenenging kawula, duk sirna tan ana keri, apan dadi wujudira, kangeten dening Hyang Widhi, ingkang ngawujud iki, anenggih prelambangipun, lir lintang karahinan, kasorotan Sang Hyang Rawi, lintang ilang kasorotan ing raditya.
Terjemahan :
Yang namanya hamba, ketika hilang musnah tanpa ketinggalan, bahkan yang menjadi diri kita, digatikan oleh wujud Tuhan, yang mewujud ini perlambangnya adalah, bagaikan bintang kesiangan, tersinari oleh matahari, bintang hilang tersinari oleh matahari.
Wong tumeka ing ngasalat, ngangkat qasdu datan runtik, yen iya iku kawruhana, ing tinggal sajroning ati, kelawan ati ening, ati ening tegesipun, arep ta parengna, qasdu takrun lawan takyin, yen rapale alip iku lah tetiga.
Terjemahan :
Orang yang datang melakukan shalat, mengangkat qasdu tanpa ragu, jika itu diketahuinya, dam perhatian di hati, dan dengan hati bening, hati bening artinya membersamakan qasdu, takrun dan takyin (dan) lafal alif ketiganya itu.
Hurup sekawan punika, nenggih kang kariyin Alip, Alip hakekate niyat, Lam awal kelawan akhir, tibane pareksami, umanggihe niyatipun, Allah asmaning Dat, kang sinembah kang pinuji, rapal Akbar sampurna niyat sedaya.
Terjemahan :
Huruf yang empat itu, pertama adalah Alif, Alif hakikatnya niyat, Lam awal dan Lam akhir, jatuhnya bersamaan, bertemu dengan niyat, Allah nama zat, yang di sembah dan dipuj,, pada lafal Akbar sempurnalah segala niyat.
Jatining niyat utama, arep leburing kekalih, tan ana Gusti kawula, yen meksih kawula Gusti, iku dereng utami, dereng tilar salatipun, tegese satunggal-satunggal kaleka maksih kekalih, ora ilang anane roroning tunggal.
Terjemahan :
Sesungguhnya niat yang utama, adalah akan leburnya yang dua hal, tak ada lagi Gusti Kawula, jika masih kawula Gusti, itu belum utama, belum tinggal shalatnya, maksudnya masih (terpisah) satu-satu, ternyata masih dua, tidak hilang adanya roroning atunggal.
Jatenipun tingalira, pareng akasih ing Hyang Widhi, kawula pan ora bisa, yen ora kelawan sih, wisane angabekti, angugrahaning Hyang Agung, kang tumiba kawula kang dadi lantaran puji, dadi pareng sembah puji lan nugraha.
Terjemahan :
Sesungguhnya perhatianmu, bersama kasih Tuhan, (karena) hamba tidak sanggup, kalau tidak karena anugrah, bisanya berbakti anugrah Tuhan yang dijatuhkan pada hamba, yang menjadi perantara puji, jadi kehendak sembah puji dan anugrah.
Kawula enggoning nyata, kahananipun Hyang Widhi, pangaken wujud tingal, kang dadi tibaning asih, kang sembah kang amuji, tan liyan kawulanipun, pan tajalining sipat, miwah Datipun Hyang Widhi, pan kawula puniki kinarya buat.
Terjemahan :
Hamba adalah wujud nyata, dari keadaan Tuhan, mengheningkan wujud konsentrasi, yang menjadi tempat jatuhnya anugrah, yang menyembah dan memuji, tak lain adalah hambanya, yaitu tajali sifat Dzat Tuhan, hamba itu hanya dijadikan sarana.
Endi kang aran kawula, kang dadi tanda sayekti, iya ingkang cari iya, liron sih mring Hyang Widhi, mapan tan wonten malih, kang asung marga kang luhur, poma dipun narima, ing siyang kalawan lastri, malah nyasar dadi kawula kawarna.
Terjemahan :
Mana yang disebut hamba, yang menjadi tanda sejati, yaitu yang dicari, sebagai kekasih Tuhan, bahwa dan adalagi, yeng memberi jalan luhur, maka terimalah, baik siang dan malam, (agar) tidak tersesat sebagai hamba.
Yen manteping panarima, ing siyang kalawan lastri yeku ingkang tinarima, kumawula maring Gusti, yen sampun tumeka ing sih, kang sinedya apan tiba, kapriye puji sembah, tinggal dereng pratitis, pangrasane waliyullah kang tumeka.
Terjemahan :
Dan mantapnya penerimaan, pada siang dan malam, yaitu yang diterima, menghamba kepada Tuhan, jika sudah sampai kepada mahabbah (sih), apa yang dikehendaki pasti tercapai, bagaimana puji dan sembah, pada konsentrasi belum tepat, perasaannya waliyullah yang datang.
Dadine wong sumektan, kang ngrasa dadi kekasih, panembahe duna dungkap, adhepe pas shalat napi, lupute kapir sidik, ingkang saya kupur agung, lah poma den prayitna, iku kabeh anglampahi, salah tanda pangelmune, tanda dadi bahya.
Terjemahan :
Jadinya orang siap sedia, yang merasa menjadi kekasih Tuhan, (padahal) penyembahannya salah kira, menghadapny ketika shalat nafi, salahnya kafir sidik, yang justru kafir besar, maka waspadailah, itu semua menjalani, salah tanda ilmunya, tanda menjadi berbahaya.
Tegese sidik puniku, angrasa murbeng ing widhi, atawa amisahena, ngelmu iku luwih rungsid iku ugi, tan kejaba tan kejero, cerak tanpa gepokan, adohe tan ana mung neng, iku dipun waspada mring alamika.
Terjemahan :
Yang dimaksud dengan sidik, merasa dapat mengatur Tuhan, atau memisahkannya, ilmu itu lebih “berbahaya”, berbahayanya itu juga, tidak hanya luar dalam, dekat tidak bersentuhan, jauhnya tak ada hanya diam, itu waspadailah di alammu.
Rapalipun ladah rukalama jalma, mangke iki tegesipun nora pisah nora kumpul lawan Gusti, nanging nora kari, ing barang polahipun, ewuh iku ing tampa, sisipen salah tampi, perlambange lir kumandang lan suwara.
Terjemahan :
Lafalnya adalah ladah rukalama jalma, artinya tidak berpisah tidak berkumpul dengan Tuhan, tapi tidak ketinggalan dalam tindakannya, jika sulit diterima maksudnya, tapi jangan sampai salah terima, perlambangnya bagaikan kumandang dengan suara.
Kadi guruh lawan toya, kadi kukus lawas geni, lir dhalang lawan wayang, kadya papan lawan tulis, den samnya ngawruhi, tegese sudama iku, malah madarma reka, tingalira ing Hyang Widhi, den prayitna sampun kaliru ing tampa.
Terjemahan :
Bagaikan guruh dengan air, bagaikan asap dan api, sperti Ki Dalang dengan wayang, ibarat papan dengan tulisan, pahamilah, maksudnya dermawan itu, malah berderma padanya, memperhatikan Tuhan dan waspada jangan sampai salah paham.
Tan tumeka tingalira, kumawula ing Hyang Widi, wong ing kalawan panembah, sarta kalawan pamuji, ing siyang kalawan lastri, supaya lamun kadulu, lamun tan muji lan nembah, elinga maring Hyang Widhi, kita darbe cipta ala.
Terjemahan :
Tidak akan sampai perhatiannya, menghambakan diri pada Tuhan, tetapi dengan persembahan dan pujian itu, pada siang dan malam hari, agar sungguh-sungguh mencari, jika tidak memuji dan menyembah, ingatlah Tuhan, yang memiliki kita semua.
Namaning sembah sedaya, lilima ingkang rumiyin, ingaran sembah Jumungah, kalahir kawetu lathi, kathah ingkang teka, sembah Jumungah aranipun, marang kabeh rapale, iya iku lampahan sembah Jumunggah.
Terjemahan :
Jenis sembah semuanya, lima jumlahnya, pertama sembahyang jamaah namanya, adalah apa yang keluar dari lidah, banyak yang datang, itulah sembahyang jamaah namanya, apa yang telah diucapkan, itulah laku sembahyang berjamaah.
Ping kalihe sembah wustha, iku tingal jroning ati, sampun angloro tingal, sapatemon ing Hyang Widhi, kalamun aningali, kados pundi patrapipun, upama tan nemua, nora warna nora rupi, kaya paran sapatemon ing Hyang Suksma.
Terjemahan :
Kedua sembah wusta, itu di dalam hati, jangan mendua perhatian, bersatu dengan Tuhan, jika melihat bagaimana caranya,jika tidak menemukan (karena Tuhan itu), tanpa rupa tanpa warna, seperti tujuan bertemu dengan Tuhan.


SULUK SHALAT (PANUTUP)
SyahadatKepriye wong tinggal shalat, ngaku becik anglakoni, temen sir ya angas, amemada ing wong mukmin, bari angisin-isini, pan sasat nggeguyu rasul, dadi ratuning durga, kaya kapir wong Yahudi, mesthi lebur gempur ing naraka.
Terjemahan :
Bagaimanakah orang yang meninggalkan shalat, mengaku menjalakan dengan baik, sungguh sangat mengerikan, menyamai-nyamai orang mukmin, bahkan memalukan, (orang seperti itu) bagaikan menertawakan Rasul, kelak merekan akan menjadi pimpinan keburukan, sperti orang kafir Yahudi, dan (di akherat) pasti akan hancur lebur di neraka.
Lulure wong tinggal shalat, kadi pundi yen ngawruhi, wajibe wong tinggal salat, wajibe ya kadi pundi, atinggal lahir batin, tan ana liya kaetung, miwah panggawe kita, mapan nora anduweni, anging Allah polahe ya ingkang shalat.
Terjemahan :
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat, bagaimanakah jika (ingin) mengetahui, wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, meninggalkan lahir (atau) batin, tak ada hal lain yang diperhitungkan, juga perbuatan kita, bahwa kita tidak memiliki, tetapi hanya Allah yang mengusai seluruh gerak shalat.
Ingkang jenenge kawula, sru sirna tan ana keri, datan ana ananira, gegentine marang Hyang Widhi, mangan jenenge napi, kawula ing lalisipun, lir lintang karainan, kasorotang ing Hyang Rawi, lintang ilang ing raditya.
Terjemahan :
Yang namanya hamba, segera sirna tak ketinggalan, sesungguhnya ADAnya hamda adalah tidak ada, digantikan oleh ADA-Nya, hamba sesungguhnya adalah nafi, hamba dalam kelaiannya ibarat bintang kesiangan, terkena sorot matahari, bintang hilang tidak tanpak.
Wong tumeka salat tunggal, qasdu takrun lawan takyin, iya iku kang sampurna, kawruhana ingkang budi, lawan atining ati, ya puniki tegesipun, arep amarengine, qasdu takrun lawan takyin, aparengna lafal Allahu Akbar.
Terjemahan :
Orang yang hendak melakukan shalat tunggal, (hendaknya mengamalkan) qasdu takrun dan takyin, itulah yang sempurna, pahamilah budi, hati nurani, maksudnya memahamkan qasdu takrun dan takyin, dan menghayati lafal Allahu Akabar.

Teks terputus di sini. Secara matan isi teks belum selesai, akan tetapi langsung berganti tembang dan lain pula yang dipaparkan.
Aksara Ha aparengna, aksara Alip kang kaki, niyat iku Lam kang awal, Lam akhir niyat singgih, Hu tibaning niyati, parengna niyatipun, ya Allah jeneng Dat, tibane ingkang sayekti, Allahu Akbar sampurnaning niyatira.
Terjemahan :
Perhatikan abjad Ha, dan makna abjad Alif yang hak, niyat itu Lam awal, Lam akhir demikian juga, Hu jatuhnya niyat, pahamilah niyat itu, kepada Allah satu-satunya zat, itulah niyat yang lurus, Allahu Akbar adalah lafal niat yang sempurna.
Jenenging niyat tan ana, pengleburan kang kekalih, tan ana Gusti kawula, yen isih kawula gusti, mangan turu utami, kadi pundi slametipun, ron dadi satunggan, satunggal dadi kekalih, ora ilang kawula lawan Pangeran.
Terjemahan :
Niyat adalah tak ada, penyatuan yang dua, tidak ada Gusti Kawula, jika masih kawula Gusti (ketika shalat), lebih baik makan tidur saja, bagaimana agar selamat, dua menjadi satu, satu menjadi dua, tidak hilang kawula Gusti.
Kawruh iya kawula, parengna sihing Hyang Widhi,lamun tunggal kang kawula, tan ana ingkang ngarani, ingkang anebut Gusti, tan liya kawulanipun, dadi nyata Pangeran, ingkang nembah kang muji, pan kawula kinarya aling-alingan.
Terjemahan :
Pengetahuan seorang hamba, pikirkanlah kasih sayang Tuhan, jika manunggal dengan hamba, tidak ada yang menyebut Tuhan, kecuali adalah hamba-Nya, jadi sesungguhnya adalah, Tuhan sendirilah yang menyembah dan memuji, hamba hanya dijadikan sarana.
Kawula anggome nyata, kahananira Hyang Widhi, pan angaken wujud tunggal, kekalihira Hyang Widhi, amung jenenging jalmi, kekalihira Hyang Agung, amung jeneng manungsa, kang dadi tibaning sang sih, mora ana liyane ingkang manungsa.
Terjemahan :
Hamba adalah tempat wujud nyata, dari keadaan Tuhan yang sesungguhnya, jika dikatakan wujud tunggal, yang kedua adalah Tuha., yang namanya manusia, adalah kekasih Tuhan, yang namanya manusia, adalah menjadi tempat anugrah, tidak ada yang lain selain manusia.
Endi kang aran manungsa, ingkang terus lahir batin, kang narima ing Hyang Suksma, tan darbe polah kekalih, amung marang Hyang Widhi, kang paring marga luhur, apan tan ana liyan, Pangeran ingkang ngasihi, den anarima sih nugrahaning Hyang Suksma.
Terjemahan :
Siapakah yang disebut manusia, yang terus lahir batin, (yang dalam dirinya) ada Tuhan, tidak memiliki gerak mendua, hanya kepada Tuhan, yang memberikan jalan yang luhur, dan tidak ada lain, hanya Tuhan yang memberi anugrah, maka segala apa yang di anugrahkan Tuhan hendaknya diterima.
Utawa jenenging shalat, lelima kathahe nenggih, dhihin Shalat Jumungah, kang kawetu saking lathi, pakumpulaning jalmi, Shalat Jumumgah ranipun, samya den estokna, kang kelahir saking lathi, iya iku lakune Shalat Jumungah.
Terjemahan :
Shalat itu ada lima jenis, pertama shala jamaah, adalah apa yang keluar dari lidah, tempat berkumpulnya orang-orang, itulah yang disebut shalat jamaah, laksanakan dengan baik, apa yang telah diucapkan, itulah laku shalat berjamaah.
Kang sira den ucapna, asih lahir lawan batim, ja katungkul wus manuta, Kanjeng Nabi kang sinelir, kekasihing Hyang Widhi, punika analika wau, yogya angawruhana, bangsa lahir lawan batin, iya ik kang aran Shalta Jumungah.
Terjemahan :
Apa yang engkau ucapkan, selaras antara lahir dan batin, yang terlena oleh karena mengikuti saja, Nabi yang dikasihi, yang dicintai Tuhan, hal yang demikian itu, pahamilah apayang lahir dan yang batin, itulah yang dimaksud shalat jamaah.
Ping kalihe Salat Wusta, dadi papadhang kang ati, tegese kang nora pegat, samaning alamiing ati, sapatemon Hyang Widhi, kaya parena patrepipun, lamun atetemu, nora kontha nora wani, tegesipun jaba jero awasira.
Terjemahan :
Yang kedua adalah shalat wusta, menjadi penerang hati, adalah tidak putus, sama dengan lama hati, bertemu dengan Tuhan, sebagai tujuan hidupnya, hendak bertemu dengan-Nya, zat yang tanpa rupa tanpa warna, maka luar dalam waspadamu.
Ping kalihe Shalat Wusta, jenenge kawula Gusti, pan kawula nora ana, kawula jenenge napi, apa nora ndarbeni, purba wasesa puniku, pan kagenten Hyang Suksma, weruha marang Hyang widhi, polah tingkah iku purbaning Pangeran.
Terjemahan :
Yang kedua shalat wusta, namanya hamba dan Tuhan, bahwa hamba sesungguhnya tidak ada, hamba itu bersifat nafi, dia tidak memiliki, purba wasesa semua adalah hak Tuhan, Tuhan dan segala gerak laku adalah kehendak Tuhan.
Shalat kang kaping tiga, aja ningali kekalih, eroh jasad winicara, jasad eroh kadi pundi, papan dadi gegenti, nggone nyata kendhang agung, jati-jatining tunggal.
Terjemahan :
Shalat yang ketiga (yaitu shalat haji), jangan lagi melihat hamba dan Tuhan secara dualis, ruh yang berbicara, fungsi jasad digantikan oleh ruh, tempat kenyataan “kendang agung”, kesatuan yang sebenar-benarnya.
Iya iku durerasan, panemu kang angawruhi, luput bener kawiwara, lupute pan kadi pundi, luput kang dereng yekti, abener kang sampun weruh, yogya den gurokna, punika jenenging ngelmi, Shalat Haji poma sami kawruhana.
Terjemahan :
Hal itu bukanlah bahan pembicaraan, (hanya) pendapat yang mengetahui, tentang salah benar oleh Sang Pujangga, mana hal yang salah, salah bagi yang belum mengalami, benar bagi yang sudah mengetahui, maka carilah guru (yang mumpuni), itulah yang namanya ilmu, yakni pahamilah makna shalat haji.
Waler sengker kang satengah, yen lamun arebut ngilmi, tan ana gelem kasirnan, datan reja mupakati, mila pating barekin, labete rebutan kawruh, yeku sami wasisnya, tan mikir luputing diri, kaluputan ngelmune pan dadi sasar.
Terjemahan :
Sebagian adalahhal yang dilarang, jika hendak memperebutkan ilmu, tak ada yang mau kehilangan, tidak juga mau bermufakat, maka ramai tidak karuan, padahal maksudnya mencari ilmu, tapi sama-sama merasa pandai, tidak mau berfikir kemungkinan kesalahan diri, padahal jika salah maka jadilah tersesat.
Dadine wong kang rayah, angresa wasis pribadi, tanpa ngrasa yen kapurba, dalil Qur’an ili muni, arepa mengawruhi, pan akeh jenenging ngelmu, dadi wong punika, weruha ngelmu sejati, darbe raga aja angrasa yen bisa.
Terjemahan :
Jadinya orang-orang saling berebut, merasa paling pandai, tidak merasa, dalil Qur’an itu berbunyi (bahwa) jika hendak mengetahui, menunutut ilmu yang banyak, manusia harus memahami ilmu sejati, punya badan jangan merasa kalau bisa.
Shalat Daim ping sekawan, nora mengeng saking ati, uwis eningali, marang Maha Hyang Kang Luhur, jenengipun malrifat, tan ana Gusti kekalih, kang kasebut ing ati Allah Kang Tunggal.
Terjemahan :
Keempat adalah shalat daim, tak pernah putus dalam hati, sudah melihat terhadap Tuhan Yang Mahaluhur, itulah makrifat, tak adalagi Tuhan dan hamba, yang disebut dalam hati, hanyalah Allah Yang Tunggal.
Aja angeloro Pangeran, ing awal tumekeng akhir, awake pun durung ana, jenenge akhir kang keri, akhir jisime isi, awek jeneng rohipun, pan dadi kanyatan, manipaksa (“) sejati, iya iku tegese tunggal tinunggal.
Terjemahan :
Jangan mendua Tuhan, dari awal hingga akhir, zat-Nya memang belum ada, namanya akhir yang ketinggalan, yang akhir jasadnya, kemudian diberi ruh, yang menjadi kenyataan, keterpaksaan sejati, itulah artinya satu yang menyatu.
Tegese kang kaping lima, kanugrahan kanugrahan kang sayekti, Shalat Ismu Ngalim ika, jenenging roh lawan jisim, yogya dipun kawruhi, tegese kang Maha Agung, asma Allah tan pegat, aningali kang dumadi, jagat iku yekti langgeng aneng suksma.
Terjemahan :
Yang kelima artinya adalah, anugrah yang sejati, namanya shalat ismu alam, adanya roh dan jasad, sebaiknya pahamilah, maksudnya Yang Maha Agung, sebutlah asma Tuhan tak pernah henti, melihat Tuhan dunia akan abadidalam suksma.
Tan pegat ing tingaliran, dadine bumi lan langit, iya iku kanugrahan, kang dadi ayat sayekti, kang kajenging ngelmi, tan ana loro tetelu, jenenging kanyatan wajah, tuwah ingkang suci, iya eroh tegese kang aran wajah.
Terjemahan :
Tanpa henti perhatianmu, (memikirkan) terjadinya bumi dan langit, itulah anugrah kehendak Allah, merupakan ayat atau tanda yang sejati, yang dikehendaki ilmu, tidak dua atau tiga, itulah kenyataan wajah (doa tawajuh), mantra yang suci, yang dimaksud wajah adalah ruh.
Utawi tegese pan, kathahe ingkang prakawis, ingkang dhingin pana ing Dat, kapindha sipat, kaping tiga winardi, wong kang pan apngalipun, tegesee pan ing Dat tan anane nenggih, ora ana anging Allah wujud baka.
Terjemahan :
Ada hal yang perlu diketahui, tentang tiga hal, pertama adalah zat, kedua sifat, dan winardi, yaitu orang yang tahu ag’alnya, maksudnya zat adalah, tidak ada zat lain kecuali zat Allah yang kekal abadi.
Anapun ana sipat, akabutana urip, langaliman lakuta, tan ana kuwasa singgih, tan ana angawruhi, anging Allah ingkang agung, kang amurba amasesa, tan ana ingkang madani, ora urip anging Allah Wujud hayat.
Terjemahan :
Ada pun yang disebut sifat, adalah disebut hidup, menguasai alam malakut, tak ada yang berkuasa, tak ada yang memberinya ilmu, hanya Allah Yang Agung, yang amurba amasesa, tak ada yang menyamai, tidak hidup kecuali Allah wujud hidup.
Tegese pan apngal, anane duwe pangreti, anging Allah ingkang karya, kawula tan anduweni, salira polah jisim, tan ana iya kaetung, miwah panggawe kita, tan rumangsa anduweni, apngalira ora ana kang kuwasa.
Terjemahan :
Ada pun yang disebut af’al, adanya punya pengertian, hanya Allah yang berkarya, hamba tidak memiliki, baik jiwa maupun raga, tidak ada yang terhitung, termasuk perbuatan kita, bukan kita yang memiliki, ketahuilah bahwa hambasama sekali tak memiliki kuasa.
Sing sapa weruh ing awak, iku weruh marang Gusti, tegese wruhing salira, tan ana wujude singgih, mapan kawula napi, datan ana wujudipun, tandane wruhing Allah, kawruhana kang sayekti, ora ana anging Allah kang mulya.
Terjemahan :
Barang siapa tahu akan dirinya, akan tahu siapa Tuhan-nya, maksudnya barang siapa bisa memahami sesungguhnya dirinya itu tidak ada, bahwa dirinya itu nafi, tak berwujud apa pun, pertanda ia tahu akan Allah, ketahuilah yang sesungguhnya, tak ada lain kecuali Allah Yang Mahamulia.
Angendika Rasulullah, pangawruh ingkang sayekti, sing sapa nembah ing asma, ora weruh asma singgih, punika dadi kapir, yen tan weruh tegesipun, wong munapik, wong ngaku tan wruhing asma.
Terjemahan :
Berkata Rasulullah, ilmu pengetahuan yang sejati, adalah barang siap yang menyembah asma (Tuhan), tetapi tidak tahu siapa asma (Tuhan) itu, sungguh dia itu kafir, kalau tidak tahu artinya, orang munafik, orang yang mengaku tidak tahu akan asma (Tuhan-nya).
Wong weruh asma lan makna, sirik yen ora ngawruhi, wong kang weruh marang makna. Kelawan hak angawruhi, yen ta wus weruh iki, yaiku mukmin satuhu, lan tinggal ingkang makna, hak ingkang dipun kawruhi, iya iku kang aran mukmin makrifat.
Terjemahan :
Orang (harus tahu akan) asma dan maknanya, syirik jika tidak mengetahuinya, orang yang tahu akan makna, dengan pengetahuan yang benar, kalaulah sudah tahu, itulah mukmin yang sebenarnya, dan tinggal makna, kebenaran yang diketahui, itulah yang disebut mukmin makrifat.
Angendika wong hakikat, alabtu thalabul rahmi, ingsun ngulati roh iku, kaya ngulati Hyang Widhi, lan tegesipun ngulati, roh kelawan ingkang agung, lah para kabeta roh, nora beda ngelmu jati, iya eroh lan Pangeran antaranya.
Terjemahan :
Berkata ahli hakikat, saya mengenali (melihat) ruhku, seperti mengenali Tuhan, dan maksudnya mengenali ruh yang Agung adalah (dengan) mendekatinya ruh, tidak beda dengan ilmu sejati, ialah antara ruh dan Tuhan.
Ngendika Seh Mahmud ika, adoh mesih ing Hyang Widhi, kaya pisaha kapir, saking suwarga kang luhur, lapal watarkus shalat, tinggal ashalat sayekti, luwih luhur tinggal shalat banjur ngojah.
Terjemahan :
Berkata Syekh Mahmud, jauhnya tempat Tuhan bersemayam itu, seperti jauhnya orang kafir, dari surga yang luhur, (karena mereka) meninggalkan shalat sejati, lebih luhur tinggal shalat lalu ngobrol.
Tegese atinggal shalat, salat lahir lawan batin, tan ngresa memuji nembah, eling kang sawiji-wiji, apan nora ndarbeni, panguwasa polahipun, anging nikmating tingal, tang angrasa nembah muji, polah tingkahe Allah kang shalat.
Terjemahan :
Meninggalkan shalat itu maksudnya, shalat lahir dan batin, tak merasa memuji menyembah, ingat pada satu-satunya, tidak merasa memiliki, tak berkuasa atas tindakannya, hanya anugrah Allah, tak merasa menyebah memuji, seluruh tindakan shalat adalah tindakan Allah.
Sampurnane shalat iku, nora ningali kekalih, nora ningali Pangeran, kawula nora kaeksi, ilang kawula Gusti, tan ana dulu dinulu, ananging idhepira, kang anembah kang amuji, pan kagenten sih nugrahaning Pangeran.
Terjemahan :
Sempurnanya shalat itu, tidak melihat dua, tidak melihat Tuhan, hamba tidak diperlihatkan, hilang kawula Gusti, tak ada kuasa menguasai, tetapi maksudmu, yang menyembah dan memuji itu, telah diganti oleh anugrah Allah.
Angandika wong utama, shalat iku malih-malih, kang ngendi tegese nyata, kang aran nyata kang endi, tegese nyata iki wau kang nyata satuhu, nyata ing dalem akal, ingkang nyata ingkang ngendi, alak iku roh satuhu kawruhana.
Terjemahan :
Berkata orang yang utama, shalat itu berubah-ubah, mana yang dimaksud nyata, yang disebut nyata yang mana, artinya nyata ini yang benar-benar nyata dalam akal, yang nyata yang mana, akal itu adalah roh sejati maka pahamilah.
Anapon shalat pasa, lawan jakat munggah Haji, pinedhakken brahala, mapan jeneng shalat wajib, wektu metu iki, wektuning shalat kawektu, iku dadi brahala, apan isih amemuji, pan tinampi kasembahe dadi brahala.
Terjemahan :
Adapun shalat puasa, dan zakat serta naik haji, meruntuhkan berhala, adapun shalat wajib, (adalah tergantung pada) waktu, waktu shalat yang ditentukan, itu menjadi berhala jika masih memuji, tidak diterima panembahnya (jika masih) jadi berhala.
Pundi tegese asalat, wong kang weruh ing Hyang Widhi, kelawan ati kang padhang, kawruhana kang sayekti, aja kaliru tampi, jatining ening puniku, pundi eningkang tunggal, kang ingaran ati ening, iya iku cahyaning e-Dat kang nyata.
Terjemahan :
Bagaimanakah maksud shalat, orang yang mengetahui Tuhan, dengan hati yang terang, pahamilah yang sebaik-baiknya, jangan sampai salah terima, sesungguhnya hening itu, adalah hening pada Yang Tunggal, yang disebut hati hening, yaitu cahaya zat yang nyata.
Angandika Abu Bakar, kinasihan ing Hyang Widhi, ingkang antuk rahmatullah, tegese shalat sejati, tarkulu syai’in, ing tinggal sawiji iku, kang liyan saing Allah, tan ana sawiji-wiji, anging tunggal Allah kang murba misesa.
Terjemahan :
Berkata Abu Bakar, orang yang dikasihi Allah, yang mendapat rahmatullah, bahwa yang dimaksud shalat sejati (adala) meninggalkan segala sesuatu (dan memusatkan pada) satu hal, bukan pada yang lain selain Allah, tak ada sesuatu pun melainkan hanya Allah Yang Esa, yang amurba amasesa.
Tegese anane shalat, sekawan kathahe nenggih, kalima sampurnanira, dhingin wulu tanpa warih, kapindho niyat singgih, ikrar kaping tiganipun, kaping sekawan makrifat, tan kelawan netra jati, ping limane nora kelawan makrifat.
Terjemahan :
Yang dimaksud shalat, empat jumlahnya, dan kelima kesempurnaannya, pertama wudhu tanpa air, kedua niyat, ketiga ikrar, keempat makrifat tanpa netra jati, dan kelima tanpa makrifat.
Kang sira awas makrifat, yaiku yekti Hyang Widhi, kang muji pinuji dawak, memuji pujining Widi, tan ana liyan sejati, anging Allah ingkang Agung, ilang jeneng manungsa, tan ana makhluk sejati, anging Allah ya jenenge ingkang shalat.
Terjemahan :
Ingatlah dikau waspada makrifat, yaitu Tuhan yang sesungguhnya, yang memuji dan dipuji sendiri, memuji pujian-Nya, tak ada yang lain sejati, hanya Allah yang Agung, hilanglah esensi manusia, tak ada makhluk yang sejati, hanya diri Allah-lah yang melakukan shalat.


SULUK PRATINGKAHING SHOLAT (bagian 04)


Syahadat-01Angandika Nabi kang sinelir, angrasani jenenge wong salat, arep weruh Pangerane, kelawan ora weruh, siya-siya dennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh sadennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh satuhu, weruhe kadi punapa, yen weruha sameleke dadi kapir, pan ora werna rupa.
Terjemahan :
Berkata Nabi yang terkasih, membicarakan orang yang shalat, hendak mengetahui Tuhannya, (jika) tidak mengetahui maka sia-sialah salat yang dilakukannya, tingkang laku orang shalat, (ingin) mengetahui sesungguhnya, mengetahui seperti apa, jika mengetahui seperti mata melihat maka jadilah ia kafir, (karena Tuhan itu) tanpa warna tanpa rupa.
Lamun ora weruh ing Hyang Widhi, yekti wuta benjang neng akherat, arep weruh ing semangke, yogya sami nggegurua, ing pagawruh kang sejati, pratingkahe wong shalat, ya weruh satuhu, jenenge asalat tunggal, tunggal wujud kawula kelawan Gusti, kang dadi kenyatan.
Terjemahan :
Jika tidak mengetahui Tuhan, sesungguhnya akan buta besok di akherat, hendak mengetahui nantinya, maka carilah seorang guru, tentang kawruh sejati, tingkah laku orang shalat, harus tahu benar, perihal shalat tunggal, tunggal wujud hamba dan dan Tuhan, yang menjadi kenyataan.
Weruhipun kawula Gusti, jeneng niyat kang tigang perkara, qasdu takrun lan takyine, weruhe bedanipun, niyat iku sawiji-wiji, qasdu ingkang panedya, ingkang niyat iku, dudu bangsa lan suara, ingkang ngadeg sujud rukuk kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
Terjemahan :
Mengetahui hamba dan Tuhan, niat tiga hal, qasdu takrun dan takyin, ketahuilah perbedaannya niat yang tiga itu satu-persatu, qasdu adalah permohonan, niat itu bukan jenis dan ucapannya, berdiri rukuk dan sujud itu juga bukan niat.
Ping kalih takrun kang gumanti, lungguhira bakdane rakangat, papat lawan tetigane, ing Ngasar lan Subuh, dipun awas sawiji-wiji, jenenge kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
Terjemahan :
Yang kedua, takrun yang menggantikan, dudukmu stelah rekaat, yang keempat atau ketiga, dalam waktu Ngasar atau Subuh, pahamilah satu-persatu, menghitung rekaat tidak boleh keliru, takyin yang ketiga, menyatakan padaSshalat Subuh, Magrib dan Isya.
Yen nganggoa qasdu takyin, tan sampurna shalate wong ika, yen ora nganggo kepriye, pan batal salatipun, niyat iku jenenge wajib, tan kena tinggal, iya ingkang tetelu, yen lamun meksih nganggoa, qasdu takrun kelawan takyin puniki, shalate tan sampurna.
Terjemahan :
Jika (tidak) memakai qasdu takyin, maka salatnya orang itu tidak sempurna, jika tidak memakai bagaimana, apakah batal shalatnya, niat itu adalah yang wajib, yang tak boleh ditinggal, sedangkan ketiganya, qasdu takrun dan takyin itu, jika tak dipakai shalatnya tidak sempurna (tetapi tidak batal).
Waler sengker pocapan puniki, kang satengah nora duwe duga, dene ayuh bebasane, nggeguyu peksa weruh, pangucape, pegel kena ati, tan kena den kalahena, padune wong bingung, kudu ngajak kakerengan, kang saweneh ngaku yen bisa tapsir, katungkul ngudi sastra.
Terjemahan :
Nasehat ini adalah nasehat yang terlarang, yang sebagaian jangan sampai kurang pertimbangan, peribahasanya menertawakan memaksa (orang yang) hendak tahu, perkataannya menyakitkan hati, tak bisa dikalahkan, justru (sebenarnya) itu orang yang bingung, ingin mengajak pertengkaran, dan menyombongkan kalau bisa ilmu tafsir, (tapi) terlalu mementingkan nilai susastranya.
Atakona ingkang padha mukmin, jeneng kawruh sejatine shalat, den weruh pisah kumpule, pundi kang mukmin tuhu, iya iku ingkang ngawruhi, sejatine wong shalat, pisah kumpulipun, dudu shalate kawula, sejatine kanugrahaning Hyang Widhi, kang tiba mring kawula.
Terjemahan :
Bertanya pada orang mukmin, tentang pengertian shalat, ketahuilah berpisah dan berkumlpulnya, siapakah orang mukmin sebenarnya, yaitu orang yeng mengetahui, kesejatian shalat, dan berpisah bersatunya (hanba dan Tuhan), shalat itu bukanlah shalat hamba, melainkan anugrah Tuhan yang melimpah pada hamba.
Ingkang tinggal shalat mapan wajib, wus sampurna ingkang tinggal shalat, yogya apa pangawruhe, lamun tan kaya iku, siya-siya dennya nglampahi, angel jeneng shalat, manawa kaleru, dwn dalih atinggal pisan, bebayane aninggal shalat sejati, pan wajib linakonan.
Terjemahan :
Yang meninggalkan shalatyang wajib, dan yang sudah sempurna “meninggalkan shalat”, seperti apa perbuatannya, jika tidak tahu sia-sia olehnya menjalani, sulit memahami shalat, jangan sampai keliru, dikiranya sudah bersatu (padahal belum), bahayanya meninggalkan shalat sejati, yang wajib dilakukan.
Lamun tinggal shalat apan kapir, nora kena mayite dinusan, wong mati bangka hukume, kelawan malihipun, nora tinggal lan bukti, ingkang tinggal shalat, iku janjinipun, lawan malih nora apsah, anembeleh angrusak kalimah kalih, iya wong atinggal shalat.
Terjemahan :
Jika meninggalkan shalat adalah kafir, tak boleh mayatnya dimandikan, itu adalah orang yang mati tidak sempurna, tidak berhak meninggalkan bukti, itulah orang yang meninggalkan shalat, itulah janjinya, dan lagi tidak absah menyembelih (karena) telah mrusak kalimah dua (syahadat), itulah orang yang meninggalkan shalat.
Mintalah pertolongan kepada ALLAH dengan sholat dan sabar, sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusuk”. “Yaitu yang meyakini (telah dan akan) /selalu bertemu dengan Rabbnya (Sang Pencita Alam Semesta) dan mereka yang menjadikan ALLAH sebagai rujukan setiap hal”
( QS. Al – Baqarah 45 – 46 )


Khusuk adalah atribut yang melekat pada kehidupan (sholat dan sabar merupakan bagian dari kehidupan). Orang yang hidupnya khusuk akan senantiasa memelihara perjumpaan dirinya dengan ALLAH, selalu memfokuskan diri kepada ALLAH, selalu mematuhi perintah ALLAH. Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas selalu membaca doa dan menyadari sepenuhnya bahwa segenap tindak laku adalah perintah ALLAH.
Sangat logis sekali jika orang yang hidup khusuk, sholat dan sabar bukan sesuatu yang memberatkan. Sia-sia jika kita berharap sholat khusuk tapi dalam hidup keseharian tidak khusuk (cenderung permisif-serba boleh , profan-terlalu bersifat duniawi, kering dari nilai-nilai & memperturutkan hawa nafsu).

Emangnya SHOLAT KHUSUK yang berupa gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk takhiyat dan beberapa teknik yang kita kejar-kejar dan kita cari cari selama ini bisa menghantarkan kita untuk sampai ( Manunggal ) kepada Tuhan tanpa dibarengi AKSI, TINDAKAN dan PERBUATAN untuk ” Hamemayu Hayuning Bawono…??”. Manusia sebagai HAMBA, ABDI, BATUR, JONGOS nya Tuhan harus memahami keberadaan kita akan MAKNA predikat sebagai ABDI. Jika tidak maka pergulatan, pencarian dan pemelukan manusia terhadap sebuah Agama berikut perintah Ibadah yang ada di dalamnya hanya akan berhenti dan mandeg pada ” stasiun AKAL dan PIKIRAN ” paling banter yah…dalam kapasitas ANGAN-ANGAN dan MIMPI. Jadi jangan “ Nggondhok, Mangkel dan Kecewa “ klu serentetan ibadah ritual yang kita lakukan tak lebih dari sekedar SESEMBAHAN terhadap PIKIRAN, BUDI dan ANGAN-ANGAN kita semata, bukannya sesembahan yang sesungguhnya kepada sang Hyang Moho Tunggal.
Untuk bahan perenungan dan mengetahui lebih jauh tentang pemahaman MAKNA menyembah ( sholat ) mari kita cermati sebuah konsep sesembahan dalam PUPUH Khazanah Jawa berikut ini :
Utamaning sariro puniko,…
Angaweruhono jatining salat,…
Sembah lawan pujine,…
Jatining salat iku Dudu Isa’ tuwin Maghrib,…
Sembahyang arane wenange puniku,…
Lamun aranono salat pan minongko kembangane salat,…
Ing aran toto kromo, …
Endi kang aran sembah sejati,…
Ojo manembah yen tan ketingalan,…
Temahe kasor kulane,…
Yen siro nora weruh Kang sinembah ing ndonya iki kadi anulup kaga, …
Punglune den sawur manu-e mongso keno-o,…
Awekoso amangeran adam sarpin,…
Sembahe siyo-siyo,…
Unggulnya diri itu Mengetahui hakekat sholat
Sembah dan pujian

Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan salat Isa’ dan Maghrib

Itu namanya sembahyang
Apabila disebut salat, maka itu hanyalah hiasan dari salat daim
Yang dinamakan TATA KRAMA

Manakah yang disebut salat yang sesungguhnya itu

Jangan menyembah bila tidak tahu yang disembah

Akibatnya akan direndahkan MARTABAT HIDUPMU

Apabila engkau ingin mengetahui yang disembah di dunia ini Engkau seperti menyumpit burung

Pelurunya disebar kemana-mana tapi tidak ada satupun yang mengenai burungnya
Akhirnya cuman menyembah ANGAN-ANGAN

Penyembahan yang sia-sia tiada berguna

Loh..loh.. kok bisa begitu…?? Yaa Begitu lah…maaf la wong ini juga pendapat saya pribadi kok dan mohon Saudara-saudaraku jangan terpengaruh dengan pendapat saya dan boleh tidak mempercayainya…!!
Sebagai manusia kita sudah semestinya harus memahami TUJUAN HIDUP ( Paraning Dumadi ) kita. Untuk mengetahui Tujuan hidup kita harus mengetahui EKSISTENSI kita, karena eksistensi manusia tak akan bisa lepas daripada Tujuan hidup itu sendiri. Cuman permasalahannya adalah kita-kita ini juga gak inget mengapa kita harus hidup di dunia ini, hik..hik…adakah diantara saudara-saudaraku yang inget…?? Kita tidak ingat, mengapa kita ini harus hidup yah…mengapa kita sekarang ini ada di sini..?? Jadi sangat wajar, lumrah, rasional dan logis klu kita sama-sama gak tahu tentang TUJUAN HIDUP kita he..he..Makanya dalam setiap ritual Sholat ada permohonan kepada Tuhan untuk ditunjukkan kepada JALAN LURUS yah gak..yah gak…??. Artinya apa..?? Kita ini manusia yang sama-sama TERSESATNYA….!! Maka saya kadang GELI, Mesam-mesem, kadang malahan TERPINGKAL-PINGKAL klu ada kelompok/golongan keyakinan tertentu beraninya memfonis orang lain SESAT, KAFIR, MUSYRIK….halah..halah…apa yah gak sadar toh kalau sendirinya tuh sebagai manusia yang sama-sama masih TERSESATNYA di dunia ini..?? Amat banyak loh diantara kita ini yang mencari-cari TUJUAN HIDUP dari teks book Kitab Suci dan Hadis sebagai rujukannya. Yah..yah…mungkin saja kita bisa menemukannya disana. Namun yang LUCUNYA lah wong kita ini mo pingin menemukan TUJUAN HIDUP sendiri kok Informasinya diperoleh dari luar DIRI. Ini kan sama saja dengan anak kecil yang ingin mengetahui namanya sendiri dan bertanya kepada orang yg gak dia kenal. Jika kita mau menelusuri Khasanah Jawa ( maaf karena saya orang Jawa seh ) ternyata tujuan hidup manusia takkan lepas dari apa yang dinamakan SELAMET. Terlepas dari berbagai dalil-dalil atau bahkan kata-kata FALSAFAH, hidup SELAMET adalah tujuan manusia. Yah kata orang Islam di Arab sono ” Khasanah Fiddunya wal Akhirat ” alias SELAMET di dunia dan Akherat serta terbebas dari API NERAKA…!!. Jika kita telisik lebih dalem makna SELAMET adalah AMAN, NYAMAN tak ada gangguan apa-apa, tidak menderita dalam hidup ini, juga tidak mengalami KERUGIAN…!!
Selamet juga memiliki makna ” WIDODO ” yaitu selamat dimana saja, kapan saja selamanya. Suatu keselamatan yang TERBEBAS dari ruang dan waktu.
Adalagi konsep RAHAYU yang masih digunakan sampai sekarang ini. dalam konsep RAHAYU ini terkandung KEBENARAN, KEBAIKAN, KEBAJIKAN, KESELAMATAN dan KETEPATAN. Jadi kehidupan yang RAHAYU dalam konsep Jawa adalah hidup yang ” Toto, Titi, Temtrem, Kerto, Raharjo ” ( teratur, tertib, nyaman, sejahtera dan sehat ) yang penuh kebajikan. Jadi tujuan hidup manusia adalah menempuh perjalanan. Berjalan kemana..?? Yah menuju HIDUP SEJATI…apa itu…? Hidup yang RAHAYU dan SELAMAT. Dan terlepas dari berbagai penafsiran tentang apa itu SELAMAT. Yang jelas selamat BUKAN ANGAN-ANGAN, HAYALAN atau sekedar kepercayaan. Selamat itu REALITAS..dan bukan CARITAS…!!, ia adalah keadaan atau kenyataan dalam hidup ini. Jika sekarang kita yang hidup di negeri ini tidak merasakan RAHAYU itu menandakan masih banyak orang yang belum SELAMAT.
Hidup itu bersifat baru yang dilengkapi oleh adanya “ Panca indra “ yang sekaligus merupakan barang pinjaman dari Gusti Kang Hakaryo Jagad. Jikalau barang tersebut telah diminta kembali oleh si Empu-Nya, apa yang bisa kita perbuat…?? semua akan berubah menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur dan bersifat NAJIS . Oleh karena itu Panca indra TIDAK DAPAT kita pakai dan kita gunakan sebagai PEDOMAN dalam menjalani HIDUP….!!
Nafs, Budi, Pikiran, Angan-angan dan Kesadaran adalah satu wujud dengan Akal yang dapat menjadikan kita GILA, SEDIH, BINGUNG, TAMAK, RAKUS dan sering kali tidak JUJUR. Karena AKAL itu pula yang dalam siang dan malam sering mengajak kita IRI, DENGKI terhadap sesama demi kebahagiaan diri sendiri, bahkan tak jarang merusak kebahagiaan orang lain demi ISI PERUT. Dengki menyebabkan seseorang berbuat jahat, menimbulkan kesombongan. Dan, sering pula menyebabkan jatuh dalam lembah KENISTAAN. Yang pada gilirannya akan MENODAI nama dan citra Manusia itu sendiri.
Jalan hidup manusia yang harus dilalui adalah jalan HATI ( batin ). Batin yang bisa mencapai KEBENARAN. Hati yang demikian haruslah terbebas dari berbagai penyakit atau kotoran. Tanpa pamrih dalam bertindak, tidak dengki dan mendengki. Hati yang pemaaf. Sombong….telah jauh-jauh hari sudah ditinggalkan. Jika hati sudah lurus itu akan tercermin dalam perilakunya, tercermin dalam tutur kata dan terefleksi dalam aura wajahnya. Terpantul dalam suara ketika berbicara. Dalam kondisi hati yang jernih seseorang akan dapat melihat jalan hidup yang harus dilaluinya.
Inilah barangkali CERMINAN sekaligus PENGEJAHWANTAHAN perilaku dari pada Hidup KHUSU’.
Jadi…mana yang bernilai…?? Shalat/Dzikir Khusu’ atau Hidup Khusu’…??? Terserah masing-masing anda menilai dan menjalaninya. So What gitcu loh…??
Maksud hati yang sudah sampai pada Kebenaran,
Kotoran yang telah sirna dari Jasad,
Mencegah segala keburukan,
Bagaikan tubuh yang Jelita,
Yang demikian itu jika telah sampai pada luar dan dalamnya,
Akhirnya seimbang, Bersih, jernih, tanpa campuran,
Akhirnya dapat dikatakan,
Lenyap sudah sifat AWAM manusianya.

Animated Pictures Myspace CommentsAnimated Pictures Myspace Comments